Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 159: Gadis yang Bersedih


__ADS_3

Albian adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Dia mengidap kanker otak stadium tiga.


Kehidupannya hanya di rumah saja. Usianya sekitar tujuh tahun. Ini adalah kali pertama baginya datang ke Indonesia.


Dia dan keluarga besarnya adalah orang luar negeri. Tepatnya mereka berada tinggal di Amsterdam. Negeri Belanda, negeri kincir angin.


Sebuah pekerjaan membuat keluarganya menetap cukup lama di Indonesia. Katanya mereka akan menetap selama lima tahun di sini.


Ini sudah berjalan sekitar tiga bulan lamanya mereka menetap di Indonesia. Mereka berada Ibu Kota Negara Indonesia, yaitu Jakarta.


Mereka membeli sebuah rumah besar cukup mewah. Tetapi kemewahan itu tidak menjamin mereka untuk tenang tinggal di sana selama tiga bulan.


Selama tinggal di sana banyak keanehan sering terjadi. Seperti lampu dapur yang sering berkedip-kedip.


Suara pintu yang terbanting sendiri. Lukisan yang mendadak jatuh lalu pecah. Juga suara langkah kaki yang ada di basemen dan loteng.


Ketika suara itu dicari. Maka mereka sama sekali tidak menemukan apapun baik itu di atas loteng ataupun di Basemen.


Mereka membeli rumah ini sebab bangunannya adalah bangunan Belanda. Mereka terpikat terpesona itulah mengapa mereka mau membelinya.


Gangguan semakin ekstrim lagi ketika Albian anak mereka yang terakhir menemukan sebuah kotak musik di bawah tanah. Kotak musik itu sepertinya cukup lama berada di sana.


"Albi, jadi apa kamu semalam melihat dia?" tanya Lorensa kakak Albian. Selaku anak ke enam di keluarga Colline.


Albian yang duduk di atas ranjangnya melirik ke arah pintu kamar mereka yang terbuka. Semua orang sedang berada di rumah kecuali ayah mereka.


Dan Sang Ibu pasti malam ini masih berada di dalam kamarnya terjaga menunggu kepulangan Suaminya.


Jam di sana menunjukkan tepat pukul sembilan malam. Saudaranya yang lain mungkin sudah lebih dulu terlelap. Dan mungkin hanya tinggal Lorensa dan Albian yang masih terjaga.


"Kenapa kamu tidak menutup pintunya?" tanya Albian pada Lorensa di depannya.


"Bukankah pintu itu selalu ditutup Ibu setiap malam?" tanya Lorensa pada Albian.


Albian menggelengkan kepalanya. Dia tau betul siapa yang sering datang masuk ke kamar mereka tiap malam lalu menutup pintu itu.


"Lorensa, itu bukan ibu kita! Itu salah satu pekerja rumah ini dulu. Namanya Bibi Jane, dia bekerja di sini seorang Maid!" Jawa Albian.

__ADS_1


Lorensa menaikkan salah satu alisnya mendengar apa yang Albian katakan. Pasalnya dia sama sekali tidak mengenali siapakah itu Bibi Jane.


Tapi Lorensa melihat samar semalam di depan jendela kamarnya. Ada seorang perempuan berambut blonde menatap lekat ke arah jendela.


Tatapannya kosong sekali bahkan dia tidak bergeming ataupun menoleh. Dia diterpa cahaya malam dengan baju putihnya. Ketika Isak tangisnya terdengar maka tubuh perempuan itu menghilang.


Lorensa kemudian berdiri lalu menatap ke arah jendela kamar mereka yang langsung menghadap ke arah halaman. Kamar mereka berada di lantai dua.


"Aku melihat seorang perempuan semalam! Berdiri seperti ini sambil menatap halaman! Dia tidak berbicara sama sekali. Tapi aku kebingungan, siapa dia yang bisa masuk ke dalam kamar kita sedangkan pintu-pintu dikunci?" tanya Lorensa menjelaskan apa yang dia lihat semalam.


Albian melirik ke arah kotak musik emas yang dia temukan di bawah tanah. Albian meraih kotak musik itu lalu membukanya.


Ada sebuah kaca juga di sana. Miniatur kuda yang berputar tiap kali lagu dalam kotak itu bermain.


"Dia itu, gadis yang malang!" ujar Albian sambil memandangi pantulan yang ada di kaca kotak musik itu.


Dia melihat di sana seorang bocah perempuan kecil yang menatapnya sedih. Lorensa menoleh ke arah adiknya. Entah kenapa tiap kali musik dari dalam kotak itu diputar kuduknya selalu berdiri.


"Jadi kamu juga melihat dia Albian?" tanya Lorensa padanya.


Albian tidak menoleh ke arah kakaknya. Namun dia hanya menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dia pun juga melihat kehadiran bocah itu.


Tokkkk


Tokkkk


Sorot mata mereka tertuju ke arah ambang pintu saat ini. Di mana Ibu mereka Nyonya Mary sedang berdiri di sana.


"Kenapa kalian tidak tidur sayang?" tanya Nyonya Mary pada mereka.


Lorensa dan Albian saling tatap kemudian. Kemudian mereka tersenyum kembali menatap ke arah Ibu mereka.


"Kami baru saja akan tidur, Ibu!" ucap keduanya kemudian mulai merebahkan diri mereka di atas kasur.


Nyonya Mary menghampiri keduanya. Nyonya Mary duduk di tepi ranjang Albian.


"Apa Ibu harus membacakan kalian kisah agar kalian bisa tertidur?" tanya Nyonya Mary pada kedua anaknya.

__ADS_1


Ditawarkan semacam itu oleh Sang Ibu. Maka mereka pun mengangguk. Nyonya Mary tersenyum melihat itu.


Dia mulai mengambil salah satu buku dari dalam lacinya Albian. Sebuah Fabel dongeng sebelum tidur.


Mulailah saat itu Nyonya Mary membacakan kisah itu hingga kedua buah hatinya terlelap. Setelah yakin kedua buah hatinya terlelap maka Nyonya Mary pun mengembalikan kembali buku itu.


Nyonya Mary berdiri lalu tersenyum kecil. Ketika dia akan pergi. Dia terkejut melihat satu kehadiran seorang perempuan di ambang pintu.


Perempuan itu membelakanginya dengan pakaian putihnya. Anehnya, Mary sama sekali tidak tau kapan datangnya perempuan ini.


"Siapa kamu?" tanya Nyonya Mary pada perempuan itu. Nyonya Mary tidak beranjak dari berdirinya. Dia tidak mendekat namun hanya menatap ke arah perempuan itu.


"Bukankah Ibu sering bicara?" ucap perempuan itu mulai bicara.


Nyonya Mary masih memperhatikan perempuan itu. Hingga perempuan itu menunjuk ke depan.


"Ibu selalu bilang, tutuplah pintunya!"


Brakkkkkk


"Hah!!!" teriak Nyonya Mary ketika pintu kamar anaknya terbanting.


Sosok perempuan itu seakan berlari melesat ke arahnya. Itu membuat Nyonya Mary jatuh kebelakang membangunkan Albian dan Lorensa.


Kelima anaknya yang mendengar suara ibunya pun langsung berhamburan keluar dari kamar. Mereka menghampiri sumber suara yang ada di kamar Albian dan Lorensa.


"Ibu ada apa ini?" tanya Ane selaku anak yang paling tua di sana.


Ane menghampiri ibunya yang tersungkur jatuh itu lalu membantunya duduk.


"Tidak apa, ibu hanya terkejut saja! Tadi ibu melihat ada anak perempuan di ambang pintu. Tapi itu bukan salah satu dari kalian! Dia orang lain tapi ibu tidak mengenalnya!" jelas Nyonya Mary pada anaknya.


Ketika kekacauan itu mulai datang. Maka Tuan Colline baru saja tiba di rumahnya. Dia datang mengundang Cak Dika beserta dengan Gautama Family.


"Silahkan masuk!" ucap Tuan Colline membukakan pintu rumahnya untuk Cak Dika.


"Terima kasih Tuan!" ucap Cak Dika.

__ADS_1


Dia beserta rombongannya pun masuk ke dalam rumah Tuan Colline. Di sinilah Cak Dika, Rachel dan rombongannya akan mengungkap siapakah gadis sedih itu?


__ADS_2