
Wati dan Sukma adalah saudara tiri. Mereka tinggal bersama ketika kedua orang tua mereka mati. Ketakutannya itu membawa mereka masuk ke dalam rumah dengan nafas yang tersengal-sengal.
Wati nampak mengusap dadanya. Sungguh mengerikan sekali apa yang baru saja dia lihat tadi. Sukma yang juga masih mengatur nafas itu sedikit teringat kembali perihal wajah seorang wanita yang dilihatnya di halte bus tadi.
Ya, dia tidak salah lagi. Sukma mengingat detai sekalipun bagian mata sosok itu tertutupi rambut. Dengan nafas yang hampir mati, jantung yang hampir copot. Sukma berbalik menghadap ke arah Wati.
"Wat, kamu ingat kan orang yang tadi kita lihat sebelum naik bus?" tanya Sukma pada Wati di depannya.
Wati memperhatikan wajah Sukma yang begitu serius kali ini di hadapannya. Dia tidak bisa mengartikan apa maksud dari tatapan itu.
"Memang kenapa?" tanya Wati padanya.
Gambaran itu mendadak muncul begitu saja dalam kepalanya. Memusatkan satu wajah pada kesimpulan. Dan pada saat itu juga bersamaan dengan ketukan pintu Sukma berkata.
Tokkkkk
Tokkkkk
"Itu Gandis!" ujarnya lalu mereka terkejut menatap ke arah pintu yang diketuk.
"Eh sopo iku!" pekik Wati tak percaya.
Kejadian yang baru saja mereka lihat tadi membuat keduanya enggan membuka pintu. Padahal di balik pintu itu ada Cak Dika dan Rara.
Mereka berdiri di sana berniat untuk membantu. Namun beberapa lama mengetuk mereka sama sekali tidak dibukakan pintu.
Terlihat Rara yang bersandar di salah satu pondasi rumah sejak tadi menunggu. Dia ingat kemudian bahwa kedua gadis itu baru saja melihat hal menakutkan.
Rara pun menghampiri Cak Dika lalu menggantikannya mengetuk pintu. Di sana Rara pun berkata pada Wati dan Sukma yang masih berdiri di dalam dengan ketakutannya sambil memandangi pintu.
"Hallo mbak, yang ada di dalam! Saya manusia, bukan pocong yang kalian lihat tadi. Lagi pula, pocong tidak memilik tangan buat ngetik pintu ini! Jadi, tolong buka ya! Sebab saya mau membantu!" ujar Rara pada keduanya di dalam.
Sejenak Wati dan Sukma saling pandang. Kemudian setelah hati mereka cukup yakin. Bersama-sama mereka pun membuka pintu.
Berdirilah Cak Dika bersama Rara di sampingnya di sana. Wati cukup asing dengan keduanya. Bahkan dia tidak mengenal siapakah dua orang itu?
__ADS_1
Namun itu berbeda dengan Sukma di sampingnya. Dia terlihat terperangah tak percaya akan bertemu Cak Dika dan Rara di sini.
"Assalamualaikum!" ujar Rara dan Cak Dika bersamaan.
Wati nampak mengatupkan kedua tangannya. Bersyukur sekali rasanya melihat dua orang yang dia kagumi berada di sini.
Padahal baru kemarin dia berkata akan mendatangi Cak Dika dan saudaranya hari Rabu ketika dia dan Wati libur bekerja.
Wati yang masih bingung itu lalu memutar bola matanya pada Sukma di sampingnya. Ekspresi wajah itu membuat Wati menaikkan salah satu alisnya.
"Hei, kamu kenapa Suk?" tanya Wati pada Sukma yang terperangah.
Pertanyaan itu lalu membuat Wati menoleh. Dia tersenyum kemudian. Rasa takut yang tadi membara dalam dadanya sejenak tergantikan oleh rasa kagum.
Sambil menunjuk ke arah Cak Dika dan Rara. Wati pun berkata,
"Mereka ini salah satu cenayang muda yang mau kita temui Rabu besok! Ya ini mereka, anggota dari Gautama Family. Aku ngikuti channel mereka dari awal loh!" ujar Sukma gembira pada Wati.
Ah, pernyataan itu pada akhirnya membuat Wati paham. Dia lalu mempersilahkan Cak Dika dan Rara untuk masuk dan duduk di ruang tamu bersamanya.
Wati masuk ke dapur membuatkan beberapa jamuan. Sekalipun tubuhnya letih. Tapi, ini demi kebenaran. Wati ingin tau segalanya perihal kematian Gandis yang menurutnya tidak wajar.
Sambil mengaduk teh hangat Wati terus berpikir. Sedangkan Sukma di sana masih mengobrol bersama dengan Cak Dika dan Rara.
Setelah jamuannya usai. Wati pun membawa teh yang dibuatnya ke ruang tamu. Di sana dia mulai menyajikannya. Setelah itu dia pun ikut duduk di sana.
Sukma sudah menceritakan segalanya. Sejenak Cak Dika mengambil secangkir teh itu lalu menyeruputnya. Sebelum berkata dia pun menghela nafas sebentar.
"Jadi, teman kalian ini mati frustasi sepertinya! Kami udah di sini. Kalian bilang mau ketemu kamu kan? Jadi apa, yang bisa kami bantu buat kalian?" tanya Cak Dika pada mereka berdua.
"Gini Cak, sehari kemarin setelah pemakaman. Ada dua orang yang datang di makannya Gandis. Dia datang, sambil membawa karangan bunga. Orang itu lalu naruh karangan bunga itu di atas malamnya Gandis. Dia juga mengumpat kotor perihal Gandis!" jelas Wati pada Cak Dika.
Cak Dika memperhatikan penjelasan itu dengan seksama. Begitupun dengan Rara. Malam semakin larut dan hawa di sana semakin dingin pula.
Penerangan untuk masuk ke desa itu juga cukup minim. Wajar saja, ini pedesaan pelosok sepertinya.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Cak Dika lagi pada Wati.
"Teman kami ini kembang desa, Cak! Sebelum dia mati dia sempat menghilang. Gak ada kabar. Kami juga jarang kontrakan sebab sibuk kerja juga. Tapi kami masih berteman. Sampai selang tujuh bulan itu, aku mulai ngerasa aneh. Rumah Gandis sepi banget. Neneknya biasanya akan berjemur di depan halaman tiap pagi. Tapi ini tidak, aku akhirnya pergi ke sana lalu menemukan dia mati bersama dengan neneknya juga. Tapi yang lebih parah adalah kondisi mayat Gandis! Mengembung, pucat, di kerumunan lalat. Cairan entah apa itu banjir jatuh menetes dari selangkangannya!" jelas Wati lagi menjelaskan perihal apa yang dia lihat saat itu.
Rara mengangguk, dia lalu menyamankan tubuhnya bersandar di kepala sofa.
"Jadi, kalian mau kami apa?" tanya Rara lagi mencoba mencari tau maksud dari keduanya.
"Pertama kami curiga sama dua orang yang datang di pemakaman. Sepertinya itu ada hubungannya dengan kematian Gandis. Kedua, kami mau tau alasan Gandis nglakuin bunuh diri itu! Dia orang terpelajar gak mungkin rasanya melakukan itu tanpa alasan!" jelas Wati lagi pada mereka.
Cak Dika dan Rara pun tersenyum. Keduanya lalu saling menatap dan mengangguk. Sepertinya tim mereka harus dipanggil kemari. Setelah saling bicara melalui tatapan. Keduanya pun kembali menatap ke arah Wati dan Sukma.
"Kalau gitu, kami mau bantu kalian! Tapi, malam ini biarkan kami menginap di sini. Dan ya, besok saudara kami akan datang. Kami bersaudara memang pawang Ghaib. Tapi kami punya spesialisasnya masing-masing! Bersabar ya! Insyaallah bakalan kita tuntasin ini!" ujar Cak Dika pada keduanya.
"Oh, boleh cak Monggo! Ada satu kamar nganggur di sini! Kalian boleh pakai itu!" ujar Wati.
Hal itu membuat Rara terperangah. Berbeda lagi dengan Cak Dika yang langsung berseringai lalu menoleh ke arah Rara.
"Pie dek? Wes siap bubuk Karo aku sampean?" tanya Cak Dika dengan raut wajah yang dibuat-buat.
Rara kesal sekali rasanya ditatap semacam itu. Dia pun berancang-ancang membuka sandalnya. Sambil berkata,
"Lanang Ki mesum Jan!" ujar Rara yang disambut dengan kedua tangan Cak Dika yang terangkat. Lalu mengatupkan tangannya dan terkekeh menatap Rara.
"Iyo, guyonan wae!" ujar Cak Dika padanya.
Rara mengurungkan niatnya. Kemudian dia berdiri lalu menatap Wati dan Sukma.
"Aku yang di kamar! Biar, Cacak tidur di ruang tamu aja!" ujar Rara pada keduanya.
Sukma mengangguk mendengar itu. Kemudian dia pun juga ikut berdiri. Sukma mengantar Rara ke arah kamar itu. Dan di tempat itulah malam ini mereka berdua bermalam.
Setelah seluruh penghuni dalam rumah itu terlelap. Tertinggallah Cak Dika yang masih terjaga. Sinyal di sini cukup bagus sekalipun tempat di pelosok.
Malam itu Cak Dika menghubungi Crew nya. Dia memberi sharelock lokasi tempat dirinya berada. Malam itu juga Cak Dika mengatakan bahwa mereka harus sudah sampai kemari jam enam pagi.
__ADS_1
Setelah mengabari timnya Cak Dika pun memutuskan untuk tidur.
Hari itu bagaikan pos kamling. Pocong Gandis meneror tiap rumah dalam desa itu. Dia meneror dengan cara yang sama. Yaitu mengetuk-ngetuk tiap pintu dengan kepalanya.