
Terjadi di sebuah desa satu tragedi yang cukup tragis rasanya. Seorang nenek mati di dalam rumah.
Namun selang seminggu setelah sang nenek menghembuskan nafas. Tidak ada siapapun yang tau bahwa raganya yang mati masih terbaring di atas tempat tidur.
Kebetulan saat itu ada seorang warga bernama Wati datang mencoba menjenguk sang nenek yang tinggal di rumah itu bersama dengan cucunya.
Namun sudah seminggu rasanya Wati tidak melihat nenek tua itu berada di halaman. Biasanya tiap pagi dia akan berjemur di sana menatap matahari yang hangat menyapanya.
Sambil membawa beberapa bungkusan. Dia datang berhenti tepat di depan pintu kayu itu. Rumah itu tidak mewah sederhana sekali. Rumah itu bersih dan tertata segala perabotan sederhana di luar terasnya.
Wati mengangkat tangannya mencoba mengetuk pintu kayu itu. Dia terus mengetuk pintu kayu itu berulang-ulang kali. Tapi, dia tidak mendapat jawaban atas ketukan itu.
Bola matanya berputar ke segala arah. Mencoba mencari tanda kehidupan di sana namun tak ada. Wati kembali ingat perihal Gandis. Gadis itu adalah cucu dari nenek ini. Nenek yang sudah lama tidak terlihat.
"Gandis kemana, Yo? Kok gak pernah kelihatan?" ujar Wati.
Ya, dia mengenal Gandis. Sebab Gandis adalah salah satu teman dekatnya. Mereka teman sepermainan sejak kecil. Namun waktu berjalan cukup cepat. Keduanya disibukkan dengan urusan orang dewasa, yaitu kewajiban bekerja.
Namun biasanya mereka akan tetap saling sapa ketika bertemu. Wati pun berinisiatif pergi ke kebun belakang rumah itu.
Di samping rumah itu ada gang. Gang itu diberi pagar kayu ringan. Di sana ada kebun kecil milik Gandis. Itu peninggalan dari Bapaknya yang seorang lurah desa ini dulu.
Krekkkkkk
Perlahan Wati mulai membuka pintu kayu itu. Lalu dia menapaki jalanan tanah landai itu. Dia masuk ke dalam.
Setibanya di depan kebun itu dia hanya menghela nafas. Tak ada siapapun di sana. Wati mulai masuk menuju kandang ayam. Di sana, dia mencium bau busuk.
Itu bukan tai ayam, tapi bau busuk kuat. Wati memutar kedua bola matanya ke arah jendela kayu yang sedikit terbuka itu.
Suara ayam berkokok mengiringi kakinya me dekati jendela itu. Saat dibuka, Wati terkejut bukan main rasanya.
Nenek Gandis mati terbaring berkerumun lalat di atas ranjang. Wati menarik nafasnya berat sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia terkejut setengah mati rasanya.
Ketika Wati berbalik dia tak sengaja melihat ke arah atas pohon nangka. Sebuah tali tampar menjuntai ke bawah. Seorang manusia tergantung di sana.
Bola mata itu seolah menatapnya. Manusia itu sudah mati entah berapa lama tergantung di sana. Manusia itu tak lain adalah Gandis.
"Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah..." ucap Wati terbata-bata lalu lari dari sana dan pergi.
Sekalipun psikisnya terguncang akibat apa yang dilihatnya di sana. Wati memilih berlari ke balai desa. Memberi tau pak lurah di sana perihal kejadian mengerikan yang baru saja dia lihat.
"Pak... Pak kades!" teriak Wati setelah sampai di sana.
__ADS_1
Beberapa pegawai rakyat itu mulai mendekati Wati ketika dia berusaha masuk ke ruangan Pak Kades.
"Enek opo toh nduk?" tanya salah satu pegawai rakyat.
Pertanyaan itu membuat Wati sejenak mengatur nafasnya. Hampir mati rasanya dia berlari dari rumah Gandis kemari. Saat itu ketakutan dalam dadanya mengusir letih. Namun ketika dia berhenti di sini, letih itu mulai terasa.
"Mana Pak Kades, Pak?" tanya Wati yang masih tersengal-sengal pada salah satu pegawai rakyat.
"Beliau ada di dalam! Tapi in kamu kenapa toh, Nduk?" tanya pegawai rakyat itu lagi.
Wati mengarahkan telunjuknya ke belakang. Namun tatapannya masih mengarah tepat pada pegawai rakyat itu.
"Nenek Gandis dan Gandis mati! Mayat mereka membusuk di sana! Jadi tolong cepat tangani, Pak! Sebelum dimakan belatung mereka!" ujar Wati menjelaskan.
Seluruh pegawai rakyat di sana terkejut mendengar itu. Mereka saling tatap sejenak. Bagaimana mungkin itu terjadi. Gandis begitu cantik di desa ini. Dia adalah kembang desa di sini.
Bagaimana bisa gadis cerdas, cantik sepintar dia melakukan perbuatan bunuh diri. Padahal itu adalah hal goblok.
"Ayo Pak! Ayo, kita ke sana! Kita kuburkan mereka!" ujar Wati lagi pada mereka.
Krekkkkkk
Ruangan Pak Kades mulai terbuka. Memunculkan Pak Kades yang baru saja keluar dari dalam sana. Pak Kades melihat keberadaan Wati di sana. Dia pun menghampirinya.
Di sana Wati pun mulai menjelaskannya lagi. Mendengar itu, Pak Kades pun menyuruh anak buahnya mengumpulkan warga.
Ketika para warga berhasil dikumpulkan. Hari itu juga jenazah dari Gandis dan neneknya dikuburkan. Perihal matinya Gandis dan Neneknya mereka tidak begitu tau.
Itu masih menjadi satu misteri untuk mereka. Namun ditemukan fakta bahwa Gandis mati dalam keadaan hamil besar.
Jasadnya menggelembung baunya busuk. Di tambah mulutnya dan anggota bawahan tubuhnya. Tempat keluar masuk bayi itu mengeluarkan cairan.
Mungkin memang Gandis sudah mati cukup lama di sana. Hingga jasadnya semengenaskan itu.
Padahal dia masih belum menikah. Detik ketika pemakaman. Seluruh manusia yang mengenal keduanya menangis haru. Mereka tidak percaya rasanya akan ada tragedi setragis ini menimpa Gandis dan neneknya.
"Kenapa bisa begini sih, Ndis?" ujar Wati bertanya-tanya sambil mengusap nisan Gandis.
Kuburan itu masih baru. Wewangian bunga masih terhirup semerbak. Beberapa pelayat mulai pulang. Wati di sana hanya berdua bersama dengan Sukma. Dia juga salah satu dari temannya Gandis.
"Aku gak nyangka dia gak kelihatan selama ini gara-gara hamil! Tapi aku juga gatau apa yang sebenarnya menimpanya!" ujar Sukma menimpali.
Wati masih menangis sesenggukan. Dia benar-benar merasa kehilangan Gandis.
__ADS_1
"Arek iki, biasane nek Ono masalah mesti cerito! Tapi Iki, ora! Berarti masalahe Iki ancen gede. Utowo mungkin de e ora gelem cerito mergo aib. Tapi kene saduluran toh masih ora enek ikatan getih! Pie jajal Suk? Pie, sopo bajingan sing metengi Gandis Iki?" ujar Wati menangis mencurahkan kekesalannya sambil menciumi batu nisan Gandis.
(Anak ini, biasanya kalau ada masalah selalu cerita! Tapi ini, gak! Berarti masalahnya ini emang besar. Tapi mungkin dia gak mau cerita karena aib. Tapi kita ini udah kaya saudara meskipun gak ada ikatan darah! Gimana ini Suk? Gimana, siapa bajingan yang menghamili Gandis ini?)
Sukma tau betapa hancurnya hati Gandis saat ini. Tangan kanannya terulur mencoba menenangkan Gandis di sana.
"Wis sing sabar wae, Ndis! Kape yak opo neh? Pun takdire! Yen diomong ora ikhlas nggeh mesti. Aku Dewe Yo ora terimo, tapi pie? Wis kedaden, kene cuma iso dungakne Gandis lan Simbah e wae Saiki!" ujar Sukma bertutur lagi pada Wati.
(Udah yang sabar, Ndis! Mau gimana lagi? Udah takdirnya! Kalau dibicarakan gak ikhlas iya juga. Aku sendiripun juga gak terima, tapi gimana? Sudah kejadian, kita cuma bisa doain Gandis dan Neneknya sekarang!)
Wati tersenyum tipis. Kemudian dari balik tubuh mereka yang masih berduka. Muncul sepasang suami istri muda dengan pakaian serba hitam.
Sepasang suami istri itu bernama Bondan dan Ira. Mereka baru saja menikah. Mereka juga hidup di desa itu.
Bondan dan Ira berjalan mendekati Wati dan Sukma yang masih berkabung. Di tangan Bondan ada karangan bunga. Dia nampak mengenakan kaca mata hitam.
"Aku turut berduka atas matinya kamu! Pelacur muda!" ujar Bondan sambil meletakkan karangan bunganya di atas makam Gandis.
Namun bukan bunganya yang tergeletak yang membuat Wati menoleh. Melainkan ucapan kasar yang Bondan katakan.
Baik Wati dan Sukma langsung berdiri berbalik menatap ke arah pemuda itu.
"Sopo koen?" tanya Wati mencoba meredam amarahnya.
(Siapa kamu?)
Dia menatap marah ke arah Bondan.
"Ora penting aku sopo! Pokoknya, kalau dia mati seperti itu emang udah kodratnya!" ujar Bondan lalu pergi dari sana.
Dengan mata yang memerah menahan amarahnya. Wati ingin sekali memukul Bondan sekarang. Ketika Wati beranjak pergi mencoba menyusul Bondan. Sukma menahannya.
"Gak usah!" ucap Sukma pada Wati.
"Gak usah gimana, dia kurang ajar suk!" ujar Wati lagi penuh amarah.
Namun di sana Sukma diam. Dia hanya memperhatikan Bondan dan Ira istrinya yang mulai masuk ke mobil. Lalu Sukma ingat, bahwa Bondan baru saja menyebut Almarhum Gandis sebagai pelacur.
Bajingan gak waras! Kalau dia tau Gandis hamil, padahal dia orang asing. Berarti ada sesuatu yang terjadi antara orang itu dan Gandis!. Ujar Sukma dalam hatinya.
Sukma lalu memegang kedua bahu Wati yang masih murka. Kemudian dia menatapnya.
"Kalau kamu mau bantu Gandis! Aku ada caranya, kita ungkap ini. Di desa sebelah, ada gerombolan cenayang. Kita bisa minta bantuan mereka! Ayo kita pergi ke sana Rabu!" ujar Sukma.
__ADS_1
Wati terdiam mendengar itu. Sepertinya itu adalah usulan yang bagus. Wati mengangguk mendengar itu. Dia menyetujuinya.