
Beberapa menit yang lalu mobil Cak Dika berhenti tepat di depan halte bus. Di sana, Rachel dan Marsya ditinggalkan sebab karena satu alasan.
Tapi Cak Dika sama sekali tidak mengatakan apa alasannya meninggalkan mereka di situ. Katanya, waktunya sudah mepet.
Hari ini bertepatan dengan malam satu suro. Seiring dengan zaman yang kian berubah. Malam satu suro yang dikenal suci oleh orang Jawa. Rumornya menjadi malam yang sakral. Malam penuh misteri.
Biasanya para sesepuh akan memandikan pusaka mereka di malam ini. Orang Jawa juga akan melaksanakan tapa bisu. Namun tidak semua melaksanakan itu. Hanya beberapa sepuh saja yang lekat ilmu kejawennya.
Marsya mondar-mandir sejak tadi. Dalam kepalanya ada banyak pertanyaan perihal kenapa mereka ditinggalkan.
"Lah ini kenapa kita ditinggal di sini mbak?" tanya Marsya yang saat ini berdiri di samping Rachel.
Sebenarnya alasan mereka ditinggal adalah. Sebab tempat ini adalah hilangnya Deni dan Rahman.
Cak Dika beserta Bella dan Laras sedang menuju ke rumah makan soto tempat di mana Deni dan Rahman bekerja.
"Kita mau survey, kan?" ujar Rachel kemudian memilih duduk di bangku panjang halte bus itu.
Capek rasanya berdiri sambil bersandar di tiangnya.
"Survey gimana mbak? Wong haltenya sepi gini kayak kuburan!" jawab Marsya lalu dia ikut duduk di samping Rachel.
Di sela percakapan itu. Muncul dua sosok hantu Belanda di depan mereka. Kedua sosok itu tidak lain adalah Barend dan Albert.
Dua sosok itu sekilas menatap ke atas. Tepat ke arah pohon besar di belakang halte bus ini.
"Kamu berani ya, duduk di sini?" tanya Barend dengan wajah polosnya yang pucat.
"Wahhh, adik ghaibku datang!" ujar Marsya sumringah lalu mendekati Barend.
Rachel menoleh kebelakang memperhatikan pohon besar yang ada di sana. Pohon itu berdiri menutupi halte bus ini. Ada banyak mbak Kunti bertengger di sana.
Ada juga salah satu kuntilanak yang terbalik, seperti kelelawar. Kakinya bertengger di dahannya pohon. Lalu kepalanya di bawah sambil tersenyum.
Sepertinya yang jenis ini sedang cosplay menjadi kelelawar. Mungkin tengah malam nanti dia akan berubah menjadi Batman. Pohon besar itu seperti kampung saja rasanya.
Wajar saja, pohon besar rimbun itu adalah pohon beringin. Tempat para bidadari ghaib bertengger di situ.
Rachel paham kenapa Cak Dika menyuruh mereka tetap di sini. Menurut Cak Dika, kemungkinan untuk menemukan Rahman dan Deni ada dua.
Mereka bisa saja ditolong lewat jalur halte bus. Atau, melalui tempat kerjanya. Cak Dika yakin, bahwa ada satu ritual yang sedang di jalankan pemilik warung soto itu.
Sebab salah satu maungnya melihat ada satu benda asing yang ada di dalam tasnya Rahman. Itu semacam ajian pesugihan.
Di sanalah yang membuat Cak Dika begitu yakin. Bahwa masalah sesungguhnya terletak pada cincin itu.
Ditambah dengan laporan dari Laras tadi di halte bus. Saudaranya yang memiliki kemampuan jelajah kilas balik itu mengatakan.
Ada satu benda yang dibawa Rahman yang mengaitkannya pada warung soto itu. Laras juga mengatakan bahwa benda itu auranya sangat suram. Itulah yang saat ini membuat tim mereka terpisah.
Rachel menghela nafas panjang. Lalu dia menatap ke arah dua hantu Belanda di depannya itu.
"Barend!" panggil Rachel pada Barend yang masih bercengkrama bersama Marsya di sana.
__ADS_1
"Ada apa, Rachel?" tanya Barend terbang ke arah Rachel.
"Bisakah kamu menunjukkan portalnya? Aku mau masalah ini cepat selesai!" ujar Rachel padanya.
Barend mundur mendengar permintaan Rachel. Dia berdiri sejajar bersama dengan Albert sekarang. Kedua hantu Belanda itu sejenak saling tatap satu sama lain.
Mereka takut juga bingung. Namanya juga anak kecil bukan. Bagi mereka bus hantu itu adalah penjara. Dan mereka ini hantu kelas teri. Yang kebetulan menemukan perlindungan bersama dengan keluarga Gautama.
"Rachel, dimensi yang itu adalah jebakan! Nenek tua itu Genderuwo, pesugihannya orang. Dan saat ini, temanmu sedang dalam bahaya besar. Kami tidak berani masuk ke dalam area itu! Kami bisa dijadikan budak nanti, kami takut!" jelas Albert pada Rachel di sana.
"Lalu aku harus ngapain di sini?" tanya Rachel padanya.
Kedua hantu Belanda itu kembali melayang ke arah Rachel. Mereka berdiri tepat di hadapan Rachel.
"Portal ghaib akan terbuka buat kamu. Kalau Cak Dika berhasil meringkus pemilik pesugihan. Dan pada saat itu, bus yang kamu cari akan datang. Masuk dan selamatkan temanmu. Kamu tenang aja, Cak Dika pasti berhasil kok!" jelas Albert lagi padanya.
Rachel mengangguk mendengar itu. Kemudian setan Belanda itu perlahan menghilang. Meninggalkan Rachel dan Marsya di sana.
Kemampuan Rachel yang mampu menelusuri alam sebelah. Tidak akan bisa digunakan. Apabila tujuan yang ingin dicapai untuk ke sana tidak jelas.
Ibaratnya seperti, mengirim surat tanpa alamat. Maka surat itu pasti tidak akan sampai ke penerimanya bukan. Nah seperti itulah dia.
Dia ingin menyelamatkan Deni dan Rahman secepatnya. Tapi tidak tau di mana letaknya mereka dan bagaimana cara masuknya hingga sampai ke sana. Jalan satu-satunya ya cuma satu! Yaitu menunggu.
Di tempat lain terlihat laju mobil Cak Dika mulai berhenti di depan tempat makan. Sebuah warung soto besar.
Di dalam mobil terlihat Laras dan Bella menutup hidungnya. Bau tidak sedap sudah menguar sampai mengusik Indra penciuman mereka.
Bau itu hanya mampu dirasakan oleh mereka yang peka. Sedangkan Aldo yang masih berada di kursi supir hanya menatap warung itu. Mendadak saja perutnya terasa lapar sekarang.
"Kamu mau makan ludahnya setan?" tanya Laras padanya.
Aldo tertegun mendengar itu. Lalu dia kembali memperhatikan warung makan itu. Cak Dika yang kasihan jika Aldo tidak bisa melihat hal sesungguhnya yang terjadi di sana.
Langsung saja mengusap kedua mata Aldo secara cepat. Usainya usapan itu membuat Aldo menyaksikan satu gambaran langka yang tidak akan pernah Aldo lupakan sampai mati nanti.
Ada banyak para tuyul di sana. Mereka berdiri di meja-meja makan tepat di hadapan para pelanggan. Tuyul-tuyul itu meludah tepat di dalam mangkok makanan mereka.
Beberapa dari mereka bahkan wajahnya tidak utuh. Darah mengalir deras dari kepalanya. Terkadang darah dari bagian tubuh mereka juga digunakan. Di teteskan tepat di dalam mangkok soto itu.
Aldo yang merasa jijik pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pemandangan menjijikkan macam apa ini. Mual rasanya dia sekarang.
"Udah Cak, udah! Aku gak mampu lihatnya!" ujar Aldo lalu berbalik menghadap Cak Dika yang menyengir menatapnya.
"Cak, kamu itu jangan gitu! Kasihan Aldo, syok dia!" ujar Bella mengingatkan.
"Balikin dia Cak!" ujar Laras menimpali.
"Hahahahaha... Iya, tenang aja kamu!" jawab Cak Dika lalu dia kembali mengusap kedua mata Aldo.
Detik kemudian kedua mata itu kembali normal. Barang halus tidak lagi terlihat.
"Jadi kita, kesini mau apa?" tanya Bella pada Cak Dika.
__ADS_1
"Aku bakalan masuk ke dalam cari Tarno! Satu nama itu yang ada dalam kepalaku sekarang. Kalian pesan saja makanan di sana untuk dibungkus dan dibawa pulang. Aku juga bakalan masuk, cari keberadaan Tarno sialan itu!" ujar Cak Dika.
"Siapa yang bakalan makan itu? Gak mau aku!" ucap Bella padanya.
"Bella ikut Mas aja! Kamu kan reporterku, kasus ini selesai nanti biar ada dokumentasinya. Biar bisa langsung diupload sama Deni dan Rahman nanti!' jelas Cak Dika.
Bella menggelengkan kepalanya mendengar itu. Dalam situasi segenting ini bahkan Cak Dika masih memikirkan perihal konten horor.
"Yaudah, ayo bergerak!" ucap Aldo kemudian membuka pintu mobilnya.
Cak Dika dan yang lain mengangguk. Mereka pun mulai turun dari dalam mobil. Warung soto itu terlihat tidak pernah sepi.
Sejak pagi menjelang hingga malam tiba. Para pelanggan di sana seperti tidak ada habisnya. Maklum saja ya, dagangan ini menggunakan pelaris.
Cak Dika dan saudaranya mulai masuk ke dalam warung makan itu. Barisan manusia sedang mengantri pesanan.
Cak Dika cukup lega melihat barisannya cukup panjang. Artinya, waktunya untuk mencari Tarno bisa cukup lama.
"Kalian antri di sini! Biar aku sama Bella yang urus tua Bangka sialan itu!" ujar Cak Dika.
Aldo dan Laras mengangguk. Lalu mereka ikut berbaris di sana. Cak Dika dan Bella langsung saja menuju ke arah salah satu karyawan.
"Permisi Mas, saya saudaranya Deni dan Rahman! Kebetulan katanya mereka udah pulang kerja mas ya katanya? Saya saudara dari kota Mas, kebetulan hari ini mau berkunjung ke desa. Dia tadi minta tolong untuk mengambilkan barangnya yang ketinggalan di sini! Ini kunci lokernya, kalau boleh saya mau ambil mas sambil nunggu pesanan saya di sana jadi!" jelas Cak Dika pada karyawan itu.
Kebetulan saja karyawan yang ditanyai itu adalah Teguh. Salah satu rekan kerja Rahman dan Deni yang paling dekat.
"Oh iya mas, silahkan! Mari saya antar!" ucap Teguh sambil tersenyum pada Cak Dika.
Sesekali kedua matanya melirik ke arah Bella. Matanya terbuai rasanya melihat kecantikan Bella di sana.
"Mari mbak!" ucap Teguh pada Bella.
Bella hanya mengangguk lalu dia ikut masuk ke dalam bersama dengan Cak Dika. Mereka masuk agak jauh melewati dapur. Hingga sampai tepat di ruang loker karyawan.
Teguh berdiri di belakang mereka. Cak Dika yang tujuannya bukan itu pun berbalik menghadap teguh. Dia menyentuh salah satu bahunya Teguh dan berkata,
"Pripun Mas e, aku kesini mau cari Pak Tarno! Apa kamu tau dia di mana? Karena warung tempat kalian kerja ini tempat pesugihan!" jelas Cak Dika.
Teguh terkejut mendengar itu. Refleks dia mundur lalu menaikkan satu alisnya sambil menatap ke arah Cak Dika dan Bella.
"Ngomong opo toh Mas, ora mungkin iku! Sini Laris Yo memang karena enak. Bukan karena pesugihan!" jelas Teguh mencoba menyangkalnya.
Cak Dika lalu bergerak cepat mengusap kedua mata teguh. Detik kemudian Teguh berteriak kencang. Di dalam loker itu banyak sekali tuyul dan dia Genderuwo.
Teguh jatuh duduk, kakinya lemas rasanya. Di sana Bella pun bersimpuh lalu menatapnya.
"Mas, kami niatnya baik di sini! Kalau memang kamu tau sesuatu. Boleh tolong tunjukkan ke kami!" ucap Laras lirih pada Teguh.
Pelan-pelan Teguh menunjuk ke arah lorong di ujung sana. Cak Dika menoleh ke belakang. Lorong itu masih jauh letaknya, di ujung lorong itu ada satu pintu.
"Di sana, dia selalu masuk ke sana! Pintu itu gak boleh dimasukkin karyawan. Hanya Pak Tarno dan keluarganya!' jelas Teguh yang masih ketakutan.
Cak Dika kembali menoleh ke arah Teguh lalu menghampirinya. Cak Dika juga ikut bersimpuh di hadapannya.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Mas!" ucap Cak Dika lalu mengusap lagi kedua mata Teguh.
Kedua mata Teguh kembali normal sekarang. Teguh yang masih duduk di sana hanya mampu melihat Cak Dika dan Bella yang terus maju ke arah ujung lorong.