
Bella memperhatikan kompas miliknya. Keputusan Cak Dika untuk mendaki dadakan membuatnya pusing kepalang.
Pemuda bujang yang paling tua di antara mereka itu membuat Bella istighfar rasanya. Jika ini bukan menyangkut nyawa manusia maka Bella enggan menyiapkan segalanya dengan waktu yang sangat singkat.
Dari Barend, Rachel mendapatkan satu penglihatan. Di mana situasi dua orang pemuda yang hilang dalam dekapan gunung Anjasmoro itu sedang tidak baik-baik saja.
Maka melalui warung rujak cingur. Cak Dika sang pawang Maung itu menugaskan satu maungnya untuk ikut bersama beberapa kawanan setan Belanda yang sudah menemukan lokasi hilangnya Richard dan Andika.
Sementara maung dan keempat setan Belanda itu menyusuri rimba gunung Anjasmoro. Cak Dika beserta timnya bergegas menyiapkan segala keperluan mendaki.
Hari itu juga setelah makan rujak cingur mengenyangkan perut mereka. Hanya berkisar beberapa jam mereka pun benar berada di ketinggian seribu lima ratus meter di atas permukaan laut.
"Kompasku jamnya Ndak karuan, Cak!" ujar Bella sambil memperhatikan jarum jam kompas yang dia pegang sejak tadi.
Dari pos pertama sampai ke pos ke empat tidak ada masalah dengan kompas miliknya. Namun,ketika mereka berhenti di pos empat. Kompas Bella benar-benar eror.
Rachel memperhatikan sekeliling. Belantaranya cukup lebar. Ditambah tadinya cuaca begitu cerah. Namun seketika kabur datang menghalau pandangan mereka di kejauhan sana.
Melissa di sana juga merasakan sesuatu. Bahwa kabut yang datang mengukung mereka saat ini rasanya semakin tebal. Hawa hangat udara saat itu seketika lenyap tergantikan oleh dingin yang perlahan semakin dingin.
"Kita dilahap kabut dimensi alam sebelah!" ujar Cak Dika bola matanya memperhatikan langit-langit.
__ADS_1
Awan di sana seperti mati tak bergerak kabut-kabutnya. Angin yang tadinya menerpa kulit mereka tidak lagi mereka rasakan.
Rachel menghela nafas berat mendengar apa yang Cak Dika katakan. Benar, mereka terjebak. Ada makhluk di sini yang sengaja membawa mereka masuk ke dalam dimensi alam sebelah.
"Lagi-lagi mereka tau kalau kita sedang mencari keberadaan dua orang yang hilang itu!" ujar Bella.
Bella memasukkan kompas miliknya. Dari dalam tasnya dia mengambil satu benda yang selalu dia bawa ketika mendaki.
Ya, itu adalah kamera polaroid. Kamera dari Simbah Gautama. Bella mencoba memotret ke arah depan. Tidak ada apapun yang aneh dalam potretan pertamanya.
Cekrekkkkk
Potret kedua membuat dia terkejut ketika melihat lembaran hasil potretnya. Jauh di sana di arah samping kiri belantara. Berdiri seseorang. Sosoknya tidak jelas. Akibatnya Bella pun melihat ke arah itu lagi.
Mereka serentak memperhatikan ke arah satu arah yang ditunjuk oleh Bella. Mereka melihat sosok itu. Seperti seorang manusia namun dia berdiri membelakangi membelakangi mereka.
Rachel hendak maju mendekati orang itu. Tapi, Barend sekejap datang di hadapannya bersama hantu Belanda lainnya.
"Rachel!" panggil Barend yang saat ini berdiri di depannya. Bocah kecil itu merentangkan tangannya seakan tidak memperbolehkan Rachel mendekati sosok itu.
"Apa?" tanya Rachel padanya.
__ADS_1
Barend menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin Rachel ke sana.
"Ada apa?" tanya Rachel lagi padanya.
Albert menatap penuh ke arah mata Rachel yang penasaran.
"Jangan dikejar! Dia memang akan membawa kalian pada tujuannya. Tapi, dia akan menuntut ganti! Rachel... Di sana banyak sekali sosok seram yang akan mencelakai kalian! Kalian di sini sudah terjebak!" jelas Albert pada Rachel.
Cak Dika lantas mendekati Albert yang berdiri di hadapan Rachel.
"Kalian tenang saja! Kalau niat kita baik di sini maka tidak akan ada satu di antara kami yang akan celaka. Jadi, biarkan kami melanjutkan ini! Tugas kalian memberitahu kami lokasinya sudah selesai. Sekarang giliran kami yang akan menyelesaikannya!" ujar Cak Dika menjelaskan.
Albert lalu menatap Barend yang masih enggan melepas Rachel pergi. Barend memang terkadang kesal terhadap Rachel. Tapi Rachel adalah teman pertamanya yang menganggap dia ada.
Perlahan Rachel tau dan mengerti apa yang Barend rasakan. Dia pun tersenyum pada Barend. Menatap teduh ke arah mata yang khawatir terhadapnya. Thariq di samping Rachel juga ikut tersenyum.
"Aku akan memberikanmu gula-gula besar! Kau jangan khawatir, aku pasti kembali! Kamu lihat, kan? Pasukanku banyak, doa ibu, juga restu Tuhan ada bersama orang-orang baik!" jelas Rachel.
Baren menurunkan kedua tangannya yang dia rentangkan. Kemudian dia menunduk. Lalu tubuh kecil itu berbalik ke arah Albert. Baren menangis namun tidak mengeluarkan air mata.
"Pergilah Rachel! Aku harap kau kembali. Sebab kamu adalah teman pertamaku. Maka jangan mati Rachel!" ujar Barend lalu menghilang setelah mengatakan itu.
__ADS_1
Hilangnya Barend juga diikuti dengan hantu Belanda lainnya. Pada akhirnya mereka masih melihat sosok itu. Satu sosok yang membelakangi mereka.
Merek berjalan mendekati sosok itu. Namun semakin dikejar sosok itu semakin jauh. Dia seperti ninja yang melompat ke pohon satu ke pohon lain. Benar apa kata Barend, sosok ini seperti sedang menuntun mereka.