Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 128: Motor Setan


__ADS_3

Jalanan malam ini cukup sepi. Padahal ini hari Minggu. Jam menunjukkan tepat pukul dua belas malam.


Redi dengan motor barunya mulai menyusuri jalanan poros yang sudah cukup sepi itu. Kiri kana jalanan itu adalah area persawahan.


Tiang lampu jaraknya cukup jauh antara lampu satu dengan lampu lainnya. Suara jangkrik malam itu mendominasi.


Rasanya hanya suara jangkrik lah nyanyian yang menemani Redi melintasi area itu malam ini.


"Motor ini kadang rada aneh juga!" ujar Redi berbicara sendiri.


Dia mengendarai motornya degan kecepatan sedang. Sepoi angin malam itu cukup sejuk menerpanya.


Beruntungnya langit tidak mendung malam itu. Seandainya mendung dan hujan turun menerpanya. Mungkin sampai di rumah nanti Redi pasti akan terkena masuk angin.


Brmmmmmm


Brmmmmmm


Glekk


Suara motor Redi tiba-tiba mati. Lampu sorot motornya pun juga ikut mati. Redi terkejut melihat apa yang terjadi pada motornya saat ini.


"Loh!" pekik Redi. Dia mencoba menyalakan mesin motornya lagi. Namun tetap saja. Mesin motor itu tak ingin hidup.


"Ayolah! Ini sudah malam loh! Jangan rewel!" ucap Redi kesal.


"Motor bagus gini tapi mogokkan ini gimana?" ujar Redi memaki motor miliknya.


Pukkkk


Pukkkk


Redi menepuk-nepuk speedometer motor miliknya. Namun tetap tidak menghasilkan perubahan.


Ketika Redi menegaskan kembali tubuhnya dia tidak sengaja menangkap sosok seseorang yang duduk tepat di jok belakang motornya.


Deggg


Jantungnya saat itu serasa berhenti saja rasanya. Pasalnya dia tadi sendiri. Lantas siapa orang yang saat ini sedang bersamanya.


Jika memang ada seseorang di jalan itu selain dirinya seharusnya dia mendengar suara langkah kaki sejak tadi.


Tapi orang itu berhasil duduk di jok belakang motornya tanpa suara. Redi yang terpaku hanya bisa mengandalkan bola matanya untuk melihat sosok itu lebih jelas melalui spion.

__ADS_1


Tangannya hitam melepuh. Perawakannya tidak kurus tidak pula gendut. Dia tengah-tengahnya. Sosok itu mengenakan baju berwarna putih bersih.


Dia bukan kuntilanak dengan rambut panjang bak iklan sampo. Dia seorang laki-laki. Di tengah kepanikan jantungnya.


Satu suara berbisik tepat di telinganya. Bisikan itu tidak di iringi dengan hembusan nafas. Padahal jaraknya dekat. Suara itu perlahan membisikkan padanya.


"Sudah bisa kok, coba kamu nyalakan lagi!" ujarnya.


Dengan bulu kuduk yang berdiri. Tangan Redi serasa diarahkan oleh sesuatu. Dia tidak tau sesuatu itu apa. Yang jelas tangan kanannya kembali menyalakan motor.


Ketika gas ditarik. Detik itu juga motor itu pun melaju dengan kecepatan piston. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Redi sampai tiba di rumahnya.


Sesampainya di sana. Redi pun langsung memarkirkan motornya. Lalu berlari masuk ke dalam.


Di dalam dia masih kepikiran perihal sosok yang duduk bersamanya satu motor. Buk Ijah adalah nama ibunya Redi.


Dia terbangun ketika mendengar suara motor anak sulungnya datang. Buk Ijah memperhatikan raut wajah Redi yang pucat Pasih.


"Kamu kenapa Nak?" tanya Buk Ijah padanya.


Redi yang kebetulan masih di ruang tamu sambil membelakangi pintu itu pun terbuyar dari lamunannya. Dia memperhatikan Buk Ijah di depannya.


"Ndak papa buk! Redi cuma capek aja! Ibuk istirahatlah, ini sudah larut malam!" ucap Redi pada ibunya.


Kemudian dia berlalu dari sana. Masuk ke kamar mandi lalu membersihkan diri. Selagi Redi di dalam kamar mandi. Motor miliknya di luar.


Seorang pemuda berbaju putih yang tadi ikut bersama Redi. Pemuda yang sama yang Redi lihat melalui kaca spion.


Beberapa menit setelah mandi Redi pun keluar dari dalam kamar mandi. Dia pun menuju ke kamarnya.


Letih rasanya tubuhnya seharian ini kerja. Ya, dia baru saja mendapatkan pekerjaan di salah satu rumah makan dua bulan lalu.


Gaji pertamanya saat itu dibelikan motor second yang masih bagus. Motor itu adalah motor yang dia kendarai tadi. Motor itu baru dia dapatkan awal bulan ini.


"Hufft..." lirih Redi.


"Lelahnya!" lanjutnya lagi.


Redi berbaring di kasurnya. Kedua matanya menatap lekat ke arah langit-langit kamar. Kosong hanya ada lampu.


Ketika Redi memilih untuk terpejam sebentar lalu bangun lagi. Dia terkejut melihat satu sosok berwajah hangus menatapnya tepat di depan wajahnya.


"Si... si... siapa kamu?" tanya Redi terbata-bata. Dia benar-benar terkejut sekarang.

__ADS_1


Mungkin inilah yang disebut dengan peristiwa ketindihan. Untuk bergerak pun Redi tak mou. Seakan kedua matanya memang dipaksa untuk menatap ke arah sosok itu.


Perlahan wajah hangus itu mulai berubah kulitnya. Wajah itu berubah menjadi putih pucat.


"Si... siapa kamu? Mau apa kamu?" tanya Redi padanya lagi.


Sosok itu tersenyum padanya. Jika dilihat sosok ini cukup tampan wajahnya dengan alis tebal khasnya.


"Aku Riko! Pemilik dari motor yang kamu pakai sekarang!" jawab sosok itu padanya.


"Huh... Riko siapa?" tanya Redi lagi padanya. Sungguh dia masih belum mengerti betul siapa Riko ini dan datang dari mana asalnya.


"Kamu tenang saja Redi! Aku hanya akan mengajukan permintaan padamu!" ucap Riko pada Redi.


"Apa itu?" tanya Redi padanya.


"Jika kamu mau selamat dariku! Ikutlah balapan. Jika kmu menolaknya, maka nasibmu akan sama dengan pemilik motor itu sebelumnya. Kalian akan bernasib sama. Mati!" ucap sosok itu diakhiri dengan senyuman setelah mengatakan itu.


Ketika sosok itu memudar. Redi pun mampu mengangkat tubuhnya sendiri. Memaksanya untuk duduk dan kembali terjaga.


Redi terengah-engah. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahinya. Air putih di atas meja kecil di samping ranjangnya dia ambil.


Redi meneguk air putih itu sembari mengatur nafasnya yang memburu.


"Siapa dia?" tanya Redi memikirkan perihal pemuda bernama Riko yang tadi dia temui.


"Ah.." lirih Redi mencoba mengalihkan ketakutannya.


"Mungkin itu hanya bunga tidur!" ucap Redi lagi.


Dia menaruh kembali gelas yang sudah kosong itu di atas meja lalu menarik kembali selimutnya. Malam itu dia tidak terlalu menggubris perkataan dari sosok itu.


Hingga keesokan harinya ketika dia akan berangkat kerja banyak kesialan hampir menimpanya.


Seperti motornya yang tiba-tiba mengegas sendiri. Dan hampir menabrak seorang ibu-ibu.


Motornya kadang berbelok sendiri dan hampir menabrakkan dirinya di bus. Kejadian beruntun menimpa Redi dan hampir meregang nyawanya.


Sampai ketika dia memutuskan untuk mengikuti perkataan dari sosok itu. Yaitu ikut balap liar.


Ketika dia mengikuti balap liar. Kemalangan yang brutal datang itu tidak lagi menimpanya. Namun di sisi lain dia juga tertekan. Sebab motor setan ini seperti sudah mengendalikan hidupnya.


Buk Ijah yang khawatir pada anaknya itupun sengaja menghubungi Cak Dika untuk meminta bantuan.

__ADS_1


Tiap malam setelah balapan. Nampak raut wajah Redi yang pucat Pasih. Dia tidak pernah berbicara pada ibunya lagi.


Dia menjadi anak pendiam. Sehingga itu membuat naluri keibuan Buk Ijah meronta-ronta lalu menghubungi Gautama Family.


__ADS_2