Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 96: Mencari Bukti


__ADS_3

Kematian itu teka-teki. Dia datangnya tidak pernah diketahui oleh siapapun. Itu adalah rahasia Tuhan. Sesungguhnya bunuh diri bukanlah satu-satunya solusi untuk mengakhiri beban dalam dunia yang sepertinya tidak mampu kamu selesaikan.


Jika dunia menghantammu dengan ketidakbenaran. Maka janganlah kamu merasa lemah. Frustasi berkepanjangan hanya akan menciptakan setan dalam hati dan kepalamu.


Mereka akan bersemayam di sana lalu memangsamu mengelabui. Mati, mati, dan matilah! Itulah katanya!


Namun bahkan, setelah mati pun mereka yang bunuh diri tidaklah benar-benar bebas. Melainkan mereka akan tetap di bumi mengembara merasakan sakit teramat akibat ulahnya.


Mungkin itulah yang dirasakan oleh Gandis saat ini. Dia merana akibat luka di lehernya. Dia kesakitan, pedih dan pilu menjadi satu padu. Namun apa daya dirinya menangis namun tak mampu mengeluarkan air mata.


Akibat kesengsaraan itulah saat ini Gautama Family datang. Kali ini mereka sedang berada di rumah Gandis. Rumah itu kosong saat ini. Tak ada penghuninya.


Pikirkan saja, siapakah yang ingin tinggal di sana setelah kejadian mengerikan itu? Tidak ada!


Thariq saat ini sedang bersama dengan Rachel. Dia di sana berdiri sambil menatap ke arah dahan tempat di mana Gandis mengakhiri hidupnya.


Ya, rombongan Gautama Family ini sudah sampai kemari sejak jam tujuh pagi. Ekspedisi mereka menyusuri rumah Gandis pun di mulai.


Namun sayangnya di sana Thariq hanya mampu melihat Gandis yang menangis sambil memegangi perutnya.


Dia terus saja meracau menangis mengumpat mengatakan bahwa lelaki itu sama saja biadabnya.


Jika hanya seperti ini Thariq tidak akan menemukan jawaban. Sebuah jawaban yang dinantikan oleh Cak Dika dan yang lain adalah. Jawaban perihal siapakah seorang pemuda yang datang ke makam Gandis saat itu.


Namun, apa yang dilihat oleh Thariq harus dia katakan. Di sana di perlihatkan perihal apa saja yang terjadi di tempat itu sebelum Gandis mati.


"Aku melihat dia mengambil tangga kayu! Tangga kayu itu lalu dia naiki. Sampai ketika dia sudah berada di atas sana. Dia duduk mengikat tali tampar itu agar kuat melilit dahan. Setelah dirasa sudah cukup kuat. Barulah dia membuat simpul pada lehernya. Dia lalu berdiri di sana lalu melompat! Suaranya tercekik matanya mulai memutih perlahan. Bunyi tengkorak leher yang patah saat itu mengakhiri nyawanya. Hirupan nafasnya tidak lagi terdengar!" ujar Thariq.


Gambaran itu berhenti lalu Thariq mulai membuka kedua matanya. Seperti biasanya, Thariq akan lemas setelah melakukan perjalanan menembus masa lalu.


"Jadi masih belum ketemu ya?" tanya Cak Dika yang baru saja datang keluar dari dalam gang.


Thariq dan Rachel menoleh ke belakang. Melihat keberadaan Cak Dika di sana. Thariq pun mengangguk.


"Gak ada yang aku lihat kecuali ritual sebelum dia mati gantung diri di sana!" jelas Thariq sambil menunjuk ke arah atas dahan tempat di mana Gandis saat itu menggantung dirinya.


Cak Dika mengangguk mendengar hal itu. Suara gaduh di luar membuat mereka semua yang saat ini berada di halaman belakang rumah Gandis pun terkejut.


Riuh sekali suaranya. Merasa penasaran mereka pun segera meninggalkan halaman belakang rumah itu. Ketika mereka kembali ke luar ke depan.


Mereka melihat rombongan warga sekitar dua puluh orang datang berbondong-bondong menuju ke rumah Gandis.


Rara yang kebetulan berada di sana bersama Marsya, Melissa, Laras dan Bella hanya mampu tersenyum tipis ketika melihat keberadaan warga yang datang.


"Kami melihat sesuatu kemarin! Pintu-pintu kami diketuk oleh kepala pocong!" ujar salah satu warga berteriak.


Ada seorang kepala adat di sana. Dia datang sambil membawa baskom berisikan bunga. Cak Dika memperhatikan itu. Ah, tentu saja! Itu adalah air pembersihan.

__ADS_1


Ketika kepala adat itu hampir mencapai pintu. Cak Dika pun berdiri di depannya seakan menghalanginya.


"Assalamualaikum Simbah!" ujar Cak Dika memberi salam padanya sambil membungkuk sedikit..


Kedua mata keriput Simbah itu hanya mampu menatapnya. Mata tua itu kian menyipit menatap keberadaan Cak Dika di depannya.


Simbah itu tersenyum bahagia ketika merasakan hawa luar biasa dalam diri Cak Dika. Dia juga melihat itu, para Maung Majapahit ada dalam diri Cak Dika.


Merasa keberadaan Cak Dika di sini akan menyelesaikan masalah warganya. Simbah itu pun memilih untuk berbalik menghadap ke arah warganya.


"Dengar...." ucap Simbah itu dengan suara setengah berteriak. Sambil mengangkat tongkatnya ke atas Simbah itupun berkata,


"Di depan kalian ini adalah keturunan Majapahit! Dia datang kemari sebab ingin menolong kita. Jadi, apapun yang mereka butuhkan di sini! Harap para warga memenuhinya. Teror Pocong Gandis akan terus mengembara jika tidak diselesaikan!" jelas ketua adat itu.


Para warga raut mukanya nampak khawatir. beberapa dari mereka ketakutan. Pasalnya itu benar-benar mengerikan.


Bahkan ada yang mengaku mereka semalam sempat bertemu dengan Gandis di jalanan poros. Sebuah jalanan tempat di mana Wati dan Sukma lewati dari halte bus hingga masuk desa.


"Dia kemarin bertemu dengan saya di jalanan poros! Saya baru saja pulang bekerja naik sepeda kebo. Ada gadis yang membelakangiku. Dari jauh dia jalan rambutnya panjang. Dia pakai batik. Tapi bawahannya waktu itu basah, ada darah di sana. Ngerasa aneh saya pun turun waktu itu! Barangkali wanita itu butuh pertolongan, kan!" jelas salah satu warga.


Cak Dika dan yang lain serius mendengar penjelasan warga itu.


"Waktu saya dekati. Kira-kira sekitar lima langkah kaki dari tempatnya berdiri. Saya berhenti! Wanita itu langsung balik badan. Saya terkejut ngelihatnya Mas, itu Gandis. Dia bawa bayi! Sambil natap saya dia tersenyum mengerikan. Dia juga sempat nyapa saya, Mas, gitu katanya! Kakiku kaku waktu itu mas. Gak bisa cak apapun rasanya. Sampai ketika Gandis dan bayinya berjalan mundur secara cepat. Dia hilang di ujung kapan desa ditelan kabut. Barulah itu saya sadar lari kesetanan. Biarlah sepedaku di situ tak peduli! Sampailah di rumah udah lega rasanya!" jelas penduduk desa itu lagi.


Cak Dika memijat pelipis keningnya. Wah, ini benar-benar rumit sepertinya. Tapi, bagaimanapun itu Cak Dika harus tetap menjalankan dan menyelesaikan itu.


Lantas dia pun berkata,


Para warga sejenak saling berbisik. Dalam hati mereka masih belum cukup yakin bahwa Cak Dika dan yang lain mampu menyelesaikan ini.


Tapi apa yang dikatakan oleh sang ketua adat. Membuat mereka pada akhirnya percaya dan mempercayakan tugas ini pada Cak Dika beserta dengan seluruh saudaranya.


Setelah persetujuan itu di dapat. Para warga beserta dengan kepala adat itu pergi dari hadapan Cak Dika.


Sejenak Cak Dika menghela nafas lega. Keramaian yang datang itu akhirnya hilang. Rachel yang sejak tadi diam pun tak sengaja menoleh ke arah hutan.


Dia melihat sesuatu di antara semak-semak tinggi itu. Seorang nenek berkebaya. Dia menatapnya kali ini. Merasa ada yang aneh dengan nenek itu. Rachel pun memisah diri dari rombongan saudaranya.


Saudaranya yang masih fokus berdiskusi ada beberapa yang tidak memperhatikan. Bahwa Rachel saat ini sedang masuk ke hutan mengikuti sosok nenek itu yang tubuhnya semakin masuk ke dalam tengah hutan.


Namun, Thariq sempat menoleh ke arah hutan. Dia melihat Rachel yang masuk ke dalam. Thariq langsung saja mengejarnya. Entah kenapa dia saat itu tidak memberitahu yang lain.


"Hel!" teriak Thariq memanggilnya.


Rachel yang berada tak cukup jauh jaraknya dari Thariq pun menoleh dan berhenti.


"Kamu udah gila Yo?" tanya Thariq memakinya. Kesal sekali rasanya sungguh.

__ADS_1


Thariq ini khawatir tiap kali Rachel melakukan sesuatu yang nekat. Dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Rachel.


"Gila gimana? Kamu gak mau dapat petunjuk? Lihat dia!" ujar Rachel lalu menunjuk ke arah sosok nenek berkebaya yang juga ikut berhenti agak jauh dari tempatnya berada.


Thariq memperhatikan itu. Benar, dia di sana yang berdiri bukanlah manusia.


"Dia bukan manusia!" ujar Thariq sambil memperhatikan sosok tua itu.


Rachel mengangguk dia pun berkata,


"Aku ingin kita mengikutinya! Sepertinya ada sesuatu yang mau dia katakan!" ujar Rachel lalu kembali melancarkan aksinya.


Namun baru saja hendak beranjak. Rachel kembali ditahan oleh Thariq.


"Riq, apasih?!" pekik Rachel menoleh memandangi pergelangan tangannya yang ditahan oleh Thariq.


"Kita panggil yang lain!" ujar Thariq.


"Yaudah kamu panggil aja mereka! Biar aku pergi dulu!" ujar Rachel padanya lalu berusaha melepaskan cengkraman tangan Thariq.


"Aku gak mau lepasin kamu lagi! Kamu itu kalo udah nekat bahaya!" ujar Thariq padanya.


Rachel kembali menatap ke arah sosok itu. Sosok itu kembali berjalan masuk ke dalam hutan.


"Kalau gitu, ikutlah bersamaku!" ujar Rachel lalu memaksa Thariq ikut masuk ke dalam hutan bersamanya.


Thariq terkejut melihat itu. Dia pun terpaksa mengikuti Rachel saat ini.


Sementara di tempat lain. Cak Dika dan yang lain memutuskan untuk pergi ke makamnya Gandis. Sebelum pergi Marsya sempat menyadari bahwa anggota mereka kurang saat ini.


"Eh!" pekik Marsya pada mereka.


Para saudaranya yang hendak berangkat itu pun berhenti lalu menoleh menatap Marsya.


"Ada apa sya?" tanya Rara padanya.


Marsya kembali memutar kedua bola matanya. Dia mencari keberadaan Thariq dan Rachel. Benar, dua orang itu tak ada di sini bersama mereka sekarang.


"Mbakku kemana?" tanya Marsya pada mereka.


Pertanyaan itu langsung membuat Cak Dika dan yang lain sadar bahwa Rachel dan Thariq sejak tadi tidak bersamanya.


"Kalian gak ada yang tau dia kemana?" tanya Cak Dika pada timnya.


Namun dengan cepat timnya itu menggeleng. Cak Dika menghela nafas panjang. Kemudian dengan maungnya dia mulai mencari keberadaan Rachel dan Thariq.


Keberadaan aura mereka pun terlacak. Saat ini mereka sedang masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


"Ayo ikut aku! Kita masuk ke hutan sekarang!" ujar Cak Dika lalu mendahului timnya.


Tanpa berpikir panjang panjang segera mereka mengekori Cak Dika. Ikut masuk ke dalam hutan.


__ADS_2