
Ilham berlari sekencang-kencangnya ketika melihat penampakan seorang pertapa dengan wajah yang penuh dengan tanah.
Dia sejak tadi hanya berlari terpisah dari Niko. Rasanya ia hampir menyerah saja sungguh. Buliran keringat mulai berjatuhan dari keningnya. Nafasnya terengah-engah tak karuan.
Perasaannya kalut, dia takut. Sumpah demi apapun, tempat ini sangat menyeramkan untuknya. Coba jelaskan bagaimana bisa tubuhnya yang tidur di dalam tenda ketika terbangun justru dia berada di tempat lain.
"Ya Allah... Astaghfirullah..." ucap Ilham putus asa lalu memilih bersimpuh dan menunduk.
Sejak tadi dia tak henti-hentinya berdoa. Sebab dia tau bahwa tubuhnya bukan berada di dalam alam manusia.
Iham menoleh ke belakang mencoba melihat apakah sosok kakek pertapa seram itu masih mengejarnya. Tidak ada apapun di belakang. Hanya ada kegelapan kosong dengan kukungan pohon besar yang mengapit.
"Ya Allah, tolong saya Ya Allah! Saya masih mau hidup!" ucap Ilham lagi meninggikan suaranya sambil menatap ke arah langit.
Dia sudah tidak tau harus apa lagi sekarang. Berserah diri pada Tuhan adalah hal betul dalam kepalanya saat ini.
Ilham menangis di sana sambil berkata sesuatu dalam hati kecilnya. Yang hanya didengar olehnya dan Tuhan saja. Di tengah keputusasaan itu Ilham berkata,
Ya Allah, tolong jangan matikan saya di sini! Saya masih mau membahagiakan orang tua saya. Saya mohon, saya ingin menebus kesalahan saya. Saya mohon, Ya Allah, kembalikan saya alam manusiamu!. Ucapnya dalam hati sambil meringkuk kali ini.
Ketika dia begitu putus asa. Nampak dari kejauhan sosok tinggi besar di antara ilalang tinggi memperhatikannya. Dia berseringai senang melihat ketakutan yang hinggap dalam hati Ilham.
Lantas, sosok itu perlahan mulai mendekat. Tubuhnya hitam pekat dengan telinga memanjang bak seekor kelinci. Giginya bertaring, seluruhnya adalah taring.
Tubuhnya tidak gemuk tapi sangat kurus bak tengkorak manusia. Namun dia masih memakai baju layaknya manusia.
Di atas kepalanya nampak dia mengenakan topi camping. Sosok setan itu mendekat perlahan ke arah Ilham tanpa suara. Hingga Ilham tidak menyadarinya bahwa sosok itu sedan berdiri sepuluh langkah di depannya.
Ketika Ilham masih menangis di sana. Di lain tempat Cak Dika dan rombongannya sedang menikmati hangatnya mie instan.
Hari sudah gelap dan mereka malam ini memutuskan untuk tidur setelah makan. Ketika mereka saling bercengkrama satu sama lain. Menikmati kopi juga mie kuah hangat Indomie.
Marsya, si tukang kesurupan itu lagi-lagi dimasuki. Siapa lagi jika bukan Senopati cakar. Salah satu pengikut Nyai Ratu yang paling setia.
Mie instan yang tadi dimakannya seketika terjatuh. Rahman yang berada di sampingnya melihat itu sigap menjauhkan Marsya dari kuah panas yang akan mengenai pahanya.
"Astaghfirullah... Sya, kamu kenapa?" tanya Rahman lalu menoleh ke samping memperhatikan Marsya.
Namun yang ditemukan adalah kedua bola mata yang memutih lalu suara geraman. Melihat itu, Rahman pun mundur. Dia mendekati Deni lalu membuka tasnya. Mengambil kamera miliknya dan siap merekam kejadian itu.
Cak Dika dan yang lain hanya diam sambil memperhatikan Marsya. Itu sudah biasa bagi mereka. Jika bukan Marsya, atau Laras yang memulai petunjuknya. Lalu siapa lagi?
Cak Dika dan Rachel bersamaan menyendok mie terakhir mereka lalu mengunyahnya, menelannya. Setelah itu mereka berdiri.
"Ah... Oke, sepertinya ronda malam!" ucap Rara meletakkan cangkir kopinya lalu ikut berdiri.
Marsya mulai mengendus-endus. Surainya yang terurai menutupi wajahnya. Penampilannya kali ini menyeramkan. Bak bidadari ghaib yang menyandang gelar wajah seram.
Bak seekor macan, Marsya lalu berlari ke arah gunung Pengamun-amun. Gunung yang letaknya agak cukup jauh dari tempat itu. Tapi masih terlihat puncak dan wujudnya.
Melihat Marsya yang menuju arah gunung. Rachel, Cak Dika dan Rara berlari menyusulnya. Sedangkan Bella dia langsung masuk ke dalam tenda mengambil peralatan penerangan. Alat itu sudah di kemas dalam tas Carrier.
"Aku pergi dulu!" ucap Bella pada Laras sambil memanggul tas besar miliknya.
__ADS_1
"Aku ikut..." ucap Laras pada Bella. Tapi Bella sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Deni dan Rahman selaku kameramen juga sudah pergi menyusul. Hanya ada Thariq, Aldo, Laras dan Mas'ud di sana.
Melihat kondisi Laras, Thariq pun memutuskan untuk ikut bersama dengan Cak Dika. Lalu membiarkan Laras dan Aldo beserta dengan Mas'ud berada di area tenda. Ketika Laras akan berdiri, Thariq pun menahannya.
"Biar aku aja mbak, kamu tenang aja di sini sama pacarmu! Aku yang nyusul mereka. Mas Mas'ud, tolong temani mereka yo!" ucap Thariq pada Mas'ud di belakangnya.
Mendengar itu, Mas'ud pun mengangguk. Thariq lalu bergegas menuju arah gunung Pengamun-amun. Dia setengah berlari menyusuri tanjakan ke arah gunung.
Jalannya gelap dan hanya ada suara serangga. Setan di desa dukuh legetang mulai nampak perlahan. Mereka masih berwujud manusia sama sepertinya. Namun, mereka cacat dan tidak sempurna.
Banyak anggota tubuh mereka yang hilang. Seperti kaki yang putus, dua tangan hilang, kedua mata bolong. Mulut yang tertusuk besi sampai tembus kebelakang. Bahkan ada yang kepalanya buntung.
Taman safari setan itu mereka telusuri. Hingga sampai tepatlah mereka di bawah kaki gunung Pengamun-amun. Di mana di depan mereka sudah ada belantara gelap menyapa.
Marsya berhenti di sana. Dia masih mengendus-endus area itu. Cak Dika, Rachel, Bella dan Thariq berdiri di depan belantara gelap itu. Sedangkan kameramen mereka jelas berada tepat di belakangnya mereka.
"Gila, jalur gak resmi ini! Bisa babat alas kita kalo masuk ke dalam!" ujar Bella sambil memperhatikan hutannya yang lebar dan rapat.
"Ada Navigatornya itu!" ucap Cak Dika asal sambil menunjuk ke arah Marsya.
"Navigator mbahmu, Cak!" timpal Rara kesal ketika mendengar jawaban gamblang dari seorang Cak Dika.
Bahkan di situasi seperti inipun Cak Dika mampu cengengesan. Ketika mereka sibuk mengatur nafasnya. Marsya langsung pergi bak seekor macan masuk ke dalam hutan itu.
Mereka yang melihat itu hanya mampu menghela nafas. Bella dengan sigap membagikan headlamp dan senter pada saudaranya begitupun dengan para kameramen.
Mereka terus saja berlari dan berlari sampai ketika mereka masuk ke dalam sebuah kabut putih yang sangat putih. Putihnya lebih tebal daripada kabur yang biasanya mereka lihat.
Benar-benar putih membutakan. Marsya sudah tidak berlari ketika masuk ke dalam kabut itu. Dia berjalan, para saudaranya pun mengikutinya.
Cak Dika diam, Rachel diam, para pemilik mata batin itu terdiam merasakan kehadiran energibyang luar biasa meliputi mereka.
"Siapa kalian?" tanya gema suara besar dari dalam kabut.
Tak lama ada susulan suara segerombolan manusia berbicara. Tapi pembicaraan itu tidak jelas. Terkahir hanya ada perkataan,
"Asik, ada mangsa baru nih!" ucap gema suara dari dalam kabut.
Setelah suara itu berkumandang. Kabur itu perlahan menghilang. Dari atas langit turun hujan. Hujannya memang air dan mereka merasakan. Tapi, ini panas, dan tidak menyejukkan.
Marsya kembali dalam tubuhnya. Dia terkejut ketika mendapati dirinya pindah di tempat lain. Ketika Marsya berdiri, Rara pun menepuk bahunya.
"Ra, ini di mana?" tanya Marsya pada Rara.
"Yang jelas, kita lagi diundang masuk dalam portal ghaib!" jawab Rara pada Marsya.
Keduanya berdiri. Melihat itu, Thariq perlahan mulai merasakan sakit kepala. Dia melihat ada dua orang manusia yang juga diseret kemari. Dia melihat manusia itu lari saling meninggalkan satu sama lain.
"Aaaaaaaaa!!!" suara teriakan itu membuat mereka semua terkejut.
Sejenak mereka saling bertatapan satu sama lain. Namun tak lama mereka pun memilih berlari masuk lebih jauh mencari keberadaan suara itu.
__ADS_1
Ilalang-ilalang panjang mereka lewati. Hingga tibalah mereka di sebuah air terjun kering. Nampak di sana seorang pemuda yang kakinya seperti habis dimakan binatang buas.
Kakinya putus namun tidak berdarah. Darah itu seakan mampet begitu saja. Itu adalah Niko, dia memperhatikan kakinya yang putus itu sambil meracau.
Cak Dika lalu menoleh ke atas pepohonan besar itu. Ada siluman monyet dengan taring yang sangat panjang berseringai ke arahnya. Monyet itu hitam pekat dengan kedua mata jahat menatapnya.
Cak Dika geram melihat itu. Setan semacam ini beraninya mencelakai manusia sampai seperti ini.
"Heh Bangsat! Mudun koe!" ujar Cak Dika maju sambil menatap ke arah monyet itu.
Monyet setan itu malah berseringai menampakkan gigi taringnya yang merah. Mungkin akibat menyantap salah satu kakinya Niko.
Sedang Cak Dika yang berhadapan dengan monyet itu. Rachel, Rara, Marsya dan Bella langsung menghampiri Niko di sana.
Mereka bersimpuh menatap Niko yang pandangan matanya mulai kosong.
"Mas, kamu gapapa?" tanya Rachel pada Niko.
Namun di sana tatapan Niko begitu kosong. Dia mengacuhkan tiap kalimat pertanyaan yang Rachel dan saudaranya lontarkan.
"Aaaaaaa!!!" suara teriakan lain mulai terdengar.
Cak Dika menoleh ke arah para saudaranya.
"Itu temannya, selamatin dia juga! Sebelum dia bernasib sama kaya' yang satu itu!" ujar Cak Dika lalu kembali fokus pada setan monyet yang masih berada di atas pohon.
Rachel geram melihat itu. Dia dan Rara langsung saja berlari ke arah sumber suara itu.
"Heh mbak, aku ikut!" teriak Marsya.
Rachel yang berlari tanpa menoleh ke arah Marsya langsung mengacungkan jari tengahnya. Sebagai isyarat pada Marsya agar tidak mengikutinya dan tetap berada di sana.
Kali ini bukan ilalang yang memenuhi perjalanan mereka. Melainkan ranting pohon kering yang jatuh bertumpukan di atas tanah.
Suara teriakan itu semakin keras beriringan dengan suara tawa Mbak Kunti di setiap jalan yang mereka lalui. Juga suara yang berkata,
"Koe ora isok mulih!" ucap gema suara besar berasal dari atas pepohonan.
Setelah cukup lama berlari. Rachel dan Rara melihat Ilham meringkuk ketakutan. Di depannya berdiri satu sosok seram berwarna hitam kulitnya.
"Heh!!!" teriak keduanya mempercepat laju larinya.
Hingga mereka tiba tepat di belakang Ilham. Sosok setan hitam itu kemudian berhenti menganggu. Namun di sampingnya muncul sosok pertapa yang tidak jauh seram dari sosok hitam itu.
Aura itu, pekat hitam dan sangat menyeramkan. Rachel tau, ini bukan tandingannya. Tapi ini tandingannya sang Nyai Ratu.
Nyai, aku membutuhkanmu!. Ucap Rachel mencoba memanggil Nyai Ratu.
Perlahan Nyai Ratu masuk ke dalam tubuh Rachel. Kehadiran itu selalu saja membuat para setan lain ciut.
"Culno wong-wong Iki! Koe ora berhak mundur Nyowo e menungso!" ucap Kanjeng Nyai Ratu dalam tubuh Rachel.
Sosok pertapa juga sosok hitam itu langsung sungkem. Tanpa menjawab apapun. Mereka pun menghilang dari hadapan Rachel dan Rara.
__ADS_1