
Kegelapan lain menyambut Rachel masuk ke dalam dimensi sebelah. Rupanya ini sisi lain Suramadu. Saat ini Rachel sedang duduk di jok mobil belakang. Kursi depan mobil itu kosong.
Rachel menatap kiri kanan kaca mobil ini. Gelap gulita adalah pemandangan yang dia dapatkan. Lantas Rachel kembali mengecek jok depan. Kedua sisi pintu mobil itu terbuka. Yang artinya, ada orang di dalam mobil ini sebelum Rachel.
Dengan penuh keyakinan Rachel perlahan mulai membuka pintu mobil. Ketika kakinya menyentuh permukaan jalanan, itu memang aspal. Tetapi dinginnya setengah mati.
Padahal dia sudah memakai alas kaki. Tapi rasanya dingin itu bak pisau. Yang menusuk alas kakinya lalu merambat masuk membelai kulitnya.
Suhu dingin di sini serasa di kota es. Rachel tinggal di kaki gunung. Tiap malam akan selalu dingin. Tapi ini, dinginnya melebihi kaki gunung. Padahal Suramadu berada di pesisir pantai. Yang artinya seharusnya suhunya tidak sedingin ini.
"Ini kenapa dingin banget Yo?" ujar Rachel bertanya-tanya entah pada siapa.
Dia terus saja berjalan dan berjalan. Ini masih sama jalanan jembatan Suramadu. Tetapi, yang aneh adalah tidak ada suara mesin mobil yang berlalu lalang. Suara klakson juga tak ada.
Rachel tau, dia paham ini adalah gerbang ghaib. Sisi lain dari Suramadu menariknya masuk kemari. Entah apa tujuannya?
Setelah cukup lama berjalan. Gema suara diiringi dengan terpaan angin dari sisi kanan kiri secara bersamaan menerpa wajah Rachel. Gema itu mengatakan,
"Untuk apa kau datang kemari, wahai Nyai Ratu?" tanya gema suara itu.
Rachel berhenti berjalan. Lalu dia mencoba memanggil Nyai Ratu. Ketika yang dipanggil sudah datang. Rachel pun meneruskan langkahnya. Tepat di belakangnya bahasa kejawen dari Nyai Ratu mulai menjawab pertanyaan sosok itu.
Itu bahasa Jawa, tapi sangat halus. Bahkan Rachel yang hidup di jaman ini pun tidak terlalu mengerti perihal apa yang sedang dua sosok itu bicarakan. Dia hanya tau satu hal dari pembicaraan saling saut itu.
Bahwa keinginannya Nyai Ratulah yang membawa Rachel kemari. Bergerak menjelajahi dimensi lain, sebuah dimensi orang-orang mati.
Nyai Ratu bilang ada dua orang yang tersesat di sini. Dan itu sudah cukup lama. Sebab iba, maka Nyai ratu pun menarik Cak Dika beserta saudaranya yang lain untuk datang. Lalu menargetkan Rachel sang maskot untuk masuk dan menyelematkan.
"Hiks... El... Elsa kamu kenapa gini?" suara Isak tangis di ujung gelap sana sejenak membuat Rachel berhenti.
"Hiks... Hiks... El, buka matamu!" perintah suara dengan Isak tangisnya itu.
Suara itu terdengar sangat pilu sehingga membuat Rachel bahkan terdapat hatinya ikut merasakan luka yang sedang di alami oleh pemilik suara tangis itu.
Rachel lantas berlari mencoba mencari tau siapakah pemilik suara itu. Beberapa langkah di depannya. Terlihat seorang pemuda bersimpuh membelakanginya.
Di depannya ada seorang gadis yang dia pangku tubuhnya. Dan gadis itu sama sekali tidak bergerak. Di sanalah Rachel yakin bahwa inilah alasan dia di bawa kemari dan masuk.
Dengan hati-hati Rachel mendekati mereka. Suara langkah kaki Rachel itu membuat pemuda yang tak lain adalah Herman itu sontak menoleh ke belakang.
Herman terkejut mendapati kehadiran Rachel yang sudah berdiri tepat di sampingnya sambil melihat ke arah Elsa yang sudah terkapar tak berdaya dengan wajah pucatnya.
"Kamu siapa? Tolong... Tolong... Tolong jangan ganggu kami lagi! Kuharap kamu mau melepaskan kami? Apakah kamu salah satu dari mereka?" tanya Herman mundur sambil memeluk tubuh Elsa yang lemah.
__ADS_1
Ketakutan itu wajar saja. Dan Rachel sangat memahaminya. Dia tau betapa takutnya Herman saat ini. Herman pasti sangat mencintai Elsa.
Melihat itu, Rachel tidak ingin menjawabnya dengan tergesa-gesa. Sebab jika dijelaskan apa yang terjadi di sini. Maka Herman pasti akan lebih ketakutan.
Lantas Rachel memilih untuk duduk di sampingnya sambil menatap depan. Sejenak dia jadi teringat Thariq rasanya. Mengingat wajah Thariq saat itu membuatnya menarik sudut bibirnya. Sebelum dia mulai bercerita, dia menghela nafas sejenak.
"Hallo, aku Rachel! Aku tidak mengenal kalian di sini! Tapi, aku tau aku juga terkenal di sini sama seperti kalian. Jadi, bisakah aku tau sebab apa yang membawa kalian ditarik masuk kemari?" tanya Rachel tanpa menoleh ke arah Herman.
Herman tertegun mendengar itu. Dia lantas kembali memutar memori otaknya. Ah, iya! Tentu saja dia mengingatnya. Ini perihal perkataan Elsa. Tapi apa dayanya nasi sudah menjadi bubur.
"Aku ingat, itu karena perkataan dari pacarku ini! Dia meremehkan makhluk di sini. Dia menganggap bahwa mereka tidak ada. Jika memang para makhluk di sini tersinggung, maka aku minta maaf! Kami akan menikah, tolong pulangkan kami!" ujar Herman lalu menangis lagi sesenggukan.
Mendengar itu tanpa berkata-kata apapun. Rachel pun berdiri. Tepat ke arah langit gelap itu Rachel menatap. Sepasang bola mata besar yang sedang menatapnya.
Rachel terlihat biasa ditatap semacam itu. Kalung yang sering dia pakai lalu dikeluarkan. Dia menunjukkan kalung itu pada sosok itu.
"Kisanak! Jangan membunuh manusia! Aku tau ini wilayah kekuasaanmu. Aku tau kau adalah pemilik portal ghaib besar ini! Jika kau bukan pemilik portal ghaib ini, maka pangkatmu mungkin panglimanya. Aku menyegani aura kuatmu ini! Aku tidak ingin melawanmu. Tapi coba dengarkan, manusia ini sudah minta maaf bukan? Jadi tolong lepaskan dia!" ujar Rachel berbicara melalui ilmunya dengan sosok itu.
"Kalau kamu mau membawanya pergi! Maka bawalah mereka pergi! Aku tidak akan membantumu keluar dari dalam sini. Kau yang harus membuka sendiri portal ghaibnya. Dengan resiko, seluruh kekuatan negatif di sini nanti akan mengejarmu sebelum kami sampai di gerbang alammu. Maka, resiko kuat atau tidak menahan itu tergantung padamu! Sekalipun kamu memiliki khodam sebesar itu, tapi tubuhmu dan kemampuanmu masih sangat minim dan rentan. Wahai keturunan Majapahit!" ujar sosok itu menjelaskan.
Rachel tersenyum tipis. Ya, dia tau resikonya akan besar jika portal ghaib dibuka sendiri olehnya. Jika dia kembali sendiri lalu meminta bantuan Cak Dika. Maka itu tidak mungkin. Keberadaan dua orang ini pasti akan hilang.
Lantas Rachel pun memantapkan hatinya. Tidak, sudah waktunya baginya untuk berjuang seorang diri saat ini. Aslinya, hanya dialah yang terkuat di antara saudaranya. Dialah maskot sesungguhnya.
"Ada apa?" tanya Herman penasaran pada Rachel yang terus saja memperhatikan Elsa.
"Kamu mau pulangkan? Kamu mau menikahinya, kan? Kalau begitu, pegang tanganku! Berlarilah ke arah cahaya putih. Ikuti keberadaan lima maung!" jelas Rachel pada Herman.
Itu tentu saja membuat Herman terkejut. Rachel lalu menyentuh kepala Elsa. Dia yang tadinya tak sadarkan diri perlahan mulai membuka matanya.
Sadarnya Elsa membuat Herman bahagia sekali rasanya. Elsa duduk di samping Herman. Tak ingin membuang banyak waktunya. Rachel segera memerintah mereka untuk berpegangan tangan.
Baik Herman dan Elsa pun menuruti itu. Kemudian Rachel juga menyatukan tangannya dengan keduanya. Dan di situlah Rachel saat ini sedang mencari jalan untuk keluar.
Di antara kegelapan itu mulai terdengar suar geraman. Di antara kegelapan itu mulai muncul sosok putih dari kejauhan. Sundel bolong datang dengan kaumnya.
Bidadari ghaib datang dengan kaumnya. Herman dan Elsa sejak tadi diperintah Rachel untuk terpejam. Kedatangan para arwah jahat itu menyebabkan panas yang teramat di punggungnya Herman dan Elsa.
"Jangan buka mata kalian, sampai kalian mendengar suara maung!" ujar Rachel lagi.
Hanya dialah yang saat ini matanya terbuka. Menatap lekat ke arah seluruh arwah jahat yang mengelilinginya. Rasanya mereka seperti tumpeng saja. Berada di tengah kerumunan setan itu.
Pocong, Genderuwo, dan kolong Wewe semuanya berada di sini. Dari suara menyeramkan mereka. Sebuah suara auman membuka jalan. Itu adalah kelima maungnya Gautama.
__ADS_1
"Buka mata kalian! Ayo lari!" perintah Rachel lalu berdiri.
Baik Herman dan Elsa langsung membuka matanya. Mereka terkejut melihat beragam sosok seram mengelilingi mereka.
"Sudah jangan dilihat!" perintah Rachel lalu menarik tangan mereka untuk kabur bersamanya.
Maung itu memimpin mereka keluar. Memberi jalan keluar untuk mereka. Para arwah jahat itu mencoba menarik mereka. Dengan gigih ketiganya terus berlari membobol kurungan setan yang berusaha menahannya.
Sampai ketika cahaya terang itu mulai nampak. Rachel mendorong kedua orang itu masuk lebih dulu ke sana. Lalu dirinya, tapi sayangnya para makhluk itu berhasil menyentuhnya.
Nyai ratu tidak bisa membantunya dalam hal ini. Ini adalah kerajaan jin lain. Dan dia tidak berhak ikut campur. Sebab sudah terjadi perjanjian antara Nyai dan sosok itu.
Bahwa sosok itu sudah mengijinkan Herman dan Elsa keluar. Tapi dengan usahanya sendiri. Dia juga sudah menjelaskan resikonya. Maka Rachel sajalah yang bisa keluar dari sana sendiri.
"Sialan!" ujar Rachel menahan energi negatif yang mulai menyerangnya.
Ini sesak sekali sungguh. Rachel bahkan sampai terengah-engah rasanya. Dia kemudian mulai membaca banyak bacaan. Meminta tolong pada yang maha kuasa untuk dibebaskan dan dibantu keluar dari dalam sini.
Doa itu didengar dan Rachel berhasil mencapai titik terang itu. Ketika sukmanya kembali masuk ke dalam raganya. Wajah pertama yang dia lihat di depannya adalah Thariq.
Rachel yang hampir mati itu lemas rasanya. Dia menjatuhkan kepalanya begitu saja menabrak tubuh Thariq. Saat ini dia masih sama posisinya, duduk di dalam mobil.
Herman dan Elsa ditemukan oleh Cak Dika di area tak jauh dari tempat mobil mereka. Setelah mendengar suara teriakan manusia. Cak Dika pun mengejarnya rupanya itu adalah Herman dan Elsa.
"Kamu udah berusaha dengan baik, Hel! Jangan paksain dirimu lagi!" ujar Thariq menasehati.
Dalam dekapan itu Rachel hanya mampu mengangguk lemah. Bella yang melihat Rachel kelelahan dan lemah itu pun mendekat. Dia memberikan sebotol minuman padanya.
"Ini hel! Minum!" ucap Bella padanya.
"Apa itu?" tanya Rachel lirih seraya tersenyum.
"Itu tuak!" jawab Bella asal.
Rachel lalu tertawa mendengar itu. Itu adalah air mineral biasa. Thariq pun menyambut botol itu menerimanya lalu membukanya. Dia membantu Rachel minum kemudian.
Di sana ada pihak menyesal. Yaitu para kameramen. Sial rasanya mereka tidak membawa kamera di saat seperti ini. Akibatnya, Cak Dika yang geram pun langsung menoyor kepala mereka satu persatu.
"Ancen koen Iki! Adekku neh mati koe malah koyok ngene modele!" ujar Cak Dika murka.
(Memang kamu ini! Adekku mau mati malah kamu seperti tingkahnya!)
Sambil mengusap-usap kepalanya yang ditoyor Cak Dika. Mereka pun diam dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Iyo Cak, Iyo! Sepurane!" jawab mereka bertiga bersamaan.