Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 85: Penjara Kalisosok (Sejarah Kelam VOC)


__ADS_3

Pembicaraan di telpon semalam membuat Rachel, Cak Dika beserta yang lain mengunjungi rumah seseorang.


Ya, itu adalah rumah Naufal. Seorang gojek yang semalam tertimpa sial ketemu demit. Di sana Naufal bercerita segalanya.


Perihal hantu bule yang dia lihat semalam. Sampai pada ketika hantu itu menunjukkan wajah asli mencekamnya. Membuat Naufal di sana ingin pipis di celana rasanya.


Suguhan teh hangat pagi itu menemani Naufal bercerita. Cak Dika dan yang lain mendengar itu. Sesekali mereka menjelaskan perihal hantu yang dilihat oleh Naufal malam itu.


"Ya, kamu berarti semalam bener-bener sendirian yo?" tanya Rara pada Naufal.


Naufal mengangguk.


"Iya, saya sendirian semalam! Hujan lebat di daerah itu! Gak ada siapapun kecuali saya di sana! Aku bersyukur banget mbak, bisa keluar dari sana. Bayangin kalo aku semalam pingsan di sana malah gimana itu?" ujar Naufal lagi lalu menyeruput teh hangat miliknya.


Naufal meneguk teh hangat itu menghabiskannya. Sebelum kembali mulai berbicara. Setelah tenggorokannya sudah cukup lega, dia pun berkata.


"Saya minta bantuan kalian! Sebab kami bukan dari keluarga yang kaya. Handphone baru dibeli beberapa Minggu. Masih baru itu! Handphone saya jatuh di area itu. Saya takut mau ngambil itu ke sana kalau sendiri. Istri saya juga dalam keadaan hamil. Jadi gak mungkin kalau saya ajak dia ambil itu Handphone!" jelas Naufal pada mereka.


Cak Dika manggut-manggut saja mendengar itu. Dia lalu menatap ke arah saudaranya. Meminta persetujuan apakah mereka bersedia membantu Naufal di sini.


"Gimana menurut kalian?" tanya Cak Dika pada mereka.


"Ah, aku sih ayo aja Cak!" ujar Marsya.


"Aku nganut!" jawab Laras pada mereka.


Kedua jawaban itu lalu membuat seluruhnya mengangguk. Yang artinya mereka bersedia membantu Naufal di sini.


"Yaudah, biar gak banyak buang waktu. Kita berangkat aja sekarang yok!" ajak Cak Dika lalu bangkit dari duduknya.


Seluruh Saudaranya juga ikut berdiri. Lalu mereka keluar dari dalam rumah Naufal. Di depan sana sudah ada tiga mobil grab yang tadi mereka pesan.


Setelah Naufal berpamitan dengan istrinya lalu masuk ke dalam mobil. Mereka pun segera tancap gas menuju alamat yang Naufal katakan.

__ADS_1


Setengah jam perjalanan dari kediaman Naufal. Pada akhirnya tiga mobil mereka berhenti di pinggiran jalan. Mobil itu berhenti tepat di lokasi kejadian. Lokasi di mana Naufal melihat hantu bule itu.


Sebelum turun dari mobil. Cak Dika bertanya lagi pada Naufal yang duduk di belakang bersama para Crew nya.


"Beneran ini lokasinya?" tanya Cak Dika pada Naufal.


Sejenak Naufal kembali memperhatikan bangunan kuno itu. Lalu dia mengangguk dan berkata,


"Iya, benar ini tempatnya! Semalam saya diteror di sini!" jawab Naufal.


Cak Dika mengangguk. Dia pun membuka pintu mobilnya. Terbukanya pintu mobil itu bersamaan dengan saudaranya yang lain.


Ketika kaki mereka memijaki area itu. Dua di antara mereka yang mampu merayap ke masa lalu pun tercengang.


Brukkkkk


Laras dan Thariq jatuh bersimpuh ketika mendengar suara teriakan. Perlahan suara teriakan itu semakin kencang. Teriakan itu berasal dari beberapa manusia yang pernah hidup di dalam penjara ini.


"Thariq!" pekik Rachel ketika melihat Thariq jatuh bersimpuh.


Dia khawatir pada Thariq yang mendadak jatuh sambil meringis kecil. Tak hanya Rachel saja yang khawatir di sana. Aldo selaku kekasihnya Laras pun juga sama. Dia khawatir.


"Penjara ini dibangun sejak tahun 1800-an. Dan ini dibangun pada jaman VOC. Bangunan ini dulu nampak gagah perkasa nan mewah. Ada seorang perempuan Belanda berpakaian ala dokter atau perawat. Dia masuk ke dalam bangunan ini lalu menghilang!" jelas Thariq.


Penjelasan itu membuat Naufal terperangah. Sosok yang disebut oleh Thariq adalah dia yang dilihatnya semalam. Sosok yang menghantuinya lalu membuatnya lari meninggalkan Handphonenya yang terjatuh.


"Ya... Ya.. Ya itu Mas! Bener apa yang dibilang sama bocah itu! Hantu bule itu yang buat saya lari terbirit-birit sampai ninggal Handphone saya di sini!" ujar Naufal menyela penjelasan Thariq.


Cak Dika yang paham situasinya pun mengangguk. Sebab kedua rekan timnya saat ini sedang dalam fase merayap masuk ke dalam sejarah kelam bangunan ini.


Maka di sini Cak Dika memutuskan untuk membagi timnya menjadi dua. Beberapa dari mereka akan tetap di sini menjaga Thariq dan Laras. Lalu beberapa lagi akan ikut bersamanya masuk mencari benda penting Naufal yaitu Handphonenya.


"Yaudah, kita bagi dua aja! Aku, Mas'ud,Rahman, Rachel dan Marsya bakalan masuk ke dalam! Sisanya di sini aja!" ujar Cak Dika membagi timnya.

__ADS_1


Mendengar nama Rachel yang diambil serta masuk ke dalam tim Cak Dika. Thariq pun membuka kedua matanya. Dia mengakhir dimensi jelajah waktunya. Kemudian dia berdiri.


"Aku ikut Cak!" ucap Thariq tiba-tiba.


Hal itu tentu membuat Cak Dika terkejut. Namun berbeda lagi dengan Rara dan Bella. Mereka hanya mampu tersenyum tipis.


"Kenapa kamu ikut?" tanya Rachel merasa aneh pada tingkahnya Thariq.


"Kenapa? Di sini juga udah ada Laras kan? Kalian gak punya kemampuan merayap ke masa lalu. Jadi Yo, biar adil aku ikut!" jelas Thariq mencari alasan.


Sebenarnya alasan sesungguhnya adalah Rachel. Ya, gadis itu! Thariq begitu takut kehilangan Rachelnya lagi. Rachel itu orang yang akan membantu semaksimal mungkin sekalipun dirinya sakit.


Tidak, Thariq tidak ingin melihatnya terluka lagi. Rachel menaikkan satu alisnya sedangkan Cak Dika di sampingnya berseringai. Perasaan Thariq pada adik sepupunya itu, Cak Dika juga merasakan.


"Yaudah gapapa, ayok!" ujar Cak Dika.


Sebelum masuk ke dalam Cak Dika menatap Rara di sana. Lalu dia berkata,


"Dek, aku titip adekku Laras!" ujar Cak Dika.


Rara mengangguk mendengar itu. Kemudian Cak Dika berbalik beserta seluruh tim yang dia pecah tadi. Mereka mulai berjalan masuk ke dalam bangun tua itu.


Dari arah jendela berbalut besi penjara. Melissa tak sengaja memutar bola matanya ke arah satu jendela di sana.


Sejenak dia pun terpaku menatap ke arah jendela itu. Ada satu sosok berpakaian putih. Surainya pirang blonde. Dia putih, wajahnya bukan orang Indonesia. Melissa tau, itu adalah hantu Noni Belanda.


Sekitar sepuluh detik mereka bertatapan. Setelah itu hantu itu pergi menghilang entah kemana. Merasa ini cukup aneh. Melissa pun langsung menerobos masuk ke dalam yang membuat orang-orang di sana terkejut.


"Hah!" pekik Rara ketika melihat Melissa pergi melewatinya.


"Heh, mau mana Sa?" tanya Rara lagi padanya.


"Ada bangsaku! Aku takut mereka tidak paham bahasa Noni itu!" ujar Melissa lalu masuk ke dalam bangunan tua itu.

__ADS_1


__ADS_2