
"Siapa kamu?" tanya sosok lelembut besar tubuhnya.
Saat ini Rachel sudah sampai tepat di hadapan lelembut itu. Untuk sampai kemari butuh banyak perjuangan juga. Para khodam sampai berperang melawan makhluk astral lain.
"Assalamu'alaikum!" ucap Rachel memberi salam pada sosok itu.
Namun sosok itu hanya diam. Bola mata merahnya menatap datar ke arah Rachel. Dia duduk di atas singgasana berlapiskan emas.
Di bawah kakinya yang besar itu banyak sekali manusia yang tak utuh lagi tubuhnya. Di bawah kakinya juga terdapat setan lain yang mencoba berlindung padanya.
"Kedatangan kalian kemari membuat onar!" ucap sosok itu.
Mulutnya yang dipenuhi taring itu berbicara namun tidak bergerak. Suaranya seakan keluar begitu saja tanpa ada pergerakan di dalam mulutnya.
"Aku tidak akan minta maaf padamu!" jawab Rachel menegaskan bahwa dia dan rombongannya tidak bersalah.
"Grrrrrr..." sosok itu mulai geram dengan jawaban Rachel.
"Dan tidak akan takut sebesar apapun kamu! Aku tidak berpaling. Sebab berdiriku di sini karena satu alasan!"' tegas Rachel pada sosok itu.
Lantas sosok itu dengan suara mengeramnya menatap benci ke arah Rachel.
"Jadi untuk apa kau datang kemari, manusia?" tanya sosok itu padanya.
"Aku ingin memberitahu! Bahwa anak yang kau inginkan sudah bukan lagi milikmu. Dia tidak memiliki perjanjian apapun denganmu. Seharusnya kau tidak serakah ingin mengambilnya!" tegas Rachel.
"Kenapa?!" tanya sosok itu suaranya mulai meninggi.
Suaranya meninggi hingga para setan di bawah kakinya juga ikut ngeri ciut rasanya. Namun tidak dengan Rachel yang masih berdiri kokoh di sana sambil menatap penuh ke arah sosok itu.
"Sebab kamu memiliki perjanjian bersama dukun itu! Dukun itu sudah mati. Itu sudah sesuai kesepakatan. Maka lepaskan dia yang tidak ada hubungannya denganmu!" tegas Rachel lagi.
Namun inilah setan. Mereka tidak pernah puas. Mereka ini tidak ingin kalah. Terlalu dingin memang. Makhluk yang berotak nafsu.
"Aku tidak akan berhenti! Jika kamu menantangku maka menangkan pertarungan ini. Ambil paksa! Mari kita beradu!" ucap sosok besar itu murka.
Detik kemudian Rachel di sana mematung. Tubuhnya beku. Sungguh sialan setan ini.
"Jika kau menyerangku! Akan fatal untukmu. Kamu akan mendapatkan hal yang lebih buruk setelah ini!" ucap Rachel memperingati.
Sementara sosok besar itu malah tersenyum lebar. Tubuh Rachel membeku perlahan tubuhnya mulai jatuh bersimpuh.
Jatuhnya Sukma itu di hadapan lelembut hangat itu. Membuat tubuh asli Rachel di samping Rara mengejang. Nafasnya tersengal-sengal.
"Hel!!!" pekik Rara terkejut setengah mati ketika melihat kondisi Rachel.
__ADS_1
"Loh mbak kenek opo?" tanya Marsya yang juga ikut panik.
Dari mobil utama Cak Dika merasakan bagian dari dirinya telah di serang. Cak Dika adalah Senopati Maung. Jika Rachel dalam bahaya maka dia akan tau.
Sialan Kon! Wani koe nganu adekku! Tak pateni Kabeh koe!. Ujar Cak Dika dalam hatinya.
"Titip awakku, Man!" ucap Cak Dika pada Rahman di sampingnya.
"Hah?!" tanya Rahman tak terlalu mengerti apa maksud Cak Dika.
Kemudian Cak Dika menoleh lalu tersenyum. Setelah itu Cak Dika mulai memejamkan kedua matanya.
Detik ketika kedua mata itu terpejam membawa Cak Dika keluar dari dalam mobil. Dari lintasan jalan dia berlari ke arah belantara dan masuk.
Kabut-kabut putih menyapanya membuyarkan pandangannya. Namun tidak ada para setan yang mengaganggu. Tujuannya saat ini adalah Rachel.
Di sana susah payah Rachel menahan energi besar yang menghantam dirinya beberapa kali. Lemas sekali rasanya. Setan ini main keroyokan. Bangsat memang!
Thariq kembali pada tubuh aslinya. Kemudian dia bicara pada Bella di sampingnya. Thariq menceritakan segalanya. Perihal Dwipa, dan apa yang membawa mereka kemari.
"Kita diperingati untuk tidak turun dari mobil! Artinya di luar sana ada sesuatu yang menunggu kita untuk keluar!" ujar Melissa.
"Benar!" jawab Bella.
Keduanya kemudian saling tatap. Tentu saja mereka tidak bisa melakukan itu. Mungkin hanya keluarga Gautama saja yang bisa melakukannya.
"Aku tidak bisa, Bel!" jawab Thariq padanya.
"Aku pun juga tidak bisa!" jawab Melissa padanya.
Mereka berdua memang indigo sama seperti Gautama Family. Namun mereka tidak sesakti keturunan Gautama.
Bella menggembungkan pipinya. Dia benar-benar bingung sekarang. Tapi Bella tetap ingin melakukannya.
"Kalau begitu, jagalah tubuhku!" ucap Bella pada Thariq dan Melissa.
Ketika Bella akan memejamkan mata. Dia memakai jimatnya. Sebuah cincin temurun. Ketika jimat itu sudah dipakai dia hendak memejamkan kedua matanya.
"Bella!" panggil Albert dan Barend bersamaan. Dua setan Belanda itu sudah berada di depan Bella saat ini. Sebelum Bella akan memulai meraga sukmanya.
"Ada apa?" tanya Bella pada mereka.
Barend dan Albert tersenyum. Kemudian mereka berkata,
"Bella, Cak Dika dan Rachel saat ini sudah berada di luar. Juga sosok Nyai Ratu miliknya beserta pasukannya datang menolong kalian. Mereka sedang melawan para lelembut di sini. Para lelembut di sini ingin menangkap kalian. Maka Bella, saat ini Cak Dika dan Rachel berhadapan dengan Sang Penguasanya. Kamu dan Marsya saja yang memiliki kemampuan keluar dari tubuhmu. Sebab kalian terhubung. Kalian keturunan murni! Maka aku akan memberitahumu. Pergilah bersama Marsya, kita berempat akan masuk ke dalam Ambulance itu. Kita hadapi dukun itu. Kita kalahkan!" jelas Albert pada Bella.
__ADS_1
Bella terkejut mengetahui bahwa situasi sudah segenting itu. Lantas ketika Bella mengangguk Barend pun tersenyum. Bella keluar dari dalam tubuhnya.
Saat ini Bella sedang berada di atas jalur tol itu. Tak lama Barend datang bersama dengan Marsya.
Dari kejauhan nampak cahaya dari mobil Ambulance menyinari mereka. Di situlah mereka diam. Sebab mobil itu adalah tujuan utama mereka.
"Siap?" tanya Bella pada Marsya juga Barend dan Albert.
"Siap!" jawab mereka.
Wushhhhh
Ketika tubuh mereka tertabrak masuklah mereka ke dalam salah satu ruangan. Di sana telah duduk sepasang suami istri yang membelakangi mereka.
Ruangan itu kecil berbentuk kotak. Di dalam sana ada banyak dupa.
"Berani sekali kamu datang kemari! Gautama, kamu akan menggagalkan lagi ajianku?" ujar salah satu dari mereka.
Baik Bella dan Marsya. Keduanya hanya menatap heran ke arah dua sosok itu. Ketika tubuh itu berbalik perlahan.
Wajah hancur itu menyapa Bella dan Marsya. Ngeri jujur saja saat melihatnya. Kulitnya melepuh bernanah. Bibirnya sobek. Lidah ya menjulur sampai ke dagu. Air liur itu terus menetes.
Bola mata keduanya memerah. Untuk sosok perempuan. Mata kanannya tertusuk tusuk konde.
Dua bocah kecil yang berada di sana mati-matian menahan takutnya. Tapi Bella dan Marsya adalah teman mereka. Dan mereka sudah berjanji untuk menolong.
Rapalan doa-doa mulai Marsya dan Bella rapalkan. Itu diucapkan bersama oleh keluarga Gautama di dalam satu tempat berbeda.
Cak Dika sudah berada bersama Rachel di sana. Baik Cak Dika dan Rachel keduanya sama-sama berdoa meminta bantuan pada Tuhan mereka.
Raga mereka bergetar terguncang kejang. Orang-orang di mobil yang melihat itu tentu saja panik. Namun kepanikan itu tidak melupakan mereka untuk tetap berdoa.
Doa doa itu pada akhirnya menyatu menjadi kekuatan. Kekuatan penguasa laknat ini begitupun dengan dua dukun itu memudar.
Membakar diri mereka. Sehingga mereka perlahan mulai hilang dari hadapan keturunan Gautama.
Nyai Ratu, Simbah, Para Maung dan Penasehat lantas tersenyum bangga. Kekuatan doa memang luar biasa.
Saat itu setelah semuanya selesai. Jalanan yang gelap itu perlahan mulai berubah warna awan di atasnya.
Nampak cahaya fajar mulai terbit. Dan itu membuat mobil jenazah itu menepi sebentar. Tubuhnya yang sempat berat tadi menjadi enteng.
Cak Dika dan yang lain kembali ke tubuh mereka. Ketiga mobil mereka sempat melewati mobil ambulance itu. Namun mereka tidak berhenti.
Sengaja memang. Sebab ada kasus lain yang harus segera mereka selesaikan. Setidaknya Dwipa saat ini sudah aman.
__ADS_1