Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 176 : Pemuja Pohon Beringin (Bagian 4)


__ADS_3

"Kasus ini adalah kasus yang sangat-sangat berbahaya sebenarnya. Tapi, Mas Suhu udah janji. Ini udah genap lima bulan setelah datang ke rumahnya Pak Eko. Menurut perjanjian setelah Pak Eko merusak tempat ritualnya sendiri. Iblis itu malam ini minta nyawanya Tania!" jelas Bella kepada seluruh anggota keluarganya termasuk crew Gautama Family.


Akhirnya tiba juga hari ini. Hari di mana satu keputusan besar itu bakalan diambil Mas Suhu. Mau bagaimana pun memang sudah tidak ada jalan keluarnya. Sebab ini perjanjian.


Mas Suhu selama beberapa bulan ini juga menyiapkan dirinya. Dia juga sempat berbicara dengan kanjeng Nyai Ratu. Tapi nihil, tidak ada satupun yang bisa mereka lakukan. Tania memang harus dikorbankan agar Vio selamat.


"Gini ya, kalau sudah berurusan dengan iblis itu. Nyeselnya di akhir, gitu manusia kok masih aja berani berurusan dengan mereka. Buat perjanjian juga!" gerutu Marsya.


Rachel selaku maskot juga rasanya menyesal tidak bisa membantu apapun. Tapi ada satu hal dalam kepalanya saat ini.


 Mungkin memang Vio bisa diselamatkan setelah kematian kakaknya. Tetapi itu akan sangat melukai Mas Suhu nanti.


 Sepertinya bantuan dia di sini diperlukan juga. Untuk menentang perbuatan iblis yang serakah.


"Jadi, kapan kamu mau ke sana lagi?" tanya Melissa kali ini.


Mas Suhu yang sejak tadi duduk di sofa dengan wajah tenangnya hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan yang Melissa lontarkan.


"Nyawanya akan disita nanti jam dua belas. Setidaknya, aku yakin kalau Pak Eko udah ngasih tau anak sulungnya kalau dia lah tumbal berikutnya. Aku Ndak tau, gimana reaksi Tania setelah tau itu. Tapi, manusia mana yang siap jika diberitahu dia bakalan mati jadi tumbal. Gak ada yang siap! Mati sebagai tumbal itu selalu menyedihkan, menyakitkan. Dia masih remaja, syok itu pasti! Tapi gak ada yang bisa dilakukan. Jadi, aku mau ke sana sekarang. Jarak dari sini ke sana juga Ndak jauh. Mungkin magrib nanti kita sampai rumahnya!" jelas Mas Suhu.


"Aku temani kamu!" ujar Rachel bicara.


Thariq di sampingnya mendengar itu hanya mampu menghela nafas pasrah. Beginilah memang kekasihnya ini. Tidak pernah tegaan dan terkadang juga sering gegabah.


Mendengar itu Cak Dika pun mengangguk. Dia juga berkata,


"Aku ikut juga! Kamu setara Rachel. Tapi kemampuanmu saja, gak akan mampu ngalahin iblis itu. Kalau kita mau melindungi satu nyawa lain. Bawa rombongan Majapahit bersamamu. Rombongan kami pasti akan bantu kamu!" jelas Cak Dika.


Mas Suhu mengangguk mendengar itu. Senang rasanya mendengar bantuan yang Cak Dika dan Rachel berikan.


Sang Maskot dan Maungnya sudah sepakat. Kesepakatan itu juga melibatkan yang lainnya. Hari ini mereka pun mulai melakukan perjalanan ke rumah Pak Eko.


_______


Di tempat lain saat ini terlihat di dalam kamarnya Tania duduk seorang diri menghadap ke arah kaca. Tubuhnya semakin kurus semenjak Bella dan Mas Suhu meninggalkan dirinya di sini.


Bagaimana tidak, setelah kepergian Mas Suhu dan Bella beberapa bulan yang lalu. Tania berpikir bahwa dirinya dan keluarganya sudah tidak akan berurusan lagi dengan iblis itu. Iblis besar dengan mata merahnya. Iblis tinggi yang tingginya mencapai atap dengan lidah menjulurnya.


Iblis yang akhir-akhir ini sering memperhatikannya. Kelopak mata Tania cukup lelah. Bekas-bekas lilin yang dia taruh di atas meja sudah tidak lagi berfungsi.


"Tania..." lirih suara seorang wanita di pojok kamarnya.

__ADS_1


Tania dengan mata lelahnya. Menengok sebentar ke arah asal suara. Itu adalah ibundanya. Ibu yang sudah pergi meninggalkannya dengan cara tragis.


Tania melihat di sana Ibunya menangis. Tangisan itu tangisan darah. Kedua tangannya dipaku. Darah-darah segar itu belepotan melumuri tangannya.


Tania bukanlah pemilik mata pawang ghaib. Tapi semenjak bapaknya bilang bahwa dia akan berurusan dengan makhluk itu. Kedua matanya selalu mampu melihat makhluk itu. Bahkan sering.


Tania masih ingat betul ketika makhluk itu datang dua bulan lalu. Saat itu tidak sesuram akhir bulan ini.


Saat itu segalanya masih sama walaupun dia tau bahwa apa yang dilakukan bapaknya adalah salah. Tidak ada yang mampu dia lakukan. Mereka sudah terikat.


Malam itu semuanya jelas ketika makhluk itu mengatakan kepadanya bahwa.


"Kamulah selanjutnya!"


Begitulah kira-kira satu kalimat yang Tania ingat sebelum dia pingsan. Sosok itu datang menghadapnya secara cepat.


Dekat sekali hingga sekujur tubuh Tania serasa membeku. Lalu kesadaran itu seakan diusir dari kedua matanya. Gelap menyongsong masuk ke dalam dirinya, menjadikannya ambruk saat itu juga.


Sejak saat itulah segalanya,


"Gelap!" lirih Tania sambil membuka lembaran buku yang dijadikannya teman beberapa bulan ini.


"Aku sudah tau, kalau aku kan selanjutnya?" ujar Tania lirih lalu dia meletakkan kepalanya dengan pasrah di atas buku miliknya.


"Buk.." lirih Tania, lirihan itu pasrah lemah tak ada tenaga.


Kantung matanya menghitam entah kapan dia bisa tidur nyenyak. Tiap kali dia terpejam maka dia akan mendengar suara tawa dari makhluk itu. Sungguh, inilah yang ibunya Tania alami sebelum mati.


"Buk... Kenapa gini? Gak ada kakak minta sama adek. Ibuk sama bapak lakukan ini!" lirih Tani lagi. Dia terpejam membiarkan air matanya mengalir.


Perih sungguh! Bayangkan, tidak ada bantuan di bumi ini yang bisa menolong mereka. Tidak satupun makhluk di bumi ini bisa menyelamatkan Tania sekarang.


Tokkkk


Tokkkk


"Kakak!" lirih Vio dari balik pintu kamar mereka.


Mereka sudah tidak tidur bersama semenjak kejadian pingsannya Tania. Tania lebih sering menyendiri dan sendiri. Dia tidak ingin diganggu.


"Kakak... Keluarlah! Aku mau bicara!" ujar Vio. Dia merindukan saudaranya itu.

__ADS_1


Kakak yang selalu ada bersamanya. Sosok Tania yang selalu bercengkrama dengannya.


"Kakak.." lirih Vio suaranya bergetar. Dia tau, ya, dia tau dari Pak Eko. Bahwa Tania akan bernasib sama seperti ibunya.


Vio saat itu marah sekali sungguh. Tapi apa gunanya, tidak ada yang bisa diubah. Marah pun tidak menghasilkan apapun.


"Kakak, Vio kangen!" ucap Vio lagi.


"Kakak gak mau bukain pintu? Kakak mau sendiri? Kakak gak sayang sama Vio? Vio pingin lihat kakak! Tolong kak, bukalah," ujar Vio terisak. Tumpah sudah segala perasaan perih dalam hatinya.


Hari ini adalah perjanjiannya. Mendengar suara adiknya yang menangis di sana. Bola mata Tania bergerak melihat ke arah jam dinding. Di sana masih pukul dua belas siang.


"Nak..." lirih Pak Eko. Kali ini orang tua itu tidak diam.


Perih hatinya melihat anak sulungnya diam dan tidak bicara dalam waktu yang cukup lama. Dalam hati Pak Eko ingin menebus semuanya. Tapi apa dayanya, ini di luar kemampuan manusia.


Grekk


Tania pada akhirnya membuka pintu kamarnya. Ketika pintu kamar itu terbuka baik Pak Eko dan Vio keduanya sama-sama terkejut melihat keadaan Tania. Malang, lusuh, acak-acakan. Itulah yang mendeskripsikannya saat ini.


"Bapak sama Adek mau apa dari aku?" tanya Tania kepada mereka berdua.


Pertanyaan itu perih, sungguh. Tanpa banyak perkataan lagi. Vio pun memeluk saudaranya yang rapuh itu.


"Kakak!!!" isaknya yang semakin kacau. Dia meracau tak karuan. Enggan rasanya merelakan Tania pergi dari dunia.


Tatapan Tania saat itu kosong. Di situlah hari seorang bapak diiris-iris rasanya. Pak Eko menundukkan kepalanya lalu dia pun bersimpuh.


"Maafin bapak, nak!" ujar Pak Eko lirih.


"Bapak gak perlu minta maaf! Semuanya udah sesuai dengan keinginannya bapak. Kalau Tania nanti pergi, bapak sama adek jangan masuk kamar Tania, ya! Malam nanti, biarin Tania sendirian," ujar Tania berwasiat.


"Bapak Ndak usah sedih! Gak ada gunanya, Pak. Tania di dalam coba ikhlas atas nasib. Separuh hati Tania terima jadi makanan peliharaan bapak nanti malam. Separuhnya lagi, Tania coba buat gak ngutuk perbuatan bapak. Pak, tolong! Setelah ini, aku Ndak mau kalian bernasib sama juga kayak aku! Kayak ibuk! Vio darah dagingnya bapak satu-satunya. Jaga adekku! Jangan berikan! Ndak boleh!" ujar Tania.


Mendengar perkataan itu. Vio semakin mengencangkan pelukannya. Kakaknya ini sangat menyayangi dirinya begitupun sebaliknya.


Pak Eko menatap kedua mata Tania yang berair. Melihat itu maka Pak Eko pun mengangguk. Dia bersumpah, dirinya akan mengusahakan apapun untuk menyelamatkan anak bungsunya agar tidak bernasib sama.


Kesungguhan itu membuat Tania lega. Dia kemudian melepaskan pelukan Vio lalu tersenyum tipis padanya.


"Kalau gitu, ayo kita masak, dek!" ujar Tania.

__ADS_1


Vio sedikit bingung mendengar itu. Kenapa tiba-tiba mood kakaknya ini berubah. Itu adalah sebuah pertanyaan.


"Udah, jangan kebanyakan mikir! Aku lapar!" ucap Tania lagi lalu menggandeng tangan adiknya menuju dapur.


__ADS_2