
Peti mati itu masih belum terbuka. Mereka masih berada di perjalanan. Di dalam mobil ambulance itu berada dua orang manusia yang duduk di samping peti mati.
Dia adalah Rachel dan Thariq. Ambulance ini sedang menuju ke arah lokasi yang di kirim oleh Ibundanya Rachel.
Ini sudah setengah jam namun mereka tak kunjung sampai. Rachel memperhatikan peti mati berwarna putih itu. Kemudian dia menyentuhnya.
"Semoga saja kalo jasad ini sudah sampai di kediaman itu. Mereka bisa segera dimakamkan dengan baik!" ucap Rachel mengutarakan harapannya.
Thariq tersenyum. Kemudian telapak tangan kekarnya yang lebih besar daripada tangan Rachel berlabuh tepat di atas tangan Rachel.
Hal itu tentu membuat Rachel terkejut. Perlahan kedua bola matanya tertuju pada Thariq yang juga menatapnya. Di sana Thariq berkata,
"Aamiin sayang!" ucap Thariq.
Rasanya sial bagi Rachel menatap langsung wajah keramat itu. Jantungnya mulai bergemuruh tatkala kedua mata mereka bertemu. Ditambah nada bicara lembut itu membuat Rachel semakin terbuai.
Rasanya jika manusia di dalam peti itu masih bernafas. Dia akan menegur keduanya sebab bermesraan di depan orang mati.
Seekor tuyul kecil sejak tadi juga berada di dalam ambulance itu. Entah darimana datangnya. Tuyul itu diam tidak berekasi sama sekali.
Kepalanya besar berurat wajahnya tua. Kepala lebih besar daripada tubuhnya. Kira-kira tuyul itu sebesar botol Aqua berukuran besar. Ya segitulah ukurannya.
__ADS_1
Beberapa kali Rachel dan Thariq mengecek data dompet mereka. Barangkali tuyul itu lapar membutuhkan sepeser uang yang akan dia ambil dari dompet mereka.
"Rasanya pingin tak belikan es Wawan ae dia!" ujar Thariq bergurau sambil melirik ke arah tuyul itu.
"Hahahaha... gila kamu! Yo mana mau dia wong minumnya darah pun!" ucap Rachel menimpali.
"Wah Cecilion!" jawab Thariq. Mencoba mengingat salah satu karakter mobile legend sesosok vampir bernama Cecilion.
"Dasar bocah gaming!" ucap Rachel padanya.
Mereka berdua pun tertawa. Gurauan itu membuat mereka tak sadar jika tempat yang mereka tuju hampir sampai.
Dua orang supir itu membuka pintu itu. Jenazah itu mulai dikeluarkan. Rachel dan Thariq pun juga keluar dari dalam sana.
Di sinilah mereka. Rumah Duka yang letaknya tidak jauh dari kediaman ibundanya Rachel. Hawa mistis rumah Duka berlantai tiga itu jelas menguar.
Bau Danur selalu menjadi ciri khas dari Rumah Duka. Bagi para indigo pemilik mata penjelajah Ghaib bau ini selalu sakral dan identik dengan orang mati.
"Kita sudah sampai!" ucap Cak Dika sambil memandangi bangunan rumah Duka itu.
"Yowes ayo langsung masuk ae!" ujar Marsya menambahkan.
__ADS_1
Ketika Cak Dika dan Rara memimpin masuk ke dalam Rumah Duka itu. Tepat di depan pintu masuknya ketika Cak Dika akan membukanya.
Suara suara nyanyian juga tangisan bercampur menjadi satu. Mereka Gautama Family ini serentak memejamkan kedua mata mereka.
Ketika gagang pintu sudah dibuka mereka serentak mengucapkan salam,
"Assalamualaikum!" ucap mereka bersamaan.
Ruangannya cukup luas. Terdapat di sana tepat di depan mereka sebuah meja resepsionis. Di samping kiri kanan resepsionis itu tepat di sudut ruangan ada tangga yang sejajar letaknya menuju ke lantai berikutnya.
Cak Dika menghampiri resepsionis itu. Lalu di sana dia mengutarakan niatnya ingin bertemu dengan Pak Kevin selaki suami perempuan yang mati akibat ledakan.
Mendengar itu salah seorang resepsionis pun menuntun mereka. Dia memimpin Cak Dika dan rombongannya untuk naik ke lantai atas.
Rupanya di sana pencahayaan cukup redup. Ruangan di atas sana berbentuk lorong panjang. Bak sebuah labirin tapi di sisi kanan kirinya ada banyak pintu.
Di sanalah para jenazah di baringkan. Mereka di mandikan lalu di rias. Ketika hampir sampai tepat di ujung lorong. Ada persimpangan di sana.
Resepsionis itu mengambil persimpangan kiri dan di sana tepat di ujung tak jauh lagi dari tempat mereka. Ada satu ruangan bertuliskan ruang nomor dua.
Sontak mereka rombongan Cak Dika semua yang berada di sana terkejut. Kenapa nomor ruangannya bisa sama dengan nomor ruangan dari jasad Pak tua yang baru saja mereka ambil.
__ADS_1