
Tiga puluh tahun sudah berlalu. Kediaman keluarga Arghayev sudah menjadi milik pemerintah saat ini. Rumah itu, kini masuk k edalam pelelangan Bank.
Hari ini tepat hari Kamis, di mana keluarga Robert menghadiri acara pelelangan properti. Tuan Robert hadir, lengkap bersama keluarga kecilnya di sini. Istrinya Hanna dan anak gadisnya bernama Melissa.
"Pelelangan ketiga, ini terletak cukup strategis letaknya. Kita bandrol dengan harga 750 juta. Untuk properti tanpa perantara!" ucap bagian pemasaran, berpromosi.
Kali ini tawaran-tawaran mulai diajukan. Tuan Robert, nampaknya masih belum menemukan harga yang pas di kantongnya.
Hanna memperhatikan raut wajah suaminya yang nampak kecewa sejak tadi. Mendengar seluruh harga yang ditawarkan tidak pas dengan budget yang mereka miliki. Hanna menepuk pelan bahu Robert.
"Kita bisa membeli apartemen kecil saja!" ucap Hanna menepuk bahu suaminya itu, pasalnya harga yang dibandrol di sini tidak sepadan dengan uang yang mereka miliki.
Namun Robert tetaplah kukuh. Dia menggeleng cepat mendengar apa yang Hanna katakan.
"Tidak, aku sempat baca di koran. Mereka bilang, ada yang lebih murah daripada itu!" ujar Robert. Hanna mengangguk mengerti mendengar itu.
Jika suaminya sudah cukup yakin. Maka siapapun itu tidak akan mempu menggoyahkan keyakinannya.
"Baiklah, aku terserah padamu saja!" ucap Hanna pasrah, Robert tersenyum mendengar itu.
Melissa dengan boneka kesayangannya itu terdiam, ketika melihat sesuatu di samping MC pemasaran.
Itu seorang gadis bermuka sedih, pucat sedang menatap benci ke arah para hadirin.
Melissa yang penasaran pun mencoba bertanya. Pada satu sosok yang begitu dia percayai.
"Gelanda, kau tau siapa dia?" ucapnya dalam hati sambil masih memperhatikan sosok gadis bermuka sedih itu.
"Dia bukan manusia!" jawab Gelanda. Gelanda adalah nama boneka Melissa, dia bukan boneka biasa. Ada roh kakak Melissa di sana, dia sudah mati terjatuh dari Everest saat pendakian.
Dan jasad Gelanda dibiarkan di sana. Sebab untuk mengambilnya dibutuhkan biaya yang cukup banyak. Dia menjadi pendaki abadi di gunung Everest. Bersama dengan beberapa mayat pendaki lain yang juga tidak diambil di sana.
Gadis pucat dengan aura kebencian itu, menatap Melissa sekarang. Terkejut, Melissa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Damn, dia menatapku!" lirih Melissa, Gelanda dan Melissa saling mengobrol menggunakan mata batin mereka.
"Tenanglah, dia hanya melihat diriku di sampingmu. Dia akan kemari, kau berpura-pura saja tak melihatnya!" ujar Gelanda padanya.
Paham dengan apa yang Gelanda katakan, Melissa pun melakukan perintahnya.
Gadis itu mendekat ke arahnya, aura panas itu mulai Melissa rasakan. Ini sungguh murni, aura kebencian. Bau anyir itu semakin menusuk penciumannya.
"Kami terima tawaran itu, dengan 500 juta!" ucap Tuan Robert berdiri. Melissa mengalihkan netranya pada Ayahnya itu. Rupanya, ada tawaran yang sudah diambil ayahnya.
Bertepatan dengan transaksi itu, Gadis beraura jahat itu berhenti. Melissa menatapnya sekilas sebelum menghilang.
Gadis itu tersenyum, setelah Ayahnya membeli rumah itu. Satu kata yang masih ia dengar sebelum wujud itu menghilang, dia mengatakan dengan menggema.
"Melissa!"
__ADS_1
Nama itu, namanya. Kenapa, gadis itu tau?
"Gelanda?" lirih Melissa lagi, namun sama sekali tak ada jawaban dari Gelanda.
Melissa tau, akan ada hal buruk setelah ini. Tapi, apakah orang tuanya akan percaya apa yang ia katakan.
Roh kakaknya itu menghilang, tak ada jawaban yang ia dengar dari Gelanda di alam sana.
"Ibu, aku akan segera kembali!" ucap Melissa, lalu pergi dari sana.
"Kau akan ke mana?" tanya Hanna, seraya menghentikan anaknya itu.
"Ibu, aku butuh toilet!" jawab Melissa. Hanna mengangguk mendengar itu.
Dia pun membiarkan Melissa pergi setelah itu. Sebelum pergi, Hanna berkata pada anaknya itu.
"Ayahmu, baru saja mendapatkan rumah untuk kita. kuharap, kau menyukainya!" ucap Hanna, Melissa hanya menyuggingkan senyum untuknya.
Keluarganya tidak akan percaya, apa yang akan ia jelaskan. Tapi, sebelum sesuatu itu terjadi. Melissa sudah menemukan penangkalnya.
Sehari setelah pelelangan itu. Di dalam mobil, Melissa beserta keluarganya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah baru mereka.
Melissa masih memikirkan tentang Gelanda yang hilang beberapa hari ini. Dia mencoba menghubungi kakaknya itu.
"Gelanda, kau di mana?" tanya Melissa, ia begitu khawatir pada roh kakaknya itu.
Sehari, setelah pelelangan itu. Gelanda sama sekali tak menemuinya, bahkan tak bicara dengannya. Hari ini, kebahagiaan menghiasi wajah kedua orang tuanya.
"Nak, apa kau senang dengan rumah baru kita?" tanya Tuan Robert. Mendengar itu Melissa tersenyum dan mengangguk.
"Baguslah, Ayah memang sengaja membeli rumah ini. Mengingat, sudah lama kita tinggal di apartemen kecil kumuh!" ucap Tuan Robert. Hal itu sama sekali tidak membuat Melissa bahagia. Entahlah, perasaan khawatir itu menghantui dirinya.
"Sebentar lagi, kita akan sampai! Semoga kita semua nyaman tinggal di sana!" ucap Hanna. Suara burung di antara hutan menggema, tempatnya memang terpencil. Agak jauh dari kota.
Hanya ada beberapa rumah warga di sini, itupun jarak antara rumah ke rumah cukup jauh.
Dari balik kaca mobil, Melissa memperhatikan banyak sekali hal menakutkan yang bertengger di antara pohon ke pohon. Kepalanya mulai pusing sekarang.
"Hei!" sapa Gelanda yang sudah ada di sampingnya. Mendengar suara itu, Melissa mengalihkan netra dari kaca mobil.
"Kau?!" pekik Melissa, Gelanda hanya tersenyum padanya.
Sungguh, sekalipun Gelanda sudah mati, nampaknya sifat menyebalkan miliknya masih melekat padanya.
"Kau darimana?" tanya Melissa padanya.
Mendengar itu, Gelanda berfikir sejenak. Ketika ia ingat, apa yang ingin disampaikan ia pun tersenyum.
"Ini, kontak fisik antara kau dan aku. Lihatlah, apa yang kutemukan di sana!" ucap Gelanda, tepat ketika ucapan itu usai. Dimensi Melissa berpindah, inilah yang disebut Astral Projection.
__ADS_1
Dimana, saat ini Gelanda sedang mengisi tubuh Melissa yang kosong. Karena roh adiknya itu, ia bawa ke alamnya untuk menemui jawaban.
"Ini tempat apa?" tanya Melissa sambil melihat sekelilingnya.
Di dalam sana gema suara Gelanda mulai berkata,
"Tiga puluh tahun lalu, sebelum tempat ini mulai dihuni! Kau ikuti saja, manusia yang keluar dari mobil hitam itu!" ujar suara gema Gelanda, menuntunnya berjalan lurus.
Gelap, ini seperti hutan Belantara. Hanya ada suara burung hantu menemani. Satu cahaya dari mobil, mengusik matanya. Tak lama, mobil itu berhenti.
Seorang lelaki keluar dari sana.
"Sial!! Apa-apaan ini?! Mogok di tempat yang tidak tepat!" ujar lelaki itu seraya menendang ban mobilnya kesal.
Lelaki itu, mencoba menghubungi seseorang dari ponselnya, namun tak kunjung mendapat jawaban. Kesal dengan hal itu, ia pun mencari sesuatu dalam mobilnya. Sebuah senter, dan kini ia berjalan menyusuri jalanan hutan itu seorang diri.
"Manusia itu, Jason namanya!" ucap Gelanda, Melissa mendengar setiap apa yang Gelanda ucapkan. Itu seperti sebuah petunjuk untuknya.
Cukup lama ia berjalan menyusuri hutan, ia menemukan sebuah rumah besar disana. Jason masuk ke dalamnya, ia bercengkrama dengan sang pemilik.
Tak lama, adegan berpindah pada konflik itu. Konflik, yang membunuh Melissa dan keluarganya. Di situ, Melissa melihat Jason begitu brutal menyiksanya selama berbulan bulan.
Hingga hari itu tiba, dimana Jason tau Melissa hamil. Begitu gilanya ia, ketika mengambil sebuah Shotgun dari kamarnya.
Melissa yang sudah tak berdaya itu, hanya pasrah. Ketika, lubang senapan itu mengarah tepat ke arahnya, yang bisa ia lakukan adalah menangis.
"Mati kau!" ucap Jason lalu mengakhiri semuanya.
Pelatuk itu ditarik, timah panas itu menembus tengkoraknya. Dan di sanalah Melissa sekarang, dengan kepala yang pecah dan darah bercucuran.
Tak kuasa melihat kejadian itu, Melissa menutup matanya.
"Jadi, gadis itu, Melissa?" tanya Melissa pada Gelanda.
"Benar, dan rumah yang sudah kalian beli itu, adalah miliknya. Melissa, dengan segala kebenciannya pada pendatang baru rumahnya itu mengerikan!" jelas Gelanda.
"Lalu bagaimana? Ayah sudah membeli rumah itu?" ujar Melissa. Gelanda mencoba memanggil adiknya itu, untuk kembali dalam tubuhnya.
Pertukaran itu berhasil.
"Aku menemukan satu fakta di sini!" ucap Gelanda, Melissa menatapnya penuh tanya kali ini.
"Kalian berdua, terhubung. Entah, apa yang menghubungkan kalian!" ujar Gelanda padanya. Melissa heran dengan apa yang Gelanda katakan, sungguh tak masuk akal.
"Dia bukan kerabat kita!" jawab Melissa menegaskan pada Gelanda.
Jawaban itu membuat Gelanda tersenyum dan berkata,
"Itu seperti, hubungan antara waktu ke waktu!" jelas Gelanda.
__ADS_1
"Apa maksudnya?" tanya Melissa lagi, Gelanda menghilang setelah pertanyaan itu.