Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 69: Tragedi Gadis Terpasung


__ADS_3

Unggahan Vidio dari mediasi yang dilakukan Gautama Family baru sehari upload. Jumlah penontonnya sudah membeludak. Juga kolom komentar mulai banjir.


Beberapa dari mereka ada yang mendoakan. Beberapa dari mereka lagi ada yang sedih atas apa yang menimpa Barend. Setan cilik yang ikut bersama dengan Gautama Family.


Di ruang kerjanya, Deni beserta dengan Rahlan dan Deni sedang membacai komentar. Mereka juga mencoba mencari ide dari sana.


Kira-kira topik apa yang enak dibahas dan diupload nanti. Mereka adalah otak dari kesuksesan ini. Dan Gautama Family, mereka adalah pasukan dan nyawa tim ini.


Segelas coklat hangat menemani mereka. Sesekali mereka berdiskusi perihal eksplorasi. Daerah Tapal Kuda rasanya sudah merindukan mereka.


"Kita gak eksplorasi lagi nih?" tanya Rahman pada keduanya.


Sambil menyeruput coklat hangatnya Deni tersenyum.


"Yang diam di sini aja viewnya udah berjutaan! Kalau kita eksplorasi mungkin udah trending satu!" jawab Deni pada Rahman.


Suara helaan nafas dari Mas'ud yang jari jemarinya juga pandangannya fokus pada layar laptop pun membuat Deni dan Rahman menoleh ke arahnya.


"Kenapa kamu menghela nafas?" tanya Deni dan Rahman padanya.


"Gapapa, kadang kita juga perlu memperhatikan kondisi tim kita. Punya kemampuan semacam itu gak enak! Kalau gak kuat kalian tertelan bisa gila nanti! Jadi ya, sesiapnya mereka aja!" jelas Mas'ud pada Deni dan Rahman.


Penjelasan itu sejenak membuat keduanya menunduk dan merenung. Apa yang sudah dikatakan Mas'ud itu adalah benar.


Lagi pula, Pak Rudi juga terlihat tidak mempermasalahkan itu. Jika beliau selaku manager mempermasalahkan itu.


Maka, mereka mungkin sudah dari kemarin dimarahi bukan. Tapi Pak Rudi diam, yang artinya segalanya baik-baik saja.


Mas'ud diam lalu fokus membaca sebuah surel yang ia dapatkan. Itu adalah alamat email dari channel YouTube Gautama Family.


Memang akan banyak surel masuk di sana. Sebab, dalam kolom deskripsi. Mas'ud menyertakan, untuk para penonton mengatakan apa saja perihal vidionya lewat email atau langsung di kolom komentar.


Surel itu dari seorang gadis. Dari fotonya dia terlahir Albino. Dia gadis bule menawan dengan Surai putihnya.


Dia bilang, dia datang dari Belanda. Dia juga mengatakan bahwa dia adalah salah satu penggemar berat dari Gautama Family. Terutama, dia sangat menyukai dua setan Netherlands yang ikut bersama keluarga itu.


Di sana gadis itu juga mengatakan bahwa. Ada sesuatu yang ingin dia minta pada Gautama Family itu.

__ADS_1


Gadis itu bernama Melissa dan dia keturunan Belanda. Dia terlahir Albino, sebab tragedi kelam yang menimpa keluarganya.


Ayah Melissa, pergi ke negeri wakanda ini sebagai seorang imigran. Dia menetap di salah satu tempat kebetulan ada di Jawa Tengah.


Melissa juga mengirimkan alamat rumahnya. Terakhir dia mengatakan bahwa ada misteri yang akan membuat seluruh anggota Gautama itu tertarik.


Perihal gadis yang mati terpasung setelah dinodai oleh pria pedofil. Gadis yang kehilangan seluruh anggota keluarganya hanya dalam waktu satu malam.


Klikkkkk


Mas'ud menekan tombol silang. Lalu dia menoleh ke arah Rahman dan Deni.


"Hei!" sapa Mas'ud pada keduanya yang masih fokus menatap layar laptop.


Sapaan itu serentak membuat Rahman dan Deni menoleh ke arahnya. Nampak raut wajah bahagia itu membuat Deni dan Rahman kebingungan. Mereka takut barangkali Mas'ud kerasukan atau semacamnya.


"Ada topik baru, tanpa eksplorasi hanya mediasi! Mungkin ini bisa kita jadikan bahan hiburan buat warganet. Tentang gadis yang terpasung bernama Melissa!" ucap Mas'ud menjelaskan.


"Hahahaha..." Rahman tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Mas'ud.


Baginya jika hanya sebuah story' tanpa fakta. Maka itu tidak menarik.


"Mas, itu kalau cerita rekayasa gak bakalan menarik nanti!" jawab Rahman padanya.


Hal itu langsung saja membuat Mas'ud menggelengkan kepala. Ini bukan rekayasa. Sebab sang pengirim surel mengatakan bahwa gadis yang terpasung itu nyata dan ada keberadaannya.


"Kalau gitu, ikut aku ke Malioboro! Aku udah dapat alamatnya! Ada narasumber yang kirim surel ke aku tadi baru aja!" ucap Mas'ud pada mereka.


Rahman dan Deni kemudian saling tatap sejenak. Mereka kembali menatap Mas'ud yang terlihat sangat yakin akan idenya.


"Yaudahlah, ayo! Kita temui narasumber itu!" ucap Rahman dan Deni.


Mereka bertiga kemudian berdiri. Mereka mengambil jaket mereka di dalam lemari lalu mengenakannya. Ketika mereka membuka pintu kamar. Nampak Marsya di sana berdiri sambil membawa makanan di atas nampan.


"Loh!!!" teriak ketiganya terkejut ketika mendapati Marsya yang sedang berdiri sambil menghadapnya.


Marsya menarik salah satu alisnya ke atas sambil memperhatikan ketiganya.

__ADS_1


"Kalian, mau ke mana, hah?" tanya Marsya pada mereka bertiga.


Rahman kemudian maju lalu mengambil makanan dan minuman yang sedang Marsya bawa.


"Sya, kita mau bertemu narasumber! Katanya dia datang dari Belanda. Dan dia punya misteri perihal gadis yang terpasung. Narasumber itu berna Melissa, dari Netherlands dia pindah ke sini untuk menghindari masa lalu kelam yang menyelimuti kepalanya!" jelas Mas'ud pada Marsya di depannya.


Marsya tertegun mendengar penjelasan itu. Entah kenapa tiap kali mendengar nama setan Belanda. Marsya selalu saja tertarik. Dia ini sama maniak koleksi setan lucu seperti Ibundanya.


Mungkin itulah alasan kenapa Rachel frustasi berada di rumah. Sebab rumahnya itu sudah banyak setan liar meskipun auranya positif.


Rachel tidak berdaya mengusir mereka. Sebab ibundanya dan adiknya, Marsya sangat menyukai kehadiran mereka di sana.


Katanya, kasihan hantunya jika tidak ditampung. Mereka akan jadi gelandangan selamanya di jalanan. Makannya, mereka berdua bersimpati lalu menaruhnya di rumah.


Dari bawah lantai menyembul satu kepala. Itu tepat di depan Marsya. Itu adalah Barend, dia berdiri melayang di hadapan Marsya sambil menatap ke arah Mas'ud dan yang lainnya.


Marsya tersenyum mendapati adik astralnya itu berasal di depannya. Lalu dia merendahkan kepalanya bicara tepat di belakang daun telinga Barend dan berkata,


"Hei, ada orang Netherlands baru! Apakah menurutmu kita boleh menemuinya?" tanya Marsya pada Barend.


Baren menoleh mendengar itu. Dia lalu menatap Marsya dengan wajah polosnya. Sedangkan ketiga pemuda yang berdiri di ambang pintu itu hanya menatapnya.


Jika mata manusia normal melihat. Mungkin Marsya sudah seperti orang gila berbicara sendiri. Tapi, lain lagi dengan mereka yang memiliki kemampuan batin.


"Siapa dia? Apakah dia juga hantu sama sepertiku?" tanya Barend padanya.


Marsya mengangkat kedua bahunya mendengar itu. Lalu dia tersenyum.


"Ayo kita temui dia! Maka kamu akan tau dia ini hantu atau manusia!" ucap Marsya padanya.


"Ah... Baiklah, Marsya!" jawab Barend padanya.


Marsya lalu kembali menegakkan tubuhnya. Dia menatap ke arah tiga pemuda itu.


"Aku mau ikut! Kalau menarik, bawa dia kemari! Mana tau dia balapan jadi anggota tim kita, kan! Lumayan ada bulenya!" ucap Marsya pada mereka bertiga.


Ketiganya lantas tertawa mendengar itu. Setelah makan dan minum yang cukup. Mereka pun mulai bergegas pergi keluar dari dalam villa.

__ADS_1


Keluar dari dalam zona nyaman itu ke arah Malioboro. Sesuai dengan alamat yang Mas'ud dapatkan.


__ADS_2