Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 78: Masuk Menelusuri Kontrakan


__ADS_3

Perjalanan untuk sampai ke lokasi tidak cukup lama. Sebab area mereka masih sama. Sama-sama di Jawa Tengah dan kebetulan dekat.


Mereka tidak menuju ke tempat kontrakan dari pengirim surel. Melainkan Gautama Family ini menuju ke tempat angkringan tempat diana lima orang Pemuda yang ketakutan itu tidak berani pulang.


Laju mobil mereka yang sedang perlahan mulai pelan. Banner angkringan mulai terlihat. Di sisi banner itu ada lampu. Tapi ini pagi, jadi lampu itu mati. Dan tempat angkringan itu juga tutup.


Hanya ada lima orang pemuda yang pasrah bersandar di kayu bangunan. Sesekali mereka menguap akibat kantuk yang teramat mengusai kedua mata mereka. Mereka ini tentu saja Agus, Toni, Nando, Fajar dan Haikal.


Mesin mobil mulai dimatikan. Cak Dika dan yang lain pun turun dari dalam mobil. Di sana mereka pun menghampiri para pemuda itu.


Ketika mereka sampai tepat di hadapan lima orang itu. Salah satu dari mereka mulai membuka mata samar. Itu adalah Fajar, dia membuka penuh matanya melihat kehadiran Cak Dika di depannya.


"Heh..." lirih Fajar sambil menepuk bahu temannya yang lain agar terbangun.


Serentak mereka pun terbangun. Mereka terkejut mendapati Cak Dika di depan mereka.


"Loh, artis rek!" ujar Haikal sambil mengucek-ucek matanya yang baru saja bangun.


Mendengar penuturan itu membuat Cak Dika mengalihkan netranya ke arah para saudaranya. Di sana mereka hanya terkekeh.


Rahman selaku crew kamera mereka pun maju. Dia mendekati kelima pemuda itu dan bertanya,


"Ya, kami Gautama Family Mas! Kamu baca surel dari masnya ini. Katanya ada gangguan mistis. Kalau memang benar, bisa ditunjukkan, mas!" ujar Rahman menjelaskan.


Dia tidak ingin terlalu banyak membuang waktu di sana. Mendengar itu Fajar dan keempat temannya pun berdiri.


"Ya, Mas! Itu ada di kontrakan kami! Mari ke sana mas!" jawab Fajar pada mereka.


Cak Dika menatap kelimanya heran. Jika mereka hidup di sebuah kontrakan. Lalu, kenapa mereka bisa berada di angkringan itu semalam.


"Kalian tinggal di kontrakan? Problemnya ada di sana berarti! Memang apa yang buat kalian lari terbirit-birit sampai pagi di angkringan ini?" tanya Cak Dika pada mereka.


Haikal nampak menggaruk kepalanya. Dia lalu berkata,


"Ada sosok seram di dalam kontrakan itu, mas! Semalam dia udah ganggu kita. Gangguannya udah parah banget sampai menampakkan diri juga! Mana mukanya serem banget lagi! Kalau boleh kami mau minta tolong, untuk mengusir sosok itu! Kami tidak mengganggunya mas, tapi dia mengganggu kami!" ujar Fajar menjelaskan panjang dan lebar pada Cak Dika.

__ADS_1


Cak Dika yang melipat tangan di dada itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Tidak ada raut muka khawatir di sana.


"Kok ketawa, mas?" tanya Fajar pada Cak Dika ketika melihat raut wajah itu begitu tenang.


Rara kemudian mendekati Cak Dika lalu berdiri di sampingnya. Sambil menyentuh bahu kanan Cak Dika tanpa menatapnya. Rara sambil menatap Fajar tersenyum.


"Ini wajah yang udah biasa! Dia ini udah mati rasa semuanya! Jadi wajar ada sulit buat kasih ekspresi atas ceritamu! Yaudah, Fajar, ayo masuk ke mobil. Kita berangkat ke kontrakanmu!" ujar Rara pada Fajar.


"Iya, ayo berangkat!" ucap Rahman pada mereka.


Mereka kemudian mengangguk. Kaki mereka mulai masuk ke dalam mobil. Pagi itu setelah mendengar cerita singkat dari Fajar mereka pun pergi. Ke rumah kontrakan berhantu itu.


Ada sekitar setengah jam perjalanan dari angkringan sampai ke kontrakan itu. Ketika mobil mereka sampai tepat di depan kontrakan itu. Lalu kaki mereka mulai memijaki depan kontrakan itu.


Rasanya aneh!


Cak Dika tidak merasakan kehadiran aura kelam di sana. Begitupun dengan saudaranya yang lain. Rumah itu nampak asrih juga sangat nyaman rasanya untuk tinggal di sana.


Marsya yang biasanya akan sensitif dengan hal jahat lalu kerasukan. Itu tidak kali ini. Dia diam, mereka diam sejenak menatap ke arah rumah itu.


Melihat tidak ada pergerakan dari Gautama Family. Fajar lantas merasa aneh. Dia kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


"Kenapa diam, mas dan mbak?" tanya Fajar pada mereka.


Mendengar pertanyaan dari Fajar. Lantas membuat Cak Dika dan saudaranya menoleh kecuali Rachel. Cak Dika lalu berkata kepada Fajar.


"Kalian yakin, rumah ini berhantu?" tanya Cak Dika pada mereka berempat.


Keempatnya sedikit terkejut saat Cak Dika menanyakan itu. Kenapa bisa Cak Dika ragu? Jika memang dia punya kemampuan.


Seharusnya dia bisa merasakan kehadiran dari sosok setan yang bersemayam di dalam rumah itu. Tapi ini apa, pertanyaan meragukan perihal laporan yang mereka kirim.


"Katanya Cacak bisa lihat hal ghaib? Kenapa kok wajahnya tampak ragu?" tanya Fajar nyeletuk sambil memperhatikan raut wajah Cak Dika.


Cak Dika menggelengkan kepalanya mendengar apa yang fajar katakan. Tidak biasanya kemampuannya ini tumpul sehingga tidak bisa merasakan kehadiran sosok tak kasat mata.

__ADS_1


"Anehnya aku tidak merasakan kehadiran apapun di sini!" ujar Cak Dika.


Fajar dan keempat temannya terkejut mendengar itu. Lantas ketika dia hendak berbicara. Rachel tiba-tiba saja meninggalkan mereka di sana.


Kepergian Rachel itu membuat Thariq bingung. Lantas dia pun mencoba memanggil namanya. Tapi, Rachel malah masuk ke dalam kontrakan itu.


Tiba di pintu masuknya dia diam. Fajar dan yang lain menyusul. Tangan kanan Rachel menyentuh gagang pintu itu.


"Coba, buka! Aku mau masuk dan lihat!" ujar Rachel tanpa menoleh.


Fajar dan temannya saling tatap satu sama lain. Mereka masih takut dan enggan untuk masuk setelah menyaksikan penampakan seseram itu.


"Tapi kami tunggu di luar aja ya!" ucap Haikal.


"Ya... Terserah kalian saja!" jawab Rachel padanya.


Haikal lalu manggut-manggut. Dialah yang membawa kunci kontrakan itu. Kuncinya ada dua. Tapi yang satu milik Fajar. Dan itu tertinggal di dalam.


Haikal lalu merogoh sakunya. Ketika kunci sudah dia genggam. Lantas dia segera memberikan kunci itu pada Rachel.


Pusing, itulah yang Rachel rasakan ketika kunci itu dia genggam. Thariq di belakangnya memperhatikan kedua mata Rachel yan menyipit berkali-kali ketika sedang membuka pintu.


Merasa ada sesuatu yang salah. Thariq pun langsung mengambil kunci itu dari tangan Rachel. Dia lalu membuka pintu itu untuk Rachel.


Di sana nampak Rachel terkejut sekilas menatap Thariq lalu kembali menatap dalam rumah kontrakan itu.


Di sana bersih, cukup rapi. Padahal yang meninggali itu adalah kaum Adam. Yang biasanya, kamar atau ruangan mereka akan lebih berantakan daripada kaum Hawa.


Bismillahirrahmanirrahim!. Ujar Rachel dalam hatinya lalu melangkah masuk mendahulukan kaki kanan.


Di dalam ruangan itu tepat di atap sepasang mata sedang memperhatikan mereka. Kemudian sosok itu menghilang dari atas atap.


______


Aku tadi abis ngdraft rek, tapi kenapa hilang tiba-tiba 🤦. Jadilah aku cuma bisa up ini! Tadi udah ada 2 bab, waktu mau upload tiba-tiba satu bab nya ilang.

__ADS_1


Gini banget sistem kalo eror.... 😓


__ADS_2