
Sehari setelah penguburan jenazah Gandis dan Neneknya. Hari-hari Wati dan Sukma pagi itu berjalan seperti biasanya. Mereka bekerja di satu tempat yang sama.
Itu adalah toko bunga. Dan di depan toko bunga itu ada kantor perpajakan. Di situlah dulu Gandis bekerja. Saat ini, orang di dalam sana sedang berkabung mendengar informasi perihal matinya Gandis.
Gandis adalah orang yang cukup penting dalam kantor itu. Karangan bunga banyak dikirim berjajar di area kantor itu. Isinya tentu saja ungkapan bela sungkawa.
Mereka tidak pernah menyangka bahwasannya. Gandis akan mati dengan cara sesadis itu. Jam berputar cukup cepat hingga langit berujar pada mentari untuk mundur sejenak. Sebab purnama akan bertamu.
Malam itu, ketika toko-toko sudah mematikan lampunya. Tinggallah Wati dan Sukma yang berjalan di antara trotoar. Mereka lalu berhenti di sebuah halte bus. Ya, mereka berangkat bersama pulang pun juga bersama.
Halte bus itu kosong. Maklum saja, ini sudah jam sembilan lewat lima belas menit. Hanya ada mobil dan motor yang berlalu lalang di depan mereka. Bus yang mereka tumpangi adalah bus terakhir.
"Hoam..." lirih Wati menguap. Lelah rasanya pekerjaan mereka hari ini.
"Ngantuk banget aku, Suk!" ujar Wati sambil mengedipkan matanya agar tidak tidur. Memaksa kantuk untuk hilang dari dalam matanya.
Tapi lelah tetaplah lelah. Sukma yang berada di sampingnya itu hanya mampu melirik sekilas. Kemudian dia kembali menatap ke depan memperhatikan motor mobil yang berlalu lalang.
Dari dalam sakunya, Sukma merogoh sesuatu. Itu adalah sebuah permen berisi banyak. Sukma menuangkan satu permen dalam mulutnya. Satu butir permen itu ia nikmati rasanya.
Sukma mencoba menawarkan permen itu pada Wati. Namun Wati hanya menggelengkan kepalanya. Enggan menerima permen dari Sukma. Melihat itu Sukma pun kembali memasukkan permennya ke dalam saku.
Ketika keduanya sedang terbuai menatap langit hampa. Hembusan angin dari balik tubuh mereka membuat mereka merinding. Entah mengapa hawa angin ini sangat berbeda rasanya.
Perlahan bola mata itu mulai turun. Yang tadinya menatap ke atas langit. Mulai turun perlahan. Mereka ingin memeriksa ada apakah di balik tubuhnya.
Namun, belum sempat mereka menoleh ke belakang. Jauh di sana, di ujung trotoar sebrang. Seorang gadis bermuka pucat menatap mereka. Helaian rambut tipis itu menutupi kedua matanya. Hanya terlihat bibir dan giginya yang berseringai.
Ketika Wati dan Sukma mencoba menatap ke bawah. Sebuah bus besar datang menyapu kehadiran sosok itu menghilangkannya dari pandangan Wati dan Gandis.
Krekkkkkkk
Suara pintu bus mulai terbuka. Beberapa orang turun dari dalam sana. Ini adalah bus yang lewat tiap malam. Mereka sudah sering naik ini untuk sampai ke rumah.
"Gak mau masuk, Neng?" tanya Pak Kernek.
Lamunan mereka terbuyar ketika mendengar pertanyaan dari sang Kernek. Lantas keduanya mendongak dan langsung saja masuk. Di dalam sana mereka jelas duduk berdua.
Setelah seluruh penumpang di tujuan itu turun. Sang Kernek mulai memberi aba-aba pada sopir untuk berjalan. Ini sudah larut dan perjalanan ini akan memakan waktu sekitar setengah jam.
Apa yang mereka lihat tadi itu nyata. Keduanya di dalam sana duduk saling diam. Pak Kernek yang hafal wajah langganannya itu pun dibuat aneh rasanya.
Biasanya akan ada senandung tawa dari dua gadis desa pelosok ini. Tapi, hari ini keduanya diam. Hari ini keduanya bisu tanpa suara.
Merasa ada yang aneh. Pak Kernek pun menghampiri keduanya. Setibanya dekat dengan kedua gadis itu. Pak Kernek pun menepuk bahunya.
"Kalian kenapa?" tanya Pak Kernek pada keduanya.
Sekali tak ada jawaban. Kedua gadis itu tatapannya masih kosong. Masih sibuk dengan lamunan mereka. Hingga lima kali pertanyaan dilempar. Akhirnya, Wati pun menoleh dan bertanya.
"Ya Pak? Ada apa?" tanya Wati pada Pak Kernek.
Mendengar Wati melempar pertanyaan. Pak Kernek di sana dibuat bingung rasanya. Pertanyaannya itu sia-sia tak mendapat jawaban.
"Kalian ini kenapa? Tumben sekali saling diam?" tanya Sang Kernek lagi pada mereka.
Wati tersenyum tipis. Jujur saja, bulu kuduknya berdiri saat ini. Dia masih ingat betul wajah pucat dengan bibir putih dan gigi yang berseringai ke arahnya itu.
Sebelum menjawab pertanyaan itu. Wati menoleh ke samping. Terlihat di sana Sukma mulutnya komat-kamit. Samar, Wati mendengar bahwa Sukma saat ini sedang berdoa.
__ADS_1
Jadi, di sana Wati semakin yakin rasanya. Bahwa apa yang mereka lihat tadi adalah setan.
"Gapapa kok, Pak! Bapak tenang aja, kami baik-baik saja. Kami cuma lelah. Jadi, boleh kami minta tolong Pak? Kalau sudah sampai andai kamu tidur tolong dibangunkan ya!" ujar Wati pada Pak Kernek.
"Owalah, saya kira kenapa kalian kok saling diam!" ucap Pak Kernek.
"Yaudah, kalian tidurlah aja! Nanti kalau sudah sampai, saya akan bangunin kalian!" ujar Pak kernet lagi pada keduanya.
Setelah mengatakan itu. Pak Kernek pun kembali ke depan me dekati sopir. Wati dan Sukma kembali diam. Keduanya saling berdoa. Baru kali ini rasanya mereka melihat sosok setan secara jelas.
Sejak tadi di kursi belakang. Seorang pemuda dengan balutan Hoodie sedang memperhatikan mereka. Di samping pemuda itu ada seorang gadis. Dia duduk di sana dan dia juga memperhatikan Sukma dan Wati.
"Mereka ada problem serius kayaknya!" ujar pemuda itu, ini adalah Cak Dika.
Dia dan Rara diminta untuk mengembalikan keris ajian ke suatu tempat. Tempat itu letaknya cukup jauh dari desa Rara. Sekitar satu jam perjalanan.
Kata Rara, berhubung sudah ada di kota. Mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan. Menghabiskan waktu berdua sambil menikmati daerah Tapal Kuda.
Rara menyipitkan kedua matanya pada Suma dan Wati. Kedua gadis itu sedang dikejar aura kelam. Namun sosoknya masih belum nampak. Itu hanya bekas aura yang tertinggal terbalut dalam tubuh keduanya.
"Kayaknya sih, iya! Mereka lagi dalam masalah!" ujar Rara pada Cak Dika.
Cak Dika menghela nafas sejenak. Kemudian dia pun berkata,
"Crew kita gak ada! Tapi kita tetap harus nolong mereka dek! Kamu mau ikut aku kan?" tanya Cak Dika pada Rara.
Tak ada jawaban, hanya sebuah anggukan kecil yang Rara berikan. Senang rasanya Cak Dika melihat anggukan itu.
Ketika bus mulai menyusuri jalanan poros. Hawa kela. Itu kembali kuat. Sebentar lagi mereka akan berhenti di kediaman desanya Sukma dan Wati.
Beberapa menit berlalu akhirnya bus itu berhenti tepat di sebuah halte bus kecil. Di sanalah Wati dan Sukma turun.
Untuk menuju ke desa dari halte bus itu. Mereka harus melewati hutan-hutan jati. Kiri kanan mereka pohon itu tumbuh sejajar bak prajurit yang berbaris.
Keduanya lewat di sana dengan lampu penerangan tiang yang cukup jauh jaraknya. Tak ada ojek semalam ini. Jika ada, mungkin keduanya akan lebih memilih memesannya dari pada berjalan kaki.
"Serem area e Yo?" ujar Rara sambil mendongak ke atas melihat beberapa kolong Wewe yang melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.
Bak seekor ninja di Konoha. Tapi, ini bukan Konoha. Dan makhluk yang melompat itu cuma bisa dilihat oleh mereka para pawang Ghaib.
Cak Dika hanya berdehem kecil mendengar itu. Kedua matanya masih fokus menatap ke arah dua gadis yang sedang berjalan di depannya.
Kresekkk
Kresekkk
Suara langkah kaki di area hutan jati yang gelap itu membuat Wati dan Sukma berhenti. Mereka tidak langsung menoleh. Namun mereka diam sejenak.
Cak Dika dan Rara yang melihat itu pun tentu saja juga ikut berhenti. Ketika Wati dan Sukma menoleh ke samping. Itu kosong tidak ada apapun. Hanya gelap saja di sana.
"Kamu dengarkan, tadi?" ujar Wati lirih. Dan Sukma di sampingnya hanya mampu mengangguk pelan.
"Udah gak usah digubris! Kita pulang sekarang dan biarin!" ujar Sukma pada Wati.
Sejujurnya keduanya mulai merasa diteror sejak penampakan yang mereka lihat di halte bus saat itu.
Mereka kembali berjalan menyapu jalanan. Poros yang kiri kanannya adalah pepohonan jati. Beberapa menit kaki mereka mulai memasuki pedesaan. Jarak antara rumah ke rumah cukup jauh.
Terkadang yang berdekatan hanya ada lima rumah. Malam yang semakin larut itu membuat pedesaan itu sepi sunyi bak sebuah kampung mati.
__ADS_1
Ketika mereka kembali melewati pepohonan jati. Lalu mereka kembali bertemu dua rumah. Rumah Wati dan Sukma masih ada di ujung sana. Kira-kira sekitar sepuluh menit dari sana.
Dia rumah yang mereka lewati itu saling berhadapan. Namun kedua rumah itu gelap. Tak ada penerangan sama sekali di sana. Bahkan di dem terasnya.
"Kok tumben ya? Biasanya Pak Jamal sama Bu Ida mah selalu terang rumahnya! Tapi itu kok gelap ya?" ujar Wati masih sambil berjalan semakin dekat dengan kedua rumah berhadapan yang nampak kosong itu.
"Gak tau, Yo mungkin aja mereka pergi!" jawab Sukma asal.
Brukkkkkkk
Setelah mendengar jawaban itu. Suara benda jatuh tepat ketika mereka sudah berada di tengah jalan yang memisahkan rumah itu. Membuat keduanya lagi-lagi terperanjat kaget.
Di sinilah kengerian itu mulai muncul. Saat ketika mereka memutar kepalanya ke arah sumber suara. Mereka terkejut melihat sosok putih bak karung bersimpuh menghadap ke arah pintu rumah pak jamal.
Mereka menyipitkan kedua matanya mencoba mengenali apa itu di antara kegelapan. Ketika fokus mereka memindai. Pada akhirnya mereka tau apa itu.
Keduanya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan penuh rasa ketakutan dalam dadanya. Kaki yang membeku juga mulut yang masih tercengang itu. Dipaksa kabur oleh logika.
Mereka berlari sekencang-kencangnya berhasrat ingin segera tiba di rumah saja saat itu. Sambil berlari, mereka berteriak kencang.
"POCONG!!!" teriak mereka bak sebuah alarm yang berlari menyusuri jalanan poros.
Cak Dika dan Rara memperhatikan itu. Keduanya lalu menoleh ke samping mencoba melihat alasan apa yang membuat kedua manusia itu lari tunggang-langgang.
Betapa terkejutnya Cak Dika dan Rara melihat sosok pocong yang bersimpuh. Sosok itu kian membenturkan kepalanya di depan pintu rumah Pak Jamal.
"Poci?!" ujar Cak Dika sambil memandanginya.
Keduanya tidak lari, sebab mereka ini pawang Ghaib ikan. Melihat yang demikian juga sudah biasa rasanya.
Rara merasakan ada satu hawa kelam yang cukup pilu menyayat hati. Tapi, dia ini bukan Laras ataupun Thariq. Dia hanya mampu merasakan aura pilu yang teramat dalam diri pocong itu.
Ketika sang pocong berhenti membenturkan kepalanya. Pocong itu menoleh ke arah Cak Dika dan Rara. Keduanya terkejut melihat wajah pocong itu yang sedih menatap mereka.
Kulit mukanya mengembung. Cak Dika juga memperhatikan postur tubuh dari pocong itu. Area perutnya membesar.
"Auranya sedih, Cak!" ujar Rara di sampingnya.
Cak Dika mengangguki itu. Lalu dia kembali fokus pada sosok pocong itu.
"Katakan! Kami akan membantumu jika memang kami mampu. Kamu makhluk yang cukup sengsara sepertinya! Jadi bicaralah!" ujar Cak Dika padanya.
Tak ada satu pun jawaban terucap. Namun, pocong itu kembali menatap ke depan. Dia menatap ke arah Wati dan Sukma pergi saat itu.
Hanya satu sebelum keberadaan pocong itu benar-benar hilang. Pocong itu berkata,
"Tolong ringkus dia! Buat dia mengakui kesalahannya di depan malamku!" ujar sosok pocong itu lalu menghilang.
Ada sesuatu yang membuat Cak Dika semakin ingin membantunya. Di akhir sebelum pocong itu pergi. Setelah mengatakan itu, wujudnya berubah menjadi seorang gadis cantik yang tersenyum tipis ke arah mereka.
"Kita bantu dia, dek!" ujar Cak Dika mantap. Hatinya tiba-tiba diliputi oleh rasa iba.
Kesungguhan itu membuat Rara mengangguk. Dia setuju akan menemani Cak Dika kali ini. Tanpa tim, dan hanya mereka saja saat ini.
"Ya, aku pasti ngancani awakmu kok!" ujar Rara.
(Ya, aku pasti nemenin kamu kok!)
"Makasih, ayo!" jawab Cak Dika lalu menggenggam tangan Rara membawanya berjalan bersamanya.
__ADS_1