
Tessss
Tessss
Tessss
Air dari atas gua itu terus berjatuhan. Air itu jatuh menimpa tepat di atas rambutnya Cak Dika.
Merasakan Air yang jatuh itu lantas tidak bisa mendongak ke atas. Dia memperhatikan dengan betul Atap atap gua itu.
Nampak di atas sana banyak sekali para kolong wewe yang melihat ke arahnya. Mereka menatap benci ke arah Cak dika. Kedatangannya di sana sangat tidak diterima.
"Hai, manusia Kenapa kau datang kemari?" tanya sosok kolong wewe di atas sana pada Cak Dika.
Melihat kedatangannya tidak disambut dengan baik jadikan lantas tersenyum di sana.
Dia sama sekali tidak takut padahal rombongan kolong Wewe itu sangatlah banyak menatap penuh kebencian padanya.
"Wahai para penghuni gua! Aku datang bukan untuk menantangmu atau menantang kalian di sini! Aku datang mencari tiga orang bocah yang hilang di sini! Jadi Apakah kalian tahu di mana letak dari bocah itu?" tanya Cak Dika santun tanpa penuh dengan emosi.
Berbeda dengan para kolong Wewe yang sejak tadi menatapnya penuh dengan kebencian.
"Sekalipun Kami tahu di mana letak bocah itu kamu tidak akan mungkin bisa menggapainya!" ujar salah satu kolong Wewe.
Cak Dika menghela nafas sejenak. Kemudian dia memejamkan kedua matanya. Mulutnya komat-kamit dia sedang memanggil para maungnya.
"Grrrrrrrrrr..." suara Auman dari dalam diri Cak Dika saat itu membuat para kolong Wewe itu bergidik ngeri.
Lelembut yang ada pada diri Cak Dika cukup tangguh. Dan lelembut itu adalah salah satu dari penguasa di tanah Jawa ini.
Nyali mereka ciut seketika. Sehingga pada akhirnya. Kesombongan itu berubah menjadi segan pada Cak Dika. Mereka memberi hormat kepada Cak Dika dan para maungnya yang saat ini menampakan diri.
"Kalian tidak perlu takut pada mereka! Mereka tidak akan melukai kalian. Aku di sini hanya mencari keberadaan dari ketiga anak itu!" jelas Cak Dika lagi.
"Maaf Maung! Tapi, ketiga anak itu sedang disekap di salah satu tempat di goa ini. Penyekapnya adalah salah satu dari penghuni pantai selatan!" jelas salah satu kolong Wewe.
Cak Dika mengangguk dia tersenyum kemudian. Goa itu kosong jika dilihat dengan kedua mata normal. Namun di mata anak indigo atau mereka yang memiliki kedua mata penjelajah Ghaib. Goa ini ramai sekali penghuninya.
"Kalau begitu beritahu aku di mana dia menyekapnya?" tanya Cak Dika lagi.
Namun para rombongan kolong Wewe itu hanya mampu diam. Mereka benar-benar takut pada salah satu sosok dari pantai selatan itu.
Tubuh mereka lantas merasakan panas ketika salah satu dari mereka hendak berucap. Mereka mengaung kesakitan. Tak kuasa rasanya mereka menahan itu semua.
"Huh!" pekik Cak Dika ketika melihat satu sosok yang mulai muncul di depan sana.
Ketika satu persatu kolong Wewe itu menghilang. Sosok itu semakin muncul semakin jelas wujudnya.
Ketika sosok itu berdiri tepat di hadapan Cak Dika. Di sana Cak Dika bersimpuh. Ini adalah panglima Nyai. Sosok Nyai penguasa pantai selatan.
Ketika sosok itu muncul seluruh maungnya pun juga ikut bersimpuh memberi hormat. Sosok itu tersenyum menatap ke arah kejadian Cak Dika. Sepertinya Cak Dika sedang disambut sekarang.
__ADS_1
"Nyai!" panggil Cak Dika padanya.
"Ada apa wahai maungnya Majapahit? Perlukah kamu bantuanku di sini?" tanya sosok itu.
Cak Dika mengangguk namun kepalanya tetap membungkuk ke bawah. Sosok yang berada di hadapannya saat ini adalah Nyai Blorong. Panglimanya Nyai Ratu Nyi Roro Kidul.
"Nyai..." lirih Cak Dika sambil mengatupkan tangannya. Dia mencoba menenangkan hatinya yang kalut sebelum meneruskan ucapannya.
"Bicaralah Maung!" ucap Nyai Blorong padanya.
"Nyai, salah satu pengikutmu. Ada yang melenceng mengambil tiga nyawa bocah manusia. Bocah itu disekap katanya di dalam salah satu tempat di goa ini!" jelas Cak Dika padanya.
Nyai Blorong membulatkan kedua matanya. Dia sungguh tidak tahu bahwasanya ada salah satu sekutunya melakukan hal di luar perjanjian Ghaib.
"Aku baru mengetahuinya! Baiklah Maung aku akan membantumu!" ucap Nyai Blorong padanya.
Cak Dika mengangguk. Kemudian sosok Nyai Blorong itu menghilang dari hadapannya. Detik kemudian ketika Cak Dika mengangkat kepalanya. Dia dipertemukan langsung oleh sosok yang dicarinya sejak tadi.
Tiga orang bocah duduk meringkuk di ujung goa. Mereka bersandar, terdengar suara Isak tangis mereka menggema.
Perlahan Cak Dika berjalan mendekati tiga orang bocah itu. Ketika dia hampir dekat suara desisan ular membuatnya menoleh ke samping. Dan itulah salah satu sekutunya Nyai Blorong.
"Kamu tidak bisa mengambil mereka!" ujar sosok itu.
Cak Dika tersenyum kecut mendengar itu. Beginilah sosok yang diciptakan dari nafsu dan api. Tidak pernah puas. Mereka akan selalu mengira bahwa yang lemah pantas ditindas.
"Kenapa aku tidak bisa mengambil mereka?" tanya Cak Dika pada sosok itu.
"Jika kamu ingin mengambilnya maka berikan gantinya!" perintah sosok manusia bertubuh setengah ular itu.
Tutur kata masih baik di sana. Sedangkan sosok setan itu merengut menanggapi segala perkataan yang Cak Dika katakan.
Sungguh dia sangat membenci manusia di depannya ini. Menyebalkan adalah salah satu kata yang mampu melukiskan diri Cak Dika bagi sosok itu.
"Apa kau tidak dengar? Dia milikku! Dan jika kamu ingin mengambilnya maka berikan aku barternya!" ujar sosok itu.
Adalah hal yang lalu membuat Cak Dika tertawa. Gema tawanya dipandang buruk oleh sosok itu.
Dia merasa bahwa Cak Dika saat ini sedang meremehkannya. Kedua bola matanya melotot penuh kebencian menatap ke arah Cak Dika.
Baginya manusia hanyalah makhluk lemah. Mereka lebih buruk daripada setan. Kaumnya jauh lebih sempurna. Mungkin itulah yang saat ini sosok itu pikirkan.
"Aku tidak akan memberikannya! Kamu akan apa jika aku tetap menahan mereka di sini?" tanya sosok itu pada Cak Dika.
Sungguh itu seperti tantangan bagi Cak Dika. Kemudian Cak Dika diam berhenti tertawa. Lalu lekat-lekat dia memandang tepat ke arah sosok itu.
"Huh!" pekik sosok itu ketika Cak Dika memperlihatkan para maungnya.
Bukan itu yang membuat sosok itu takut. Tapi sosok bermahkota di belakang maung itu. Sosok itu kemudian terbang ke atas lalu menampakkan dirinya dengan jelas.
Dan di sanalah Cak Dika tersenyum penuh kemenangan. Ketika sosok itu keluar. Setan biadab di depannya itu langsung menunduk. Hilang sudah ketamakan itu.
__ADS_1
"Apa aku menyuruhmu menyekap mereka?" tanya sosok itu.
Dialah Nyai Blorong. Sosok setan biadab yang tadi menyekap tiga bocah itu seketika ciut. Dia hanya mampu diam.
"Tidak Nyai! Aku hanya ingin memakannya. Supaya sumber kekuatanku tidak melemah!" jawab sosok itu pada Nyai Blorong.
"Lepaskan mereka!" perintah Nyai Blorong padanya.
Detik kemudian sosok itupun mengangguk.
"Tapi Nyai! Hanya dia yang bisa melepaskannya!" ujar sosok itu pada Nyai Blorong.
"Dia siapa?" tanya Nyai Blorong padanya.
"Salah satu dari orang ini. Satu keturunan darah Majapahit sedang melawan salah satu pengawalmu. Dia lah yang membawanya kemari. Dan dialah yang memiliki cara untuk mengeluarkan mereka dari sini!" jawab sosok itu.
Kemudian Cak Dika ingat. Bahwa Rachel berada di alam sebelah. Sama sepertinya. Cak Dika yang kesal kemudian menghampiri sosok setengah ular itu.
Dia tidak ingin Rahchel saudaranya itu terluka lagi. Dengan penuh amarah. Ekor dari sosok setengah ular itu Cak Dika tarik. Itu membuat sosok itu mengerang.
Ketika dia akan melawan. Sosok itu melihat kawanan Maung sedang menariknya. Yang menariknya bukanlah Cak Dika. Melainkan para Maung.
"Beritahu aku di mana sosok itu! Jika sampai terjadi apa-apa pada adikku. Maka Majapahit beserta para turunannya akan mengadu kepada Kanjeng Nyai! Jangan sampai pertarungan Ghaib terjadi!" ucap Cak Dika kesal.
Sosok itu pun ciut ketika Cak Dika menyebut nama Nyai Ratu. Kemudian dia pun menunjukkan tempatnya.
Pandangan berubah ke satu area. Di mana di sana telah bersimpuh Rachel sambil memegangi dadanya.
Cak Dika menengok ke atas. Rombongan ular itu sedang dihadang oleh Nyai Ratu. Nyai ratu berusaha melindungi Rachel dari para ular setan.
"Berhenti kau!" perintah Cak Dika.
"Huh!" pekik sosok kerdil berekor itu.
Sosok kerdil berekor itu kemudian menoleh kebelakang. Nampak Cak Dika di sana berdiri.
"Lepaskan adikku! Lepaskan kami semua! Atau kau akan tamat di tanganku!" ujar Cak Dika padanya.
Sosok itu terkejut mendapati salah satu komplotannya gugur di tangan Cak Dika. Ketika sosok itu akan melawannya. Nyi Blorong hadir tepat di belakang Cak Dika.
Sosok itu kemudian bersimpuh. Dia tidak berani melawan pimpinannya.
"Lepaskan mereka!" perintah Nyai Blorong.
"Baik Nyai!" jawab sosok kerdil berekor itu.
Kemudian sosok kerdil berekor itu mengajak Cak Dika dan Rachel untuk kembali ke tempat semula. Tempat tiga bocah itu disekap.
Ketika mereka kembali. Sosok kerdil berekor itupun memberitahu jalannya. Ketika mereka masuk ke dalam.
Cukup jauh pada akhirnya dimensi membawa mereka kembali keluar dari dalam alam sebelah.
__ADS_1
Tiga anak itu berhasil ditemukan. Hal itu membuat dua orang polisi di sana bisa bernafas lega rasanya.
Kekayaan itu lantas membuat Nyai Ratu milik Rachel memberi hormat pada sosok Nyai Blorong di depannya. Nyai Ratu itu berterima kasih padanya atas bantuan yang Nyai Blorong berikan.