Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 169: Tiga orang yang mati


__ADS_3

Perjalanan dari Jakarta ke Jawa Tengah, hingga ke kota T cukup memakan waktu yang lama. Sepanjang perjalanan dari Jakarta hingga sampai tepat di kota T saat ini.


Bella dan Mas Suhu hanya mengobrolkan sesuatu yang penting-penting saja. Tidak ada gurauan yang Bella lontarkan. Tetapi, berbeda dengan Mas Suhu.


Mas Suhu sama sekali tidak menyerah kepada Bella. Sejujurnya hati ya pun sudah sejak dulu takluk pada Bella. Namun dia sama sekali belum mengetahui alasan kenapa Bella berubah.


Hingga ketika langit mulai gelap dan mobil grab itu sudah hampir sampai di sebuah rumah yang dimaksud oleh teman mereka yaitu, Andri.


Bella ketika mobilnya hendak mendekati lokasi itu. Dia mulai mengeluarkan kamera yang selalu dia bawa. Kemudian ketika mobil grab itu berhenti tepat di depan rumah itu maka Bella dan Mas Suhu pun turun.


Mobil Grab itu tetap di sana. Mereka menyewanya sampai tugas mereka di tempat ini selesai. Di depan teras rumah itu hanya ada satu sepeda motor.


Mas Suhu mulai mengotak-atik ponselnya. Sedangkan Bella, dia memandangi rumah itu. Auranya cukup aneh. Perpaduan antara aura baik dan buruk bercampur menjadi satu di sana.


Bella memperhatikan ke segala penjuru halaman itu. Halamannya luas dan beberapa rumput yang tumbuh di sana mulai mati. Rumah ini dibangun cukup bagus dan megah.


Bella mulai mengarahkan kameranya ke arah rumah itu. Dia mencoba mengambil satu gambar dari rumah itu.

__ADS_1


Bella bukan Rachel yang memiliki maskot terkuat di antara saudaranya. Bukan pula Cak Dika spesialis ghaib yang cukup mampu. Juga bukan, Thariq yang bisa menembus masa lalu.


Bella adalah salah satu pemilik kamera ghaib yang kameranya tidak dimiliki oleh saudaranya yang lain. Melalui kamera itu hal-hal yang ghaib akan tertangkap.


Klikkkk


Satu kali jepretan lalu beberapa detik kemudian keluarlah polaroid dari dalam kamera itu. Bella mengibaskan foto yang baru saja jadi lalu melihatnya. Apa yang dia lihat di sana cukup membuatnya terkejut.


"Mas!" panggil Bella.


Brukkk


Bella terdiam ketika melihat mas Suhu lari masuk ke dalam rumah itu. Bella yang melihat itupun tidak tinggal diam. Dia juga ikut berlari masuk ke dalam rumah itu.


Mas Suhu membuka pintu rumah itu diikuti dengan Bella di belakangnya mereka berdua pun masuk ke dalam.


"Ya Allah, Wil! Kamu kenapa?" tanya Andri sambil menepuk-nepuk wajah Wildan yang tak sadarkan diri namun mulutnya masih komat-kamit.

__ADS_1


"Kenapa dia?" tanya Mas Suhu yang baru saja tiba.


"Loh Mas Suhu!" pekik Andri tak percaya akan kehadiran Mas Suhu di sini.


Mas Suhu membantu Andri memapah tubuh Wildan untuk keluar dari rumah itu. Mereka berempat pun membaringkan Wildan di teras rumah.


"Itu..." lirih Wildan dengan suara paraunya.


"Apa Wil?" tanya Andri padanya.


"Itu... Ada anak kecil melotot!" ujar Wildan.


Keringat dingin membasahi keningnya. Dia masih terbaring di sana. Namun kali ini dia bisa membuka matanya.


Bella yang mendengar itu pun kembali melihat ke arah satu potret yang dia dapatkan. Mas Suhu menatap Bella. Dia melihat bahwa dalam tatapan Bella ada sesuatu yang ingin. Bella sampaikan.


"Apa Bel?" tanya Mas Suhu padanya.

__ADS_1


Bella menyerahkan potret yang dia ambil barusan. Dengan senang hati Mas Suhu pun menerimanya.


Mas Suhu memperhatikan itu. Ada tiga orang yang mati di dalam rumah ini. Mereka bertiga adalah keluarga. Mereka dibunuh secara sadis oleh beberapa perampok.


__ADS_2