
Di manapun masalah perihal Ghaib itu ada. Jika Cak Dika dipanggil bersama dengan saudaranya. Maka dia akan segera bergegas untuk datang. Meringkus tiap jenaka usil dari makhluk alam sebelah.
Pagi tadi, tepatnya pukul sepuluh. Cak Dika dan Rachel sudah sampai tepat di Jawa Tengah, tepatnya di kota Semarang.
Rombongan mereka saat ini sedang duduk di sebuah kamar hotel. Ini adalah hotel tempat di mana Siska, Sandi dan Leo menginap. Ini kamar untuk perempuan, kamarnya Siska dan Sandi.
Tapi sekarang Siska hanya sendiri di dalam kamar hotel ini. Tidak ada canda tawa Sandi bersamanya. Dia tidur selama beberapa hari ini seorang diri sambil memikirkan perihal Sandi yang hilang entah kemana.
Nampak setelah menceritakan perihal kejadian. Yang mengambil temannya, yaitu Sandi dua hari kemarin dikabarkan hilang di bawah tanah bangunan Lawang Sewu.
Nampak Siska sejak tadi merutuki dirinya sambil menangis sesenggukan. Sedangkan Leo, dia juga sama. Mereka berdua merasa sangat bodoh meninggalkan Sandi saat itu juga.
Ketakutan yang menguasai mereka membuat keduanya lupa akan temannya. Mereka lari memeluk rasa egois dalam hati mereka.
Ingin selamat sendiri-sendiri. Setelahnya, ketika ketakutan tak lagi hinggap. Penyesalan terdalam berkobar luas di atas hatinya.
"Aku Iki Wedi, Mas! Wedi nek Sandi bakalan mati nang jero kunu!" ujar Leo frustasi sambil *******-***** kepalanya.
(Aku takut, Mas! Takut kalau Sandi akan mati di dalam sana!)
Cak Dika memahami perasaan keduanya. Nampak Rara berdiri menghampiri Siska yang menangis. Rara menyentuh pelan kedua bahu Siska.
"Tenang, kalau memang dia bisa kami bantu. Maka, kami akan membantunya! Kalian gak perlu khawatir, kami malam ini juga bakalan turun ke Lawang Sewu!" jelas Rara dia mencoba menenangkan Siska dan Leo yang masih nampak ketakutan.
Setelah menuturkan itu bola matanya menatap tepat ke arah Cak Dika yang juga menatapnya.
"Apa?" tanya Rara pada Cak Dika yang sedang menatapnya.
Cak Dika kemudian menggeleng pelan. Ketika dia berdiri, Leo mengatakan.
"Kenapa kita harus ke sana malam sih Mas? Bisa pagi, siang atau sore, kan? Kenapa harus malam?" tanya Leo pada Cak Dika. Dia masih sangat ketakutan sampai saat ini.
"Karena kita gak bakalan bisa nemuin petunjuk pada saat matahari masih terbit! Kekuatan makhluk alam sana ada ketika kegelapan datang. Itulah kenapa, yang ditakuti bukanlah gelapnya tetapi apa yang ada di dalam kegelapan!" jelas Cak Dika pada Leo.
"Tenang aja, kamu gak sendiri! Ada kita, selama ada kita insyaallah bakalan aman!" ucap Rachel pada Leo.
Leo mengangguk mendengar itu begitupun dengan Siska. Saat Itu mereka sepakat untuk datang masuk kembali di bangunan Lawang Sewu pada malam hari.
"Cak, aku ke kamar dulu Yo!" ucap Rachel berpamitan kepada Cak Dika untuk masuk ke dalam kamar hotelnya.
Cak Dika mengangguk mendengar itu. Ketika Rachel berbalik dia tentu saja menatap Thariq yang berdiri sejak tadi di belakangnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Thariq padanya.
"Melu a? Aku luwe, arep maem tahu isi!" jawab Rachel padanya yang membuat Thariq tersenyum.
(Ikutkah? Aku lapar, mau makan tahu isi!)
"Halah, builshit! Mbak, pingin pdkt Yo?" ujar Marsya di samping Rachel menimpali.
__ADS_1
Rachel sontak saja menoleh ke arah adiknya itu lalu berkata,
"Pdkt, mbahmu!" ucap Rachel menimpali.
Laras tertawa mendengar itu begitupun dengan Aldo di sampingnya. Rachel kemudian kembali bergegas keluar dari dalam kamar itu.
Thariq hanya menghela nafas ketika suara pintu sudah kembali ditutup. Menandakan bahwa Rachel sudah keluar dari dalam kamar itu. Bagi Thariq, Rachel itu cukup menarik. Dia selalu bisa menenangkan hatinya Thariq.
Waktu mereka habiskan dengan bercengkrama makan dan menikmati keindahan dari kota Semarang. Hingga ketika jam tepat menunjukkan pukul lima sore.
Semuanya berkumpul tepat di depan bangunan Lawang Sewu.
Bangunan ini berdiri sejak jaman Belanda. Bahkan perancang pembangunan arsitek dari bangunan ini adalah orang Belanda.
Bangunannya dirancang oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam, dengan ciri dominan berupa elemen lengkung dan sederhana.
Bangunan di desain menyerupai huruf L serta memiliki jumlah jendela dan pintu yang banyak sebagai sistem sirkulasi udara.
Karena jumlah pintunya yang banyak maka masyarakat menamainya dengan Lawang Sewu yang berarti seribu pintu.
Selain desain bangunanya yang unik, Lawang Sewu memiliki ornamen kaca patri pabrikan Johannes Lourens Schouten.
Kaca patri tersebut bercerita tentang kemakmuran dan keindahan Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, kota maritim serta kejayaan kereta api.
Ragam hias lainnya pada Lawang Sewu antara lain ornamen tembikar pada bidang lengkung di atas balkon, kubah kecil di puncak menara air yang dilapisi tembaga, dan puncak menara dengan hiasan perunggu.
Berbekal dengan keberanian dan niat untuk mencari keberadaan dari Sandi. Rombongan Cak Dika dan Rachel sudah mantap untuk masuk ke dalam.
Mereka juga sudah mendapatkan izin untuk masuk saat malam menjelang. Jelas sangat jelas, aura ketika kaki mereka pertama kali masuk ke dalam. Terdapat beberapa sosok setan Belanda dengan senapan yang mereka bawa.
Sosok itu berjalan ke sana kemari seolah sedang menjaga tempat itu. Biarpun penghuninya di sana rata-rata adalah Belanda. Tapi, rupanya Barend dan Albert sejak tadi ketakutan.
Mereka ikut bersama rombongan Cak Dika. Mereka berdua berada di belakang Cak Dika dan Marsya. Mencoba mencari perlindungan barangkali ada setan yang ingin mengambilnya lalu memperbudaknya.
"Marsya!" panggil Barend yang saat ini melayang di balik tubuhnya.
"Ya?" tanya Marsya yang masih fokus berjalan tanpa menoleh ke arah Barend.
"Apa kamu tidak takut?" tanya Barend padanya.
Marsya lalu menggelengkan kepalanya. Baginya, kenapa dia harus takut pada mereka para makhluk keji yang jelas rendah derajatnya daripada manusia.
Tidak, Marsya tidak akan takut. Mentalnya sudah cukup terasah sampai saat ini bersama seluruh saudaranya yang lain.
"Kamu takut?" tanya Marsya padanya.
Anak setan itu jelas menganggukkan kepalanya dengan raut muka polosnya. Tangan kecilnya itu menarik ujung baju Marsya yang sudah jelas hal itu sia-sia. Barend tidak pernah bisa menggapai itu secara fisik.
"Hahahahaha..." tawa Marsya kepada Barend.
__ADS_1
Cak Dika dan Rara lalu menoleh ke arah Rara. Gema tawanya saat itu memecah kesunyian di sana.
"Dek, jangan kencang-kencang kamu ketawanya!" ucap Cak Dika padanya.
Sontak Marsya lalu menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya lalu mengangguk. Tawa itu berhenti.
Lalu Laras, dia berjalan mendekati Marsya. Lalu berdiri tepat di sampingnya Marsya. Laras nampak menahan sesuatu dalam tubuhnya. Ketika tangannya menyentuh bahunya Marsya. Kemampuannya memasuki masa lalu mulai tergambar memenuhi kepalanya.
"Bangunan ini dulunya adalah perkantoran kereta api. Sebelum Jepang datang! Banyak orang Belanda di sini. Ramai sekali! Tapi, ketika Jepang datang bangunan ini tidak lagi beroperasi. Dan sempat dijadikan penjara oleh para penjajah Jepang di area bawah tanahnya. Terdapat satu sumur yang berada di bangunan ini. Letaknya ada di halaman. Pada malam tertentu akan terdengar dengan jelas suara-suara teriakan di dalam sumur itu!" jelas Laras menjelaskan apa yang sedang dilihatnya melalui ilmu kebatinannya
Aldo memperhatikan Laras yang bibirnya semakin memucat. Lantas Aldo sigap menghampiri kekasihnya itu.
Ketika Aldo mencoba menyadarkan Laras sambil memegang kedua bahunya. Darah segar mengucur deras dari dalam lubang hidungnya Laras.
"Enghhh.." lirih Laras samar-samar dia membuka kedua matanya.
"Kamu kenapa, Laras?" tanya seluruh saudaranya termasuk juga dengan Aldo yang panik.
Laras menggeleng pelan mendengar itu. Dia hanya merasakan bahwa kepalanya saat ini begitu berat. Seperti ada yang menekan dari kedua sisi kepalanya.
Thariq mendekati Laras yang sedang dipapah oleh Aldo. Kedua kakinya tidak kuat menopang tubuhnya sendiri.
Ketika Laras bersimpuh sambil terengah-engah. Aldo juga bersimpuh, tepat di depannya Laras. Lalu, dia menyentuh puncak kepala Laras dan terpejam.
Aldo terkejut melihat itu. Tapi, dia mencoba memaklumi. Sebab Thariq juga seorang pawang Ghaib.
"Salah satu dari makhluk disini! Membawa Sandi masuk ke dalam portal ghaib! Jadi, mari kita berangkat masuk ke dalam ruang bawah tanahnya!" ujar Thariq pada Cak Dika.
Thariq lalu membuka kedua matanya. Dia kemudian berdiri.
"Kalau gitu, kita pecah aja!" ujar Rara memberi saran pada mereka.
"Pecah gimana maksudnya?" tanya Cak Dika pada Rara.
Rara kemudian menunjuk ke arah Laras yang sudah cukup lemas. Dan mungkin dia tidak bisa melanjutkan ekspedisi lagi.
Cak Dika paham setelah melihat ke arah yang Rara tunjuk. Kemudian dalam kepalanya dia setuju akan membagi kelompoknya.
"Ada yang harus jaga Laras di sini! Jadi, aku ke bawah nanti sama Thariq, Rachel, dan Bella. Dokumentasi, aku mau ajak Rahman sama Mas'ud. Sisanya, kalian tetap di sini!" ucap Cak Dika pada mereka.
Mereka lalu mengangguk mendengar itu. Cak Dika dan rombongan yang sudah dibagi akhirnya berjalan menuju ke arah ruang bawah tanah.
Siska dan Leo, mereka sengaja ditinggalkan bersama dengan Laras dan Aldo di sana. Sebab, Cak Dika tau bahwa merek berdua masih sangat trauma.
"Apa gapapa, mereka dibiarkan masuk ke dalam bawah tanah malam-malam?" tanya Leo sambil memperhatikan Cak Dika beserta rombongannya yang perlahan mulai menjauh.
Rara melipat kedua tangannya. Netranya masih menatap tepat ke arah Cak Dika dan Rachel yang semakin menjauh.
"Tenang saja! Mereka pasti bisa kok!" ucap Rara pada Leo.
__ADS_1