
"Jadi, di sini sering ada banyak sekali laporan tentang harta hilang," jelas salah satu pria di sebuah desa.
Nanda dan Nadin berada di dalam salah satu rumah. Rumah ini adalah rumah milik ketua desa.
Mereka di sana sedang duduk sambil berbincang bersama dengan Gautama Family yang baru saja datang.
"Ah... Saya... Dan kami semua datang kemari memenuhi panggilan dari dua anak kembar ini. Keluhannya pada kami saat itu, mereka melihat kejadian aneh di dalam rumah mereka yang dilakukan oleh ibuk dan bapaknya!" jelas Cak Dika memberitahu maksud kedatangannya ke kampung itu.
Setela menerima surel dari Nadin dan Nanda. Mereka langsung datang ke desa ini. Di sana Cak Dika yang tidak tau letak rumah Nadin dan Nanda pun menemui kepala desa.
Cak Dika menanyakan perihal keberadaan Nanda dan Nadin. Sampai pada satu waktu Nanda dan Nadin melewati rumah mereka. Di situlah mereka dipanggil untuk masuk.
Setelah mendengar penjelasan dari Cak Dika itu. Lantas ketua desa pun manggut-manggut. Mereka kemudian menatap lekat ke arah Nadin dan Nanda.
Kejadian aneh itu dikaitkan juga dengan banyaknya jumlah uang yang hilang akhir-akhir ini.
Penyebab dari itu pun masih belum diketahui. Tetapi mereka berasumsi bahwa ini semua terjadi karena ritual ghaib.
"Di desa kami banyak uang yang hilang, Mas! Kejadiannya itu selalu di malam Jum'at," tutur Ketua desa pada Cak Dika.
"Insyaallah saya bisa bantu Bapak! Kalau memang ini perihal ghaib. Makhluk alam sebelah. Insyaallah kami bisa membantu!" ujar Cak Dika.
Lalu Cak Dika tersenyum lagi menatap ke arah dua bocah yang masih diam itu.
"Jadi, bagaimana? Apakah kalian bersedia menceritakan apa yang kalian lihat?" tanya Cak Dika pada mereka.
Nadin dan Nanda menoleh secara bersamaan mereka saling menatap. Lalu kemudian mereka mengangguk. Anggukan itu membawa tatapan mereka bertemu lagi dengan Cak Dika.
"Aku suka melihat YouTube. Salah satu tontonan favoritku adalah Channel kalian. Saat itu kami baru saja pulang main. Ketika kami pulang. Kami melihat salah satu pintu yang biasa dikunci terbuka," jelas Nadin.
__ADS_1
Rachel memperhatikan gerak-gerik dua bocah itu yang sepertinya takut untuk melanjutkan obrolannya.
"Kalian tidak perlu takut! Ada kami di sini. Kalian akan baik-baik saja!" ucap Rachel menenangkan.
Nadin dan Nanda menunduk. Mereka masih ingat betul apa yang mereka lihat saat itu.
"Kami melihat, Bapak dan Ibuk di dalam satu ruangan itu. Ruangan itu gelap. Dan hanya ada satu lilin diletakkan tepat di depan Ibuk. Di depan Ibuk ada Bapak. Di sana Bapak memegang ayam cemani yang masih utuh. Lehernya sudah digorok. Dan Bapak memakannya mentah-mentah," jelas Nadin lagi meneruskan ucapannya.
Mereka yang duduk di dalam sana terkejut mendengar itu.
"Saat itu aku berpikir untuk memanggil kalian! Bukankah itu kesukaan setan? Kami takut, dan hanya itu saja yang muncul di dalam benak kami saat itu!" jelas Nadin lagi padanya.
Cak Dika sedikit mengingat lagi. Perihal pesugihan apa yang sedang dilakukan oleh orang tua Si Kembar ini.
Jika ini berhubungan dengan pencurian. Maka sudah dapat dipastikan bahwa pesugihan ini adalah Babi Ngepet.
"Babi Ngepet!" ucap Cak Dika.
Ucapan itu tentu saja menyita perhatian seluruh orang di dalam ruangan itu.
"Babi ngepet?" tanya Rachel.
Cak Dika mengangguk. Kemudian dia berpikir lagi salah satu ciri dari mereka yang menggunakan pesugihan babi ngepet biasanya akan memakan kotoran sebelum ritual.
"Apakah Ibuk dan Bapak kalian pernah memakan kotoran?" tanya Cak Dika pada Nadin dan Nanda.
Bocah kecil itu mencoba mengingat-ingat lagi perihal apa yang Cak Dika tanyakan. Hingga mereka berdua mengingat satu hal. Bahwa bapak dan ibuk mereka pernah menyimpan bungkusan busuk di dalam lemari es.
"Bapak dan Ibuk pernah menyimpan bungkusan hitam di dalam lemari es," ucap Nadin dia kembali mengingat lagi sekarang.
__ADS_1
Otaknya dia paksa sedemikian rupa untuk mengingat kejadian yang sudah hampir hilang dari dalam kepalanya.
"Bungkusan apa itu?" tanya Cak Dika pada mereka.
Dua belas cah kembar itu mengangkat bahu mereka sambil menggelengkan kepalanya. Pertanda bahwa mereka tidak tahu apa isi dari bungkusan itu.
"Itu bau sekali, busuk baunya!" jelas Nadin lagi.
Ah, sepertinya benar apa yang Cak Dika katakan. Cak Dika tersenyum tipis kemudian. Dia kemudian menatap lembut ke arah dua bocah itu.
.
Cak Dika menghampiri dua bocah itu. Lalu di hadapan mereka dia membungkukkan badannya. Kedua tangannya kemudian menyentuh bahu Si Kembar. Di sana Cak Dika pun berkata,
"Kalian boleh pulang! Sisanya kalian serahkan pada kami saja!" ujar Cak Dika menjelaskan.
Tuturnya saat itu membuat Nadin dan Nanda mengangguk. Entah kenapa ketika mereka menatap Cak Dika. Mereka percaya bahwa Cak Dika adalah jawaban. Dua bocah kembar itu pun pergi dari dalam rumah itu.
"Kenapa disuruh pergi Mas?" tanya Pak Ketua desa pada Cak Dika.
Cak Dika berbalik menghadapkan dirinya pada Ketua Desa. Di sana dia masih tersenyum.
"Mari kita tangkap babi ini!" ucap Cak Dika.
Mereka tau dalam senyum Sang Maung ada rencana hebat yang akan mampu menangkap sosok pengguna ilmu hitam itu.
"Tapi bagaimana cara menangkapnya Cak?" tanya Marsya pada Cak Dika.
Cak Dika hanya tersenyum saja menganggap itu. Kemudian dia duduk lalu memulai pembicaraan.
__ADS_1