Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 157: Ini sudah satu jam!


__ADS_3

Thariq memperhatikan jam tangannya. Sungguh ini adalah masalah yang cukup lama dan baru kali ini rombongan Cak Dika menghadapi masalah ghaib selama ini.


"Bangunlah, Hel!" ujar Thariq bola matanya kembali menatap kepala Rachel yang terbaring di atas pangkuannya.


Gadis itu masih saja menutup matanya sejak tadi.


"Apa tidak apa-apa mereka ini?" tanya Rahman sembari memegangi kamera miliknya. Dia betul-betul khawatir.


"Kita doakan saja semoga tidak ada apa-apa!' ujar Melissa.


Sementara di alam sebelah saat ini Rara dan Rachel sudah berhasil menaklukan para Genderuwo kurang ajar itu.


Mereka terus berlari dan berlari hingga menemukan sebuah goa. Sejenak Rachel dan Rara berhenti.


Gua itu ditumbuhi beberapa tanaman rambat yang hampir menutupi pintu masuknya. Rachel memperhatikan goa itu. Dia merasakan ada satu energi yang selaras dengannya di dalam sana.


"Kita masuk!" ucap Rachel berjalan lebih dulu.


Grepp


"Hel!" panggil Rara padanya.


Rachel menoleh menatap Rara kali ini.


"Ada apa?" tanya Rachel padanya.


"Kamu yang benar saja? Kekuatan kita ini sudah hampir habis. Jika salah masuk lalu berhadapan lagi dengan mereka. Bisa bahaya, Hel!" ucap Rara memperingati.


Rachel membuang kasar nafasnya. Kemudian dia menunjuk ke arah goa itu sambil masih menatap Rara.


"Ra, kita harus masuk ke sana! Kalaupun memang ada halangan di dalam sana. Ya, kita lawan dia! Kenapa kita harus takut, Ra?" tanya Rachel pada Rara.


Anak kecil yang sejak tadi Rara genggam tangannya pun berkata,


"Kenapa kita takut? Bukannya kita mencari jalan keluar? Jika kita takut dengan para makhluk ini maka Tuhan akan marah pada kita!" ucap anak kecil itu.


Rara merasa tertampar rasanya. Tapi itu benar. Tuhan mereka jauh lebih kuat daripada para makhluk ini. Lagi pula mereka juga ciptaan Tuhan, bukan?


"Baiklah mari kita masuk!" ucap Rara.


Rachel mengangguk mantap. Masuklah ketiganya ke dalam goa itu. Ketika tubuh mereka masuk ke dalam sana. Suasana bak neraka mereka lihat.


Ada banyak suara entah dari mana asalnya. Suara itu memekik dan berteriak. Ruangan di sana berwarna merah dan berasap.


Di dalam sana Rachel merasakan ada satu energi yang sama dengannya. Rachel menarik tangan Rara agar mereka tidak terpisah kali ini.


"Gimana pun jangan sampai saling melepaskan!" ucap Rachel memperingati.

__ADS_1


Rara mengangguk lalu mereka masuk lebih jauh ke dalam. Hingga samar-samar mereka menemukan seseorang yang duduk di antara altar berbentuk kotak.


"Nyai?!" ucap Rachel terkejut ketika dia melihat Nyai Ratu yang dikurung di sana.


"Anakku! Kenapa kalian kemari?" tanya Sang Nyai Ratu pada Rachel.


Rachel bersimpuh ketika Nyai Ratu menanyakan itu. Hal itu tentu saja diikuti oleh Rara dan anak kecil itu.


"Nyai, kenapa kau bisa ditangkap seperti ini?" tanya Rachel pada Nyai Ratu.


"Ini lah jika manusia buta dan tamak, nak!" jawab Sang Nyai Ratu.


"Maaf Nyai, tapi aku sama sekali tidak mengerti apa yang Nyai Ratu katakan!" tanya Rachel padanya.


"Ini perihal perjodohan anakku! Aku menolak salah satu lamaran yang datang. Penguasa itu mencintaiku! Tapi aku tidak mencintainya! Dendamnya padaku berlanjut sampai dia mati. Dan Rupanya dia berada mendekam di sumur itu. Dia mendirikan kerajaan baru di sini! Dahulu mayatnya tidak dikuburkan. Tapi mayat penguasa itu dibawa oleh bangsa jin!" jelas Nyai Ratu pada Rachel.


Rachel paham atas apa yang Nyai Ratu katakan. Kemudian Rachel pun berdiri. Sambil menatap Sang Nyai Ratu dia pun berkata,


"Aku ingin melepaskanmu Nyai! Tunjukkan padaku bagaimana caranya?" tanya Rachel bersungguh-sungguh.


Nyai Ratu tersenyum mendengar itu.


"Duduklah anakku!" ucap Nyai Ratu memerintahkan.


Rachel pun duduk seperti apa yang Nyai Ratu perintahkan.


"Kamu memiliki keyakinan kuat pada Jagat Dewa Batara, Nak! Maka berdoalah kepada Sang pencipta itu! Mintalah padanya untuk membantumu membebaskanku!" ucap Sang Nyai Ratu.


Rachel mengerti apa maksud dari perkataan Sang Nyai. Rara yang tau itu pun juga ikut duduk. Begitu pula anak kecil di sampingnya itu.


Ketika mereka sama-sama duduk mereka pun mulai melantunkan doa. Di tempat lain Cak Dika dan Marsya juga berdoa. Mereka berusaha mengalahkan Penguasa gila yang ada di depan mereka.


"Arghhhhh... Panas... Panas!!!" teriak suara-suara pengikut Sang Raja.


Sedangkan Sang Raja dia masih fokus menahan segala kekuatan doa yang sedang mengarah ke arahnya. Dia juga ikut merasakan panasnya kekuatan doa. Namun dia masih keras kepala melawan.


"Sudah cukup hentikan!!!" teriak suara-suara pengawal Sang Raja.


"Teruslah berdoa anakku!" ucap Simbah Gautama memerintahkan Cak Dika dan Marsya supaya doa mereka terus berlanjut dan tidak putus.


Satu persatu anak buah dari sang Raja mulai menghilang. Mereka benar-benar tidak kuat mendengar lantunan suci itu.


Hingga ketika ruangan itu sepi tak ada lagi pengawal Sang Raja. Sang Raja pun terpental ke belakang.


"Arggghhhhh!!!" teriak Sang Raja.


Dia tersungkur berusaha bangkit. Ketika dirinya sudah bangkit dia menatap benci ke arah Simbah Gautama.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu lepaslah rantai yang melilit kaki dan tangan Nyai Ratu. Melihat itu Sang Nyai Ratu pun tersenyum. Dia berjalan ke arah Rachel, Rara dan anak kecil itu.


Rachel, Rara dan anak kecil itu masih terpejam. Nyai ratu menyentuh ketiganya sau persatu sambil membaca ajian Jawa.


Seketika mereka pun berpindah ke dalam Kerajaan Sang Raja. Sang Raja terkejut melihat kehadiran Nyai Ratu yang datang secara tiba-tiba.


"Bagaimana kau bisa lepas?" tanya Sang Raja padanya.


Sang Nyai Ratu yang murka pun berjalan mendekati Raja itu. Dengan kekuatannya Sang Nyai Ratu melawan Raja itu.


Merasa tak sanggup melayani adu mekanik dengan Sang Nyai Ratu. Sang Raja pun pergi menghilang dari dalam istananya sendiri.


Di dekat singgasana itu. Sang Nyai Ratu pun menoleh ke arah Simbah Gautama. Sang Nyai Ratu pun tersenyum lalu mengangguk.


Para cucunya masih memejamkan mata. Mereka masih berdoa. Simbah Gautama tau apa maksud dari anggukan dan senyuman Sang Nyai.


Melalui kemampuan batin Simbah pun bicara bahwa sudah saatnya bagi mereka untuk kembali.


Mendengar perintah itu Rachel, Cak Dika, Marsya dan Rara pun kembali. Simbah Gautama juga membantu anak kecil itu untuk kembali ke alam manusia.


Bughhhhh


"Huh!" Thariq terkejut mendengar sesuatu yang jatuh di balik sebuah pohon besar.


"Coba cek itu!" ucap Thariq sambil menunjuk ke arah pohon besar yang berdiri agak jauh dari tempatnya duduk.


"Kamu ae, Man!" ucap Mas'ud.


"Moh, kamu ae sana!" ucap Rahman.


Keduanya ketakutan tidak berani mengecek apa yang ada di balik pohon itu. Melissa menatap ke arah pohon itu kemudian dia tersenyum.


"Anak kecil itu sudah kembali!" ucap Melissa.


Ketika ucapan itu selesai. Muncullah anak kecil yang sebelumnya sempat hilang dan dicari. Sungguh mereka bahagia sekali ketika melihat anak kecil itu kembali.


Rachel, Cak Dika, Marsya dan Rara pun mulai membuka matanya. Rachel mengerjakan matanya beberapa kali. Hingga ketika fokusnya dia dapatkan dia terkejut mendapati Thariq yang menatapnya.


"Rachel sayang!" ucap Thariq.


Rachel langsung bangkit dari pangkuan Thariq. Sedangkan panggilan sayang itu tentu saja membuat beberapa orang di sana menatap mereka.


"Cieee sayang!" ucap Bella sambil menatap Rachel.


"Wihhh nyusul Laras wes sebentar lagi!" ucap Rahman menimpali.


Thariq tersipu malu mendengar perkataan Rahman. Sial rasanya! Kenapa mulutnya itu tidak bisa dia kontrol sendiri.

__ADS_1


__ADS_2