Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 129: Misteri Sirkuit Balap Liar


__ADS_3

Tuban disebut sebagai Kota Wali karena Tuban adalah salah satu kota di Jawa yang menjadi pusat penyebaran ajaran Agama Islam.


Namun beberapa kalangan ada yang memberikan julukan sebagai kota tuak karena daerah Tuban sangat terkenal akan penghasil minuman (tuak & legen) yang berasal dari sari bunga siwalan (ental).


Di kota inilah Cak Dika dan rombongannya berada saat ini. Kereta membawa mereka sampai kemari.


Rombongan itu berjalan keluar dari dalam stasiun. Seperti biasa mobil grab yang mereka pesan akan membawa mereka ke lokasi tujuannya.


Di dalam mobil yang berisikan Cak Dika, Rahman, Deni dan Mas'ud. Mereka di sana sedang sibuk membahas perihal jalan raya pos.


Sebuah jalan raya yang merupakan inspirasi dari Imperium Romawi. Jalan raya pos dibangun sepanjang kurang lebih 1.000 kilometer di Pulau Jawa.


Jalan Daendels, begitu sebutan lainnya, membentang dari Anyer hingga Panarukan. Sebuah Jalan raya yang membentang sepanjang 1.100 km dari Anyer (Jawa Barat) hingga Panarukan (Jawa Timur).


"Jadi di sini Mas, biasanya Redi ini melakukan balap liarnya!" jelas Rahman menunjukkan peta pada Cak Dika.


Cak Dika yang duduk di sampingnya itu memperhatikan penjelasan Rahman dengan seksama.


"Oh ini jalan raya yang dibangun Belanda dulu! Waduh, mistis sekali ini kayaknya. Anak-anak setan itu nanti bisa jadi translator!" ucap Cak Dika.


Raut wajahnya nampak tenang sekali. Tidak kekhawatiran yang terukir di sana.


"Loh... Kalo jaman Belanda berarti ngeri keroso, Mas!" ucap Rahman lagi.


Cak Dika manggut-manggut saja mendengar itu. Dia membenarkan perkataan dari Rahman.


"Lagi," ucap Rahman kembali membuka map informasi yang berhasil dia kumpulkan dari jalan raya itu.


Di sana dia menunjukkan foto korban kecelakaan. Korban itu adalah dua orang pemuda yang mati di sana akibat balap liar.


"Balap liar di sepanjang jalan Daendels, persisnya di kilometer 7-8 jalan. Kota Tuban, Palang, persisnya di Desa Tasikmadu. Korban ditemukan mati pukul satu malam. Tabrakan mengakibatkan keduanya terpental dan meninggal di lokasi kejadian!" jelas Rahman lagi pada mereka.


"Itu lokasi rawan kecelakaan berarti!" ujar Deni menimpali.


"Yo gimana Ndak kecelakaan? Orang-orang balapan semalam itu. Semakin malam, mereka yang berkuasa di sana semakin kuat. Mereka yang lemah iman pasti gampang dikecoh!" tutur Cak Dika.


"Iyo bener! Jadi kita di sini ada niat baik. Redi ini kasihan korban yang Ndak tau apa-apa. Motor yang dibelinya ternyata ada yang nunggu! Jadi yo, ayo kita bantu dia. Kasihan kalau sampai kemalangan menimpanya!" ucap Mas'ud menimpali.


"Hoam..." Cak Dika menguap mendengar penuturan Mas'ud di sana.


Mendengar itu rasanya Mas'ud seperti diremehkan saja.


"Cak.. kamu ngremehin aku ta?" tanya Mas'ud padanya.

__ADS_1


Cak Dika menaikkan salah satu alisnya. Sungguh dia tidak ad maksud meremehkan Mas'ud di sini.


Dia hanya lelah dan matanya berat sekarang. Kenapa bocah itu mendadak sensitif sekali seperti Rara saat sedang menstruasi.


"Loh aku menguap, Ndak ada maksud remehkan kamu!" ucap Cak Dika padanya.


"Yo kamu menguap setelah aku ngomong panjang lebar!" ucap Mas'ud berprotes.


"Ya Allah... Ud, kenapa kamu Iki kok jadi sensitif kayak kaum hawa itu?" ujar Cak Dika padanya.


Merasa semakin diremehkan. Bahasa Maduranya Mas'ud pun keluar. Entah kenapa makhluk itu menjadi sangat sensitif sejak tiba di sini tadi.


"Oalah mboh wes ngomonglah Dewe kau! Mana tau aku bahasa alien iku!" ujar Cak Dika kesal ketika mendengar Mas'ud mengomel dengan bahasa Maduranya.


Baik Rahman dan Deni yang ada di sana pun hanya mampu tertawa mendengar apa yang sedang terjadi di dalam sana.


Mobil terus melaju menghabiskan menit demi menit perjalanan. Pada akhirnya mereka sampai juga di rumah Buk Ijah.


Ketika mobil mereka terparkir di depan kediaman Buk Ijah. Sang pemilik rumah itu pun keluar dari dalam rumah.


"Assalamu'alaikum Buk!" ucap Cak Dika memberi salam pada Buk Ijah yang menyambutnya.


Dengan senang hati Buk Ijah pun tersenyum mendengar itu.


"Mari masuk!" ajak Buk Ijah pada rombongan Cak Dika.


Rombongan Gautama Family itu pun masuk ke dalam rumah Buk Ijah. Ketika Cak Dika masuk lebih dulu bersama yang lain.


Rachel dan Thariq yang berada di barisan paling belakang pun menghentikan langkahnya untuk masuk.


Grepp


"Huh!" pekik Rachel ketika merasakan pergelangan tangan kirinya dicengkeram oleh Thariq.


"Ada apa, Riq?" tanya Rachel sedikit menunduk memperhatikan raut wajah Thariq yang terpejam.


Tolong aku! Dia hampir menguasaiku! Tolong bebaskan aku!. Ujar satu suara pemuda yang entah dari mana asalnya.


Tidak ada penglihatan yang Thariq temukan di sini. Sampai ketika dia membuka kedua matanya kembali.


Dia melihat seorang pemuda berwajah hangus berdiri tepat di samping sebuah motor balap.


"Itu!" ucap Thariq menunjuk ke arah motor itu.

__ADS_1


Ketika Thariq menunjuk arah itu sontak saja Rachel mengalihkan netranya ke arah itu. Namun ketika Rachel menoleh ke sana. Sosok itu hilang pergi entah ke mana.


"Ada apa?" tanya Rachel lagi padanya.


Thariq menoleh ke samping mempertemukan matanya dengan mata Rachel.


"Aku lihat pemuda berwajah hangus!" ucap Thariq padanya.


Rachel terkejut mendengar itu. Kenapa hanya Thariq yang mampu melihatnya. Sedangkan dia tidak merasakan kehadiran sosok apapun di sini.


"Sepeda motor itu adalah sumbernya!" ucap Thariq lagi memberitahu.


Sebab tak ingin menerka terlalu jauh sebelum mendengar cerita langsung dari narasumbernya. Rachel hanya mampu tersenyum.


"Yaudah, kita masuk aja ke dalam! Kita dengarkan dulu apa kata narasumber kita!" ajak Rachel pada Thariq.


Mendengar itu Thariq pun tersenyum. Dia kemudian kembali melangkah masuk bersama dengan Thariq ke dalam rumah Buk Ijah.


Terlihat di sana Gautama Family sedang duduk memenuhi ruang tamu itu. Dari dalam Buk Ijah membawa anaknya, Rudi untuk keluar.


Ketika dibawa keluar. Rudi terlihat murung. Dia diam tidak mengucapkan apa-apa. Raut wajahnya suram seperti orang tertekan. Bola mata itu kosong seperti tidak bereaksi apapun.


Gautama Family memperhatikannya. Kemudian di sampingnya Marsya muncul Barend CS yang juga ikut memperhatikan Rudi yang diam.


"Marsya!" panggil Barend pada Marsya di sampingnya.


"Apa?" tanya Marsya sembari menoleh ke samping.


"Marsya, separuh dari dia bukan dia! Separuh dari dia sedang di sekap di salah satu jalan yang banyak sekali kaum kami!" jelas Barend padanya.


Bukan hanya Marsya saja yang mendengar itu. Gautama Family juga mendengar apa yang Barend ucapkan.


Lalu di mana letaknya Jalan lain itu, Barend?. Tanya Cak Dika melalui mata batinnya.


Cak Dika tidak berucap. Dia masih memandangi Rudi. Tapi berbicara dengan Barend melalui mata batinnya.


"Maung, jalanan itu bernama Daendels! Di sanalah separuh dari dia disekap!" jawab Barend memberi tahu.


Cak Dika pun mengangguk kemudian dia tersenyum. Setelah jawaban ditemukan. Cak Dika pun menjelaskan apa yang terjad pada Rudi saat ini.


Mulai dari motor yang Rudi beli. Hingga pemilik motor itu yang mati kecelakaan. Sampai Cak Dika juga menjelaskan. Hari di mana Rudi melakukan balapan. Di situlah bagian dari diri Rudi terjebak.


Maka di sana Cak Dika pun berjanji akan membantu Rudi sebisanya. Buk Ijah selaku ibunya Rudi pun juga berharap anaknya akan kembali seperti semula. Bukan diam bisu mematung layaknya orang mati begini.

__ADS_1


__ADS_2