
"Ini kita masih jauh sepertinya!" ujar Rara sambil memperhatikan pergerakan Marsya yang sejak tadi berjalan merangkak tak berhenti.
Jika masalah turun gunung, maka akan memakan waktu lebih pendek daripada naik. Sedangkan estimasi naik gunung itu lebih lama daripada turun.
Beberapa kali dahan-dahan pohon dan beberapa ilalang yang berdiri cukup tinggi mereka babat. Inilah yang disebut cari jalur alias babat alas.
Bella memperhatikan sekitar sejak tadi. Kemistisan dalam area ini cukup kuat. Ditambah sejak pertama masuk kemari. Terdapat candi-candi kecil. Ada banyak sekali para wanita memakai kemben.
Para wanita itu sejak tadi hanya diam ketika mereka melewatinya. Sepertinya itu adalah orang-orang Majapahit dulu.
Ketika mereka semakin turun ke bawah. Suara asuh, mulai terdengar. Mereka lalu terkejut mendengar itu. Jauh di depan mereka nampak dua buah pohon kembar. Pohonnya besar sekali dan ada Genderuwo sebesar pohon di sana.
Genderuwo itu menatap ke arah mereka yang sedang menuju ke arahnya. Marsya berhenti sejenak tepat ketika dia berada di depan pohon besar kembar itu.
Kedua sorot mata merah khas Genderuwo tertuju tepat pada Marsya di bawahnya. Suara mengeram mulai terdengar dari sosok itu.
Cakar tidak bisa berbicara. Dia juga hanya mengeram. Keduanya sedikit lama saling mengeram seperti saling mengatakan sesuatu. Tak lama terlihat tubuh besar Genderuwo itu menyamping memberi mereka akses untuk masuk.
Ketika mereka masuk lebih dalam lagi. Mereka dikejutkan dengan tabut putih yang tebal. Kabut ini lebih tak dibandingkan dengan kabut-kabut yang selama ini pernah mereka lihat.
Ini lebih putih dan membutakan. Bahkan kedua mata mereka rasanya tak mampu melihat akses jalannnya. Tapi Marsya di sana tetap berjalan.
Hingga suara-suara mbak Kunti yang tertawa mulai terdengar. Rachel dan Bella sempat menengok ke atas. Bahkan langitnya memutih.
"Kita ini di mana?" tanya Bella pada Rachel di depannya. Ketiga gadis ini berjalan saling bergandengan.
Mereka tidak ingin salah satu dari mereka tertinggal.
"Ini, seperti kabutnya setan! Di dalam sini wangi, ini khas mbak Kunti!" ujar Rara menjelaskan.
__ADS_1
Dia benar-benar pemberani. Bahkan sekalipun godaan setan sekuat ini. Rara tidak takut. Keberaniannya sepasang dengan Cak Dika.
Benar sekali apa kata Cak Dika. Rara itu bisa diandalkan menjaga saudaranya. Dia bisa menuntun, dan Rachel kartu AS.
Setelah cukup lama mengarungi kabur putih tebal. Di ujung sana nampak sebuah api besar menyala. Rachel, Bella dan Rara terkejut.
Tapi Marsya, dia tetap berjalan ke depan tak peduli pada api yang saat ini berdiri di depan sana.
Sambil terus berlari ke arah itu Marsya kembali mengeram. Dia seperti hendak menerkam sosok itu. Ketika mereka dekat api itu perlahan berubah menjadi seekor Maung putih.
Di sanalah kabut itu berakhir. Dan mereka bertemu dan berhadapan langsung dengan seekor Maung. Maung yang sama seperti milik Cak Dika.
"Assalamualaikum, Pripun!" ucap Rachel mencoba menyapa maung itu.
(Assalamualaikum, maaf!)
"Maaf Maung, mereka yang tidak melakukan kesalahan. Mereka yang tidak merusak kepunyaanmu di sini tidak berhak kau ambil sukmanya! Mereka hanya manusia yang ingin menikmati keindahan gunung pawitra. Jawadwipa ini bukanlah milik mereka makhluk alam sebelah saja. Aku tau, kalian lebih dulu berada di sini daripada kami. Tapi ini, bukan hanya tanahmu saja. Ini adalah, tanah milik kita bersama. Kita hidup berdampingan dan tidak boleh tamak!" jelas Rachel padanya.
"Kau pikir aku akan peduli dengan hal itu? Kamu memang keturunan Majapahit. Tetapi kamu, tidak berhak menentang petinggi Majapahit!" ucap Maung itu.
Rachel menghela nafas panjang. Lalu dia menghampiri Marsya. Di sana sebelum sampai tepat di samping adiknya. Rachel mencoba memanggil Nyai Ratu.
Ketika sosok itu masuk ke dalam tubuh Rachel. Maung di depannya mundur selangkah. Dia lalu tunduk dan diam.
"Nyai Ratu, aku tidak terima jika tempatku tinggal diusik oleh mereka. Mereka bahkan menetap tanpa seizin ku di sini. Itu pelanggaran, dan aku berhak mengambil balas atas itu!" ujar Maung.
Rachel hanya tersenyum kemudian dia mendekat ke arah maung itu. Dia yang sedang dirasuki oleh nyai Ratu pun memegang puncak kepala Maung itu. Membelainya lembut.
Melihat itu baik Bella dan Rara saling tatap. Lalu kembali menatap ke arah Rachel yang masih sama dengan posisinya.
__ADS_1
"Senopati, aku janji! Jika memang ada lagi manusia yang mengusik jalur ini. Maka kamu berhak mengambil mereka. Dengan satu syarat! Apabila mereka kemari dengan niat buruk maka kamu berhak mengambilnya. Kedua, apabila dia merusak alam ini. Maka kami juga, berhak mengambilnya! Tapi apabila, dia datang untuk menikmati puncak Pawitra. Kamu tidak berhak mengambilnya! Maung, ikutlah dengan kami jika kau mau. Salah satu cucuku tidak memiliki pendamping. Kamu bisa berada di sisinya, tetap menjadi pengikutku!" ujar Nyai Ratu.
Ucapan itu membuat Sang Maung putih diam. Dia lalu menghilang secara perlahan. Setelah Maung hilang. Jalur samar-samar mulai terlihat. Dan pada saat itu, Nyai Ratu juga hilang dari dalam tubuh Rachel.
Deni di belakang mereka sejak tadi merekam itu. Ketika keadaan sudah kembali netral. Terdengar suara teriakan yang jaraknya mungkin tidak cukup jauh dari tempat mereka.
Sejenak mereka saling tatap dan terkejut. Tapi, setelahnya mereka langsung berlari pergi ke arah sumber suara.
Bersamaan dengan larinya mereka. Suara Gending Jawa mengiringi kaki mereka untuk sampai di satu tenda yang masih tertutup.
Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Dana bentar lagi shubuh menjelang.
Tibalah mereka lalu di depan tenda itu. Terdengar suara orang menangis di dalam. Rachel memimpin di sana. Mencoba membuka tenda itu.
Rupanya benar, ada dua orang di dalam tenda itu. Yang Satu tertidur terkapar tak berdaya. Sedang yang satu berada di sampingnya sambil meringkuk menangis. Merekalah Thariq dan Mas'ud.
"Mas ada apa?" tanya Rachel pada Mas'ud yang menangis.
Mas'ud kemudian mendongak. Dia terkejut lalu mundur perlahan.
"Kalian, kalian manusia kan?" tanya Mas'ud mencoba meyakinkan bahwa apa yang dia lihat adalah benar-benar manusia.
"Ya, kami manusia! Kami tadi dengar kamu teriak! Jadi kami datang kemari untuk memeriksa!" jawab Rachel mantap.
Mas'ud langsung merangkak cepat ke arah Rachel. Dia menangis sambil menunjuk-nunjuk ke arah Thariq yang terkapar tak berdaya di sana.
"Tolong temenku mbak! Dia gak bisa dibangunin. Aku takut dia mati!" ujar Mas'ud.
Rara kemudian mendekati Thariq. Di sana Rara bersimpuh. Memegang jempol kakinya. Ada sesuatu yang dia baca di sana. Setelah bacaan itu selesai Thariq kembali mampu membuka matanya.
__ADS_1