Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 151: Kembalikan


__ADS_3

Sejak tadi di luar sana Nyai ratu sekuat tenaga melawan beberapa setan yang menghalangi rombongan Cak Dika untuk masuk.


Butuh waktu yang tidak singkat tentunya untuk melawan para cecunguk dari Jawara itu.


Sebab rupanya Jawara itu bukanlah sembarang Jawara. Dia memiliki salah satu peninggalan kerajaan Majapahit. Yang menyebabkan dirinya mati dan jasadnya dibawa oleh para makhluk ghaib.


Jasadnya tidak dikuburkan melainkan hilang begitu saja ketika dia mati. Hingga ketika Nyai Ratu usai dengan tugasnya. Dia pun mulai masuk ke dalam bersama dengan rombongan Cak Dika yang lainnya.


Rombongan Cak Dika masuk secara fisik. Diikuti beberapa kameramen. Sedangkan Nyai dia masuk melalui portal ghaib.


Kehadiran Nyai Ratu di sana membuat beberapa kuntilanak yang tadi menghalangi datangnya Cak Dika dan Rachel ciut seketika.


Mereka mundur tak berani mendekati Sang Nyai Ratu. Ketika Sang Nyai sampai tepat di depan sebuah pintu tanpa menyentuh pintu itu. Pintu itu sudah terbuka otomatis seakan menyambut kedatangannya.


"Nyai Ratu! Kenapa kau datang kemari mencampuri urusanku?" tanya satu sosok besar yang bersemayam di belakang hantu pengantin.


Nyai Ratu menatap lekat ke arah sosok besar itu. Dia yang sejak tadi diam di sana pada akhirnya bicara ketika Nyai Ratu datang kemari.


"Aku tau kau adalah Jawara yang dipenuhi dendam! Jika memang hanya satu orang yang bersalah. Lalu untuk apa kau memangsa menjebak manusia yang tidak ada kaitannya denganmu?" tanya Nyai Ratu padanya.


"Apakah penting bagiku menjawab pertanyaanmu? Kau memang Sang Nyai Ratu lebih tinggi dariku. Dan aku adalah manusia yang pernah hidup setelahmu. Hanya cecunguk yang memiliki beberapa ajian Majapahit! Aku menginginkan mereka! Kau tidak perlu ikut campur!" ujar sosok besar itu.


Cukup, Nyai Ratu cukup kesal sekarang. Ada orang biasa tidak hormat dengannya adalah satu penghinaan baginya.


"Kau membuatku marah Kisanak! Benar, yang kau sebut mereka tadi. Ada bagian dari kami yang kau ambil. Kembalikan hantu Belanda itu beserta salah satu panglimaku. Beraninya kau menyekapnya! Siapa kau yang berani menentang kuasaku?" ujar Nyai Ratu.


Rachel dan Cak Dika merinding seketika usai Nyai Ratu mengatakan itu. Energinya berubah drastis. Energinya kali ini cukup kuat.


"Anak-anakku! Kalian tidak perlu khawatir! Kembalilah, aku akan mengurus dia di sini! Juga arwah pengantin ini belikan baju pengantin baru. Doakan, lalu kuburlah baju itu di dekat rumah ini! Semoga jiwanya akan tenang setelah itu!" jelas Nyai Ratu pada Rahel dan Cak Dika.


Mereka hanya mampu mengangguk. Kemudian mereka mundur membiarkan Sang Nyai Ratu maju mendekati sosok setan pengantin beserta sosok besar di belakangnya.


Ketika Sang Nyai Ratu berada tepat di depan mereka. Di belakangnya muncul Simbah Gautama beserta dengan para panglima Sang Nyai yang lainnya. Bahkan Senopati Cakar ikut serta di sana.


"Kembalilah Cucuku! Ini urusan kami!" perintah Simbah Gautama.

__ADS_1


Rachel dan Cak Dika mengangguk.


"Ketika kembali nanti! Kalian pemilik jimat yang pernah aku berikan. Jimat turun temurun itu. Jika kalian merasa masih memilikinya. Maka, bantulah kami dari luar sana!" perintah Simbah Gautama.


Suara-suara ajian Jawa mulai dilantunkan. Ketika rombongan mereka maju melawan sosok besar itu. Maka Cak Dika dan Rachel keduanya pun kembali masuk ke dalam tubuh mereka.


"Hah!" pekik keduanya sadar.


Sejenak mereka mengerjapkan mata. Kemudian mereka duduk bersila.


"Bella dan Marsya! Kemarilah!" ucap Cak Dika.


Bella dan Marsya yang kebetulan menjaga tubuh saudaranya sejak tadi pun segera menghampiri mereka berdua. Di sana juga ada Thariq. Sebagian lagi dari rombongan mereka masuk ke dalam.


"Ada apa Cak?" tanya Marsya pada Cak Dika dan Rachel.


"Apa kalian membawa jimat kalian?" tanya Cak Dika pada mereka.


"Tentu saja kami membawanya!" jawab Bella pada Cak Dika.


Cak Dika menepuk-nepuk tanah kemudian setelah mendengar jawaban itu.


Marsya dan Bella sama sekali tidak banyak tanya. Mereka kemudian duduk di sana.


"Lepaskan dan genggam! Mari kita tolong Simbah dan Nyai yang sedang berjuang di sana membebaskan Bocil itu beserta Barend dan Maung milikku yang saat ini sedang diambil oleh mereka!" jelas Cak Dika.


Tentu penjelasan itu membuat Bella dan Marsya terbelalak. Bagaimana bisa maung sakti itu diambil oleh lelembut pemilik rumah ini?


Bukankah itu artinya lelembut ini bukanlah lelembut biasa. Mengerti bahwa keadaan di sana cukup genting. Baik Marsya dan Bella mereka sama sekali tidak melemparkan pertanyaan.


Mereka kemudian mengikuti Cak Dika dan Rachel. Keturunan Gautama itu memejamkan mata. Mereka berdua membantu leluhur mereka yang sedang berjuang di sana.


Sedangkan di tempat lain seorang anak sedang meringkuk sambil kedua matanya melihat satu sosok yang merayap di atasnya sejak tadi.


Hati anak kecil itu memang takut setengah mati. Tapi dia mencoba meredam itu semua. Sebab hanyalah pada Tuhan rasa takut itu boleh ditunjukkan. Setan hanya ciptaan saja. Sama seperti manusia. Lalu kenapa diri harus takut pada sesama ciptaan?

__ADS_1


"Anak kecil nyalimu boleh juga!" ucap sosok yang merayap itu.


"Kau akan terjebak di sini! Percuma kau membaca kalimat suci semacam itu! Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu di sini wahai anak kecil! Sudahlah menangislah dan ratapi nasibmu ini!" ujar sosok itu mencoba menjatuhkan keyakinan anak kecil itu yang tak lain adalah Dandi.


Dandi lantas tersenyum tipis. Dia enggan rasanya menjawab apa yang dikatakan oleh sosok ini. Dalam hatinya dia percaya bahwa Tuhan pasti akan menolongnya.


Peraduan itu terjadi sekitar lima belas menit. Cak Dika beserta saudaranya yang ikut serta membantu. Dari dalam lubang hidung mereka keluar darah.


Thariq yang menyaksikan itu terkejut sekali. Tapi tidak mungkin dia membangunkan mereka.


"Uhukkk!!!" Cak Dika, Bella, Marsya dan Rachel terbatuk. Kemudian mereka muntah.


Mereka membuka kedua matanya. Hal itu juga diiringi dengan suara sesuatu yang jatuh di dalam rumah besar itu.


"Kalian Ndak papa?!" tanya Thariq khawatir.


Namun mereka yang dikhawatirkan itu masih saja terbatuk. Sungguh ini sangat menyakitkan. Sungguh itu sangat menguras tenaga mereka sepertinya.


"Cak!!!" teriak Rara dari dalam rumah terbengkalai. Suaranya didengar Cak Dika dan saudaranya di sana.


Dari pintu masuk rumah itu. Nampak Rara berlari keluar. Di belakangnya tak lama terlihat seorang anak kecil.


 Cak Dika bernafas lega ketika melihat kehadiran anak kecil itu. Dia adalah Dandi. Sungguh sangat bersyukur rasanya dirinya melihat kehadiran Dandi di sana.


"Dia selamat Cak!" ucap Rara yang kini berada di hadapan Cak Dika.


Cak Dika mengangguk. Rara bersimpuh di depannya lalu memeluknya. Kejadian itu membuat Cak Dika membulatkan kedua matanya. Apa ini? Rara memeluknya. Sungguh ajaib sekali rasanya.


"Wah, Alhamdulillah!" ucap Rara sambil mengusap-usap kepala Cak Dika yang sedang dipeluknya. Kepala itu bertengger tentu di pundaknya saat ini.


Cak Dika yang sudah lemas itu jelas membiarkan hal itu terjadi. Seperti kado rasanya.


"Lihat Masmu ini! Bisanya nyaman kayak gitu?" ujar Marsya pada Bella di sampingnya.


"Yo Iki... Cari kesempatan dalam kesempitan!" ujar Rachel menimpali sambil tetap memperhatikan Cak Dika dan Rara.

__ADS_1


Ketika Rara melepaskan pelukannya. Dia pun membantu Cak Dika berdiri. Selesai sudah tugas mereka di sana. Maung milik Cak Dika juga sudah kembali.


Cak Dika mengantarkan Dandi yang sudah sadar ke kediamannya. Sebuah rumah kecil dari kayu yang cukup sederhana.


__ADS_2