
Rachel memberikan air minum yang sudah dibacakan sesuatu oleh Rara untuk Thariq. Wajah itu di sana masih pucat pasih. Dia ketakutan setengah mati.
Sambil masih meringkuk, Thariq diam sambil menatap ke arah Rachel.
"Minum ini!" suruh Rachel sambil memberikan air mineral pada Thariq.
Bola mata itu menatap tepat ke arah air mineral itu. Lalu dia menatap kembali ke arahnya Rachel. Thariq bisa melihat kehadiran satu khodam yang cukup kuat dalam diri Rachel. Di ketakutan, tapi aura khodam Rachel itu baik.
"Kamu pemimpin mereka mbak?" tanya Thariq lemas padanya.
"Huh..." lirih Rachel tak mengerti apa yang Thariq katakan.
"Udah itu minum aja dulu!" perintah Rachel lagi.
Thariq kemudian mengangguk. Dia meminum air mineral itu. Rara melipat kedua tangannya. Dia Marsya dan Bella saat ini berada di luar tenda.
Mereka memperhatikan Thariq dan Rachel yang masih duduk di dalam tenda itu. Setelah tegukan terakhir dari Thariq. Kedua bola mata Thariq kembali menatap ke arahnya Rachel.
Tanda kehidupan kembali tersirat dalam mata itu. Ketika beberapa saat lalu sempat redup putus asa tak karuan sebab teror yang menakutinya dan Mas'ud.
Saat itu juga Thariq teringat sesuatu. Ketika dirinya terkapar tak berdaya tadi. Dia berjalan-jalan di eranya Majapahit. Dan dia melihat satu hal yang tidak biasa. Seekor maung putih mampu menjelma menjadi seorang manusia.
"Maung?" ucap Thariq pada Rachel.
Rachel tersenyum kemudian. Bukan dia yang akan memberi pengertian pada Thariq. Tetapi Nyai Ratu selalu pemimpinnya para Maung. Dia lalu menyentuh kedua bahu Thariq. Lalu menatapnya lekat. Detik kemudian Nyai Ratu kembali merasuki tubuhnya.
"Sing tenang Le, koe wis aman! Maung kae, salah satu prajuritku. Maung kae Saiki wis Munggah nak Pawitra. Susulen, bareng anak putuku Iki!" ucap Rachel pada Thariq.
(Yang tenang nak, kamu sudah aman! Macan itu, salah satu prajuritku. Macan itu sekarang sudah naik ke Pawitra. Jemputlah, bersama dengan anak cucuku ini!)
Thariq lalu meneteskan air mata mendengar penuturan dari Nyai Ratu. Thariq hari ini nasibnya mujur sekali. Jika Nyai Ratu dan rombongan Rachel tidak datang maka dia tidak akan selamat.
Pertolongan Tuhan itu benar-benar beragam caranya. Membuat Thariq tak henti-hentinya mengucap syukur. Ketika Nyai Ratu tersenyum lalu keluar dari dalam tubuhnya Rachel, Rachel berkata,
"Udah jangan nangis, sekarang aku gak ada waktu banyak! Kamu, kalau mau turun silahkan. Kalau mau naik, silahkan! Ayo bareng sama kami! Ada mandat yang harus kami selesaikan dulu!" ucap Rachel pada Thariq.
Tak ada yang mampu Thariq dan Mas'ud katakan selain iya. Saat itu keduanya sepakat untuk ikut bersama dengan Rachel beserta rombongannya.
__ADS_1
Rara dan Bella mulai membantu Mas'ud membereskan tenda juga sisa logistik yang sudah mereka gunakan.
Setelah seluruh peralatan sudah diangkut. Mereka memutuskan untuk menyusul Cak Dika ke atas. Melalui tanjakan demi tanjakan saat itu jam masih menunjukkan tepat pukul setengah empat pagi.
Adzan shubuh sebentar lagi. Fajarnya akan mulai nampak. Dan langitnya akan meriah syahdu dengan mentari yang berdiri megah di sana perkasa.
Jarum jam terus saja berputar. Ada beberapa orang tak kasat mata dahulu di jalur itu menatap tak senang ke arah mereka.
Sempat mereka berpikir bahwa Senopatinya akan membawa mangsa baru untuk mereka. Tetapi nyatanya, mangsa itu justru dibebaskan.
Ekor mata Thariq melirik ke arah samping kanan kiri. Dia tau dan paham para makhluk itu sedang murka menatapnya.
Melihat itu Rachel pun paham. Dia yang sengaja berada di posisi belakang setelah Rara pun mempercepat langkahnya.
Tepat ketika berada di sampingnya Thariq. Rachel menggenggam tangannya. Hal itu membuat Rara terkejut begitupun dengan Thariq. Dia menoleh langsung ke arah Rachel di sampingnya.
Tapi gadis itu tidak menatapnya. Dia hanya menatap lurus ke depan sambil berjalan.
"Wis tenang wae! Selama ada Nyai Ratu, sampean aman kok!" ujar Rachel padanya menenangkan.
Mendengar itu Thariq sekilas memperhatikan genggaman tangan Rachel. Tangannya hangat sekali. Ucapannya juga cukup menenangkan. Thariq membalas genggaman tangan itu sambil terus berjalan.
Tadi Mas Dika, sekarang Rachel! Apa keluarga Gautama ini emang selancang ini ya mainin perasaan orang. Dasar!.Batin Rara dalam hatinya sambil tersenyum.
Setibanya di atas puncak Pawitra jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Terlihat Cak Dika yang duduk membelakangi mereka. Di depannya keris-keris yang tadi dibawanya melayang.
Terlihat Aldo, Rahman, dan Laras berada tepat di belakang Cak Dika. Mereka memperhatikan itu. Rahman nampak kagum melihat keris itu berdiri tanpa tumpuan.
Berbeda dengan seluruh anggota keluarga Gautama yang lain. Lantas saat itu Bella yang lelah pun memilih untuk ikut duduk bersama dengan Aldo dan yang lainnya.
"Ya Allah, capek!" ujar Bella bersandar tepat di punggungnya Laras.
Laras menoleh sebentar ke belakang. Ke arah Bella yang sedang duduk bersandar padanya.
"Gimana? Udah kelar masalahnya?" tanya Laras padanya.
Bella mengangguk dan hanya mampu berdehem kecil saja.
__ADS_1
"Iya semuanya udah kelar kok!" jawab Bella padanya.
Beberapa saat kemudian Cak Dika membuka matanya. Keris itu turun perlahan lalu kembali ke tempatnya. Ritualnya sudah selesai.
Ketika Cak Dika menoleh ke arah rombong saudaranya. Di balik tubuhnya muncul tiga maung putih. Salah satu maung itu adalah, Maung yang tadi sempat ingin mencelakai Thariq.
Para saudaranya terkejut melihat itu. Ketika ketiganya mulai berubah menjadi sosok manusia. Tubuh astral itu terbang ke arah mereka.
Satu masuk ke dalam tubuhnya Rachel. Satu lagi masuk ke dalam tubuhnya Marsya. Dan satu lagi, Maung jahat yang sempat ingin mencelakai Thariq. Justru memilih Thariq.
"Apa ini Cak?" tanya Rachel padanya tak mengerti.
Sambil tersenyum Cak Dika pun berdiri. Lalu menghampiri Rachel yang bertanya padanya.
"Senopati Maung, mau ikut gabung sama kita! Buyut tertinggi kita, adalah keturunan kuat Majapahit. Aku bercerita apapun padanya tadi. Lalu dia memberikan tiga Maung senopatinya pada kita. Dan katanya Maung itu bakalan milih tubuh mana yang pantas mereka hinggapi! Ternyata kamu dan Marsya. Lalu, orang yang kamu tolong ini!" jelas Cak Dika menjelaskan.
Tak sengaja matanya melihat ke arah tangan Rachel dan Thariq yang terpaut. Dalam kepalanya dia berpikiran mesum kemudian.
"Kayaknya, kamu bakalan nikah dulu ya dek!" ucap Cak Dika sambil memperhatikan tangan Thariq dan Rachel yang terpaut.
Mendengar itu baik Thariq dan Rachel secara bersamaan menatap ke arah tangan mereka. Segera mereka melepaskan itu lalu berpaling ke arah lain.
Rara dan yang lain tertawa melihat itu. Begitupun dengan Cak Dika. Cak Dika lalu menghampiri Thariq dan Mas'ud yang berada tepat di samping Thariq.
"Mulai sekarang, ikut kami! Kamu dipilih Maung, artinya ada darah keturunan Majapahit dalam diri kamu! Kemampuanmu mampir merayap ke masa lalu bukan. Kamu sama kayak adekku, Laras!" jelas Cak Dika padanya.
Thariq terdiam memperhatikan Cak Dika. Aura Manusia ini benar-benar berwibawa, berkharisma juga.
"Iya Cak, kami bakalan ikut kok! Iyakan, Mas'ud?" tanya Thariq pada Mas'ud di sampingnya.
"Aku gak ada kemampuan supranatural kayak kalian!" jawab Mas'ud.
"Kamu bisa olah dokumentasi seperti Rahman dan Deni. Tenang aja!" ucap Cak Dika.
Mas'ud yang memang basicnya adalah IT pun mengangguk. Saat itu di atas puncak Pawitra. Darah keturunan Majapahit itu berkumpul. Mensucikan keris dari leluhur mereka.
Para petingginya Majapahit, tiga Maung putih. Terpincut oleh anak-anak itu. Jadilah mereka masuk ke dalam tubuhnya lalu berikrar pada Sang Nyai Ratu. Untuk senantiasa membantu para anak cucunya buyut Gautama.
__ADS_1
_______
Readers tercinta, maaf ya baru bisa upload 😌. Saya dua hari kemarin dilanda sakit. Mau mengetik itu, kepala sama mata udah gak kuat lagi. Tapi bismillah, ini udah saya usahakan up ya! Walaupun hanya se bab aja 🙏 Terima kasih atas pengertiannya, dan semoga selalu suka sama ceritanya ya.