Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 116: Dia yang Datang di Mimpi


__ADS_3

Hujan lebat mengguyur kota Surabaya malam itu. Joko dan Dimas tidur berdampingan. Cuaca yang dingin itu membuat mereka tidur satu selimut. Ya, itu adalah selimut yang Joko temukan di sampah tadi pagi.


Sekarang mereka berdua sedang memakainya. Kedua mata mereka terpejam pulas menyelami alam bawah sadar. Mimpi yang berbeda sedang menyebut mereka.


Jika cuaca di luar cukup dingin. Maka Joko kali ini berkeringat keningnya. Padahal hujan sedang mengguyur. Harusnya dia tidak berkeringat sebab cuaca sedang dingin.


Joko menggelengkan kepalanya ke sana kemari. Kilatan petir di luar sana semakin menambah suasana semakin mencekam. Ditambah ruang tempat mereka istirahat itu tidak memiliki penerangan.


Untuk penerangan mereka akan menggunakan lilin. Tapi lilin akan dimatikan ketika mereka akan tidur. Lilin hanya akan mereka gunakan untuk belajar dan membaca.


Sesuatu yang mengganggu Joko tidur kali ini berasal dari mimpi. Suara-suara itu menggema di antara lorong yang gelap.


Terlihat Joko sedang berjalan sendirian di sana. Lorong itu gelap seakan tidak memiliki ujung. Suara-suara yang berada di sana adalah suara minta tolong.


"Tolong kami!" ucap satu suara lelaki.


Joko hanya seorang bocah kecil. Dia sesekali melirik ke kanan dan ke kiri mencoba mencari tau siapakah pemilik suara-suara itu?


Rasanya sudah cukup lama bagi Joko berjalan. Anehnya dia tidak merasa lelah. Kemudian Joko menggunakan kedua tangannya untuk memeluk tubuhnya.


Dia hanya seorang anak kecil. Tentu saja dia ketakutan bermimpi seperti ini sekarang. Selama dia hidup tida ada tempat untuknya mengadu bercengkrama menuangkan nasib dan lelahnya kecuali Dimas kakaknya.


Tapi... Tapi sekarang Dimas tak ada. Hanya dia seorang yang terjebak di antara gelapnya lorong itu bersama dengan suara-suara aneh.


"Siapa kalian?" tanya Joko sambil menunduk. Kedua tangannya yang memeluk tubuhnya sendiri itu mengusap-usap mencoba mengusap-usap tubuhnya sendiri.


"Aku... Aku mau pulang! Tolong lepaskan aku!" ujar Joko dengan suara bergetar.


Ya... Dia takut. Ketakutan itu mulai merambat menjalari tubuhnya.


Sepasang mata merah berdarah menatapnya. Bahagia sekali ramya melihat salah satu anak Adam terjerat takut lalu memohon untuk dipulangkan.


"Hihihihihi..." pemilik sepasang bola mata merah itu mulai tertawa.


Dia tertawa terus menerus. Sekarang hanya suaranya yang memenuhi langit lorong itu. Suara manusia meminta tolong kalah oleh suaranya.


Tubuh Joko bergetar tatkala suara itu semakin dekat dan mendekat. Dia memejamkan kedua matanya. Dia ingin pergi dari tempat ini namun kedua kakinya serasa di lem saja.


Ya Allah... Kumohon tolong aku! Aku sudah cukup menderita!. Pinta Joko dalam hatinya.


Dia tidak tau harus apa lagi sekarang kecuali pasrah terhadap Rabb-nya.

__ADS_1


Ketika Joko membuka kedua matanya perlahan. Dia melihat itu. Sesosok wanita berpakaian putih berdiri di hadapannya. Sosok itu memang berdiri tetapi kakinya tidak menyentuh tanah.


Wanita itu berpakaian suster jaman dahulu kala. Kulitnya pucat pasih. Dia memakai topi ala suster jaman dahulu. Sekalipun kulitnya seperti mayat namun wajah itu bukan wajah Indonesia.


Wajah itu wajah Belanda. Joko terkejut bukan main ketika bola matanya menatap langsung ke arah bola mata suster itu. Bola mata suster itu berdarah melotot ke arahnya.


Anak kecil mana yang tidak menangis melihat penampakan seseram itu langsung tertuju padanya. Perlahan sudut bibir sosok itu mulai tertarik. Dia menampakkan senyum jahatnya. Sosok itu kembali tertawa di hadapan Joko.


"Huaaaa... Dimas!!!" teriak Joko tak karuan menangis di sana.


Sungguh dia benar tidak bisa apa-apa sekarang. Tubuhnya mati kaku ketakutan tidak bisa bergerak. Akibatnya tubuhnya di luar sana sejak tadi tidak bisa diam.


Beruntungnya Dimas yang sejak tadi tertidur merasa terusik atas pergerakan Joko sejak tadi. Dimas pun terbangun. Dia menoleh ke samping melihat tubuh adiknya yang masih bergerak. Keringat dingin membanjiri keningnya.


Dimas mencoba membangunkan Joko di sana. Satu menit dua menit hal itu tidak berhasil. Hingga tiga menit setelahnya Joko terbangun sendiri.


Dia membuka kedua matanya dan langsung duduk. Nafasnya tersengal-sengal bukan main rasanya. Dia seperti sudah berlari ribuan kilo mengikuti perlombaan marathon.


"Kamu kenapa toh dek?" tanya Dimas padanya.


Tapi Joko masih diam dengan kedua bola mata yang membulat. Kemudian bola matanya beralih ke arah pintu masuk gubuk mereka.


Keluarlah!


Suara itu, suara seorang perempuan di dalam mimpinya mulai nyata memenuhi rungunya. Antara kesadaran juga sosok setan yang hadir dalam mimpinya keduanya mulai berperang dalam dirinya mencoba mengambil alih diri Joko saat ini.


"Uwahhhhhhh!!!" Joko berteriak dia bersimpuh kemudian bal Spiderman dia mulai merangkak ke arah pintu.


Dibukanya pintu itu dan dia pergi dari sana sambil merangkak. Dimas terkejut melihat itu. Adiknya tidak biasanya seperti itu. Itu adalah sesuatu yang sangat aneh baginya.


"Joko!!!" teriak Dimas berdiri lalu menghampiri pintu.


Di antara derasnya hujan itu Joko merangkak pergi semakin menjauh dari gubuk kecilnya.


"Ya Allah!" ucap Dimas lalu kembali masuk mengambil jas hujan lusuh miliknya.


Tanpa berpikir panjang lagi Dimas pun keluar mengejar Joko. Ini masih pukul sembilan malam. Dan Joko berlari ke arah Mall besar yang ada di kota itu.


Sebut saja nama Mall itu adalah Delta Plaza. Pusat perbelanjaan modern atau plaza sudah menjamur hampir di seluruh penjuru Indonesia.


Kini plaza menjadi salah satu destinasi yang banyak didatangi orang. Baik itu untuk berbelanja maupun nongkrong.

__ADS_1


Di balik kemegahan bangunan plaza, ternyata ada sisi kelam yang mengiringi pembangunan gedung bertingkat tersebut.


Sisi kelam ini dibumbui dengan suasana mistis yang bikin bulu kuduk merinding. Cerita horor yang berkaitan dengan mall ini pun terus mengular dari generasi ke generasi selanjutnya.


Bahkan tak jarang di tengah era modern itu datang seorang dengan hati yang gelap dan jahat. Demi memperkaya diri. Mereka datang ke sana memanggil penghuni paling jahat di mall itu.


Salah satu hantu yang sering dilihat di dalam mall itu adalah. Sesosok wanita Netherlands berpakaian suster. Wanita itu selalu berlalu lalang ke sana ke mari.


Tubuh itu menembus dari dinding satu ke dinding lain. Malam ini Laras dan Aldo terjebak hujan. Mereka sedang berbelanja di Delta Plaza. Ya, ini adalah hari Sabtu. Di mana sepasang kekasih akan menghabiskan kencan mereka sebab besok adalah hari libur.


Betapa padatnya mall itu saat mereka datang. Hingga jam menunjukkan tepat pukul sembilan malam. Ketika mereka berdua akan pulang guyuran dari langit membatalkan niat mereka.


"Redanya lama sekali ya, Al!" ucap Laras pada Aldo di sampingnya.


Aldo memperhatikan langit. Tangan kirinya membawa barang belanjaan Laras.


"Ya!" ucap Aldo mengangguk. Lalu netranya beralih ke arah Laras yang diam sambil menggembungkan pipinya.


"Kamu kedinginan sayang?" tanya Aldo pada Laras.


Kedua alis Laras terangkat ketika mendengar pertanyaan Aldo. Ya, memang dia kedinginan. Wajah polos gadis buta itu mengangguk. Dia menjawab pertanyaan Aldo untuknya.


Aldo tersenyum mendengar itu. Jaket yang dia kenakan tebal. Tak adil rasanya jika dia nyaman terlindungi dari hawa dingin. Sedangkan Laras mati-matian menahan dingin.


"Ya ampun! Bilanglah daritadi!" ucap Aldo membuka jaketnya lalu mengenakannya pada Laras.


Aldo menaikkan resleting jaketnya. Membuat Laras nyaman dengan balutan jaket miliknya. Keduanya tersenyum kemudian.


Seandainya Laras bisa melihat. Mungkin dia akan melihat betapa tulusnya senyuman Aldo untuknya saat ini.


Ketika mereka sedang beradu kasih menikmati waktu. Suara teriakan seorang anak kecil menyita perhatian mereka. Ketika mereka berdua menoleh ke arah sumber suara.


Laras mendapatkan gambaran kelam. Dia melihat seorang suster yang mati di Mall ini. Suster itu mati dengan sangat mengenaskan.


Laras menahan rasa sakit di dalam kepalanya tiap kali gambaran ghaib masa lalu datang. Akibatnya dia menyalurkan rasa sakit itu dengan cara mencengkram lengan Aldo.


"Kamu kenapa?" tanya Aldo padanya terlihat begitu khawatir.


Ketika gambaran itu selesai. Laras pun membuka kedua matanya. Dia meraba-raba Aldo. Hingga sampai kedua tangannya berada menangkup wajah Aldo. Laras pun berkata,


"Kita masuk! Kita bantu bocah itu!" ucap Laras pada Aldo.

__ADS_1


__ADS_2