Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 28: Gunung Arjuno 4 (Rampung)


__ADS_3

Pos tiga menuju pos empat adalah jalur yang sangat melelahkan. Cak Dika lebih sering berhenti di sini. Bahkan Aldo yang sejak kemarin menggendong Laras tanpa protes juga sering meminta istirahat.


Treknya memang masih berupa tanah keras di antara pepohonan yang cukup rapat. Jalanannya terjal ke atas tanpa bonus sekalipun.


Bagi Marsya yang baru saja mengikuti kegiatan outdoor semacam ini tentu saja melelahkan. Sepanjang jalan itu hanya deruh nafas mereka saja yang terdengar.


Jarak antara pos 3 sampai ke pos 4 memang cukup jauh. Berjam-jam mereka berjalan sambil sesekali berhenti. Mungkin jika ditotal sudah ada lima jam sudah mereka berjalan.


Dari kejauhan nampak plakat penunjuk jalan. Plakat itu bertuliskan pos 4. Cak Dika berbinar melihat itu. Lelahnya yang tadi seketika hilang. Dia berlari mendahului saudara-saudaranya.


Bella yang dilewati oleh Masnya itu hanya mampu menatapnya sambil menggelengkan kepala. Yah, itu adalah satu kesenangan yang luar biasa bagi Cak Dika. Rasanya seperti mendapatkan tiket lotre saja.


"Ya Allah, Alhamdulillah! Kelar sudah penderitaan ini Ya Allah!" ucap Cak Dika sambil memeluk plakat petunjuk itu.


"Do, istirahat do!" ucap Cak Dika lagi sambil melambaikan tangannya pada Aldo.


"Iya Cak, Alhamdulillah!" ucap Aldo menimpali lalu berjalan mendekati Cak Dika.


"Al, gak mau minum dulu?" tanya Laras yang masih berada dalam gendongan Aldo.


"Boleh!" jawab Aldo yang hanya melirik Laras di belakangnya.


Laras lalu turun. Kemudian dia memberikan botol minumnya pada Aldo. Nampak keringat pemuda itu bercucuran. Tidak jauh berbeda dengan Cak Dika saat ini.


Bella kembali memperhatikan kompas miliknya. Lalu matanya melihat ke arah langit-langit. Hutannya rimbun sekali. Ini pemandangan yang sudah cukup lama tidak Bella nikmati.


Bau alam ini benar-benar dia rindukan. Kesunyiannya juga sangat menenangkan. Lalu Bella berbalik menatap ke arah Cak Dika yang sedang menikmati wedang jahe di dalam botol minumnya.


"Bella gak mau minum dulu?" tanya Rachel ketika melihat Bella memperhatikan Cak Dika.


"Ah, enggaklah, nanti malah sakit perut kalau kebanyakan minum!" jawab Bella padanya sambil tersenyum.


"Oh, yasudah kalau gitu!" jawab Rachel, dia pun mengeluarkan botol minumnya lalu meminumnya.


Semua orang di sana minum kecuali Bella. Setelah cukup meneguk cairan. Cak Dika memperhatikan Bella yang masih sibuk memperhatikan kompasnya.


"Dek!" panggil Cak Dika pada Bella.


Panggilan dari Cak Dika membuat Bella menoleh ke arahnya.


"Ha?" tanya Bella merespon panggilan itu.

__ADS_1


"Berapa lama lagi kita sampai ke sana?" tanya Cak Dika pada Bella.


Bella tersenyum mendengar itu.


"Normalnya 45 menit, dari sini ke sana! Itu kalau kita bisa jalan terus tanpa break. Tapi kalau jalannya terus kaya' gini ya, anggap aja satu jam lagi!" jawab Bella menjelaskan.


Cak Dika menghela nafas panjang mendengar itu. Dia lalu memperhatikan Bella sejenak. Rupanya fisik adiknya itu lebih kuat daripadanya.


Cak Dika kagum rasanya, Bella adalah manusia yang kuat. Gunung yang seperti ini saja bisa didaki berulang kali olehnya.


Jika bukan karena tugas dari Nyai Ratu. Cak Dika tidak akan mau datang ke gunung lagi. Bukan karena dia takut. Tapi karena fisiknya tidak terlalu kuat rupanya.


"Yowes, gas aja ayok!" ucap Cak Dika menutup botol minumnya lalu mengembalikannya lagi di tasnya. Kemudian dia berdiri.


"Serius?" tanya Rachel meyakinkan Cak Dika.


"Tujuannya mau sampai! Bisa yok, ayok!" jawab Cak Dika semangat.


Mendengar itu mau tidak mau mereka pun mengangguk. Setelah acara melepas dahaga itu selesai. Semuanya kembali berjalan menuju pos 4.


Setelah berjalan menjauhi arah plakat. Mereka kembali ditemukan dengan tanjakan. Betapa kesalnya Cak Dika ketika melihat itu hingga dia beristigfar beberapa kali.


Sungguh ini adalah pantangan buatnya. Benar mungkin apa kata Marsya dan Rachel. Dia sudah menjadi seorang nom-noman jompo.


Mendengar semangat itu, Cak Dika tentu saja mengurungkan niatnya untuk berhenti. Dia terus berjalan lagi dan lagi melawan rasa lelahnya.


Di sepanjang jalur vegetasi berupa hutan lumut yang rapat dan lebat. Trek masih berupa tanah keras di jalan setapak sempit.


Beberapa menit sebelum jam genap enam puluh menit. Bella sebagai Guide mereka pun berhenti. Hal itu tentu membuat seluruh saudaranya di belakang juga ikut berhenti.


"Ada apa, Dek?" tanya Cak Dika pada Bella.


Bella menoleh ke belakang kemudian dia tersenyum ke arah mereka semua.


"Selamat datang di Alas lali jiwo! Kita sudah sampai!" ujar Bella pada mereka.


Mendengar itu mereka pun bernafas lega. Rachel kemudian memilih duduk sambil membujurkan kakinya. Marsya dia memilih tidur di rerumputan telentang sambil memandangi langit.


Aldo dan Laras mereka juga duduk di rerumputan. Lega rasanya tujuan mereka sudah sampai pada akhirnya.


Alas Lali Jiwo adalah sebuah jalur pendakian di Gunung Arjuno yang disinyalir angker dan berhantu.

__ADS_1


Hal tersebut diceritakan secara turun temurun di mana ada banyak pendaki yang hilang di Alas Lali Jiwo.


Menurut cerita, banyak pendaki yang hilang di Alas Lali Jiwo ini karena telah melanggar pantangan-pantangan yang ditetapkan di Gunung Arjuno tersebut.


Sebagai orang-orang indigo bagi keluarga Gautama. Alas ini tidak sunyi memang. Dalam penglihatan mereka. Di sini banyak sekali makhluk yang bersemayam.


Cak Dika berdiri setelah duduk beberapa menit. Dia menghampiri Bella yang sejak tadi memotret tiap sisi area itu.


"Dek, dapat gambar apa aja?" tanya Cak Dika pada Bella di sana.


"Gak tau, aku mah, kalau potret-potret gini pasti nanti tak liatnya!" jawab Bella sambil terus memotret.


"Yaudah, mumpung sudah sampai di sini. Ayo, kita kembalikan langsung kerisnya!" ujar Cak Dika lagi.


Bella mengangguk kemudian. Lalu dia meletakkan kembali kameranya ke dalam tas. Dia dan Cak Dika kemudian menghampiri rombongan.


"Berhubung sudah sampai sini! Ayolah, kita kembalikan langsung Pusakanya!" ujar Cak Dika.


"Aku sek pegel Cak!" jawab Marsya yang masih terlentang di sana.


"Kamu gak mau ikut, dek?" tanya Rachel pada Marsya sambil menoleh ke arahnya.


Marsya hanya menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar enggan untuk ikut serta.


"Pegel aku mbak!" jawab Marsya padanya lagi.


Cak Dika pun menghela nafas.


"Yaudah, Marsya di sini aja!" ujar Cak Dika.


Setelah jawaban itu, Marsya pun langsung duduk. Rupanya dia kemasukan lagi. Dan itu adalah Setan Cakarnya Laras.


"Pripun, Kulo nggih Melu!" ujar Setan Cakar yang saat ini sedang berada dalam tubuh Marsya.


Cak Dika, Bella, Rachel, Aldo dan Laras pun terkekeh mendengar itu. Mereka menganggukkan kepala menyetujui sosok itu untuk ikut bersamanya.


Mereka masuk ke dalam belantara sebelah kiri. Sesuai dengan apa yang dikatakan saat itu oleh Senopati.


Di sana Cak Dika dengan kemampuannya mulai mendekati pohon. Satu pohon besar. Lalu Cak Dika bersimpuh di sana. Tangan kanannya mengeluarkan keris itu.


Ketika keris itu diletakkan dibatas tanah. Sambil terus merapal, keris itu perlahan menghilang. Tugas mereka pun selesai.

__ADS_1


Saat itu mereka kembali lagi ke jalur. Kemudian Cak Dika dan Bella mengatakan bahwa tidak ada salahnya jika mereka terus berjalan sampai puncaknya. Hitung-hitung ini adalah liburannya mereka.


__ADS_2