Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 70: Hallo Melissa!


__ADS_3

Jalanan Malioboro selalu saja ramai. Maklum saja, ini adalah pusat wisata. Asrih sekali, para pedagang juga berlalu lalang. Ada pula orang-orang yang menenteng barang belanjaannya ke sana kemari.


Dari villa mereka berempat naik grab untuk ke sini. Cak Dika dan yang lain tadi juga tidak terlihat. Mungkin mereka masih nyaman berada dalam alam mimpinya.


Sambil menyeruput es coklat seribuan. Mereka berjalan layaknya bocah SD di antara kerumunan manusia itu.


Hingga setelah menyebrang jalan lalubmelewati beberapa gedung. Mereka berhenti di sebuah tempat.


Mereka masuk ke dalam sana lalu mencari keberadaan kamar nomor dua belas. Ketika mereka sampai di depan pintunya. Ada satu aura yang cukup menarik yang Marsya rasakan.


Dia kemudian tersenyum senang. Ini adalah aturan dari setan asing. Dan sepertinya di dalam sana asalnya.


Sebelum pintu itu diketuk, Marsya yakin bahwa orang di dalam sana juga memiliki kemampuan sama sepertinya.


Pintu diketuk, beberapa kali. Barend, di samping Marsya mulai muncul. Dia juga ikut berdiri di sana sambil memperhatikan pintu yang tak kunjung terbuka.


Dari dalam terdengar suara langkah kaki mendekat. Mas'ud menghentikan ketukan pintunya. Lalu, ketika gagang pintu itu diputar lalu pintu dibuka.


Nampak seorang gadis belanda yang cukup menawan. Dia terlahir Albino, memiliki surai putih.Tapi, itu tidak menjadi kekurangan di mata tiga orang pemuda yang saat ini berdiri menatapnya.


Kok cik ayune!. Ujar Mas'ud dalam hatinya.


"Ya?" tanya Gadis itu sambil memperhatikan ketiganya. Pemuda asing yang berdiri di sana cukup aneh baginya.


"Jika tidak ada perlu, kalian boleh pergi!" ucap gadis itu lagi lalu menutup pintunya.


Belum sempat pintu itu tertutup. Mas'ud menempatkan kakinya di sela pintu itu. Sehingga sukar bagi gadis itu untuk menutupnya.


Kemudian ketika mata mereka bertemu Mas'ud tersenyum dan berkata,


"Apa kamu Melissa? Gadis yang mengirimkan surel pada Gautama family?" tanya Mas'ud padanya.


Ya, gadis berna Melissa itu nampak menghela nafas. Lalu dia membuka kembali pintunya. Dia kemudian mengangguk.


Pandangannya beralih ke arah Marsya. Namun bukan Marsya yang dilihat di sana. Keberadaan setan kecil yang berada di sisi Marsya.


"Rupanya, apa yang kalian paparkan di channel itu benar ya?" ujar Melissa tersenyum sambil masih menatap keberadaan Barend di sana.


Hal itu membuat Marsya juga tersenyum. Instingnya tidak salah. Melissa memiliki kemampuan mata batin sama seperti dirinya juga saudaranya.


"Hai Melissa! Aku Marsya, salam kenal ya!" ucap Marsya padanya.


"Ya, salam kenal! Kalian boleh masuk, silahkan!" ujar Melissa mempersilahkan mereka masuk.


Mereka pun masuk ke dalam kamar hotel itu. Cukup besar dan hanya Melissa saja yang berada di sana. Tidak ada manusia lain selain Melissa.


Mereka duduk di lantai. Sebab tidak ada sofa di sana. Mas'ud, Rahman, Deni dan Marsya menatap ke arah Melissa.

__ADS_1


"Jadi, saya panggil kalian kemari sebab karena sesuatu! Saya juga menawarkan pada kalian perihal misteri gadis yang terpasung. Itu tentang gadis yang mati di rumah Netherlands, yang baru saja kami beli dari pelelangan. Kejadian itu sudah lama, puluhan tahun! Dan anehnya, anak dari pemilik rumah itu juga bernama Melissa. Dan dia, mirip sekali denganku. Ada satu kejadian yang membawaku memilih menetap kemari. Sebab satu alasan, tragedi yang menimpa anak bernama Melissa itu juga hampir menimpaku. Itu sudah selesai! Tapi, pria bejat itu masih terus mengikutiku! Di sana!" ujar Melissa lalu menunjuk ke arah lemari kayu yang letaknya berada di sudut kamar hotel.


Lemari itu berwarna putih. Cukup besar. Marsya mengalihkan pandangannya ke arah lemari yang sedang Melissa tunjuk. Dia membulatkan mata. Melihat kehadiran kelam di sana.


Sosok itu besar. Tapi itu bukan Genderuwo. Kedua matanya membulat namun putih seluruhnya. Wajahnya bengkak, satu sisi kanan menghitam.


Ada bekas luka tembak di kepalanya. Dan ada darah yang masih keluar dari dalam sana. Mulut itu pucat membiru. Dia mengatakan satu hal yang hanya Marsya dan Melissa saja yang mampu mendengarnya.


"Aku akan membawa Melissaku!" ucapnya sambil menatap ke arah mereka.


Melissa lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah mereka. Marsya pun juga begitu. Kali ini dia khawatir. Sebab keberadaan setan itu begitu kelam auranya. Dia berbahaya. Sepertinya dia mati sebab praktik ilmu hitam.


Argumen bergelut dalam kepalanya. Membuat Marsya segan mengutarakan satu pertanyaan yang sejak tadi ada dalam kepalanya.


"Melissa, apakah aku boleh bertanya?" tanya Marsya pada Melissa.


Hal itu membuat Melissa menoleh lalu mengangguk sambil menatapnya.


"Ya!" jawab Melissa padanya. Marsya mengangguk.


"Apakah dia mati karena ilmu hitam?" tanya Marsya padanya.


Pertanyaan itu tentu saja membuat Melissa mengangguk. Benar, apa yang Marsya katakan. Sosok itu dulunya manusia. Yang mati karena menganut satanisme.


"Benar, dia penganut satanisme! Itu terjadi karena dia takut akan dampak dari kesalahannya!" jawab Melissa pada Marsya.


"Melissa, aku mau menolongmu! Jika kamu mau, kamu bisa ikut aku!" ujar Marsya padanya.


Melissa mengangguk dia kemudian berdiri.


"Dia tidak bisa mendekatiku! Sebab, aku bukan Melissanya! Aku punya tameng lain sama sepertimu. Dia adalah Melissa malang yang mati dalam rumah yang kubeli. Juga Gelanda, kakakku yang sudah mati! Merekalah yang menjagaku selama ini dari setan itu. Tapi, aku ingin dia pergi selamanya. Aku ingin dia tidak mengikutiku! Aku pengikut setia chanelmu sejak pertama itu dibuat. Dan aku ingin meminta tolong pada Dika, kakakmu yang terkenal itu!" ujar Melissa menjelaskan alasannya pada Marsya.


Tentu saja, Marsya tidak akan menolak itu. Untuk apa kemampuan yang dia miliki jika tidak digunakan untuk membantu orang lain, bukan?


Marsya mengangguk menyetujui itu. Mereka pun segera pergi dari dalam hotel itu untuk menuju villa tempat Cak Dika dan seluruh saudaranya masih bersemayam di sana.


Dalam perjalanan, sebelum mereka sampai. Deni sempat menghubungi Cak Dika. Itu membuat Cak Dika segera menyiapkan jamuan bersama dengan saudaranya yang lain.


"Heh, mau ada bule bertamu ini!" ujar Cak Dika kedua tangannya sibuk memotong buah.


Di sampingnya ada Rara yang juga ikut memotong buah. Seluruh buah yang berada di lemari es itu. Mereka potong, hari ini mereka akan menyuguhkan es campurnya Indonesia pada bule bernama Melissa itu.


"Hati-hati keiris tanganmu dek!" ujar Cak Dika sambil memperhatikan Rara di sampingnya.


"Iyo!" jawab Rara padanya.


"Bocah itu ya! Bener-bener random. Mau undang orang dadakan gini! Heran aku!" ujar Rachel kesal lalu membawa sirup dan es batu.

__ADS_1


"Ngrepoti! Tapi kalau, Mas'ud bilang itu menarik! Pasti menarik kok!" ucap Thariq menimpali umpatan Rachel yang kesal.


Bella membawakan wadah besar. Hanya perlu beberapa menit untuk Marsya sampai ke sini. Ketika es campur sudah siap dan mereka meletakkan itu di ruang tamu.


Suara pintu utama dibuka membuat Cak Dika beserta yang lain menoleh. Itu adalah Marsya dan Melissa di sampingnya.


"Narasumber sudah datang iniloh!" ucap Mas'ud dan Deni bersamaan.


Mereka lalu mengambil kamera mereka dan mengaturnya. Melissa sudah duduk di sana bersama Cak Dika dan yang lain.


"Selamat datang, mbak!" ucap Cak Dika pada Melissa.


Melissa menatap Cak Dika dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan ketiga kameramen yang berdiri itupun terkekeh.


"Apa itu mbak?" tanya Melissa tidak tau apa arti Mbak.


Cak Dika tertegun mendengar itu. Yang lain pun juga begitu, mereka tertawa.


"Yo, ngene iki wes nek otak urang!" ujar Rara mengejek Cak Dika.


(Ya, gini ini kalau otak udang!)


Bella semakin tertawa lepas ketika mendengar Rara berani menghina Masnya. Merasa kasihan, Rachel pun berkata,


"Cak, dia ini bule! Mana tau artinya Mbak! Mbok ya dipanggil namanya. Atau nona, atau mister!" ucap Rachel.


Cak Dika kemudian menghela nafas dan mengangguk. Sebelum Cak Dika berucap, Melissa mendahuluinya.


"Aku ingin meminta tolong! Tapi, sepertinya tanpa berucap aku bisa menceritakannya. Bukankah kalian salah satu dari kalian punya kemampuan masuk ke dalam masa lalu?" tanya Melissa pada mereka.


Thariq dan Laras tersenyum mendengar itu.


"Kamu apa aku?" tanya Thariq pada Laras.


Aldo kemudian menjawabnya,


"Kamu aja!" jawab Aldo padanya.


Thariq pun mengangguk. Kemudian dia bergerak sedikit menghampiri Melissa. Lalu Thariq duduk di depan Melissa. Jika Melissa duduk di atas sofa. Maka Thariq saat ini duduk di lantai membelakanginya.


"Silahkan!" ucap Thariq.


Melissa yang tau apa maksudnya pun mulai meletakkan telapak tangan kanannya di punggung Thariq. Dua orang itu kemudian terpejam.


"Ini gelap gulita! Belantara luas tak ada siapapun kecuali satu mobil terkapar tak berdaya tak berjalan. Muncul seorang lelaki dari dalam mobil. Dia berjalan menyusuri belantara! Dia adalah Jason, ucap satu suara lain menjelaskan padaku. Pemilik suara itu tidak nampak, namun hanya suara. Dan dia mengatakan, namanya adalah, Melissa! Gadis yang mati terpasung dengan kepala yang membusuk!" ujar Thariq menceritakan apa yang dilihatnya.


Dan inilah kisah Melissa dan kepalanya yang membusuk. Dikemas langsung sebagai narasi oleh Mas'ud. Lalu di ceritakan melalui ilustrasi olehnya di kanal YouTube Gautama nanti.

__ADS_1


__ADS_2