Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 36: Pesugihan Soto Ayam


__ADS_3

Deni dan Rahman sudah sepakat akan bekerja bersama Cak Dika bulan depan. Keputusan beberapa hari lalu membuat mereka senang.


Bahagia rasanya dengan honor yang akan mereka dapatkan apabila Gautama family beroperasi layaknya jurnal Risa.


Menuju bulan berikutnya hanya tinggal hitungan jari. Ini tutup tahun, tepatnya bulan Desember. Sepuluh hari lagi adalah penyambutan tahun baru.


Demi menghidupi kebutuhan mereka sendiri. Kedua saudara itu memilih bekerja di sebuah tempat makan. Tempat makan itu berupa warung soto besar.


Pemiliknya dikatakan memiliki banyak sekali cabang soto. Biasanya para pedagang atau pengusaha tidak akan membuka lowongan untuk akhir tahun.


Baik Deni dan Rahman mereka berdua merasa sangat beruntung sekali bisa diterima kerja di sana. Seorang lelaki tua berjalan di dapur warung itu.


Kira-kira di dalam sana ada tujuh orang pegawai, termasuk Deni dan Rahman. Lelaki tua itu berjalan pelan sambil memperhatikan mereka.


"Mas, itu siapa?" tanya Rahman yang penasaran ketika melihat hadirnya lelaki tua itu.


Rahman menanyakan itu pada salah satu pegawai lama. Sebut saja, namanya adalah Teguh.


"Oh.." ujar Teguh sambil melirik ke arah yang Rahman bicarakan.


"Itu Pak Tarno! Dia pemilik soto ayam ini. Tiap akhir tahun dia selalu datang untuk cek tempat dan kondisi!" jelas Teguh pada Rahman.


Rahman hanya mampu manggut-manggut saja mendengar itu. Sambil memasak di sana, sesekali Rahman memperhatikan lelaki tua itu.


Ada tiga batu akik yang dikenakannya di jari tangannya. Pak Tarno ini memiliki rambut ikal. Tubuhnya sedikit gemuk dan ada bekas semacam sayatan di lehernya dan dia juga berkumis.


Ketika Rahman menoleh lagi untuk melihat Pak Tarno. Rupanya di sana Pak Tarno sedang menatapnya. Rahman yang tertegun seketika langsung menunduk kembali lalu fokus pada makanannya.


"Kenapa kamu, Mas?" tanya Deni yang sibuk mengiris kubis dan jeruk purut.


"Pak ikuloh, memperhatikan aku!" jawab Rahman pada adiknya.


Deni yang penasaran pun langsung menoleh ke arah Pak Tarno. Benar saja, di sana Pak Tarno sedang menatap ke arah Rahman.


Deni hanya diam saja melihat itu. Tidak ada gerak gerik mencurigakan dari diri Pak Tarno. Deni pun memilih fokus kembali pada masakannya.


"Dia suka kamu kayaknya, Mas!" ujar Deni lalu pergi dari sana sambil membawa gubis dan jeruk yang sudah diiris.


"Edan!" jawab Rahman pada adiknya.


Rahman kembali fokus pada masakannya. Lalu ketika rasa penasaran menghinggapi hatinya lagi. Dia pun kembali menatap ke arah Pak Tarno di sana.

__ADS_1


Namun ketika dia kembali menatapnya. Pak Tarno sudah tidak ada di sana. Rahman terkejut melihat itu. Sontak dia langsung mundur lalu menatap ke depan ke arah tempat di mana Pak Tarno tadi berdiri.


"Heh, Lapo Man?" tanya Teguh di sampingnya yang juga ikut terkejut akibat ulahnya Rahman.


"Jaran!" pekik Rahman sambil mengusap-usap dadanya.


"Heh, ada apa?" tanya Teguh lagi padanya.


"Iku Cak!" ujar Rahman menoleh sebentar pada Teguh lalu menunjuk ke arah depan.


"Tadi aku lihat Pak Tarno masih ada di sana! Tapi pas aku toleh lagi, dia udah gak ada? Dia orang tua, jalan tertatih pakai tongkat. Kenapa larinya cepet banget?" tanya Rahman kebingungan.


Teguh di sampingnya hanya mampu mengerutkan keningnya mendengar itu. Dia bingung, atas apa yang Rahman katakan.


"Dia baru aja berhenti sebentar di depanmu tadi! Dia cek kaldu kuahmu tadi!" jawab Teguh padanya.


Rahman lagi-lagi dibuat terkejut. Sebab dia merasa tidak melihat Pak Tarno di depan matanya.


"Kamu menggigau atau gimana? Dia tadi ada di sana lihatin aku!" ucap Rahman lagi padanya.


"Ah... Sudahlah, waktunya buka warung! Seluruh persiapan sudah selesai. Tinggal dibuka aja udah!" ucap Teguh pada Rahman.


Rahman hanya mampu menatap kepergian Teguh yang semakin jauh. Bulu kuduknya meremang rasanya. Dia kembali ingat bahwa dirinya dan adiknya baru saja selamat dari malapetaka pesugihan.


Ya Allah, kok merinding pas orang itu datang ya?. Ujar Rahman dalam hatinya. Lalu dia mengangkut wadah kuah besar itu ikut bersamanya keluar dari dalam dapur.


Sedangkan di sudut dapur sejak tadi Pak Tarno memperhatikan mereka. Ketika dapurnya sudah kosong. Beberapa anak buah Pak Tarno mulai memadati area dapur.


Lalu perlahan, Pak Tarno mengendap-endap di antara keramaian itu. Tangannya yang keriput itu perlahan mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


Sebuah buntalan kain berwarna putih. Jika kalian lihat dengan seksama. Kain itu adalah kemasan bawahan alat vital, atau yang biasa disebut dengan ****** *****.


****** ***** itu berisi beberapa ajian. Lalu dibuntal menggunakan ****** ******** Pak Tarno. Kemudian tanpa sepengetahuan para karyawannya.


Pak Tarno memasukkan buntalan kecil itu ke dalam air kuah yang mendidih. Sesudahnya, barulah dia pergi dari dalam sana.


Terlihat di kakinya, terdapat beberapa setan gundul atau biasa disebut dengan tuyul. Warung soto ini berdiri di tengah kota. Di mana hal itu tentu saja, jauh jaraknya dari rumah Cak Dika dan Bella.


Mereka juga adalah dua orang manusia yang jarang sekali berkelana ke kota. Sebab para pasien mereka ada banyak di sana. Kesibukan mereka juga akan berpusat pada desa mereka.


Jam terus berputar. Sampai senja menjelang warung itu tetap ramai. Lalu ketika jam sudah menunjukkan pukul lima sore.

__ADS_1


Sudah saatnya bagi Deni dan Rahman untuk kembali pulang. Jam kerja mereka sudah habis. Saat ini keduanya sedang berada di loker mereka. Mereka sedang prepare untuk pulang.


"Wah Alhamdulillah rame Mas!" ucap Deni senang melihat dirinya begitu sibuk hari ini.


"Iya, warung emang selalu rame dek!" jawab Rahman menimpali. Dia sedang memakai sepatunya.


Mereka terus bercengkrama satu sama lain. Hingga tidak menyadari keberadaan Pak Tarno di sana.


"Mantuk le?" tanya Pak Tarno.


Keduanya yang sibuk sontak kaget. Lalu mereka mengalihkan netra mereka ke arah Pak Tarno. Tubuh tua itu berdiri di tengah lorong loker.


Dia tidak tersenyum hanya menatap datar ke arah Rahman dan Deni. Mereka yang ditatap seperti itupun berdiri lalu membungkuk sedikit dan mengangguk.


"Nggih Pak, sampun rampung! Ini sudah jamnya kita pulang Pak!" ujar Rahman.


Terlihat di sana Pak Tarno menganggukkan kepalanya. Lalu dia kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


"Ini Le, Bapak lihat tadi kerjamu bagus! Ini hadiah dari saya ya, semoga kamu betah di sini!" ujar Pak Tarno.


Sebuah cincin emas diberikan pada Rahman. Rahman dan Deni yang ekonominya cukup sulit itupun tidak berpikir panjang.


"Beneran Pak?" tanya Rahman padanya.


Namun tetap dengan ekspresi datarnya. Pak Tarno mengangguk. Rahman mengambil cincin itu, menerimanya. Lalu baik dia dan Deni berpamitan pada Pak Tarno untuk pulang.


Ketika tubuh mereka melewati Pak Tarno. Ada sesuatu yang Deni rasakan di sana. Seperti hawa yang tiba-tiba menusuk tengkuk lehernya. Hal itu membuat Deni menggelengkan kepalanya.


"Ada apa dek?" tanya Rahman di sampingnya.


"Mboh mas, tiba-tiba merinding aja!" jawab Deni sambil menatap ke depan.


Beberapa langkah setelahnya dia penasaran. Lalu Deni kembali menoleh ke belakang. Sumpah demi Tuhan, orang tua itu hilangnya cepat sekali.


"Loh Mas, wong e ilang!" ujar Deni berbalik dan terkejut.


Rahman pun kembali berbalik. Dan benar saja, Pak Tarno sudah tidak ada di sana. Di sana mereka sedikit merasa ada keganjalan.


Pasalnya jika memang Pak Tarno akan kembali keluar. Jalan satu-satunya adalah area yang mereka lewati ini. Tapi nyatanya, dia tidak melewatinya.


"Mungkin dia masih ngcekin loker lain! Udah biarin aja, kita pulang aja! Capek aku!" ujar Rahman lalu berjalan kembali.

__ADS_1


Deni hanya mampu mengangguk sekalipun hatinya masih ragu tapi letih di tubuhnya jauh lebih kuat. Pada akhirnya Deni memutuskan untuk menuruti kakaknya. Mereka pun pulang bersama saat itu.


__ADS_2