
Warganet sangat haus sekali dengan sejarah kelam beserta dengan penampakan setan yang dibawakan dan dikemas oleh seluruh keluarga Gautama beserta crew.
Vidio mereka sudah banyak diupload di YouTube. Kanal YouTube mereka ramai. Pendatang baru sering meminta untuk mereka eksplorasi kesana kemari. Karir mereka perlahan mulai melejit.
Namun, Gautama Family juga adalah manusia biasa rek. Mereka juga perlu duduk dan bersantai sejenak setelah melakukan eksplorasi.
Segelas teh hangat pagi ini menemani mereka duduk di depan meja bundar. Di tengah meja itu ada laptop yang sedang menyita perhatian mereka.
Saat ini mereka sedang melihat lagi Vidio yang sudah diupload oleh para kameramen. Yaitu Mas'ud, Rahman dan Deni.
"Ngeri juga kalo dilihat lagi yo?" ujar Aldo sambil memperhatikan.
Cak Dika yang duduk berdampingan dengan Rara hanya mampu menguap. Capek sekali rasanya. Dia melipat tangannya di dada sambil masih memperhatikan layar laptop.
"Ngantuk aku dek!" lirih Cak Dika pada Rara di sampingnya.
"Yowes turuo!" jawab Rara sambil masih memperhatikan layar laptop tanpa menengok sedikitpun ke arah Cak Dika.
(Yaudah tidur sana!)
Tanpa ada jawaban lagi dari Cak Dika. Dia pun langsung menyandarkan kepalanya di pundak Rara. Lihatlah, betapa manjanya orang tua satu ini.
Rara tertegun merasakan pukulan kecil yang sedang bertengger manja di bahunya. Dia lalu menoleh sejenak.
Nampak Cak Dika di sana sedang memejamkan matanya. Sial rasanya bagi Rara melihat wajah Cak Dika yang damai saat terpejam.
Tenan ora due isin bocah Iki! Haduh, jantungku meh mencelat rasane!. Ujar Rara menjerit dalam hatinya.
(Beneran gak punya malu bocah ini! Haduh, jantungku mau lompat rasanya!)
Tanpa Rara sadari sejak tadi Rachel memperhatikan itu. Ketika yang lain masih fokus menatap layar laptop. Cuma Rachel seorang yang memperhatikan keduanya.
Di mata Rachel. Kedua orang itu serasi dan Rachel sangat menyetujui hubungan keduanya. Sekalipun keduanya ini terkadang absurd abnormal. Tapi, justru kekonyolan itulah yang menyatukan keduanya.
Ketika Rara mengalihkan pandangannya kembali ke arah laptop. Membiarkan Cak Dika tetap terpejam manja di bahunya. Tak sengaja Rara menangkap wajah Rachel yang tersenyum ke arahnya.
Tanpa banyak berkata-kata lagi. Rachel hanya mengacungkan kedua jempolnya pada Rara.
Apa maksudnya itu?. Ucap Rara lagi dalam hatinya.
Ketika Rachel kembali fokus pada laptop. Rara pun juga kembali fokus pada laptop. Beberapa saat setelah acara nonton bersama itu usai.
Dari ambang pintu terdengar suara langkah kaki. Seorang pria bertubuh ideal datang sambil menenteng koper hitam.
Pria itu memakai kacamata hitam dengan topi ala cowboy. Pria itu berjalan ke arah mereka. Ketika melewati ambang pintu dan mulai dekat.
Barulah seluruh manusia di dalam sana menatapnya. Rupanya itu adalah Pak Rudi. Wajahnya nampak begitu sumringah. Kepuasan jelas tersirat dalam wajahnya.
__ADS_1
"Loh Pak, kenapa ke sini?" tanya Rahman dan Deni berdiri.
Semua nampak juga ikut berdiri menyambut kedatangan pak Rudi.
"Tenang aja, duduk aja! Santai aja kalian!" ucap Pak Deni sambil menggerakkan tangannya memberi instruksi pada mereka untuk duduk kembali.
Semua berdiri kecuali Rara. Sebab dia tidak ingin membangunkan Cak Dika. Rara kasihan pada pemuda itu. Pemuda yang umurnya berbeda lima tahun dengannya itu.
Pemuda yang kadang konyol dan lucu. Namun kadang begitu berkharisma dan tampan ketika mulai serius.
"Nah iku ketua e nyapo? Kok loyoh?" tanya Pak Rudia sambil menunjuk ke arah Cak dika yang terpejam.
(Nah itu ketuanya kenapa? Kok lemas?)
Sontak seluruh sorot mata mulai menatap pada Cak Dika dan Rara. Semu merah tergambar jelas dalam wajah Rara. Rasanya dia ibarat kepiting rebus saja sekarang.
Debaran dalam dadanya semakin kencang ketika melihat Marsya dan Bella menggelengkan kepala mereka.
"Ancen masmu iku, wes wayahe rabi kok!" ujar Marsya pada Bella.
(Memang masmu itu, udah waktunya nikah kok!)
Bella mengangguk mendengar itu. Sembari jari jemarinya memijat pelipis kepalanya.
"Iyo, nanti kalau balik ke Jawa Timur. Aku tak bilang ke Papa! Cacak wis nduwe calon, Pa! Panggah engko langsung di gaweno terop! Digiring nak KUA, rabi, duwe ponakan aku!" ucap Bella pada Marsya.
Marsya tertawa mendengar itu.
"Siap ta mbak Ra?" tanya Rahman menimpali ucapan Bella di sana.
"Nek jodoh yo ora nak ndi-ndi toh, Pak Rud! Wong aku cuma ngewangi cah e ki sare e ben enak! Sakno, de'e kepegelen!" jawab Rara menjawab tiap ocehan Rahman, tatapan Pak Rudi beserta seluruh anggota keluarga Gautama yang lain.
(Kalau jodoh ya gak bakalan kemana-mana kan, Pak Rud! Orang aku cuma membantu anak ini biar tidurnya enak Kasihan, dia kecapean!)
"Wis udah, kita dengar Pak Rudi! Kayaknya ada yang serius ini sampai bawa koper segala!" ujar Laras pada semuanya.
Semuanya kemudian mengangguk. Mereka diam membisu lalu memberikan Pak Rudi kesempatan untuk bicara.
Namun nyatanya Pak Rudi tidak bicara. Dia meletakkan koper hitam miliknya di atas meja bundar itu. Tepat di samping laptop mereka.
Lalu Pak Rudi membuka koper itu perlahan. Demi Allah, rasanya mereka dibuat jantungan saja. Di dalam koper itu nampak tumpukan uang dan itu penuh. Luar biasa rasanya.
Sebab tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Rahman dan Deni pun nyeletuk. Sifat gamblang cak Dika mendadak ada pada diri mereka.
"Loh Ya Allah, igak salah toh Pak, sampean?" tanya Deni dengan kedua mata yang berbinar tak percaya.
(Loh Ya Allah, gak salahkah Pak, anda?)
__ADS_1
"Gusti, Iki mari ngepet teng pundi, Pak De?" tanya Rahman pada Pak Rudi.
(Gusti, ini habis ngepet di mana, Pak De?)
"Astaghfirullah..." lirih Pak Rudi sambil mengusap dadanya setelah mendengar apa yang Rahman katakan.
"Yo ora ngepet toh, Le! Ini hasil kerja keras kalian! Udah silahkan dibagi! Saya sibuk, saya kesini cuma mau kasih ini saja. Yaudah, saya pamit dulu ya!" ucap Pak Rudi pada mereka.
(Ya nggak ngepetlah, nak!)
Beliau lalu bergegas pergi dari sana. Sebelum pergi tepat di ambang pintu Pak Rudi berhenti sejenak. Lalu dia berbalik lagi ke arah Gautama Family.
"Tumbas tumpeng, gawe syukuran! Lan ojo lali, nyambut gawe e sing semangat!" ucap Pak Rudi pada mereka.
(Beli tumpeng, buat syukuran! Dan jangan lupa, kerja yang semangat!)
Serentak mereka semua yang senang akan hasil yang baru saja mereka terima berteriak. Sambil mengacungkan kedua jempol ke arah Pak Rudi mereka berkata,
"Semangat pasti, Pak!!!" teriak mereka serentak.
Mendengar itu Pak Rudi hanya membalas mereka dengan satu acungan jempol lalu pergi dari sana. Ketika Pak Rudi sudah meninggalkan lokasi. Mereka semua bertatapan sejenak lalu bersorak senang bahagia.
Ucapan syukur mereka panjatkan. Keramaian yang terjadi di sana membuat Cak Dika terbangun. Ketika nyawanya sudah terkumpul. Dia bertanya pada seluruh anggota keluarganya apa yang sedang terjadi.
Rachel menjelaskan apa yang terjadi tadi. Mendengar itu, malamnya pun para lelaki mulai membeli tumpeng. Mereka makan malam bersama di teras belakang villa. Sambil menatap ke arah langit yang cerah bertaburan bintang.
Saat itu juga, Rahman memberi tau mereka. Bahwa ada satu tempat yang harus mereka kunjungi. Satu tempat yang baru-baru ini cukup meresahkan.
Nampak saat makan malam itu. Marsya bersimpuh di depan dia setan Belanda peliharaannya Rachel dan Bella.
Merekalah yang sering Marsya sebut sebagai adik ghaib. Bocah kecil tampan yang kadang mengesalkan dan jahil. Marsya memberikan pada mereka sepotong ayam dan dua gelas susu.
"Wah ini enak sekali Marsya! Terima kasih, ya!" ucap Barend pada Marsya.
Marsya lalu mengangguk.
"Ya!" jawab Marsya padanya singkat.
"Kamu baik sekali Marsya, tidak seperti Rachel dan Bella! Mereka berdua pelit pada kami!" ujar Albert salah satu setan Belanda miliknya Bella.
Kebetulan Rachel dan Bella yang berada tak jauh dari sana mendengar percakapan itu. Keduanya lantas berkata,
"Bicaralah seperti itu lagi kalian, bakalan kami masukin botol kalian!" ucap keduanya kesal.
Mendengar itu, baik Barend dan Albert langsung pergi menghilang dari sana. Melihat itu, Marsya pun tertawa. Dia lalu menoleh ke belakang sambil menggelengkan kepalanya.
"Horor banget ancamanmu mbak!" ucap Marsya pada keduanya.
__ADS_1