Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 166: Misteri Rumah Pak Joko


__ADS_3

Andri POV


Saat itu hari pertamaku bekerja sebagai tukang cat di rumahnya Pak Joko. Aku mengajak temanku yang bernama Wildan. Dia memang selalu bersamaku jika aku mendapatkan pekerjaan paruh waktu.


Wildan dan aku adalah tetangga dan kami satu desa. Bersama dengan motor Astrea tuaku. Kami mulai berangkat dari rumah menuju rumahnya Pak Joko.


Setibanya di sana kami melihat rumah itu masih sepi seperti kemarin kondisinya. Wildan membuka pagar rumah itu lalu aku memasukkan motorku ke dalam memarkirkannya.


Setelah itu kami pun menghampiri pintu rumah itu. Ketika tanganku mengetuk pintu rumahnya berulang kali tidak ada jawaban dari sana.


Lalu aku ingat pesan pak Joko. Bahwa beliau menyuruhku untuk langsung masuk ke dalam saja jika beliau tak ada.


Aku juga ingat pesan pak Joko bahwa beliau selalu meninggalkan kunci rumahnya di bawah pot.


Aku menghampiri beberapa pot yang terletak di samping rumah pak Joko. Satu persatu potnya aku cek dengan cermat. Dan betullah kunci dan uang makan kami ada di sana. Ada uang lebih juga untuk membeli keperluan.


Setelah aku mendapatkan kunci itu maka aku pun pergi kembali menghampiri Wildan yang masih berdiri di teras rumah Pak Joko.


"Ini kunci sama uangnya sudah ketemu! Ayo kita masuk saja terus langsung kerja!" ujarku mengajak Wildan untuk segera masuk dan mulai mengerjakan pekerjaan kami.


Aku membuka pintu itu menggunakan kunci yang aku dapatkan dari bawah pot. Ketika pintu itu aku buka ada angin yang menerpa dari dalam rumah itu. Angin itu seakan menyapa kami.


Kami terdiam beberapa saat. Hanya sunyi setelah angin itu yang menyambut kami. Aku dan Wildan memperhatikan isi rumah itu. Mulai dari lorongnya hingga atap rumah juga lantainya. Semuanya kotor dan berdebu.


"Mas, ini rumahnya bagus mewah! Tapi kenapa kotor gini ya, Mas?" tanya Wildan padaku.


"Hushh.." sergaku padanya.


"Namanya juga yang tinggal di sini orang tua! Jadi ya, wajar kalau rumahnya kotor begini. Ndak kuat, bapak itu bersihkannya. Yang penting kita di sini tujuannya satu. Selesaikan pekerjaan yang diminta, sudah itu aja!" ujarku mencoba memberitahu Wildan.


Wildan mengangguk setelah itu. Kami memulai pekerjaan kami seperti biasanya. Aku dan Wildan saling membagi tugas.


Aku menyelesaikan bagian jendela dan pintu depan. Sedangkan Wildan dia menyelesaikan bagian pintu tengah rumah itu.


Kami saling sibuk satu sama lain sampai adzan dhuhur terdengar. Ketika adzan mulai berkumandang maka aku dan Wildan duduk di depan teras rumah itu.


Hari pertama bekerja di sana sama sekali tidak ada kendala. Alhamdulillah rasanya! Kami menikmati rokok yang kami bawa.


"Ndak makan mas?" tanya Wildan padaku.


"Iya, bentar habiskan rokok dulu! Sekalian abis ini sholat terus cari maem!" ujarku pada Wildan.


Wildan menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah beberapa saat kami merokok. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil air wudhu. Di sana kami sholat di salah satu ruangan yang memang kosong.


Ruangan itu berdebu lantainya. Ada beberapa lukisan yang terpajang di dindingnya. Lukisan itu dari kain. Lukisan itu berjajar rapi di sana.

__ADS_1


Setelah kami membersihkan lantainya. Maka kami pun sholat di sana. Anehnya setelah kami menyelesaikan sholat kami.


Lantai yang kami bersihkan tadi tiba-tiba kotor kembali. Padahal tadi rasanya lantai ini sudah bersih. Aneh sekali rasanya jika debu setebal ini datang dalam sekejap.


"Tadi perasaan sudah disapu loh, Mas!" ujar Wildan di belakang tubuhku.


Aku terdiam, memang ini aneh tapi aku tidak mau malah memperkeruh masalah. Aku berdiri kemudian mengajak Wildan untuk ikut bersamaku makan di sebuah warung.


Kami berdua pun menaiki motor. Kami berjalan menyusuri area persawahan. Hingga kamu menemukan sebuah warung makan. Maka berhentilah motor kami di sana.


Kami berdua masuk ke dalam lalu memesan makanan. Ketika makanan sedang dibuat. Ibu-ibu warung itu sesekali melirik kami. Ketika makanan kami sudah selesai lalu dihidangkan maka ibu itu bertanya,


"Dari mana toh, Mas?" tanya Ibu itu pada kami.


Mungkin dia sedikit heran sebab pakaian yang kami kenakan kotor. Wajar saja, pekerjaan kami adalah tukang cat dan pasti cairan cat itu sedikit tumpah-tumpah pada baju kami.


"Kami kerja, buk!" jawabku pada ibu itu.


"Oh," ibuk itu manggut-manggut setelah mendengar jawabanku.


"Kerja di mana toh, Mas?" tanya Ibu itu lagi padaku.


"Kami kerja profesinya sebagai tukang cat, buk!" jawabku.


"Oh, ngcat toh, mas! Di mana, mas?" tanya ibu itu lagi.


"Rumahnya Pak Andi?" tanya Ibuk itu.


"Bukan buk, rumahnya Pak Joko!" jawabku.


Mendengar nama Pak Joko disebut maka Ibu itu pun langsung terdiam. Reaksinya hanya mengangguk saja kemudian dia kembali mendekati kompor.


Di sana berdiri suami ibu itu. Mereka saling berbisik kemudian. Entah apa yang mereka bisikkan di sana?


Setelah kami selesai makan di sana. Maka kami pun kembali ke rumah Pak Joko untuk melanjutkan pekerjaan kami. Seperti biasa kami mulai pekerjaan masing-masing.


Awalnya tak ada apa-apa. Menjelang adzan ashar. Aku mendengar suara sesuatu yang terjatuh. Itu dari lorong tengah tempat di mana Wildan bekerja.


Mendengar suara jatuh itu maka aku pun langsung menghampirinya. Dan benar saja Wildan terjatuh dari tangga.


Dia pingsan di sana namun tidak pingsan setengah pisan tapi mata terpejam. Aku mendengar samar-samar dari bibirnya dia mengucapkan kalimat.


"Astaghfirullah!" lirihnya berulang-ulang kali.


Aku menepuk-nepuk wajah Wildan namun dia tak kunjung sadar. Kemudian aku berinisiatif membawa Wildan ke dekat kolam.

__ADS_1


Di sana aku menidurkan Wildan di pangkuanku. Kemudian aku memercikkan air kolam itu ke arah wajahnya Wildan.


Detik kemudian dia pun sadar. Dan kalimat pertama yang dia ucapkan ketika sadar adalah,


"Ayo pulang, Mas!" ucapnya padaku. Keringat dingin mengucur di dahinya sepertinya ada sesuatu yang membuat Wildan seperti ini.


"Tenang dulu, kita obrolkan dulu di teras. Ayo!" ucapku mengajaknya ke teras depan.


Kami berdua duduk di sana dan Wildan masih teramat sangat ketakutan.


"Ini, rokok dulu biar tenang kamu!" tawarku sambil menyodorkan seputung rokok untuknya.


Wildan menerimanya lalu dia menyalakan rokok itu. Dia menghisapnya berulang kali. Kemudian dia menatapku yang juga menatapnya. Dia mendekat ke arahku lalu berbisik,


"Mas, tadi di tangga akh lihat ada anak bayi merangkak ke bawah tapi darah semua. Mata kanannya copot mas! Ngeri, mas! Ayok pulang, Mas!" bisik Wildan padaku.


Aku terkejut melihat itu. Dilema rasanya. Uang yang diberikan Pak Joko sudah kami nikmati. Jika kami tidak menyelesaikan pekerjaan kami itu adalah hutang.


"Tenang dulu, sudah! Biarkan saja, kamu dari dulu ikut saya toh. Kerja begini, kamu senang toh? Uangnya sudah kita terima bahkan tadi kita nikmati untuk makan. Kita Ndak bisa berhenti! Dosa kalo kita berhenti gitu saja!" ucapku pada Wildan.


Wildan pun terdiam.


"Iyo seh, Mas!" jawabnya.


Aku yang cukup kasihan pada Wildan pun berkata,


"Ya sudah ini juga sudah sore! Kita bersihkan dulu bekas kita kerja. Besok kita ke sini lagi!" ucapku pada Wildan.


Wildan mengangguk kemudian. Karena perasaan takut masih menghantui diri Wildan. Maka lorong tengah dekat tangga akulah membersihkan.


Beberapa menit berjalan. Dan aku mendengar suara langkah kaki turun dari anak tangga. Aku yang membelakangi anak tangga terdiam. Lalu perlahan berbalik.


Sungguh terkejutnya diriku ketika melihat seorang wanita bersama dengan dua orang anaknya.


Mereka melotot ke arahku dengan pakaian yang berdarah dan wajah yang teramat sangat pucat.


Aku mencoba menenangkan diriku. Sambil membaca ayat-ayat Alquran yang aku ketahui. Saat itu seakan kami sedang beradu kuat-kuatan.


Perlahan tangan mereka menunjuk ke arahku dan serentak mereka berkata,


"Balik!"


"Balik!"


"Balik!"

__ADS_1


Ucap mereka padaku. Lalu ketiga sosok itu menghilang. Aku yang syok saat itu terdiam beberapa saat. Ketika Wildan datang aku pun sadar.


Kami pun langsung pulang dari sana. Setibanya aku di rumah maka aku menceritakan kejadian itu kepada salah satu temanku juga teman mendakiku yang bernama Bella Gautama.


__ADS_2