
Mas'ud mencoba menenangkan Thariq yang sejak tadi berkeringat dingin sambil gemetar tubuhnya. Di luar tenda, Mas'ud membuatkan Thariq wedang jahe. Berharap minuman itu bakalan buat Thariq tenang.
"Ini Cong, kamu minum dulu!" ucap Mas'ud menawarkan cangkir berisi wedang jahe kepada Thariq.
Dinginnya udara malam saat itu membuat Thariq menerima jamuan wedang dari Mas'ud. Sambil meringkuk menggenggam segelas minuman itu dengan kedua tangannya. Thariq sejak tadi beberapa jam lalu terdiam dan hanya menunduk menatap bawah.
"Kamu ini kenapa toh Cong? Kok tiba-tiba aneh begini?" tanya Mas'ud lagi padanya.
Thariq menggeleng pelan. Lalu dia yang masih ketakutan itu menatap ke arah Mas'ud.
"Mas, kita harus pergi dari sini! Jalur ini gak aman sepertinya!" ujar Thariq padanya.
Mas'ud membulatkan kedua matanya mendengar itu. Itu adalah salah satu permintaan yang jarang sekali Thariq ucapkan. Mereka sudah sering naik gunung.
Penanggungan juga sudah sekitar lima kali mereka daki. Bagi Thariq, jalur kali ini yang dipilih oleh Mas'ud benar-benar sakral. Penanggungan itu gunung suci.
"Kamu ini kenapa sih? Kan, kita udah sering naik turun gunung penanggungan Cong!" ujar Mas'ud padanya menenangkan.
Sejenak Thariq diam lalu kembali menunduk. Hawa dari balik tubuhnya sangat panas. Dia tidak berani menoleh ke belakang. Ini terlalu suram hawanya.
Thariq juga ingat bahwa apapun yang dilihat di gunung. Tidak boleh diceritakan saat di gunung juga. Mereka harus turun dari gunung itu. Barulah boleh menceritakannya setelah itu.
"Kamu bilang dulu ke aku! Yang buat kamu kaya' gini itu apa sih? Soalnya gak bakalan mungkin kamu ketakutan seperti ini kalau gak ada sebabnya!" ucap Mas'ud lagi.
"Nanti kalau dibawah aku bakalan cerita apa aja alasan yang buat aku seperti ini!" jawab Thariq padanya.
"Kenapa gak cerita sekarang sih, Cong?" tanya Mas'ud lagi padanya.
Memang seperti inilah Mas'ud. Dia adalah orang yang tidak sabaran. Terkesan terburu-buru dan sok-sokan.
Memang dia dikenal tidak percaya dengan adanya makhluk tak kasat mata. Selama dia tidak melihatnya. Maka dia tidak akan percaya.
Thariq kemudian mendongak mencoba menatap Mas'ud. Tak sengaja kedua netranya memperhatikan rimbunnya pohon yang daunnya menutupi langit. Di sana terdapat sepasang mata mengintai.
Kedua bola mata itu mirip seperti bola mata kucing. Namun yang ini bola matanya begitu besar. Sebesar kepala manusia.
Thariq menelan ludah melihat itu. Bahkan dia mendengarkan hembusan nafas dari makhluk itu. Thariq yang tidak menumpuk ketakutannya terlalu banyak. Memutuskan untuk diam lalu kembali lagi masuk ke dalam tenda.
Mas'ud terkejut melihat tingkah laku Thariq yang aneh menurutnya.
"Heh Cong, kamu mau kemana sekarang?" tanya Mas'ud padanya.
Namun, Thariq tidak menjawab. Dia hanya masuk lalu masuk ke dalam sleeping bagnya dan tidur.
__ADS_1
Mas'ud di sana hanya mampu menghela nafas panjang menyaksikan Thariq yang sudah terpejam kedua matanya.
Melihat itu, Mas'ud pun memilih untuk melanjutkan tidurnya. Besok, tepat jam dua mereka akan kembali berjalan untuk summit ke atas puncak Pawitra.
Di sisi lain. Cak Dika dan rombongannya sudah berada di puncak bayangan. Sepi di sana dan hanya ada rombongan mereka saja.
Sudah sekitar satu jam yang lalu setelah mereka sampai. Kini tenda-tenda mulai mereka dirikan. Semuanya sedang berkumpul dalam satu area. Tenda mereka saling berhadapan.
Mereka duduk melingkari kompor dan makanan minuman mereka. Suara gema tawa bahkan suara diskusi terdengar riang memecah keheningan malam di gunung penanggungan.
Ketika mereka menatap ke arah langit. Bintangnya di sana bertabur sangat indah Beruntung rasanya hari ini tidak ada mendung. Sampailah mereka dapat pemandangan yang begitu menakjubkan itu.
"Indah banget kuasa Allah itu ya!" ujar Cak Dika sambil mendongak.
"Ho'oh!" ucap Rara sambil memegangi gelas miliknya dengan kedua tangannya. Kedua matanya juga menatap ke arah langit. Dan lagi-lagi dia duduk di samping Cak Dika.
Marsya meletakkan gelas miliknya lalu mengambil kamera Bella. Di sana dia mulai memotret tiap keindahan yang terpampang.
Satu kali dia potret. Tiga hingga lima kali. Sampai potretan yang ketujuh, ketika kamera itu mengarah ke arah depannya. Terlihat jauh di belantara itu.Seorang pemuda sedang menatapnya.
Marsya kemudian berhenti memotret. Dia melihat lagi isi dari klop fotonya. Benar, ada orang di sana. Ketika netranya mencoba melihat sendiri perihal orang itu. Sosok itu menghilang.
Marsya lalu menoleh ke arah saudaranya. Yang lain sedang bercengkrama. Berbeda dengan Bella yang saat ini berseringai membalas tatapan Marsya.
"Oke, kita bakalan summit terus ritual di atas jam berapa enaknya?" tanya Cak Dika pada semuanya.
"Aku sih terserah sampean Cak!" ujar Deni sambil mengunyah kacang polong, camilan ringan yang dia bawa dari kota sebelum naik.
"Aku Iyo, terserah sampean Cak!" ujar Rahman menimpali.
Lalu Cak Dika menatap Rachel kali ini. Di sana Rachel sedan menunduk sambil memijat keningnya.
"Kamu kenapa Dek?" tanya Cak Dika pada Rachel.
"Gak..." lirih Rachel sambil terus memijat keningnya.
"Aku gak tau, tapi ini pusing banget Cak!" ucap Rachel padanya.
Rara kemudian berdiri mendengar itu. Dia berjalan mendekati Rachel lalu menyentuh bahunya.
Di sana Rara terkejut melihat kehadiran dua orang manusia yang sedang berada di salah satu jalur setan. Sebuah jalur di gunung penanggungan ini.
Yang ketika jika mendekati puncak maka aura mistisnya akan bertambah. Rara mengerti dua orang ini sedang dalam bahaya.
__ADS_1
Setelah Rara menyentuh bahunya. Rachel mampu mendapatkan gambaran perihal apa yang akan terjadi.
"Ada dua orang mendaki! Dia tidak lewat jalur kita. Dia ada di jalur yang ada candi wayangnya. Aku lihat mereka ini bakalan ada yang tewas satu. Jadi gimana kalau kita tolong mereka?" tanya Rara menjelaskan pada mereka.
Rachel membuka kembali kedua matanya. Lalu dia menatap ke arah Cak Dika.
"Dia orang itu dalam bahaya besar Cak! Kita harus nolong mereka!" ucap Rachel pada Cak Dika.
Hal itu membuat Cak Dika berpikir. Ini bukan hal yang mudah dalam situasi ini. Sebab para leluhurnya sedang membebani tugas pada mereka.
Dan menolong nyawa seorang manusia adalah kewajiban juga.
"Apa kita harus abaikan perintah dari leluhur? Mereka bilang sudah nunggu kita di atas puncak!" ucap Cak Dika menjelaskan.
"Lah emang gak boleh ya? Nolong orang dulu?" tanya Rara padanya.
Hal itu membuat Cak Dika menghela nafas.
"Ritual ini tidak boleh ditunda, dek Ra!" jawab Cak Dika menjelaskan.
Rachel di sana nampak berpikir. Sepertinya tim mereka harus dibagi agar bisa melaksanakan keduanya.
Upacara pembersihan keris lalu menyelamatkan dua manusia yang saat ini sedang dalam bahaya.
"Mas, kita bagi dua tim! Aku bawa Rara, Bella sama Marsya sama Deni juga. Kamu bawa sisanya! Kita yang bisa kemampuan ini gak boleh biarin orang lain yang gak tau apa-apa dikecoh setan mas. Kasihan!" jelas Rachel pada Cak Dika.
Sejenak Cak Dika diam. Dia berpikir, ini keputusan yang tidak muda. Tapi, setelah Rara di sampingnya menepuk bahunya pelan dan berbisik,
"Kamu tenang aja Mas, Rara ini bakalan bantuin!" lirih Rara pada Cak Dika.
Sekilas Cak Dika menoleh ke samping ke arahnya Rara. Senyuman itu membuat Cak Dika setuju. Bukan sebab terpesona. Tapi sebab, senyuman itu memiliki makna bahwa dia sanggup menjaga saudara-saudaranya.
"Makasih ya, dek Ra!" ucap Cak Dika padanya sambil menyunggingkan senyum.
Rara hanya mengangguk. Setelah itu Cak Dika kembali menatap Saudaranya serius.
"Baiklah, kita bagi dua tim! Satu untuk pensucian keris dan satu lagi buat cari dua orang yang katanya lagi dikecoh setan! Kita berangkat jam satu! Udah sekarang bersih-bersih terus tidur!" ucap Cak Dika memberi keputusan dan menjelaskan.
Mereka mengangguk mendengar itu, kemudian sampah-sampah mulai dibersihkan. Peralatan logistik kembali dikemas.
Beberapa menit setelah area itu bersih. Mereka pun masuk ke dalam tenda masing-masing.
Dingin sekali sungguh. Hawa malam itu mengantarkan mereka terlelap mengarungi lautan mimpi.
__ADS_1