Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 141: Menuju ke Altar Pernikahan


__ADS_3

Menikah adalah ibadah yang paling panjang. Dan ibadah itulah yang saat ini sedang berusaha Laras dan Aldo kejar.


Saat ini merek di dalam satu ruang berbeda sedang dirias. Di depan rumah Laras sudah ramai sekali para tamu.


Mereka sedang ikut merayakan kebahagian Laras di sini. Namun tak jarang ada pula yang sirik berkata. Kenapa pemuda setampan Aldo harus menikahi gadis buta seperti Laras.


Namun itu tidak mematahkan hati Laras dan Aldo. Sedikit pun mereka sama sekali tidak minder atau mundur. Justru malah sebaliknya. Tetap teguh dan mewujudkannya.


saat ini mereka sedang menatap diri mereka masing-masing di depan kaca cermin. Riasan itu perlahan mulai bagus rasanya menempel menghiasi wajah Laras.


"Wah cantik sekali!" ucap Sang Perias memuji Laras.


"Terma kasih pujiannya!" ucap Laras sambil tersenyum.


Hatinya sungguh sangat bahagia kali ini. Apalagi yang kurang? Menikahi orang yang kita cintai adalah karunia terindah baginya.


Sementara itu Aldo juga nampak terlihat tampan dengan kemeja putihnya.


"Anda tampan sekali mas!" ujar periasnya Aldo.


Aldo memperhatikan dirinya di depan kaca cermin lalu tersenyum. Betul apa yang dikatakan oleh sang perias. Tampan sekali dirinya.

__ADS_1


"Wah terima kasih ya! Jika bukan atas kerja keras kalian ini. Aku tidak akan mungkin setampan ini!" ucap Aldo pada mereka.


Kedua perias itu lantas mengacungkan jempolnya.


Di luar sana tiga mobil sedang berhenti tepat di kediaman rumah Laras. Siapa lagi mereka jika bukan Gautama Family.


Para tamu menatap ke arah tiga mobil itu. Ketika orang di dalam mobil itu turun. Mereka kenal dengan betul siapa orang-orang itu.


Emak-emak penggemar horor langsung menyerbu Cak Dika beserta rombongannya. Rasanya mereka ingin meminta potret diri.


"Wah Iki lak YouTubers iku seh!" ujar salah satu emak-emak sumringah. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan memvidiokan cak dika.


(Wah ini kan YouTubers itu kan?)


(Waduh ya gini! Kalo Ndak nyewa bodyguard. Kameramennya yang susah!)


Dia berusaha menjadi tameng bagi Cak Dika dan yang lain agar para emak-emak itu tidak brutal mendekati Gautama Family.


"Pie Iki Cak?" tanya Rara pada Cak Dika di sampingnya.


(Gimana ini Cak?)

__ADS_1


Melihat rombongan emak-emak itu lantas Cak Dika hanya menatapnya malas. Dia ikut frustasi juga seketika.


Namun salah stau setan Belanda berbisik tepat di telinganya Cak Dika. Dia adalah Barend. Sat itu Barend berkata padanya.


"Cobalah bujuk orang-orang ini! Bilang, ada ular!" ucap Barend pada Cak Dika.


Ide itu seketika membuat Cak Dika sadar. Benar apa kata Barend. sepertinya dia memang harus begitu.


Lantas Cak Dika mengarahkan jemarinya ke bawah kaki emak-emak itu. Sambil membulatkan mata Cak Dika pun berteriak,


"Woi ular woi!!!" teriak Cak Dika.


Emak-emak yang histeris itu pun sontak diam serentak mereka menatap ke bawah. Kepanikan itu berganti fokus ke bawah kaki mereka.


Saat kawanan emak-emak itu mulai meregang posisinya. Cak Dika pun memberi aba-aba pada Gautama Family untuk lari masuk ke dalam rumahnya Laras.


Larinya Cak Dika beserta rombongannya membuat fokus ibu-ibu itu lantas menoleh ke arah mereka.


"Loh artis e ucul!" ujar salah satu ibu-ibu. Dia kemudian mencoba mengejar Cak Dika dan timnya.


(Ucul\= Lepas)

__ADS_1


Namun nihil. Sebab Cak Dika dan Tim lebih cepat dari pada mereka.


__ADS_2