Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 107: Kisah Gelanda dan Dua Orang Temannya


__ADS_3

"Kau tidak tau di atas sana itu puncak tertinggi? Mendaki Everest sama dengan bunuh diri, Gelanda!" ujar Papa Gelanda yang itu artinya juga adalah Papanya Melissa.


Gelanda tidak menggubris itu. Pertentangan antara dirinya dan Papanya memang sering kali terjadi. Sudah banyak sekali gunung yang Gelanda taklukan.


Keluarganya adalah seorang perantau. Mereka memang berasal dari Belanda.


Namun nasib ekonomi yang tragis membuat Papa mereka memutuskan untuk mencari dan mencari penghasilan yang lebih banyak lagi. Di negara lain.


Dan Nepal adalah negara ketiga yang mereka pijaki di sini. Di mana di dalam kota ini ada satu gunung besar dengan ketinggian 8.000 Mdpl.


Gunung Everest memiliki dua jalur pendakian utama, punggungan tenggara dari Nepal dan punggungan utara dari Tibet, serta banyak rute pendakian lainnya yang jarang dikunjungi.


Hobinya memang cukup ekstrim. Tapi dari hobi ini pula dia membuka jasa open trip sebagai guide gunung.


Gelanda anak pertama di keluarganya. Dan adiknya Melissa saat itu berumur lima belas tahun. Sedangkan Gelanda, dia menginjak umur dua puluh dua tahun saat itu.


Melissa memeluk guling kesayangannya. Dia dengan mata yang baru saja bangun hanya mampu mampu diam melihat kakak perempuannya itu berdebat dengan Papanya.


"Nak pikirkan lagi! Uang mungkin besar tapi nyawa kamu lebih berarti untuk kami!" ujar Mama Gelanda.


Gelanda yang sejak tadi diam sambil membereskan perlengkapan hikingnya. Dia kemudian berbalik menatap ke arah kedua orang tuanya. Tak lupa Gelanda memperhatikan adiknya, Melissa.


"Hmmm..." lirih Gelanda berpikir sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Obat Papa harus dibayar beberapa hari lagi! Sekolah Melissa juga masih membutuhkan biaya. Dan ya, aku ingin memperluas hobiku untuk menghasilkan uang. Puncak Everest adalah tambang emas buatku! Maka kita aku tidak pulang pun. Papa dan Mama juga akan mendapatkan uang asuransi karena kematianku! Kalian tenang saja! Aku akan pulang, aku menyayangi kalian! Dan kau, adik kecil!" ujar Gelanda tersenyum pada mereka bertiga.


Tas berat itu sudah berada di atas punggungnya. Kemudian dia maju mendekati ketiganya. Di depan mereka Gelanda pun memeluknya lama sekali.


Tinnnnn


Tinnnnn


Suara klakson mobil di luar membuat Gelanda pada akhirnya melepas pelukan mereka. Dia lalu beranjak pergi dari sana sambil melambaikan tangannya.


Hari itu Melissa melihat betapa kelamnya aura kakaknya saat itu. Tapi saat itu Melissa tidak menyadari kemampuannya. Yang dia tau, memiliki kedua mata penjelajah Ghaib itu adalah aib.


Melissa menaruh lengan baju Papanya lalu berkata,

__ADS_1


"Papa, apakah tidak apa membiarkannya pergi?" tanya Melissa pada papanya.


Sang Papa hanya mampu membuang kasar nafasnya. Memang tidak ada honor dan pendapatan lebih besar daripada milik Gelanda.


Anak sulungnya itu adalah penopang di sini. Dalam hati Papa Gelanda hanya mampu berdoa begitupun dengan Mamanya.


Papanya lalu menoleh ke arah Melissa yang tingginya lebih rendah darinya. Di sana dia tersenyum lalu mengangguk.


"Kita berdoa yang terbaik saja untuk kakak ya!" ujar Papa Gelanda.


Melissa mengangguk mendengar itu. Mereka kemudian kembali masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Saat itu tepat pukul satu malam. Dan perjalanan mobil Gelanda untuk sampai di pos pendakian Everest hanya memerlukan waktu sekitar satu jam perjalanan.


Dua orang yang ikut bersama Gelanda saat itu adalah Jacob dan Themo. Mereka berdua sudah sama seniornya dalam hal pendakian sama seperti Gelanda.


"Oksigen sudah lengkap?" tanya Gelanda pada keduanya.


Themo yang saat ini menyetir hanya mengangguk sambil berdehem. Sedangkan Jacob dia mengacungkan jempolnya.


Hati Gelanda lega rasanya mengetahui itu. Ya, pendakian menuju puncak Everest itu membutuhkan oksigen.


Satu jam berlalu. Mobil yang mereka tumpangi berlabuh tepat di depan pos perizinan. Gelanda dan dua orang temannya itu pun turun.


Para peserta pendakian sudah berdiri disana. Ya, mereka menanti Guide mereka. Tiga orang Guide yaitu Gelanda, Themo dan Jacob.


"Jika semuanya sudah siap berbarislah di depan pintu masuk gunung!" ujar Gelanda.


Setelah Jacob menyelesaikan biaya estimasi. Maka Gelanda pada saat itu membagikan peralatan pendaki pada sepuluh orang penakluk Everest itu.


Peralatan sudah dibagikan. Mereka semua berdiri tepat di depan jalur utama Everest. Dan di sanalah sebelum berangkat Gelanda mulai berdoa. Mereka hening memanjatkan doa agar selamat sampai ke atas nanti.


Dalam terpejamnya itu. Gelanda melihat sesuatu. Sesuatu yang buram di antara guyuran salju. Dia seorang perempuan yang tersenyum ke arahnya.


Lalu manusia itu berbisik pelan tepat di daun telinganya. Katanya,


'Pendaki Abadi!'

__ADS_1


Ujar suara itu yang membuat Gelanda langsung membuka kedua matanya. Jantungnya berdebar cukup kencang. Pendaki Abadi adalah julukan bagi mereka yang mati di atas gunung dan hilang.


Jasad mereka akan ada di sana. Bahkan kadang jasad mereka pun tidak ditemukan.


"Kau sudah siap?" tanya Jacob pada Gelanda.


"Huh..." lirih Gelanda lalu menoleh ke arah Jacob.


Nampak raut wajah khawatir Jacob saat itu ketika melihat Gelanda yang seperti itu tingkahnya.


"Kau kenapa?" tanya Jacob padanya.


Gelanda menggeleng cepat tak ingin membuat seluruh pendaki bahkan dua orang rekannya itu takut.


Setelah brefing dilakukan mereka pun memulai perjalanannya naik ke atas gunung Everest.


Dari pos satu sampai ke pos berikutnya masih cukup tidak menegangkan. Tapi tentu saja hawa dingin itu menguat jelas.


Semakin tinggi mereka berpijak di atasnya. Maka semakin tipis pula udara yang bisa dihirup di sana. Itulah mengapa mereka harus pintar-pintar memanfaatkan dan menghemat tabung oksigen mereka untuk sampai di atas sana.


Hingga beberapa hari berjalan Gelanda dan timnya berada di satu area. Tak jarang ketika melewati jalur itu. Banyak mayat berserakan. Dan inilah zona kematian di gunung Everest.


Di kawasan Gunung Everest yang lebih tinggi, pendaki yang menuju puncak biasanya menghabiskan banyak waktu di lokasi ini (ketinggian lebih tinggi dari 8.000 meter (26.000 ft)), dan menghadapi tantangan signifikan untuk bertahan hidup.


Suhu dapat turun ke tingkat yang sangat rendah, dan ini dapat mengakibatkan radang dingin pada bagian tubuh mana pun yang terpapar udara.


Karena suhu sangat rendah, salju membeku dengan baik di area tertentu dan kematian atau cedera karena terpeleset dan jatuh dapat terjadi.


Angin kencang di ketinggian ini juga merupakan potensi ancaman bagi pendaki.


Di zona ini ancaman pernapasan bagi pendaki adalah tekanan atmosfer yang rendah.


Tekanan atmosfer di puncak Everest kira-kira sepertiga tekanan permukaan laut atau 0,333 atmosfer standar (337 mbar), sehingga hanya tersedia sekitar sepertiga oksigen untuk bernapas.


Kekurangan oksigen, kelelahan, cuaca dingin yang ekstrem, dan bahaya pendakian semuanya berkontribusi pada jumlah kematian di gunung ini.


Orang yang terluka atau tidak dapat berjalan berada dalam masalah serius, karena penyelamatan dengan helikopter pada umumnya tidak praktis dan membawa orang tersebut dari gunung sangat berisiko.

__ADS_1


Orang yang meninggal selama pendakian biasanya ditinggal. Hingga tahun 2006, sekitar 150 jenazah belum pernah ditemukan. Tidak jarang menemukan mayat di dekat jalur pendakian standar.


Area mayat itu Gelanda dan timnya lewati. Penggunaan oksigen juga diperhitungkan dengan baik. Mereka saat itu terus berjalan.


__ADS_2