
Rumah itu bersih dan cukup terawat. Sepertinya, tiap Minggu akan ada pegawai pemerintah kemari membersihkannya.
Tanamannya begitu tertata rapi. Jika rumah ini tidak terawat. Maka mungkin, cat tembok itu pasti akan luntur. Tapi, nyatanya tidak. Semua bagus dan ini layak huni.
Saat ini, Melissa dan keluarganya sudah sampai di sini. Rumah Besar identik seperti bangunan Belanda. Elegan sekali nuansanya. Bahagia rasanya mereka mendapatkan rumah ini dalam pelelangan bano dengan harga murah.
"Wah, besar sekali rumahnya ya?" ucap Hanna, ketika suaminya itu membuka pintu rumahnya. Melissa berada di belakang mereka, sungguh aura ini mengerikan sekali.
Jika kalian adalah seorang indigo. Mungkin, kalian tidak akan ingin masuk ke dalam sini. Jika di mata manusia rumah ini bersih elegan. Maka berbeda dengan kedua mata ghaib yang dimiliki oleh Melissa.
Dalam penglihatannya, rumah ini nampak tua. Ada banyak sekali bekas darah berserakan di mana-mana. Lalu, auranya gelap sekali. Ibaratnya seperti goa tanpa penerangan.
"Sungguh beruntung kita, mendapatkan rumah beserta perantaranya dengan harga murah!" ucap Robert, seraya masuk ke dalam rumahnya.
Melissa mengikuti mereka, namun baru sampai kakinya menginjak lantai itu. Pemandangan di depannya berubah, ruang tamu yang tadinya bersih, asrih dan nyaman itu.
Berubah suram, gelap, dengan darah di sofanya. Itu terjadi lagi di sini Melissa melihat Jason menyeret jasad Stevan.
Jason meletakkannya di atas sofa, disusul dengan istri Stevan yang di letakkan di Sofa. Tak lama, Jason pergi dari sana.
Ia mengambil gerobak dorong dari basemen bawah. Tak lama, Jason memindahkan tubuh mereka berdua ke atas gerobak dorong. Ia membawanya, menuju basemen.
Pemandangan itu kembali normal sekarang, mengerikan. Itulah yang Melissa rasakan saat ini, bahkan bau anyir darah masih melekat di sini.
Melissa memaksakan kakinya masuk kedalam, meskipun hawa didalam rumah itu sangat menakutkan.
"Hei nak, kau kenapa?" tanya Robert pada anaknya, ia melihat anaknya itu seperti lemas saja.
"Kau pasti lelah, istirahatlah!" ucap Hanna, seraya memegang bahu anaknya. Melissa menggeleng, mencoba menolak tawaran itu.
Kali ini, pikirannya ingin mengikuti petunjuk itu. Ia ingin ke Basemen rumah ini. Robert hendak pergi ke atas rumah ini, namun tangannya ditahan Melissa.
Hal itu tentu saja membuat Robert menoleh ke arah Melissa. Tatapannya seakan bertanya pada anaknya itu, mengapa dia menahannya?
"Ayah, aku ingin melihat basemen rumah ini. Maukah, kau menemaniku?" ucap Melissa. Robert tersenyum mendengar itu lalu mengangguk.
Mereka berdua menuju basemen rumah itu.
"Aku akan memasukkan barang-barang kita, kalian bisa berkeliling!" ujar Hanna. Mendengar itu, Robert mengangguk.
__ADS_1
Mereka berjalan, mencoba mencari di mana basemen rumah ini. Sungguh, tiap sudut rumah ini suram.
Tak henti-hentinya Melissa berdoa, juga mencoba memanggil Roh kakaknya yang sering menghilang akhir-akhir ini.
Hingga di sini, tibalah mereka. Tepat di bawah tangga, ada sebuah pintu tertutup.
"Ah, mungkin ini!" ucap Robert, seraya mencoba membuka pintu itu. Melissa, menunggu dibalik punggung Robert. Namun ruangan itu terkunci sepertinya.
"Sepertinya, ini tidak bisa dibuka! Ayah akan mencari kunci sebentar, kau tunggu di sini ya!" ujar Robert. Mendengar itu, Melissa mengangguk. Robert pergi dari sana, meninggalkan Melissa sendiri.
Dari atas tangga, terlihat sepasang mata tajam itu menatapnya benci. Pemilik bola mata mengerikan itu, tak lain adalah Hantu Melissa.
Dari tangga, ia mulai menghilang. Kali ini, ia tepat berada di belakang pintu basemen.
"Melissa!" Gema suara itu mengejutkan Melissa, sungguh bulu kuduknya berdiri seketika. Pasalnya, suara itu dekat, tepat di hadapannya.
Melissa mencoba menetralkan perasaan takutnya itu, ia mencoba tenang.
"Melissa, kau seusiaku ketika aku mati disini!" Gema suara itu menggema lagi.
KREKKKKKKKKK
"Hihihihihihi..." Gema tawa itu menyeramkan rasanya, ditambah pemandang di hadapannya yang gelap.
"Hahahaha.... kau takut?!!!!" tanya gema suara itu, berada dekat sekali sekarang.
Tawanya terus menggema, dan di sinilah dia saat ini. Hantu Melissa, dengan kepalanya yang pecah dan darah yang mengucur, berada tepat di belakang Melissa.
Melissa tak mampu menoleh. Dia membeku kakinya kaku. Ketakutan itu menguasai dirinya. Kehadiran hantu ini sungguh suram menakutkan auranya.
Ketika sosok setan dengan kepala membusuk itu hendak meraihnya. Melissa dalam hatinya berteriak,
"GELANDAA!!!" teriak Melissa dalam batinnya, sebelum niat jahat itu terjadi.
Gelanda, muncul di hadapan hantu Melissa. Dari kejadian itu, terlihat hantu Melissa terkejut akan kehadiran Gelanda. Dua roh itu, menghilang seketika.
Hilangnya roh mereka, diiringi dengan Robert yang datang membawa perkakas.
"Kenapa bisa terbuka?" tanya Robert heran, melihat pintu basemen itu terbuka. Melissa hanya tersenyum padanya.
__ADS_1
"Ayah, aku ingin kita memeriksanya!" ucap Melissa, seraya menarik tangan Ayahnya.
Robert, meletakkan perkakasnya di lantai. Ia mengambil senter dari sana, lalu masuk ke dalam Melissa.
Tangga itu, sudah cukup lapuk sepertinya. Ada beberapa tangga bahkan hampir patah. Jaring laba-laba yang menghiasi isinya, sudah membuktikan bahwa, basemen ini tidak pernah di jamah siapapun.
Senter itu, tak sengaja mengarah ke arah dua tiang yang berdiri tegap di tengah Basemen. Melissa, menghentikan tangan Ayahnya agar tetap menyinari tiang itu.
Suara itu datang lagi, suara kebencian dari dalam diri Jason. Netranya terkejut ketika, melihat api itu membakar tiang.
Di sana, terlihat Stevan dan Istrinya dibakar. Terlihat, Jason yang duduk dihadapan mereka seraya meneguk minuman keras. Sungguh gila Pria ini, tindakannya bejat dan sangat tidak manusiawi.
Pemandangan itu hilang sekejap, Melissa ambruk, ia memegang kepalanya yang pusing itu. Robert, terkejut melihat anaknya yang jatuh itu.
"Melissa, ada apa?" tanya Robert, Melissa hanya menggeleng. Dari luar basemen, terdengar suara teriakkan Hanna.
Itu membuat Robert dan Melissa khawatir. Segera Robert menggendong anaknya itu, kembali ke atas.
Suara Hanna, berasal dari ruangan di atas. Robert mempercepat langkahnya kesana. Tepat ketika mereka sampai di sana. Robert terkejut melihat istrinya itu duduk meringkuk sambil menangis di sudut ruangan.
Robert menurunkan anaknya itu, lalu menghampiri istrinya. Melissa, memperhatikan sebuah kain putih di atas meja. Hanna yang masih menangis itu menunjuk, tepat pada kain itu.
"Ada apa?" tanya Robert, Hanna mencengkram baju suaminya itu seraya masih menangis.
"Melissa!!!" pekiknya, seraya menatap takut mata suaminya.
Melissa mendekati kain itu, lalu menariknya. Ia terkejut, ketika mendapati gambar dirinya ada disini. Namun, mengapa dirinya berada di kursi roda? Melissa, mengalihkan pandangannya ke arah orang tuanya.
"Ada apa dengan Melissa?" tanya Robert lagi.
"Aku melihat, potongan kepala anak kita dalam kain itu!" ujar Hanna masih dengan tangisannya.
Terkejut dengan apa yang Hanna katakan, Robert memeluk istrinya menenangkannya.
"Anak kita, baik-baik saja Hanna! Kau tenang saja!" ucap Robert mencoba menenangkan istrinya.
Hanna masih histeris dalam dekapan suaminya. Apa yang dia lihat tadi sungguh tampak nyata. Di sana, Melissa melihat lagi, cipratan darah di atas ranjang.
Hanya dia yang bisa melihat itu. Di sini, ia ingat momen dalam perjalanan astralnya. Tentang kamar ini.
__ADS_1