Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 34: Dari dalam Kain Kafan 6 (Mencari jalan keluar)


__ADS_3

Mereka berenam terus saja berjalan menyusuri kabut yang mengukung mereka. Cak Dika saat ini berada di tengah barisan. Entah mengapa tiap kali berjalan tenaganya seakan dikuras.


Makhluk besar itu sepertinya bukan anggota pasukan ghaib biasa. Dia hebat bisa membuat Cak Dika tidak mengenali auranya saat menjelma menjadi seorang wanita paruh baya.


Lagi, Cak Dika berhenti saat ini sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia membungkuk, terbatuk-batuk.


"Cak, kamu kenapa?!" tanya Bella selaku adik kandungnya yang mulai khawatir pada Masnya.


"Hoekkk..." jawaban dari pertanyaan itu adalah darah hasil muntahan dari Cak Dika.


Melihat saudaranya yang semakin pucat dan lemah. Rachel pun mendekatinya. Lalu di sana dia bersimpuh memperhatikan Cak Dika yang masih menunduk menahan sakit di dalam perutnya.


"Cak, serahin jimatnya di aku!" ucap Rachel pada Cak Dika.


"Bercanda ya? Wong kamu aja kemampuannya masih belum sejauh itu. Kalau kamu gak bisa nahan kekuatannya. Kamu akan dilahap!" jelas Cak Dika padanya.


Rachel menyentuh bahu Cak Dika lalu dia tersenyum. Wajah manisnya itu menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang cukup meyakinkan Cak Dika.


"Aku bisa, kamu tenang aja! Lagian, Rachel ini banyak pasukannya! Udah kamu di sini aja istirahat dulu. Masalah ini, biar aku sendiri yang berangkat!" jelas Rachel. Menatap penuh pada kedua mata Cak Dika.


Di sana Cak Dika tau satu hal bahwa sosok Nyai Ratu perlahan mulai mengambil alih tubuh Rachel. Yang artinya adalah, bukan Rachel saja yang berbicara saat ini. Tapi juga Nyai Ratu.


Maung, kamu tenang saja di sini, Le!. Ucap suara Ratu masuk melalui ilmu batin Cak Dika.


Cak Dika lalu mengangguk. Dia memberikan jimat kain kafan itu pada Rachel. Rachel menerimanya, setelah jimat sudah didapat. Barulah Rachel berdiri sekarang.


"Cak Dika memang lebih tau perihal Alam Sebelah daripada kita. Tapi Nyai Ratu itu maskotnya!" ujar Rachel yang saat ini berdiri membelakangi saudara-saudaranya.


Mereka menatap punggung tubuh Rachel yang berdiri. Perlahan kepalanya menunduk. Tak ada suara lagi setelah mengatakan itu.


Beberapa detik kemudian Rachel mulai mengangkat kepalanya lagi. Dia menatap ke arah kanan. Di mana di sana kabut jelas masih menutupi area itu.


Jalannya sama sekali tidak terlihat. Putih, buram, tak ada apapun. Bahkan mereka tidak tau di mana saat ini mereka berpijak.


"Mbak, kamu kenapa?" tanya Marsya di belakang tubuh Rachel.


Namun Rachel tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya ada satu gerakan dari tangan kanannya. Tangan itu terangkat ke arah kanan.


Cak Dika yang sudah lelah itu hanya mampu memperhatikan Rachel. Kemudian Rachel perlahan mengarahkan kepalanya ke arah Saudaranya. Di sana dia tersenyum.


"Senopati lan pengikut setiaku! Meluo aku melbu nak daerah kui!" ucap Rachel.

__ADS_1


Tatapannya berubah. Bahkan senyumannya ketika mengatakan itu berubah. Di sana Rachel terlihat lebih berwibawa. Lalu caranya berbicara bak seorang Ratu.


Dialah sosok Nyai Ratu yang saat ini bersemayam dalam tubuhnya. Setelah Rachel mengatakan itu. Seluruh keluarga Gautama seperti kehilangan sesuatu dari bagian tubuh mereka.


Para khodam mereka perlahan masuk ke dalam area yang Ratu tunjuk. Mereka masuk ke dalam bersamaan.


Setelah seluruh khodam itu masuk. Rachel pun menggerakkan tangannya ke arah para saudaranya. Nyai Ratu dalam tubuhnya dengan kemampuannya sedang memberi pagar.


Sesudahnya kemudian Rachel mundur dengan posisi masih menatap ke arah saudaranya.


"Apapun yang terjadi kalian tidak boleh keluar dari pagar ini, sebelum aku kembali!" jelas sosok Nyai Ratu dalam tubuh Rachel.


Setelah berbicara Rachel pun berbalik. Dia juga ikut masuk ke arah jalan bagian kanan kabut.


"Loh, Mbak hilang Mas!" ucap Marsya panik lalu menatap ke arah Cak Dika yang semakin melemah.


Samar-samar Cak Dika memperhatikan Marsya lalu tersenyum.


"Bahkan maungku juga hilang! Senopati, bahkan pengikutnya Laras juga sama-sama hilang. Aku yang bodoh tadi makan jamuan itu. Maaf ya! Tapi sekarang segalanya tergantung pada Rachel!" jelas Cak Dika kemudian dia memilih tidur terlentang sambil menahan sakit dalam perutnya yang kian menggila.


"Kalau gitu kita berdoa aja! Semoga Rachel bisa mengatasi itu!" ujar Laras.


Yang paling Cak Dika takutkan adalah. Rachel minim pengetahuannya tentang Alam sebelah. Semoga saja kecohan setan laknat di sana tidak menyusahkan Rachel.


Cak Dika hanya berharap satu hal. Seluruh adik-adiknya di sini baik-baik saja. Melihat mereka baik-baik saja adalah kebahagiaan besar untuk Cak Dika.


Sementara di lain tempat. Dimensi yang Rachel pijaki perlahan mulai berubah. Menjadi sebuah bangunan kokoh besar menjulang.


Tiang-tiang besar dalam ruangan itu berubah menjadi emas. Seluruh bangunannya adalah emas. Lalu dari kejauhan tepatnya di ambang pintu. Nampak beberapa bayangan yang datang mengarah ke arah Rachel.


Rachel yang masih membiarkan tubuhnya diambil alih oleh Nyai Ratu pun menundukkan kepalanya. Secara samar-samar, yang tadinya hanya terlihat bayangan muncullah satu sosok berwibawa sama seperti Ratu.


Sosok itu adalah Sang Semar. Dialah pemilik dari kerajaan emas yang ada di Klampis Ireng. Sosok Semar itu menatap tepat ke arah Nyai Ratu.


"Ada perlu apa kamu mencariku?" tanya Sang Semar kepada Nyai Ratu yang masih berada di dalam tubuh Rachel.


Sang Ratu memberi hormatnya. Lalu dengan masih menunduk dia mengatakan,


"Maaf, jika kehadiranku beserta para cucuku membuat Anda terganggu. Tapi, kami termasuk aku sedang membutuhkan bantuanmu. Wahai, sang Semar!" ucap Nyai Ratu.


Sang Semar nampak di sana mengangguk. Itu seperti halnya sebuah kode. Bahwasannya Sang Semar menyetujui perihal apa yang akan Nyai Ratu katakan.

__ADS_1


"Apa yang bisa kubantu untukmu?" tanya Sang Semar pada Nyai Ratu.


"Ada bangsa Jin, yang menyerupai siluman. Dia mengecoh seorang manusia yang datang kemari ingin kekayaan. Dia menyerupai dirimu saat itu! Lalu dia memberi satu jimat padanya. Hasilnya, manusia itu diberi kekayaan. Tapi, dia mati! Dan Jin itu, saat ini dia mengincar nyawa kedua anak dari sang peminta pesugihan. Dia tidak berhak atas anak-anak itu! Sebab yang membuat perjanjian adalah Bapaknya, bukan anaknya!" jelas Nyai Ratu lagi.


Sang Semar yang murka pun memerintahkan beberapa pasukannya mencari keberadaan jin siluman yang dimaksud oleh Nyai Ratu.


"Lalu, kenapa kau tidak segera pergi dari sini? Tubuh manusia anak ini tidak boleh berada di dalam wilayah alam sebelah!" jelas Semar lalu memandangi tubuh Rachel dari bawah ke atas.


"Kami dijebak oleh jin itu! Senopatiku, Maung milikku, dan pengikut setiaku. Datang kemari untuk mengembalikan ini di wilayahmu! Tapi makhluk itu, membuat maung tuganganku tumbang. Jadi jika bisa, maka tolong kembalikan para cucuku!" ujar Nyai Ratu.


Sang Semar mengangguk mendengar itu.


"Kalian hanya bisa kembali jika jin itu ditangkap lalu dibawa kemari, tepat di hadapan kakiku!" ujar Sang Semar.


Mendengar hal itu, Sang nyai Ratu memerintahkan para pasukannya untuk ikut serta bergabung bersama pasukan Sang Semar.


Saat ini, mereka hanya bisa menunggu sosok itu ditangkap. Pertarungan antar jin itu cepat. Pada akhirnya para pasukan mereka berhasil membawa sosok setan itu.


Ketika dia ditangkap hanya ada satu sorotan mata tajam untuk Rachel. Rachel yang masih diambil alih tubuhnya hanya mampu membalas itu dengan senyuman.


"Sekarang, kembalikan kami!" ujar Nyai Ratu.


"Beraninya kamu memberi pesugihan pada manusia?" tanya Sang Semar.


Suara Sang Semar membuat sosok besar itu menunduk. Wajahnya ketakutan.


"Sekarang, kembalikan mereka ke tempat asal mereka!" perintah Sang Semar pada sosok besar itu.


Sosok besar itu kemudian mengangguk. Lalu dia menggerakkan tangannya, menjentikkannya lebih tepatnya.


Detik kemudian, Rachel beserta seluruh saudaranya kembali ke area stasiun. Rachel kehilangan kesadarannya saat itu juga. Beruntungnya, Bella sempat menangkap tubuhnya saat itu juga.


"Mbak, kamu gapapa?" tanya Marsya menghampiri Rachel yang dipapah oleh Bella.


Samar-samar Rachel mulai membuka matanya. Lalu dia mengacungkan satu jempolnya dan tersenyum. Tugasnya telah usai. Sekarang anak-anak dari Pak Eko sudah aman.


Di antara lautan manusia itu. Bella melihat sesuatu. Seorang lelaki, tersenyum ke arah mereka. Lantas Bella menunjuk sosok itu.


"Dia sudah bisa tersenyum!" ucap Bella sambil menunjuk ke arah sosok lelaki itu.


Seluruh saudaranya pun menatap ke arah itu. Di sana nampak Pak Eko berdiri sambil tersenyum pada mereka. Tapi itu tidak berlangsung lama. Sepasang tangan hitam menarik tubuhnya masuk ke dalam kabut putih lalu menghilang.

__ADS_1


__ADS_2