Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 98: Hanya dia yang paling tulus


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit. Thariq berteriak kesana kemari seperti orang gila saja rasanya. Rara tau dia paham, bahwa Thariq ini khawatir.


"Dokter! Suster! Tolong teman kami!" teriaknya ketika tiba di bagian reservasi.


Teriakan itu membuat para dokter juga suster di sana berlalu lalang menghampiri mereka. Segera mereka tanggap membawa Rachel masuk ke dalam ruang penanganan.


Darah segar dari gadis itu mengucur. Rachel hilang kesadaran. Thariq ketika Rachel dibawa dia masih mengikutinya. Hingga pintu UGD itu terbuka membawa Rachel masuk ke dalam.


Saat Thariq hendak ingin ikut masuk. Para dokter pun menghalanginya. Mereka menyuruh Thariq untuk tetap di luar. Agar penanganan yang dilakukan berjalan lancar.


Thariq meremas kepalanya. Dia mengacak-acak surainya. Di antara koridor yang sepi itu dia lalu bersandar di temboknya. Dia menatap ke arah langit-langit rumah sakit.


Matanya masih berair. Hatinya masih sangat jalur. Dia baru saja mengatakan bahwa dia mencintai Rachel di sini. Sungguh, Thariq tidak ingin Rachel diambil darinya.


Nasib semacam apa yang akan terjadi setelah ini dia sungguh tak tau. Tetapi hatinya tetap teguh berdoa. Meminta Tuhan agar menyelamatkan nyawa seorang gadis yang begitu dia cintai, Rachel Gautama.


Melihat Thariq yang begitu rapuh itu Rara iba begitupun dengan Bella. Mereka merasakan betapa sangat hancurnya Thariq saat ini.


Thariq yang tadinya bersandar pun tubuhnya jatuh perlahan. Dia meringkuk di sana. Sudah cukup rasanya, Rara iba sekali. Rara memilih mendekati Thariq di sini. Dia lalu juga ikut bersimpuh.


Rara menyentuh bahu Thariq dan berkata,


"Ini sudah terjadi dan kita harus tetap berdoa dan percaya bahwa Rachel akan baik-baik saja di sana!" ujar Rara mencoba menenangkan Thariq.


"Ra... Aku salah... Kenapa tadi aku tidak bisa ngelindungi dia? Ra, aku harus bilang apa sama Cak Dika nanti. Ra, aku gak mau ditinggal Rachel!" ujar Thariq mencurahkan seluruh isi hatinya.


Bella tersenyum miris mendengar itu. Dia melipat kedua tangannya lalu membuang kasar nafasnya. Sejujurnya dia pun sama takutnya seperti Thariq.


"Riq, kita punya Tuhan! Kita hanya harus berserah dan percaya padanya! Rachel pasti baik-baik aja, aku yakin itu!" ujar Bella menangkan.


Thariq menganggukkan kepalanya. Beberapa menit kemudian dari pintu masuk datang Cak Dika bersama dengan crew dan saudara lainnya.


Cak Dika nampak begitu pucat wajahnya. Nafasnya tersengal-sengal. Sepertinya dia baru saja berlarian tadi.


Dengan cukup tergesa-gesa. Cak Dika pun mempercepat langkahnya ketika kedua matanya menemukan Rara beserta Bella adiknya.

__ADS_1


"Gimana Rachel?" tanya Cak Dika sambil bola matanya menatap ke arah ruang UGD yang masih tertutup rapat.


Rara mencoba menenangkan Cak Dika dengan cara memegang kedua bahunya. Lalu Rara menuntunnya untuk duduk di sana.


Bella juga sama, dia menuntun anggota keluarganya beserta para Crew untuk duduk dan tidak panik di sini.


"Rachel di dalam, dia sedang ditangani oleh dokter!" jelas Rara pada Cak Dika.


"Ya Allah!!!" ujar Cak Dika yang saat ini ikut frustasi.


"Tenang Cak!" ujar Rara padanya.


Ucapan itu membuat Cak Dika langsung menoleh ke arah Rara.


"Adekku iku dek! Tanggung jawabku de e! Pie kok isok koyok ngunu iku. Dek, aku kudu ngomong opo Karo emak e engko?" ujar Cak Dika pada Rara.


(Adekku itu dek! Tanggung jawabku dia Gimana kok bisa seperti itu. Dek, aku harus ngomong apa sama emaknya nanti?)


Rara paham betapa kalutnya hari Cak Dika saat ini. Dia hanya mampu mengusap punggung pemuda itu. Pemuda berkharisma yang tiga tahun lebih tua darinya. Pemuda yang beberapa kali menyita perhatiannya.


Ya, hanya itu saja yang mampu Rara katakan. Tak ada hal lain lagi kecuali itu. Dia tidak tau harus bicara apa lagi rasanya.


Posisi ini sulit dan berat bagi mereka. Di sela seluruh air mata menetes untuk Rachel. Di dalam sana gadis itu sedang berjuang untuk menemukan jalan pintas keluar dari dalam sayup alam sadar yang saat ini mengukungnya.


Di sana, tepat di alam sadarnya. Rachel berjalan menyusuri ruang-ruang putih. Dia sendirian, dia tak tau apapun di sini. Dia hanya berjalan di atas jalan tanpa ada ujung. Tidak ada apapun di sana kecuali warna putih.


Rachel lalu memeluk dirinya sendiri. Lalu dia mendongak ke atas. Tetap, di sana hanya ada warna putih. Rachel mengulurkan tangannya ke atas sana. Berharap ada sesuatu yang megapainya.


Namun, tidak ada apapun. Di sana tidak angin. Namun sejuk, netral. Rachel seperti merasa berada di tengah-tengah cuaca, tropis.


"Anakku!" satu suara di antara warna putih itu memanggilnya. Entah dari sudut mana itu.


Rachel tidak takut di sini. Dia hanya terkejut ketika suara tak dikenali itu menyapanya.


"Siapa itu?" tanya Rachel pada suara itu.

__ADS_1


Seorang lelaki tua tersenyum melihatnya dari kejauhan. Dia sudah cukup tua. Pakaiannya serba putih. Dia bersorban putih pula.


Lalu dengan langkah tanpa suara. Dia menghampiri Rachel. Ketika sudah berada di belakangnya Rachel pun merasakan ada yan menepuk pundaknya.


Saat dia menoleh dia terkejut melihat keberadaan Simbah Gautama. Rachel hendak bersimpuh sungkem di hadapan orang tua itu. Namun Simbah Gautama menahannya.


"Anakku, kamu sudah besar! Kamu sudah cukup hebat menguasai ilmumu. Aku bangga kamu menggunakan itu untuk menolong sesama. Wahai anakku, kenapa kamu berada di sini?" tanya Simbah Gautama.


Rachel memperhatikan kening simbahnya yang mengkerut itu. Seakan dia tidak percaya bahwa Rachel saat ini berada di sini.


"Simbah, apakah aku sudah mati?" tanya Rachel padanya.


Simbah Gautama menggeleng pelan mendengar itu.


"Mari aku jelaskan perihal moksa dan kematian padamu! Satu pesan singkat yang harus diingat tiap manusia yang membaca atau mendengarkannya nanti. Perihal kematian dan perjalanan manusia! Mari kita berjalan sebentar sambil mengobrol!" ujar Simbah Gautama menuntun Rachel untuk berjalan bersamanya.


"Jadi anakku!" ujar Simbah Gautama lalu menoleh ke samping. Rachel juga sama menatapnya kali ini.


"Manusia itu Pendosa. Dengan pensil dan penghapus di antara pundaknya. Keindahan semesta itu kharisma Tuhan. Megah luar biasa! Ketenangan itu, dekapan Tuhan. Lembut menerpa rasanya! Lalu bicara perihal Kematian, sebuah Moksa yang kehadirannya tidak dinanti tidak diharap! Dan kamu saat ini berada pada titik tengah. Titik di mana kamu hidup juga titik di mana kamu sedang berada dalam ambang kematian!" jelas Simbah Gautama.


"Kematian akan tetap datang pada mereka yang bernafas. Sekalipun kalian berlari! Tetapi akan tetap datang menerjang tiap nafas yang masih bergemuruh. Manusia itu, definisi sisi baik buruk dunia. Campur aduk menjadi satu, menciptakan variasi warna jiwa yang berbeda-beda ragamnya. Sudahkah nafasmu selama ini ada artinya? Manusia tidak akan pernah puas bukan? Memang selalu begitu, wajar! Jadi, apapun yang kamu miliki di alam hidup itu. Sekecil apapun itu, kamu harus mensyukurinya! Anakku, ada satu doa yang paling tulus mengalun untukmu. Itu dari dia, yang sangat menyayangimu hatinya! Lihat itu!" ujar Simbah Gautama lalu menunjuk ke depan.


Rachel terdiam ketika melihat cahaya terang menuju ke arahnya. Cahaya itu semakin mendekat. Mendekat hingga melahap tubuhnya. Ketika cahaya membutakan penglihatannya, ada satu suara yang dia dengar. Suara sebelum dia kehilangan kesadarannya. Suara itu mengatakan padanya,


"Rachel, aku mencintaimu!"


Detak jantungnya kembali. Ucapan rasa syukur dokter mulai banjir rasanya. Pada akhirnya upaya menyelamatkan Rachel itupun berhasil. Rachel kembali mendapatkan detak jantungnya saat itu.


Ketika dia mendengar kembali ucapan Thariq untuknya. Tiga jam para dokter dan perawat itu menanganinya.


Rachel sempat sadar memang. Namun operasi membutuhkan bius. Dan Rachel kembali terlelap karena bius. Tapi, kondisinya sudah baik-baik saja. Hanya tinggal pemulihan.


Para dokter dan suster pun keluar dari dalam ruang UGD. Para keluarga Rachel yang menunggu langsung saja berdiri. Mereka lalu menanyakan perihal Rachel.


Dengan wajah sumringah dokter pun memberitahu mereka bahwa Rachel saat ini sudah baik-baik saja. Berulang kali rasa syukur itu mereka panjatkan. Thariq yang sejak tadi ketakutan hanya mampu menangis haru di sana.

__ADS_1


Sang maskot sudah berhasil keluar dari ambang kematian.


__ADS_2