Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 138: Goa Pemakan Bocil


__ADS_3

Sekelompok ibu-ibu menangis di depan goa. Itu adalah salah satu goa yang menjadi tempat wisata.


Sebelumnya tidak ada hal aneh yang terjadi di dalam goa itu selama ini. Namun beberapa hari lalu dikabarkan tiga orang bocah hilang setelah masuk ke dalam.


Saat itu goa ini cukup sepi. Hanya ada tujuh orang pengunjung yang masuk ke dalam. Tiga orang di antara tujuh itu masih anak-anak. Kira-kira mereka masih SD.


Anak-anak yang malang sungguh. Sisa empat orang di mana mereka adalah komplotan pemuda yang saat ini sedang diintrogasi oleh pihak berwenang.


Mereka duduk tepat di salah satu pos kamling dekat dengan goa itu. Empat orang pemuda itu tatapannya kosong. Mereka seperti terkena mental.


"Jadi sebenarnya ada apa ini? Bisakah kalian menjelaskan pada kami? Ini sudah pencarian di hari ketiga. Tolong bantu kami untuk menemukan dalang dari hilangnya para bocah itu. Tidakkah kalian melihat para ibu itu sedang khawatir di depan goa itu?" jelas salah satu polisi.


Hari ini yang ditugaskan untuk menanyai para pemuda itu ada dua aparat. Sambil membawa berkas mereka menatap sendu ke arah empat orang pemuda yang seperti sudah tidak memiliki tanda kehidupan.


Mereka hanya bernafas. Untuk makan mereka pun tak mau. Harus dipaksa. Tiga hari ini hanya air minum dan jus saja yang masuk memenuhi nutrisi mereka.


Merasa hanya pertanyaan tak cukup. Lantas salah seorang dari mereka yang membawa berkas saat itu menyentuh kedua bahu salah satu pemuda.


"Tolong katakan pada kami! Apakah di dalam saat itu ada yang kalian lihat?" tanya polisi itu lagi pada mereka.


Namun nihil. Empat orang pemuda itu diam bisu tanpa suara. Salah seorang polisi itu sudah menghubungi Cak Dika dan timnya.


Katanya mereka adalah rombongan para cenayang muda yang sudah banyak sekali menyelesaikan kasus.


"Aku sudah memanggil para cenayang itu datang. Sepertinya Ndak lama lagi mereka bakalan sampai!" ucap salah satu polisi.


Sebut saja dua orang polisi itu Pak Toni dan Aldi. Beberapa saat setelah perbincangan itu. Nampak tiga mobil mengarah ke arah tempat mereka berada dan berhenti.


Ketika mobil itu berhenti. Pintunya pun mulai dibuka dan itulah mereka. Cak Dika beserta rombongannya.


Butuh perjuangan yang ekstra bagi mereka untuk datang kemari. Cak Dika beserta saudaranya yang sedikit letih itu berjalan ke arah Pak Toni dan Pak Aldi.


"Jadi Pak, apa masalah yang katanya genting itu?" tanya Cak Dika pada Pak Toni dan Aldi ketika mereka sampai tepat di hadapan mereka.

__ADS_1


Lantas Pak Toni menunjuk ke arah goa yang sudah ditutup dengan garis polisi itu. Cak Dika mengikuti arah tunjuk jari Pak Toni.


"Wih... Berat ini!" ucap Cak Dika berseringai ketika kedua matanya menangkap wujud goa itu di mana di dalamnya terdapat sekumpulan kolong Wewe.


"Berat Lapo Cak?" tanya Rahman pada Cak Dika dia tidak paham.


Rachel juga menatap goa itu beserta yang lainnya. Benar, goa itu adalah markasnya kolong Wewe.


"Mereka sepertinya ketakutan!" ujar Rara memperhatikan empat orang pemuda yang terduduk di pos itu dengan tatapan kosongnya.


Bella dan Marsya menengok ke arah empat orang pemuda itu. Benar sekali, empat orang pemuda itu pucat pasih.


"Ya... gini ini hal ghaib! Kadang jika gak pernah lihat mereka. Tiba-tiba lihat wujud mereka. Bakalan syok trauma! Contohnya Yo kayak gini ini!" ucap Marsya menimpali.


"Jadi ini kita harus apa?" tanya Pak Aldi dan Toni bersamaan.


Mereka pun lantas tersenyum. Sejenak mereka saling tatap dan tersenyum. Lalu mereka kembali menatap ke arah Pak Aldi dan Toni.


"Tenang saja pak! Kami akan bantu sebisanya!" ujar Rachel mencoba menenangkan.


Ketika Cak Dika, Rachel, Thariq dan Marsya sampai tepat di hadapan goa itu. Kedua mata Thariq mulai berdenyut. Dia mendapatkan penglihatan perihal sosok manusia setengah ular yang ada dalam goa ini.


"Ini... Pengikutnya Nyi Blorong!" ucap Thariq.


"Pengikut?" tanya Cak Dika padanya.


"Mungkin dia ini salah satu pasukannya!" ucap Rachel menimpali.


"Kita meraga Sukma opo masuk secara fisik, Cak?" tanya Rachel pada Cak Dika di sampingnya.


Dia tidak menoleh. Kedua matanya masih fokus menatap ke depan ke arah goa itu.


"Kamu sama Thariq di sini aja! Kamu meraga Sukma cari sosok manusia setengah ular itu. Bicara padanya, tanyakan ke mana perginya tiga bocah yang hilang itu! Thariq bantu Rachel. Aku yang masuk ke dalam!" perintah Cak Dika membagi tugas.

__ADS_1


Thariq dan Rachel lantas mengangguk. Cak Dika mulai masuk ke dalam. Bersamaan dengan itu Rachel duduk lalu memejamkan kedua matanya.


Alam sebelah mulai menyapanya. Dan di sanalah dia saat ini. Kegelapan yang akan tetap gelap.


Bangunan pos kamling persawahan yang ada di antara goa itu sekejap berubah. Bangunan itu tergantikan oleh belantara rimbun dengan pohon-pohon tinggi.


"Arghhhhhhhh!!!" teriak satu sosok pada Rachel.


Sosok itu berteriak dari arah belakang. Ketika Rachel berbalik. Rachel terkejut mendapati tubuh kerdil berwarna hijau.


Di atas kepalanya terdapat sepasang tanduk. Sosok itu berekor. Bercakar panjang. Sosok itu saat ini posisinya menatap lekat ke arah Rachel.


"Kenapa kau kemari manusia?" tanya sosok itu pada Rachel.


Walaupun kerdil tetapi suaranya berat seperti orang dewasa. Rachel mencoba menenangkan dirinya. Dia mencoba netral walaupun dirinya cukup syok menatap ke arah sosok itu.


"Aku kemari untuk bertanya padamu!" ucap Rachel padanya.


Sosok itu nampak menarik sudut bibirnya dan tersenyum. Entah apa arti dari senyuman itu untuk Rachel.


"Aku paham perihal datangmu kemari wahai anak manusia!" ucap sosok itu pada Rachel. Wajahnya masih tersenyum pada Rachel saat ini.


Bukannya malah tampan justru senyuman itu terlihat begitu mengerikan. Bagaimana tidak? Itu giginya taring semua.


"Kau pasti mencari Nyai kami bukan?" tanya sosok itu pada Rachel.


Rachel mengangguk dia kemudian berkata,


"Ya, aku sedang mencari sosok manusia bertubuh ular yang mendiami goa ini! Apakah kamu tau di mana dia? Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya!" ucap Rachel menjelaskan.


Sosok itu diam beberapa saat. Namun tiba-tiba tubuhnya berubah membesar. Itu disaksikan langsung oleh Rachel dan dia cukup syok.


Kira-kira tingginya sekitar tiga meter. Dan dengan wujud itu dia menatap benci ke arah Rachel yang masih berdiri di bawahnya sambil mengahadapnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengkhianati, Sang Nyai! Jika kamu ingin bertemu dengannya. Maka hadapilah aku!" ujar sosok itu pada Rachel.


__ADS_2