Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 57: Kembalikan Sandi!


__ADS_3

Ke bawah adalah alasan untuk menemukan Sandi. Jika turun kemari maka kalian harus memakai perlengkapan seperti senter juga sepatu boot. Sebab di bawah masih ada genangan air.


Terlihat sejak tadi Rachel sudah menunjukkan gerak-gerik yang aneh. Dari pertama masuk hingga di pertengahan jalan dia terus saja memegangi dadanya.


Rachel yang berdiri membelakangi Thariq sejak tadi nafasnya terengah-engah.


Ruang bawah tanah itu seakan mengukung mengapit tubuhnya saat ini. Keringat dingin bercucuran. Bukan sebab karena dia takut. Tapi, ini panas sekali. Bak masuk di dalam oven.


Dan sepertinya hanya dia saja yang merasakan aura panas itu sendirian. Cak Dika, Thariq, Deni dan Mas'ud sama sekali tidak merasakannya.


Rachel yang sudah cukup tersiksa, memutuskan untuk berhenti lalu menunduk. Dia memegangi dadanya yang cukup sesak.


Thariq tentu saja juga ikut berhenti. Melihat Rachel yang seperti itu, baik Thariq dan Kameramen meminta untuk Cak Dika yang berada di depan berhenti.


"Cak mandek o, Cak! Adekmu ki loro loh!" ujar Thariq pada Cak Dika di depan.


(Cak berhenti, Cak! Adekmu ini sakit loh!)


Mendengar itu Cak Dika pun berhenti lalu berbalik ke belakang. Benar, Rachel di sana sedang kesakitan.


"Loh, Dek! Kamu kenapa?" tanya Cak Dika khawatir pada Rachel lalu menghampirinya.


Rachel mendongak ketika Cak Dika berada tepat di hadapannya. Dia menahan sesuatu yang saat ini sedang menusuk-nusuk dada kirinya. Tubuhnya panas separuh.


Susah payah, Rachel mencoba melawan apa yang hendak masuk ke dalam dirinya. Ini bukan aura dari pribumi. Ini jahat dan ini sepertinya adalah setan orang asing. Para penjajah keji yang menyiksa pribumi terus menerus tanpa ampun.


Tangan kiri Rachel mencapai bahu Cak Dika. Khodam tiga Maung tunggangan Nyai itu muncul seketika di belakang tubuh Cak Dika.


Suara auman Maung itu menggelora dan hanya mereka saja yang mendengarnya. Nyai Ratu, entah dimana dia saat ini sampai tidak bersama Rachel.


Sekejap setelah Auman seluruh Maung itu terdengar. Rachel, jatuh bersimpuh jika saja tubuhnya tidak ditopang oleh Thariq yang ada di belakangnya.


"Uhhh..." ringis Rachel lemas.


Itu tidak berakhir di sana. Setelah sosok bangsat itu pergi. Rachel kembali mendapatkan gambaran. Perihal Nyai Ratu yang sedang mendekati area sumur.


Sebuah sumur yang konon katanya akan bersuara pada malam-malam tertentu. Sumur itu sakral di sini. Dan di sana Rachel melihat para penjajah baik Jepang ataupun Belanda berdiri menghadap ke arah Nyai Ratu saat ini.


Mereka menatapnya benci. Kehadiran orang inlander seperti Nyai Ratu di sini membuat mereka murka. Sebab mereka tau, bahwa kedatangan Gautama Family ini adalah untuk mencari keberadaan dari Sandi.


"Nyai..." lirih Rachel pada Cak Dika.


Thariq membiarkan Rachel bersimpuh. Dia juga bersimpuh lalu mengusap lembut kepala Rachel yang menunduk.


Thariq memijat tengkuk itu. Sedangkan Rachel dia masih menunduk sambil memperjelas apa yang dia lihat melalui kemampuannya.


"Hel, kalau kamu lelah jalan! Aku gendong kamu sekarang. Ayok!" ucap Thariq pada Rachel.


"Iya... Sebentar ya!" lirih Rachel lemah.


Cak Dika benar-benar dibuat bingung kali ini. Tidak biasanya adiknya yang memiliki khodam terkuat itu tumbang.


Lantas Cak Dika memperhatikan sekeliling. Sejak tadi memang aura di sini sangat kuat dan gelap. Ini lebih gelap daripada aura di gunung Arjuno.


Sejak tadi memang rombongan tubuh astral penjajah dahulu. Berlalu lalang menabrak mereka. Entah mereka akan kemana. Tapi para khodam pada saat masuk ke mari. Mereka saling bentrok energinya.


"Nyai, Ratu! Dia berada di depan sumur tua. Dia sedang berdiri di depan para penjajah yang jahat itu!" ujar Rachel pada menjelaskan.


Thariq yang merasa kasihan pun segera membantu Rachel berdiri kembali. Hal itu tentu dibantu oleh Deni.


Thariq berdiri di depan Rachel memunggunginya. Lalu dia merendahkan tubuhnya, supaya Rachel bisa digendongnya.


"Naik!" ujar Thariq padanya.

__ADS_1


Rachel mengangguk, dia pun menjatuhkan tubuhnya tepat di atas punggung Thariq. Saat itu juga Rachel digendong oleh Thariq.


Ketika Rachel sudah berada tepat di atas punggung Thariq. Dari depan mereka terdengar suara langkah kaki.


Mereka hanya menatap ke arah sumber suara itu. Suaranya tepat di ujung lorong sana. Baik Rachel, Deni, Mas'ud dan Cak Dika langsung mengarahkan senter mereka ke arah sumber suara itu.


Kejadiannya hampir mirip seperti saat ketika Sandi akan hilang saat itu. Melihat itu, Cak Dika pun mundur selangkah. Hal itu membuat Thariq heran begitupun dengan Rachel.


"Semuanya, pegangan tangan!" ucap Cak Dika sambil mengarahkan tangan kanannya pada rombongannya di belakang.


Melihat itu Rachel pun menyapa uluran tangan itu menggenggamnya. Deni membalas uluran tangan Rachel, begitupun Mas'ud dia membalas uluran tangan dari Deni.


Hingga ketika suara langkah kaki itu semakin jelas dan tepat berada di depan mereka suaranya. Sosok dari pemilik langkah kaki itu masih tidak terlihat. Hanya suara saja.


Mereka mendengar ada lebih dari satu suara di sana. Tiga jenis suara yang berbeda mengitari mereka. Orang-orang itu berbahasa asing. Bahasa Belanda.


Mereka diam mencoba mencermati dengan baik tiap suara yang berkata itu. Sekalipun mereka tidak mengetahui maksudnya, tapi mereka tetap diam.


**Dangggggg


Dangggggg


Dangggggg**


Suara seperti besi dipukul membuat mereka semua terkejut bukan main. Pukulan itu tiga kali dan mendekat dari ujung lorong ke arah mereka.


Sampai ketika hembusan angin yang entah datang darimana asalnya menerpa wajah mereka. Membuat Rachel seketika kehilangan kesadarannya.


Kepala juga genggaman tangannya yang melemas membuat Thariq terkejut. Dia sontak berteriak sambil melirik ke arah kepala Rachel yang sudah bertengger lemah di bahunya.


"Rachel, hel!" panggil Thariq berulang kali padanya namun tetap tak ada jawaban.


Cak Dika diam sejenak sambil memperhatikan Rachel yang sudah hilang kesadarannya. Cak Dika lalu melepaskan genggaman tangannya. Dia mendekati Rachel lalu menyentuh kepalanya.


Namun suaranya masih didengar oleh Thariq, Rahman dan Mas'ud.


Itu bukan ulah dari Rachel untuk menyebrang ke alam sebelah. Tapi itu, tarikan dari khodamnya yaitu Nyai Ratu.


Setibanya sukmanya di alam sana. Dia menemukan dirinya berdiri tepat di hadapan lelaki besar tinggi memakai seragam militer. Mereka membawa senapan.


Wajah-wajah mereka pucat pasih, merengut menatap benci pada Rachel. Aneh sungguh, hal itu membuat Rachel lalu menoleh ke samping. Di sanalah, dia menemukan Nyai Ratu yang sedang berdiri di sampingnya.


"Inlander, kalian berani masuk kemari?" ujar salah satu dari Bule setan itu.


"Jawadwipa ini bukan milik kalian! Kami pribumi yang punya, bukan kalian!" ucap Nyai Ratu pada komplotan setan Belanda.


Mereka memicingkan mata mendengar apa yang Nyai Ratu katakan. Ketika komplotan setan Belanda itu mengangkat senjata lalu menodongkannya ke arah Nyai Ratu.


Hal itu membuat Nyai Ratu berseringai. Dia lalu memunculkan beberapa anak buahnya yang membuat para komplotan setan Belanda itu ciut seketika.


Perlahan komplotan setan itu memudar dan pergi. Meninggalkan satu benda bercahaya di sana. Satu benda itu membuat Rachel menyipitkan matanya mencoba mencari tau apakah itu?


"Nduk, ambil itu! Selamatkan anak gadis itu. Di sini, kamu harus mengikuti arah cahaya merah!" ujar Nyai Ratu pada Rachel.


Rachel mengerti, dia mengangguk lalu menghampiri benda yang bercahaya itu. Ketika Rachel memungutnya itu adalah sebuah kunci.


Suara Geraman Maung dari sisi kanan kegelapan membuat Rachel menoleh. Ada satu sumber cahaya berwarna merah yang menampakkan bayangan Maung.


Aura Maung ini, Rachel tau dan kenal. Ini adalah salah satu Senopatinya Nyai Ratu. Rachel berjalan masuk ke dalam cahaya merah itu.


Sepanjang penelusurannya, Rachel banyak melihat sosok-sosok Noni Belanda di sini. Hingga cahaya merah itu menuntunnya ke arah satu pintu kayu.


Ada lubang kunci di sana. Rachel tanpa berpikir panjang lagi langsung mencoba memasukkan. Satu kunci yang dia dapatkan tadi.

__ADS_1


Ketika kunci sudah dimasukkan, pintu itu Rachel buka perlahan. Terlihat di sana Sandi, sedang meringkuk.


"Sandi!" panggil Rachel.


Tubuh yang bergetar karena takut itu perlahan mendongak. Sandi lalu mundur ke belakang. Dia takut sekali pada Rachel saat ini.


"Jangan sakiti aku tolong! Kembalikan aku!" ucap Sandi padanya.


Rachel menatapnya miris kali ini. Dia lalu berjalan ke arah Sandi lalu mengulurkan tangannya.


"Sandi, berikan tanganmu! Kamu mau pulang, kalau gitu ayo!" ucap Rachel padanya.


Mata Sandi yang berair karena air mata menatap penuh ke arah Rachel. Tubuhnya lelah sekali rasanya. Hal itu membuat hatinya pasrah menerima uluran tangan Rachel.


Setelah Sandi berdiri, Rachel hendak berjalan. Namun di depannya tiba-tiba saja pemandangannya berubah. Mereka kembali berada di halaman masuk Lawang Sewu.


Sandi terkejut melihat itu, berbeda dengan Rachel yang sudah biasa.


"Di mana tempat sebelum bawah tanah yang kamu kunjungi, San?" tanya Rachel padanya.


Sandi terkejut, dari kemudian mencoba mengingat tempat yang dia kunjungi sebelum bawah tanah.


"Sumur, depan!" jawab Sandi.


Rachel kemudian menarik tangannya untuk segera bergegas. Hingga ketika tiba di depan pintu kayu. Rachel menendang pintunya. Di sanalah sumur tua itu.


Sandi ditarik oleh Rachel. Hingga ketika Sandi sudah berhadapan tepat dengan Rachel.


Dengan tubuh yang membelakangi sumur itu, satu dorongan dari Rachel menjatuhkan tubuh Sandi masuk ke dalam sumur itu.


Kemudian Rachel memejamkan kedua matanya. Detik kemudian kesadarannya pun kembali.


Hal itu bersamaan dengan rombongan Rara yang berdiri dekat dengan sumur tua. Mereka mendengar suara sesuatu jatuh dari dalam sumur tua itu.


Awalnya mereka diam mengacuhkannya. Tapi, lama-lama pintu kayu itu dipukul-pukul keras. Membuat Rara bersama dengan Bella berlari ke arah pintu itu.


"Ada orang di dalam?" tanya Rara berteriak.


Ada suara tangisan di sana, sejenak membuat mereka terdiam.


"Tolong aku, aku sandi!" jawab suara itu yang membuat Rara dan Bella membulatkan mata.


Dari tempatnya kemudian Rara memanggil Deni dan Aldo untuk mendekat. Rara menyuruh mereka untuk mendobrak pintu itu.


Ketika pintu terbuka, baik Siska dan Leo mereka lega dan menangis. Mereka masuk ke dalam lalu membantu Sandi keluar dari dalam sana.


"Kamu dari mana San!!!" ucap Siska dan Leo sambil memeluk Sandi.


"Aku gak tau, tiba-tiba aku hilang dan disekap!" ujar Sandi menjelaskan.


Rara dan yang lain menatap senang ke arah mereka. Beruntung rasanya tidak terjadi apa-apa pada Sandi.


Saat semuanya masih dalam tangis haru. Terlihat Cak Dika yang datang bersama dengan Thariq. Mereka sedang membantu Rachel berjalan.


"Alhamdulillah selesai!" ucap Cak Dika.


Suara itu membuat Rara dan Bella menoleh begitupun dengan Aldo dan Laras.


"Wah, mbak! Korban perang!" ujar Marsya bercanda sambil menatap Rachel yang dipapah.


"Hahahaha... Iya nih, aku pingin tahu tempe bacem rasanya! Ayok makan yok!" ucap Rachel menjawab candaan Marsya.


Rara terkekeh mendengar itu. Misi kali ini selesai. Sandi berhasil ditemukan dan mereka bisa menghirup nafas lega sejenak sambil menikmati kota lama, Semarang, Jawa Tengah.

__ADS_1


__ADS_2