Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 47: Hotel Berhantu


__ADS_3

Sebuah bangunan ada sejarahnya. Dan tiap tragedi pasti ada penyebabnya. Setelah kunjungan mereka dari Desa Karang Kenik. Setelah mereka usai mengembalikan Pak Joko saat itu.


Gautama Family memilih untuk tinggal lebih lama lagi di Tapal kuda. Dari hotel satu ke hotel lainnya. Saat ini, di sini adalah hotel ketiga mereka.


Mereka berpindah-pindah dari hotel satu ke hotel lain sebab satu alasan. Barangkali di sana ada cerita mistis. Namun nyatanya hantu-hantu yang mereka temui di dalam hotel adalah hantu biasa.


Hantu pasaran yang bahkan tidak menarik dibahas. Salah seorang resepsionis memperhatikan rombongan Cak Dika yang sedang memesan kamar.


Ada satu orang yang menarik perhatian resepsionis itu. Orang itu adalah Rachel Gautama. Sebut saja resepsionis ini adalah Dion.


Setelah sewa kamar malam itu dibayar. Dion maju mendekati rombongan itu. Dia berhenti tepat di hadapan Rachel yang sedang duduk menunggu.


Rachel yang menunduk memainkan ponselnya terkejut melihat keberadaan kaki yang berhenti di depannya. Rachel mendongak menatap ke arah pemilik kaki itu. Sambil menaikkan salah satu alisnya dia berkata,


"Ada apa Mas?" tanya Rachel padanya.


Dion hanya menggeleng sambil tetap tersenyum melihat itu. Lalu dia meraih dua koper yang berada di sampingnya Rachel.


"Saya bantu bawa kopernya mbak!" ucap Dion padanya.


Setelah dia koper itu ditenteng. Ketika berbalik memunggungi Rachel. Di sana Rachel melihat sesuatu. Ada energi negatif yang menempel pada Dion.


Setelah melihat itu Rachel pun mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tidak ada yang menakutkan di sini. Memang hotelnya tidak cukup ramai. Bangunannya juga kuno.


"Mbak lihat apa?" tanya Marsya menghampiri Rachel di sana.


"Huh..." lirih Rachel lalu menoleh ke arah Marsya.


"Gak ada kok! Jadi kalian pesan kamar berapa?" tanya Rachel padanya.


Pertanyaan itu lalu membuat Laras memamerkan kunci kamarnya. Mereka memesan dua kamar. Di mana kamar mereka berdiri saling berhadapan.


"Dua?" tanya Rachel pada Laras.


"Iya, kita harus hemat ya! Gajian di YouTube aja masih belum dapat. Aku juga masih belum nemuin pekerjaan siaran radio!" jawab Laras padanya.


Rachel lalu mengangguk mendengar itu. Dia memaklumi apa yang Laras katakan.


"Yaudah, ayo istirahat di kamar masing-masing aja dulu yuk! Aku sekalian mau cari destinasi baru buat kalian! Alhamdulillah yang kemaren udah ada banyak yang lihat!" jelas Rahman bersemangat berjalan mendahului mereka.


"Jangan buru-buru, Man! Jatuh kau nanti!" ucap Cak Dika memperingatkan.


"Tenang wae Cak!" ucapnya senang lalu menaiki anak tangga.


Perlu kalian ketahui, hotel ini tidak memiliki akses lift. Hotel ini sederhana sekali dengan biayanya yang cukup murah.


Terdapat tujuh lantai di hotel ini. Dan kamar mereka terletak di lantai empat. Buku resepsionis tadi mencatat ada sekitar tiga belas orang yang menginap di sini. Itu sudah termasuk dengan rombongannya mereka.


Ketika kaki mereka sampai tepat di lantai tiga. Marsya lagi-lagi kesurupan. Dia berhenti lalu tertawa di antara lorong yang tiap sisinya adalah kamar. Di sana tidak ada siapapun kecuali rombongannya Cak Dika.


"Hihihihihi...." sosok di dalam tubuh Marsya mulai tertawa. Dia adalah mbak Kunti.


Bella dan Rachel menghela nafas melihat itu. Di mana pun tempatnya. Marsya selalu saja hobi kesurupan.


Mereka berdua lalu mendekat ke arah Marsya yang saat ini berada tepat di belakang mereka bersama Aldo dan Laras.


"Maaf, tolong jangan menganggu kami! Kami di sini tidak ada maksud jelek. Kami di sini ingin istirahat, dan tolong ya biarkan kami bebas!" jelas Rachel padanya.


Sambil mengusap-usap punggungnya Marsya di sana dia juga berdoa. Berusaha melepaskan setan itu dari tubuh adiknya.


"Tolong saya, mbak..." lirih sosok itu dalam tubuh Marsya.


Dia menangis setelah tertawa. Kuntilanak memang random. Sepertinya mereka memang diciptakan memiliki sifat moody.


"Tolong apa?" tanya Bella menimpali.


Kuntilanak itu tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah ujung lorong depan mereka. Jauh di sana adalah tembok. Tidak ada apapun. Dan jauh di sana ketika perhatian mereka tertuju. Mereka juga tidak melihat kehadiran siapapun.


Cak Dika dan Rara kembali menoleh ke arah Marsya. Sosok kuntilanak itu pun menghilang. Marsya sudah kembali.


"Bau Danur!" ucap Laras memejamkan kedua matanya. Kepalanya pusing sekali setelah kuntilanak itu menghilang.


Rakitan gambaran mulai dia lihat di sana. Aldo di sampingnya mulai khawatir melihat kondisi Laras yang sedang menahan sakit.


"Ras, kamu kenapa?" tanya Aldo padanya.


Sambil mencengkram lengan Aldo. Gambaran samar-samar itu terakhir menjadi sesuatu. Dia mendengar suara teriakan berulangkali. Dia mendengar suara kokangan senjata.


Tidak biasanya gambaran yang Laras dapatkan akan setidak jelas ini. Biasanya segala gambaran, segala suara dia pasti tau.


Rara mendekati Laras kemudian. Tangannya yang tadi mencengkram Aldo, Rara tarik. Rara menggenggamnya. Dia mencoba masuk ke dalam apa yang Rara lihat saat ini.

__ADS_1


"Bau Danur?" ucap Rara sambil memperhatikan Laras yang masih memejamkan kedua matanya.


"Baju putih berdarah! Rambutnya menjuntai tinggi besar. Dia pernah dibawa kemari, oleh seseorang dengan senjata. Tahun berapa itu, aku tidak tau! Intinya, perempuan yang menangis tadi adalah salah satu dari korban!" ucap Laras pada mereka.


Gambaran tadinya tidak terlalu jelas. Tapi ketika Rara memegang tangannya. Gambaran itu perlahan mulai terakhir jelas.


Mendengar itu, Cak Dika pun berjalan dengan berani mendahului mereka ke arah ujung lorong. Seharusnya nanti di sana akan ada tangga untuk menuju ke lantai empat ruang kamar mereka.


Ketika Cak Dika sampai di sana. Tidak ada lagi tangga buat ke atas. Buntu, tidak ada apapun. Kiri kanan mereka adalah pintu.


"Loh!" pekik Marsya terkejut. Bella di sana juga terkejut melihat itu. Bagaimana bisa tidak ada tangga di sana.


Ini gila, jika memang gangguan Astra mereka dapatkan. Seharusnya sudah sejak tadi mereka merasakan keberadaan mereka.


Cak Dika lalu menatap ke depan. Ke arah satu dinding yang ada di depannya.


"Apa jimat kita lengkap?" tanya Cak Dika pada saudaranya.


Mereka terkejut mendengar itu. Jika bicara soal jimat, Marsya dan Laras sudah melepasnya dan meletakkan itu di dalam kopernya Rachel.


"Aku gak ada Cak!" ucap Marsya pada Cak Dika.


"Punyaku aku letakkan di kopernya Rachel!" jawab Laras.


Cak Dika menghela nafas panjang kemudian. Tangan Rara di sampingnya dia tarik. Lalu menempelkannya pada dinding itu.


Tangan Cak Dika yang lain lalu mengajak menggenggam tangan Laras. Kemudian dia menatap ke arah Rachel di belakangnya.


"Masuk dek! Coba periksa ada apa di dalam sana!" ucap Cak Dika pada Rachel di belakangnya.


Rachel mengangguk. Dia maju lalu memejamkan kedua matanya. Mencoba Astral Projection lagi sekarang.


Ketika Rachel berhasil masuk. Dia terkejut mendapati ada banyak peti mati di dalam sana. Di balik tembok ini ada satu ruangan gelap sekali. Tidak ada siapapun di sana kecuali lima peti besar.


Dari kejauhan dia melihat satu sosok dengan gaun putihnya. Surainya berwarna Blonde. Dia bertopi seperti noni belanda. Ya, dia Noni Belanda. Rachel yakin itu dari cara berpakaiannya.


Sosok itu mendekati Rachel. Wajahnya mungkin pucat tapi, dia tetap sangat anggun. Di depan Rachel dia memberi hormatnya.


"Inlander, kharismamu luar biasa! Kau bawa apa dari luar sana kemari? Kenapa auranya begitu besar?" tanya sosok itu pada Rachel.


Inlander adalah sebutan orang-orang Belanda terhadap pribumi dahulu.


"Maaf, jika kedatangan kami kemari mengusik kalian! Kami di sini hanya untuk istirahat dan itu tidaklah lebih. Jika memang kamu tidak terusik oleh kami, maka kami akan pergi!" ujar Rachel padanya.


Rachel mengangguk mendengar itu. Sebelum dia kembali ke tubuhnya. Rachel menatap ke arah tiga peti besar di sana. Lalu dia menunjuknya.


"Itu peti apa? Dan waktu aku masuk kemari salah seorang dari pasukanmu masuk ke dalam tubuh adikku!" jelas Rachel padanya.


Noni Belanda itu menatap ke arah tiga peti itu. Di sana air matanya jatuh. Tiga peti berisi tubuh-tubuh manusia yang dia cintai.


"Aku pernah jatuh cinta pada seorang Inlander! Dia pemilik tanah ini. Tanah ini dahulunya rumah kami. Dan kami membesarkan anak kami di sini bersama. Tahun berganti, penjajahan orang kulit kuning datang menguasai. Hari itu, Belanda dibunuhi orangnya. Karma perihal penjajahan yang kami lakukan pun terjadi. Saat itu aku dan suamiku duduk di sini pasrah. Katanya Nippon, akan segera datang membunuhku. Anak kami, kami sembunyikan di ruang bawah tanah. Setelah mereka datang, mereka membunuhku dengan dua tembakan menembus tepat kulit kepalaku. Ketika Nippon kurang ajar itu akan masuk ke dalam baseman. Kekasihku yang bernama Aji itu menahannya. Dia menahannya dan tidak memperbolehkannya masuk. Tapi Nippon tetap masuk. Ketika mereka menemukan kedua buah hatiku di dalam sini. Kedua senjata api itu, dia Rahlan tepat ke dalam dua mata mereka. Lalu ketika pelatuk ditarik, kedua anakku kehilangan matanya dan mati. Kenapa kamu harus dibunuh sekejam itu, padahal kami tidak melakukan kesalahan. Itu kesalahan orang sebelum kami!" jelas sosok Noni Belanda itu.


Rachel diam, apa yang Noni Belanda itu ceritakan terhubung dengan Rara dan Laras. Hanya ketika Rachel menemui sosok itu gambaran dari cerita itu menjadi sangat jelas.


Cak Dika di luar sana melihat kedua mata Rara dan Laras yang terpejam itu mengeluarkan air mata. Dia paham bahwa ada tragedi pilu di balik tembok ini.


.


"Saat ini suamiku bersumpah, bahwa tanah ini! Tidak boleh dipijaki oleh siapapun. Dan mereka yang berpijak kemari, akan menjadi tumbal milikku! Atau mati ketika keluar dari dalam sini! Tiap tahun, aku membutuhkan tiga belas jiwa untuk dilahap. Di dalam buku tamu, kalian termasuk daftar makananku! Mereka yang mati, akan masuk ke dalam tiga peti besar itu!" ujar Noni Belanda itu.


Lantas Rachel mundur secara perlahan. Raut wajah Noni Belanda itu perlahan berubah menjadi sangat menyeramkan. Bahkan kepalanya terjatuh saat itu juga.


Memang dia takut sekarang. Tapi, Rachel ingat bahwa keluarganya tidak akan bisa dijadikan tumbal semudah itu.


Rachel berseringai lalu dia memejamkan kedua matanya. Ketika Rachel kembali ke dalam tubuhnya. Dia pun membuka kedua matanya. Rachel menatap Cak Dika serius kali ini.


"Kita udah masuk ke dalam jebakan setan Cak!" ucap Rachel pada Cak Dika.


Cak Dika sudah tau itu begitupun dengan Laras dan Rara. Mereka saling tatap sejenak. Ketika mereka menoleh ke arah lorong. Gema suar ketukan pintu bersaut-sautan memenuhi area lorong yang sunyi. Berisik sekali sungguh.


"Demit kurang ajar kalian ya!" ucap Rachel yang saat ini dikuasai oleh Nyai Ratu.


Suara hahaha hihihi datang menyambut amarah ratu. Sosok di dalam hotel itu seakan menantang Nyai Ratu sekarang.


Rachel berjalan kembali menyusuri lorong. Satu persatu pintu kamar mulai dibukanya. Dia tidak membutuhkan kunci di sini. Kekuatan Nyai ratu itu setara hulk saja rasanya.


Dari belakang, Deni dan Rahman sejak tadi sudah merekam. Ketika Cak Dika berhenti di hadapan tembok.


"Bener-bener asuh!" murka Cak Dika ketika melihat tiap kamar yang Rachel buka tidak ada sosok setannya.


Ini sudah cukup genting. Jika sampai esok pagi mereka tidak bisa keluar dari dalam jebakan setan ini. Maka sudah dipastikan mereka akan menjadi tumbal.

__ADS_1


Marsya kembali dimasuki Senopati Cakar. Dia berlari sambil mengendus-endus bau aroma setan laknat itu. Mereka berinisiatif untuk kembali. Tapi nyatanya tangga yang seharusnya ada di sana tiba-tiba menghilang.


Kiri kanannya adalah pintu. Rachel kemudian mulai mengambil alih tubuhnya lagi. Lalu dia menghampiri Rara menariknya duduk di atas ranjang.


"Ada apa hel?" tanya Rara padanya.


"Aku butuh buyutku! Kamu mau mediasi buat dia kan?" tanya Rachel padanya.


"Buyutmu, Gautama?" tanya Rara lagi tak percaya.


Di sana Rachel pun mengangguk. Hanya dia saja yang bisa memanggil buyut dan abahnya. Sebab Rachel pemegang aura tertinggi. Dialah orang yang paling disukai Nyai Ratu sejak masih kecil.


Rara lalu mengangguk. Melihat itu Rachel pun mulai memejamkan kedua matanya.


"Abah, Buyut, kami diserang. Dan jimat kami tidak lengkap! Kalian semua ini ciptaan yang maha kuasa. Dan kalian tau perihal kebenaran. Aku Rachel Gautama di sini meminta kalian yang tau perihal tumbal menumbal. Kami tidak melakukan kesalahan, jadi tolong jika memungkinkan datanglah dan bimbing kami! Atas kuasa Tuhan, aku ingin kalian membantu kami!" ujar Rachel pada mereka.


Suara Gending Jawa mulai memenuhi kamar itu. Gendongan itu semakin keras. Tubuh Rachel dan Rara yang tadinya anteng diam. Perlahan mulai bergetar seperti orang menggigil.


"Sopo koe wani ganggu putuku? Penjajah kae, ora pantes numbalne putuku!" ujar sosok buyut Gautama ketika berhasil dipanggil masuk ke dalam tubuhnya Rara.


(Siapa kamu yang berani mengganggu cucuku? Penjajah itu, gak pantas numbalkan cucuku!)


Mendengar suara itu, baik Rachel, Laras, Bella, dan Marsya. Mereka memberi hormat padanya.


"Simbah! Kulo nyuwon Tulong!" ucap Cak Dika padanya.


Buyut Gautama hanya mengangguk mendengar itu. Dia kemudian berdiri. Lalu berjalan keluar dari dalam kamar.


Dia lalu masuk ke dalam salah satu kamar. Di mana kamar itu tadinya sudah diperiksa bahwa tidak ada siapapun di dalam sana.


Benar, di sana tidak ada siapapun. Buyut Gautama berhenti tepat d depan kamar mandi. Lalu di sana ketika tangannya menyentuh pintu itu lalu mengusap-usapnya.


Ada satu keris muncul dari dalam sana. Kerisnya kecil, Buyut Gautama lalu pergi keluar dari dalam sana. Dia menuju ke arah kamar yang tadi mereka tinggalkan.


Di sana dia duduk bersimpuh menghadap ke arah ranjang. Kembali Nyai Ratu mulai masuk lagi ke dalam tubuhnya Rachel.


Lalu disusul dengan Marsya yang dimasuki Senopati cakar. Kemudia Cak Dika yang biasanya mampu mengontrol khodam Maung ikut dirasuki oleh maungnya.


Mereka ikut duduk di belakangnya Buyut Gautama. Melihat itu Bella dan yang lain hanya mampu menggelengkan kepala. Ini jarang sekali terjadi.


"Bel, ini kenapa?" tanya Aldo khawatir memperhatikan mereka.


"Ada apa Al?" tanya Laras di sampingnya yang tidak bisa melihat.


"Aku juga gak tau, gak biasanya mereka dimasuki khodam!" ujar Bella pada Aldo.


Di sana mereka mulai melihat sesuatu. Keris kecil yang tadi besarnya hanya sehari kelingking. Perlahan mulai berubah menjadi besar. Seperti ukuran keris biasanya.


Bella dan yang lain semakin dibuat terkejut ketika keris itu melayang tepat dihadapannya Rara. Suara-suara Auman dari dalam sana mulai terdengar.


Merinding rasanya sungguh, ini benar-benar jarang sekali terjadi.


"Kalian! Kurang ajar sekali!" ujar gema suara itu.


Mereka yang dirasuki itu merapal mantra-mantra Jawa. Tak lama suara Gending Jawa mulai terdengar lagi. Bunyinya semakin keras dan keras.


"Loh api Mas!" teriak Deni sambil menunjuk ke depan ke arah ranjang yang saat ini terbakar.


Mereka tidak tau pasti apa penyebab dari terbakarnya ranjang itu.


Ketika api mulai membesar. Mereka yang tidak memiliki kemampuan jelajah alam sebelah pun pingsan. Berbeda dengan Bella dan Laras. Sekejap pemandangan itu mendadak berubah.


Mereka kembali tepat di area resepsionis. Tepat di ruang tunggu. Ajaib sekali rasanya sungguh.


Saat itu para Khodam mulai lepas. Dan jiwa-jiwa mereka sudah kembali masing-masing masuk ke dalam raga mereka.


Dari kejauhan nampak Dion terbatuk-batuk. Dia menatap benci ke arah keluarga Gautama di sana. Dada Dion sesak sekali rasanya.


Tanpa berpikir panjang, dia pun kembali menuruni anak tangga. Menuju ke arah keluarga Gautama lalu melempar koper mereka.


"Pergi kalian!" ucap Dion pada mereka.


Melihat itu Cak Dika pun tak terima. Apa-apaan itu, mendadak koper mereka dilempar begitu saja.


"Weh biasa Mas! Ada masalah apa kamu sampai lempar koper kami?" tanya Cak Dika padanya.


Dion melotot dan di sana Cak Dika bisa melihat. Bahwa orang ini sedang dirasuki. Cak Dika mendorong tubuh itu hingga terjatuh, lalu dia kembali pada saudaranya.


"Udah ayo kita pergi! Dari pada dijadikan tumbal hotel gila ini!" ujar Cak Dika lantang.


Pegawai di sana terkejut mendengar itu. Rupanya, mereka salah tangkap mangsa.

__ADS_1


Mereka yang berada di sana melakukan perjanjian dengan setan penghuni. Jika tumbal berhasil dilaksanakan. Maka mereka akan dipastikan mendapatkan kekayaan instan.


__ADS_2