
Beberapa hari setelah kejadian itu. Rahman dan Deni meng-upload vidio dan cerita mereka perihal Gunung Anjasmoro juga dua orang pendaki yang berhasil mereka temukan yaitu Richard dan Andika.
Sesampainya di basecamp waktu itu. Cak Dika beserta rombongannya disambut oleh para warga. Juga beberapa teman pendakinya Andika dan Richard.
Terlihat di sana para teman Andika dan Richard menatap mereka sendu. Cak Dika yang sudah tau semuanya perihal apa yang terjadi itu pun sempat menghampiri teman Andika dan Richard.
Di sana Cak Dika mengatakan bahwa rombongan itu egois sekali. Handphone milik Andika dan Richard adalah yang paling bagus.
Mereka meminjam handphone itu tetapi meninggalkan keduanya di bawah. Hati nurani mereka seakan mati padahal mereka tau kaki temannya sedang sakit.
Amarah Cak Dika yang memuncak itu membuat teman Andika dan Richard ciut seketika. Saat itu juga mereka menyesal merasa bersalah.
Rasanya Cak Dika muak melihat wajah mereka. Sepulangnya dari sana. Tubuh yang lemas itu bersama dengan Rachel yang juga ikut lemas pun melakukan meditasi. Demi memulihkan lagi energi mereka yang terkuras.
Sementara masa pemulihan kedua maskotnya Gautama. Rara dan Thariq berada di dapur. Begitupun dengan Bella dan Marsya. Hanya Melissa dan Rara saja perempuan yang tidak ikut masuk ke dapur.
Mereka sedang memasak sesuatu di sana. Duit hasil vidio YouTube membuat mereka semakin kaya saja tiap hari. Sungguh nikmat Tuhan memang luar biasa.
"Jadi kenapa kita masak ini?" tanya Thariq pada Rara yang sedang mengaduk kuah kecambah.
"Ya..." lirih Rara tersenyum sembari mengaduk masakannya.
"Cacak katanya suka lontong mie dan Lento! Rachel pun sama! Jadi, karena mereka yang paling capek kemaren. Kita harus kasih reward!" jawab Rara pada Thariq.
Thariq hanya menganggukkan kepalanya. Kedua tangannya sibuk menggoreng Lento. Sementara Bella dan Marsya. Mereka sedang sibuk mengupas buah-buahan.
"Maskot memang istimewa!" ujar Marsya dengan tangan yang masih sibuk.
"Iyo istimewa! Tapi mereka juga yang paling capek dan beresiko!" jawab Bella menimpali.
Dia mencoba mengingatkan pada Marsya bahwa jika ada kelebihan maka akan ada banyak kekurangan juga.
Sementara mereka yang sibuk membuat makanan di dapur. Terlihat dalam satu ruangan Cacak dan Rachel duduk bersila.
Mereka meditasi memulihkan energi mereka yang terkuras. Lantas Rachel lalu membuka matanya. Bau masakan dari dapur membuat perutnya mulai berbunyi.
Ketika kelopak mata itu terbuka sepenuhnya. Nampak Barend yang tersenyum di depannya. Di belakang sosok itu berdiri juga sosok hantu Belanda lain.
"Hallo Rachel!" sapa Barend ceria padanya.
Wajah polos itu penuh dengan maksud. Dan Rachel tau apa yang akan Barend katakan. Barend berseringai melihat wajah Rachel yang mendadak berubah tidak bersahabat padanya.
"Kamu sudah berjanji! Jadi, tepatilah janji itu. Wahai cucu Simbah Gautama yang terhormat!" ucap Barend padanya.
Rachel menghela nafas panjang. Ikat rambut sengaja dia lepas. Dia letakkan tepat di sampingnya. Rachel meraih itu lalu menguncir rambutnya.
"Yo... Baiklah, aku akan membeli gula-gula untuk kalian!" ucap Rachel pasrah sembari masih menguncir rambutnya.
"Yeay!!!" sorak Barend, Albert, Melissa dan Gelanda.
Begitu senangnya mereka ketika mendengar apa yang Rachel katakan. Tubuh mereka mungkin mati. Tapi inti sari dari suatu makanan masih bisa mereka rasakan.
Ketika Rachel turun lalu berdiri. Pintu ruangan itu terbuka. Menampakkan Thariq yang membawa nampan berisi makanan juga minuman yang baru saja siap.
Kepulan asap dari makanan itu membuat Rachel tersenyum. Dalam kepalanya dia berpikir. Apakah Thariq memasak itu sendiri? Dan apakah itu untuknya?
__ADS_1
Debaran tak beraturan lagi-lagi datang. Tiap kali Thariq bersikap manis padanya Rachel selalu saja terkena serangan jantung. Jantungnya seakan memiliki kali yang berniat kabur dari dalam dadanya.
Bisa mati Rachel jika terus menatap Thariq yang berdiri di sana. Peraduan sepasang kelopak mata itu. Sejenak menciptakan jeda. Pada kedua sepasang hati yang saling mencintai untuk tetap menatap mematri satu sama lain.
"Rachel..."
"Thariq..."
Ucap mereka berdua bersamaan saling menyapa. Keduanya kemudian tersadar dari lamunannya.
Thariq dan Rachel bergerak maju lalu mereka berhenti. Rachel menatap nampan berisikan makanan itu. Kemudian dia tersenyum.
"Wah..." ucap Rachel seraya menghirup aroma dari masakan itu.
"Ini kamu yang masak?" tanya Rachel pada Thariq.
Rachel tidak menatapnya dia hanya fokus pada menu makanan yang Thariq bawa.
"Iya... Ini kami yang masak!" jawab Thariq pada Rachel. Kedua mata Thariq memperhatikan wajah Rachel yang masih sumringah menatap makanan yang sedang dia bawa.
"Kami?" tanya Rachel pada Thariq. Dia mendongak sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Iya!" jawab Thariq yang juga menatap Rachel. Thariq menganggukkan kepalanya.
"Kami... Aku, Marsya, Bella dan Rara! Kata mereka kamu suka lontong mie dan Lento!" ujar Thariq mejelaskan.
Rachel tersenyum mendengar itu. Kemudian kedua tangannya mengambil nampan itu. Para bocah setan masih berada di sana. Akibatnya Albert mencoba menutup mata Barend yang masih di bawah umur.
"Kenapa kau menutup mataku?" tanya Barend pada Albert.
Melissa dan Gelanda mengangguk. Kemudian mereka menghilang dari sana sambil membawa Barend bersamanya.
Sementara itu di balik pintu masuk ruangan itu sejak tadi Marsya, Rada dan Bella menguping juga melihat apa yang terjadi antara Thariq dan Rachel di sana.
"Rachel masih aja kaku! Padahal Thariq udah sampaikan perasaannya!" protes Marsya geram.
Dia sampai lupa menyebut Rachel dengan awal Mbak atau Kakak.
"Hishhhh... Udah gak seru! Ayok masuklah, kita bangunkan orang tua itu! Udah wayah e maem wong iku!" ujar Rara lalu membuka pintu ruangan itu.
(Hish... Udah gak seru! Ayok masuklah, kita bangunkan orang tua itu! Udah waktunya makan orang itu!)
Terbukanya pintu itu membuat Rachel langsung berbalik. Sambil membawa makanan dari Thariq dia kembali duduk di atas tempat dia meditasi.
"Gimana kabar mbak? Udah enakan belum kamu?" tanya Marsya pada Rachel.
Rachel hanya mengangguk kemudian dia mulai menyendok makanan yang Thariq bawa lalu memakannya.
"Hmmm... enak!" puji Rachel sambil mengunyah makanannya.
Rara mengacungkan jempolnya. Dia bangga resep dari google ternyata berhasil.
Rara mengalihkan netranya kembali pada Cak Dika yang masih terpejam. Rara menaikkan satu alisnya.
"Cak!" sapa Rara pada Cak Dika berharap Cak Dika membuka matanya.
__ADS_1
Satu kali dua kali bahkan sampai tiga kali. Cak Dika tidak menggubris sapaan Rara.
"Mau makan Ndak?" tanya Rara lagi kali ini pada Cak Dika.
Ajaibnya pertanyaan itu justru seperti mantra. Membuat Cak Dika yang masih terpejam itu mengangguk.
"Iniloh! Buka matamu!" ujar Rara lagi pada Cak Dika.
"Kalo makan itu yang dibuka mulutnya dek! Bukan matanya! Kalo mata kamu suapin kecolok perih! Bisa buta aku!" ucap Cak Dika.
Jawaban asal itu membuat mereka yang ada di ruangan itu terkekeh. Cak Dika memang ada-ada saja.
"Terus jalok e opo?" tanya Rara pada Cak Dika.
Pertanyaan itu membuat Cak Dika menarik sudut bibirnya. Ada keinginan dari dalam hatinya. Dia mau makan dari tangannya Dek Rara.
"Suapi aku, dek!" jawab Cak Dika.
Sungguh, jawaban itu langsung membuat Rara mematung beberapa detik. Kemudian dia menoleh ke arah yang lainnya.
"Siapin aja udah!" ujar Bella pada Rara.
Rara kemudian membuang kasar nafasnya. Rara menyendok makanannya. Dia juga menambahkan Lento utuh di atas makanan yang sudah dia sendok.
"Buka mulutnya sayang!" perintah Rara pada Cak Dika yang masih terpejam.
"Aaaaaaa..." ucap Cak Dika sambil membuka mulutnya.
"Kurang lebar sayangku!" perintah Rara lagi dengan nada manjanya.
Baik Rachel dan yang lain mencoba menahan tawanya. Ketika mulut Cak Dika sudah terbuka lebar. Rara langsung menyuapkan porsi besar itu plus Lento utuh masuk ke dalam mulut Cak Dika.
"Hmmmm..." suara Cak Dika diiringi dengan terbukanya kedua matanya.
Dia tertegun bukan main. Mulutnya seperti disumpal sandal rasanya. Cepat-cepat dia mengunyah itu. Rara yang tau Cak Dika susah payah menelan itu pun langsung memberikan minuman segar pada Cak Dika. Di sana Cak Dika meminumnya.
"Kamu itu dek! Apa-apaan coba? Keselek Lento aku!" ujar Cak Dika.
Rara kemudian hanya tersenyum. Lalu dia memberikan nampan berisikan makanan dan minuman itu di pangkuan Cak Dika.
Ketika nampan itu berpindah di tangan Cak Dika. Rara pun mundur. Rara mengusap kepala Cak Dika dengan tangan kirinya sambil tersenyum.
"Makanlah! Sehat selalu jagoan!" ucap Rara lalu pergi dari sana setelah mengatakan itu.
Jangkrik! Wajahnya ituloh Ya Allah... Mboten kuat aku! Muanis tenan arek iku!. Ucap Cak Dika dalam hatinya.
(Jangkrik! Wajahnya ituloh Ya Allah.. Gak kuat aku! Manis benar anak itu!)
Baginya Rara adalah Ratu selamanya dalam hatinya. Tapi sayangnya Cak Dika belum cukup berani mengutarakan perasaannya pada Rara.
_______
Hallo Readers tercinta! Makasih ya, yang udah ikuti cerita ini sampai di bab ini. Rek, ayo ajak teman kalian pecinta horor buat baca novel ini. Tag mereka kemari biar semakin banyak para penjelajah ghaib yang ikut eksplorasi bersama mereka.
Mari tantang mereka sama-sama menjelajahi dimensi alam sebelah bersama Gautama Family!
__ADS_1
Happy Reading rek! Semoga selalu suka!