Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 104: Battle Royal Sang Maskot


__ADS_3

Rachel terus masuk ke dalam. Dia terus menjelajahi tiap ruang tiap isi tingkat bangunan. Hinggap ketika Melissa yang sejak tadi menuntunnya berhenti. Rachel dan Thariq pun juga ikut berhenti.


Mereka berhenti tepat di hadapan sebuah tangga yang akan menghubungkan mereka dengan lantai lima belas.


Di sana Melissa diam sejenak. Dia sedikit gusar. Aura di atas sana pekat sekali. Melissa tau ada apa di dalam sana. Tapi dia ini masih jauh levelnya dibandingkan dengan apa yang ada di atas sana.


"Ada apa Melissa?" tanya Rachel di belakang Melissa.


Hantu Belanda itu pun menoleh. Melissa berbalik menatap Rachel dan Thariq kali ini. Dia menunjuk ke arah atap di mana di sana adalah lantai lima belas.


"Lantai lima belas itu suram! Aku yakin kalian pasti merasakan auranya!" ujar Melissa sambil masih menatap Rachel dan Thariq.


Keduanya mengangguk mendengar itu. Apa yang Melissa katakan itu benar. Bahkan mereka pun juga sama merasakan hal itu.


"Aku hanya bisa mengantarkan kamu sampai kemari Rachel! Dan mungkin aku hanya akan memberitahu kamu bahwa. Ada tiga orang jahat di atas sana yang bermain dengan alam kami!" jelas Melissa padanya.


Rachel tersenyum dia mengacungkan jempol tangan kanannya. Sungguh, dia tidak takut untuk itu. Rachel datang kemari sudah bertekad dan di bawah ada seorang kontraktor yang menaruh harap padanya.


Perlahan Melissa mulai menghilang dari hadapan Rachel. Ketika sosok astral yang sejak tadi menuntunnya itu menghilang. Rachel pun melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga.


Ketika kakinya sudah berpijak di anak tangga pertama. Rachel berhenti!


Thariq di belakangnya mengeram. Kepalanya menunduk, kedua matanya terpejam. Suara geraman itu khas sekali dan Rachel mengenalnya.


"Senopati?" lirih Rachel sedikit menunduk memperhatikan wajah Thariq.


"Kanjeng Nyai Ratu!" ujar sosok dalam tubuh Thariq.


"Nggeh?" tanya Rachel padanya.


Tanpa ada pembicaraan lagi yang keluar. Thariq sedikit memberi hormat lalu maju ke arah Rachel. Dia terus berjalan menaiki anak tangga.


Rachel tau apa maksudnya itu. Senopati maung ini mau melindunginya. Setibanya mereka di lantai lima belas. Rachel membulatkan kedua matanya.


"Akhirnya kau datang juga! Sang maskot!" ujar wanita paruh baya.


Ya, Rachel ingat perempuan setan ini. Dia ini adalah mamanya Aldo. Dan lagi, seorang pria berkumis dengan keris di tangannya. Itu adalah bapaknya Aldo.

__ADS_1


"Bangsat koe! Kapanane aku kalah ancene! Tapi saiki aku gak bakalan kalah neh Karo koe!" ujar Pria berkumis itu.


(Bangsat kamu! Kapan hari aku kalah memang!)


Rachel mengepalkan kedua tangannya. Benar-benar tidak jerah dia orang ini. Padahal Cak Dika sudah mengancamnya. Tapi tetap saja, mereka kembali berulah.


Pak Raden Iki rada gangguan jiwa ancen!. Umpat Rachel dalam hatinya sembari masih memperhatikan dua orang tua Aldo di depannya.


(Pak Raden ini memang gangguan jiwa memang!)


Ketika Rachel hendak memanggil Nyai Ratu. Dia dikejutkan dengan seorang yang berbaring di belakang orang tua Aldo.


Nenek tua itu berteriak bak orang kesakitan. Garis melintang di lehernya itu membuat Rachel yakin bahwa tubuh tua yang hampir mati itu akan memisahkan diri dengan kepalanya.


"Wanine keroyokan ngene Yo? Ora wani ta nek ijenan hah?" tanya Rachel menantang dua orang tua Aldo sambil berseringai.


(Beraninya keroyokan gini Yo? Gak beranikah kalau sendirian hah?)


"Hahahahaha..." tawa Bapaknya Aldo sambil berkacak pinggang.


"Maskot kudue luweh kuat daripada aku!" ujar Bapaknya Aldo sombong. Saat ini dia begitu yakin akan mampu mengalahkan Rachel.


Betapa belagunya manusia keriput yang hampir mati itu. Rachel naik pitam rasanya. Melalui ilmu yang sudah dia asah selama ini. Rachel mencoba mengisi tubuhnya dengan Nyai Ratu.


Ketika energi Nyai Ratu mulai merasuk masuk ke dalam tubuhnya. Sebelum sepenuhnya masuk Rachel menunjuk tepat ke arah Bapak dan Ibuk Aldo di sana. Dia berucap,


"Ilingen Yo! Koe kabeh nek kalah Saiki. Tak sop jeroan simbahmu iku! Iku kan rival e Simbah biyen! Kok ora jerah koe genek menungso! Urip berdurasi iku kanggoen sing apik-apik!" ujar Rachel.


Matanya lalu perlahan memutih. Mata yang tadi terbuka terpejam seketika ketika sang Nyai Ratu masuk ke dalam tubuhnya.


Tiga maung yang ditinggalkan Cak Dika pada Thariq muncul di balik tubuh Rachel. Bukan rupa maung yang datang. Mereka mengubah wujud mereka menjadi seorang manusia.


Ya, inilah para petingginya Majapahit dulu. Senopatinya Ratu, merekalah yang ikut andil dalam setiap pertarungan demi menjaga kekuasaan dan keturunan dari darah Majapahit.


Terlihat Bapaknya Aldo memicingkan matanya. Aura Rachel yang tadi biasa seketika berubah menjadi begitu kuat.


Bahkan tangannya yang mengepal menggenggam keris itu ikut bergetar. Ketika keris akan ditarik. Simbahnya yang kuyang sudah berhasil melepas kepalanya.

__ADS_1


Thariq kembali sadar ketika maung yang mengisi tubuhnya itu keluar. Dia terkejut melihat sepotong kepala dengan jeroan yang menjuntai menghadap ke arah mereka.


"Hel, kita pergi saja!" ujar Thariq yang tidak tau bahwa saat ini Rachel di sampingnya bukanlah Rachel melainkan Nyai Ratu.


"Ojo Wedi toh, Le!" ujar Nyai Ratu dalam tubuh Rachel.


(Jangan takut, Le!)


"Huh..." pekik Thariq lalu menoleh ke samping menatap Rachel.


Oke, sekarang dia tau siapa yang ada dalam tubuh Rachel saat ini. Thariq membuang kasar nafasnya. Ketika Sang kuyang akan mendekati Rachel. Lalu Bapak Aldo dengan kesaktian kerisnya mulutnya komat-kamit.


Mereka semua di sana mencoba mencelakai Rachel. Thariq yang melihat itu tentu saja tidak tinggal diam. Dia lalu memejamkan kedua matanya. Mencoba menyalurkan energi pada tubuh Rachel.


Semakin kuat setan yang masuk ke dalam tubuh manusia. Maka, akan semakin banyak energi manusia yang terkuras.


Rachel baru saja sembuh. Dia baru saja keluar dari dalam rumah sakit. Thariq tidak mau Rachel sampai lemah dan jatuh sakit lagi setelah ini.


Adu kekuatan ghaib itu sengit sekali. Perpaduan panasnya energi itu menyiksa tubuh manusia mereka sebenarnya.


"Aku gak ngara kalah Mane Karo koe!" ujar Bapak Aldo murka.


(Aku gak akan kalah lagi sama kamu!)


Matanya membulat penuh. Dia mengerahkan seluruh kemampuannya. Begitupun dengan Ibunya Aldo. Juga sang Kuyang.


Sedangkan di tempat lain. Sejak pertama Rachel masuk ke dalam gedung itu. Cak Dika sudah merasakannya. Dia lalu pergi keluar dari dalam rumah Rara saat itu juga.


Cak Dika keluar bersama dengan seluruh timnya. Cak Dika benar-benar geram merasakan energi kuyang sialan yang datang lagi mengganggu keluarganya.


"Heh, onok opo toh Cak?" tanya Bella yang masih belum paham apa yang terjadi.


(Heh, ada apa Cak?)


Dia bertanya pada Cak Dika sambil berjalan. Antara rumah sakit itu dengan rumah Laras hanya ada sepuluh menit.


"Wes ora usah kakehan Takon! Kuyang bangsat iku! Rachel sekarang dalam bahaya!" ujar Cak Dika dengan raut wajah marahnya.

__ADS_1


(Sudah gak usah banyak bertanya! Kuyang bangsat itu! Rachel sekarang dalam bahaya!)


Aldo yang saat ini menggendong Laras terkejut. Mengetahui satu fakta bahwa keluarganya masih mengikutinya kemari dengan dendam kesumatnya.


__ADS_2