Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 68: Ledakan dari Sepatuku


__ADS_3

Sudah dua bulan semenjak Barend ditinggalkan Oudere Broernya. Ia hanya bermain dengan Anna, dan beberapa anak-anak di luar Camp.


Sepi memang rasanya ketika Oudere Brour pergi meninggalkannya. Yang biasanya Barend akan manja pada Pieter kakaknya.


Sekarang sudah tidak lagi bisa. Semenjak saat itu, Barend menjadi sangat dekat dengan Anna. Hanya dialah orang terakhir yang Barend percaya sampai saat ini.


Hari ini, Barend ingin mengajak pergi ke sebuah ladang. Ladang di mana dia biasanya bermainan dengan teman-teman seusianya.


"Ann, aku ingin pergi keluar!" ucap Barend, pada Anna di sampingnya.


Anna yang baru saja berjalan kaki dari pasar itupun menoleh. Dia menoleh ke arah wajah polos yang penuh harap menatapnya itu.


Anak kecilnya benar-benar menggemaskan. Tapi, Anna sangat letih untuk hari ini. Biasanya Barend pergi ke sana diantar olehnya. Tapi sepertinya hari ini tidak bisa.


"Ah tidak untuk hari ini ya, Ann sedang tidak sehat!" jawab Anna sambil menghapus tiap buliran keringat yang ada di keningnya. Barend mengembungkan pipinya mendengar itu


Dia kesal, dia juga bosan hanya duduk dan diam sambil melihat pemandangan para Netherlands dewasa saling bercengkrama satu sama lain di area ini.


"Aku pergi sendiri, Ann di rumah saja!" ucap Barend. Lalu kaki kecilnya itu berpaling membelakangi Anna dan hendak pergi.


Anna menahan pergelangan tangan mungil itu. Mengakibatkan Barend menoleh ke arahnya dan melihat Anna menggeleng saat itu.


"Tidak, bagaimana jika kau tersesat nanti?" tanya Anna pada Barend mencoba mencari alasan agar bocah kecil itu tidak pergi. Barend menggeleng mendengar itu.


"Aku bersama banyak teman! Ann, tidak usah khawatir. Di sini saja, jaga Mamma.!" ucap Barend, Anna tetap menggeleng.


Dia tidak mau ada sesuatu yang buruk menimpa Barend. Kehilangan Pieter saat itu saja membuatnya sangat terpukul. Siapa lagi temannya Anna di sini jika bukan keluarganya Pieter.


"Tidak boleh!" jawab Anna keras kepala. Namun itu membuat Barend menarik-narik ujung baju Anna mendengar itu.


Wajahnya memelas agar Anna mengijinkannya. Benar-benar sangat menyedihkan bagi Barend. Dia bosan, sangat bosan dan ingin main.

__ADS_1


"Aku bosan, Anna! Aku ingin bermain, Mereka ingin melihat sepatu boot dari Pieter. Mereka bilang, sepatu itu mahal. Aku ingin memperlihatkan itu pada mereka." Anna menghela nafas kali ini.


"Barend, kita bermain besok ya! Sekarang kau, boleh bermain tapi, di area camp ini saja. Sungguh, aku tidak berniat menolak ajakanmu. Hanya saja, aku lelah dan pusing. Bisa kita sepakati itu?" ujar Anna, seraya mengelus ujung kepala Barend.


Surai pirang itu dibeli lembut oleh Anna. Barend pun mendongak. Wajah Anna saat itu membuat Barend menyerah rasanya.


Barend iba mendengar itu, dengan polos ia mengangguk mengiyakan apa yang Anna ucapkan. Anggukan itu membuat Anna senang. Dia pun mengacungkan kedua jempolnya pada Barend.


"Baiklah, Anna tidur saja! Barend akan bermain di Camp saja!" ucap Barend meyakinkan Anna.


Anna tersenyum mendengar itu, lega rasanya hari ini dapat Istirahat total.


"Terima kasih!" ucap Anna, pergi menuju kamar. Akhirnya ia bisa mengistirahatkan tubuhnya. Barend memang bukan anaknya.


Dia adalah titipan dari Pieter. Merawat anak kecil seusianya memang bukanlah hal muda.


Tak lama, Barend pun tersenyum. Dari kamarnya ia mengambil sepatu bootnya dan pergi keluar rumah. Lihatlah betapa badungnya anak kecil ini. Rupanya dia mengelabui Anna.


Senang rasanya, bisa keluar dari area camp. Sedikit mengingat lokasinya, dengan hati yang sangat bahagia ia menuju lahan tempatnya biasanya bermain bersama teman-temannya. Terlihat, disana teman-temannya sedang berkumpul.


"Hei!!" sapaan itu, membuat teman-temannya menoleh ke arahnya. Mereka tersenyum melihat kehadiran Barend saat ini.


Beberapa dari mereka melambaikan tangan ke arah Barend. Barend yang bahagia pun datang mendekati anak-anak itu.


"Barend! Mari kita main!" ucap salah seorang teman.


Tentu saja Barend mengangguk setelah mendengar ajakan dari temannya. Bocah kecil itu berlari menyatu menjadi satu dalam permainan kecil saat itu.


Suara kebahagian dan gema tawanya begitu lepas. Menandakan bahwa kebahagiannya di sana tak terlukis oleh sesuatu.


Di lahan luas itu, mereka bermain. Mereka bercerita, bercengkrama. Barend menunjukkan sepatunya pada teman-tamannya, itu membuat mereka terpukau. Hingga saat itu, mainan mereka terlempar keluar dari lahan.

__ADS_1


Sebelah lahan itu, ada lahan lagi. Tapi, itu milik Nippon. Tak ada yang berani mengambilnya, mungkin berbeda dengan Barend.


Mungkin, jiwa prajurit dari Pappa dan Oudere Broer nya sudah ada dalam dirinya. Tanpa memikirkan dampak apapun, Barend pergi ke sana.


Mencoba mengambil bola itu. Ketika ia menemukannya, ia mengambilnya. Namun, matanya tergiur melihat beberapa benda asing disana. Barend mencoba mendekati benda itu.


Klikkkkkkkk


Barend berhenti, ketika merasa menginjak sesuatu. Merasa tidak ada yang salah, ia melanjutkan langkahnya. Saat itu juga, suara ledakan itu memecahkan tubuhnya.


Dia sedang menginjak ranjau darat. Dan itulah akhir dari kisahnya. Barend jan Van Deiderick, tubuhnya hancur mati karena ledakan. Dia tercerai berai di sana.


Saat itulah dia merasakan tubuhnya ringan lalu melayang tanpa memimak tanah lagi.


Hanya ada satu pesan kecil yang Barend sematkan kepada Gautama Family ini. Melalui narasi yang Mas'ud tulis. Melalui ilustrasi yang disuguhkan oleh Mas'ud pada warganet. Barend berkata,


..."Ketika aku mati, yang kulihat saat itu hanya kegelapan. Tubuhku ringan, dan aku melayang. Anehnya, aku tak bisa menangis mengeluarkan air mataku! Aku terjebak dalam zona gelap saat itu. Ada tangan orang lain yang memapahku keluar dari dalam zona itu. Dia lalu menjadikanku sebagai setan yang nakal. Sebab aku tidak suka diperintah dan sering melawan. Aku dibuang, sampailah aku bertemu dengan Ibundamu. Waktu itu dia mendekatiku dan mengajakku pulang. Bersama dengan kalian adalah keinginanku. Aku merasa aman dan nyaman di sini! Rachel, mungkin dia pelit. Tapi dia teman manusiaku yang baik!" ...


Nampak Gautama Family Ketika Barend mengatakan itu. Hati mereka tersentuh. Ada pula rupanya setan sepolos Barend di sini. Dia begitu jujur mengucapkan itu.


Sungguh, memiliki teman hantu tidak buruk. Dia sudah bersama beberapa tahun ini. Kegiatan mereka sama seperti manusia.


Hanya saja, yang membedakan kami adalah, Dimensinya. Dan, tidak semua bisa melihat keberadaan mereka. Kita hidup dengan mereka, beriringan.


Barend jan Van Deiderick adalah bocah kecil yang pernah hidup di tahun 1942. Di mana di sana adalah Tahun, Jepang datang dan merampas Hindia Belanda.


Kisah ini, ditulis atas kemauan bocah itu. Setelah sedikit problem aneh, tidak logis terjadi akhirnya selesai sudah tulisan tentangnya. Barend, kamu akan dikenal!


Melalui narasi dan Vidio unggahan di kanal YouTube Gautama Family. Setan cilik ini menyapa kalian dengan kata,


Hallo warganet! Salam kenal dari Barend untuk kalian. Dank je, sudah membaca kisahku!

__ADS_1


__ADS_2