
"Aku gak bisa bantu sekarang!" ucap suara Bella di seberang sana.
Saat ini Andri berada di dalam kamarnya. Malam ini dia sedang berbicara dengan Bella. Hari pertama ketika usai mengerjakan tugasnya di rumah Pak Joko.
 Keanehan di sana dia ceritakan pada Bella. Tapi Bella bilang padanya bahwa memang kodratnya manusia dan jin hidup berdampingan.
"Kamu masih lama lagi, kah?" tanya Andri pada Bella di sana.
Bella yang saat ini berdiri di balkon sambil menatap indahnya kota Jakarta itu duduk d sebuah kursi yang disediakan pihak hotel di balkonnya.
"Iyo, kayaknya dua hari lagi aku pulang! Ini saudaraku masih pingin di sini. Maaf Yo, Mas!" jawab Bella pada Andri di sana.
"Ndak ada kenalanmu lagi gitu, Bel? Soale aku sama Wildan tadi pas sholat depan kami itu ada tiga orang itu lagi. Wanita perutnya bolong sama tiga anaknya. Satu bayi digendong, dia lagi perempuan sama laki-laki kira-kira mereka seusia anak SD!" jelas Andri padanya.
Nampak di sana Bella sedikit berpikir. Dia mencoba mencari-cari satu nama yang lekat dengan perkara ghaib yang dia kenal di Jawa Tengah.
"Sopo Yo?" ujar Bella.
"Nek sing nak Papandayan biyen piye, Bel?" tanya Andri padanya.
(Kalau yang di Papandayan dulu gimana, bel?)
Bella sedikit mengingat lagi siapa orang yang Andri sebutkan. Kemudian Bella pun ingat. Dia pernah kenal dengan salah satu teman mendakinya waktu mendaki di gunung Papandayan.
"Mas Suhu?" tanya Bella padanya.
"Iyo, Mas Suhu!" jawab Andri.
"Kok Ndak kamu ae yang hubungi dia? Wong kamu Yo kenal, kenapa di aku dulu?" tanya Bella lagi pada Andri.
"Moh, Mas Suhu biyen lak seneng koe, toh? Yowes, cobilah Kuwi wong e. Barean koe Iki yo Lapo, ilang komunikasi Karo de e?" tanya Andri di sana.
(Gak, Mas Suhu dulu kan suka kamu, kan? Yaudah, cobalah itu orangnya. Lagian kamu ini ya ngapain, hilang komunikasi sama dia?)
Bella sedikit mengingat bahwa ada kenangan pahit yang dia alami bersama Mas Suhu dulu. Dulu, dia memang pernah dekat dengan Mas Suhu. Hanya saja, ketika mereka kembali mengagendakan acara memuncak tiap tahunnya.
Dia melihat Mas Suhu duduk bersama dengan Tasya teman mendakinya juga. Mereka duduk bersama menghadap Ranu kumbolo sambil menikmati kopi hangat shubuh itu.
Samar-samar Bella melihat mereka seperti sedang berciuman. Padahal, sikap Mas Suhu pada Bella pun hangat dan seperti sedang memancing perasaan Bella.
Sejak saat itulah Bella membatasi dirinya dan Mas Suhu. Tiap kali pendakian kembali dilakukan. Ketika Mas Suhu mengajaknya maka Bella akan selalu menolak.
Namun tak jarang juga Mas Suhu masih berusaha menghubungi Bella. Walaupun terkadang dia harus menelan pahitnya jarang direspon oleh Bella.
Bella membuang kasar nafasnya. Dia sebenarnya malas berurusan dengan Mas Suhu ini. Tapi gimana lagi? Kasihan Andri jika dia tidak menolongnya.
"Yowes, cobalah tak hubungi dia nanti!" ucap Bella di seberang sana.
"Iyo, tolong ya, Bel!" jawab Andri padanya.
__ADS_1
"Iya! Yowes, Assalamu'alaikum, Dri!" ujar Bella di sana.
"Wa'alaykumussalam!" jawab Andri.
Kemudian panggilan mereka pun berhenti. Setelah itu Bella mengotak-atik ponselnya kembali. Dia mencari keberadaan nomor kontak Mas Suhu.
Ketika ketemu, maka Bella pun langsung mengawali pembicaraan itu. Bella mengirim sebuah pesan singkat, sebuah salam.
Beruntungnya tidak butuh waktu lama bagi Mas Suhu untuk membalas pesan itu. Bella sedikit terkejut ketika melihat balasan dari Mas Suhu yang cukup cepat.
Mas Suhu
Wa'alaykumussalam Bella! Wih, apa kabarmu dek? Jarang-jarang kamu chat aku sekarang?
Bella
Iyo Mas, aku sibuk! Langsung to the point' wae nggeh, Mas. Andri, teman mendaki kita. Dia lagi butuh kemampuan kamu. Kamu orang Jawa Tengah, toh! Coba datanglah ke kota T. Dia lagi dilanda masalah. Aku Ndak bisa bantu dia. Aku lagi di Jakarta soale!
Mas Suhu
Loh, dari kapan?
Bella
Sudah lama! Ada kasus di sini. Nginap di hotel dekat Monas kami.
Mas Suhu
Bella terkejut membaca pesan itu. Dia terkejut ketika mengetahui bahwa Mas Suhu ada di Jakarta juga bersamanya.
Bella
Ngapain kamu di sini?
Mas Suhu
Habis dari gunung Gede Pangrango! Kamu diajak Ndak pernah bisa. Wes mana alamat hotelnya, besok pagi aku ke sana jemput kamu!
Bella
Ada Cak Dika! Berani?
Mas Suhu
Yo Ndak Popo, toh! Kan, aku Ndak ada ngapa-ngapain toh, Bel. Nanti aku bilang sama Masmu, kita mau tolong Andri. Sudah, kan?
Bella tersenyum kecil melihat betapa beraninya Mas Suhu ini. Dia pun mengirimkan alamatnya.
Mas Suhu
__ADS_1
Besok Yo, berangkat pagi! Naik pesawat mumpung ada diskon. Bella Ndak usah khawatir uang tiket. Nanti, uang tiket e ikut Mas ae!
Bella
Iya, makasih! Pesankan ae, nanti tak transfer.
Itu adalah pesan terakhir yang Bella kirimkan untung Mas Suhu. Entah kenapa setelah mengirimkan pesan itu hatinya mendadak menjadi berbunga-bunga rasanya.
"Wah," ucap Marsya yang sejak tadi berada di belakangnya.
"Heh!" pekik Bella kaget melihat kehadiran Marsya yang tiba-tiba itu.
Marsya terkekeh kemudian. Dia pun berjalan mendekati Bella lalu duduk di samping Bella.
"Mas Suhu iku siapa?" tanya Marsya padanya.
"Temanku!" jawab Bella singkat.
"Teman apa?" tanya Marsya lagi.
"Temanku mendaki!" jawab Bella lagi.
"Jadi besok kamu mau pulang ke Jawa sama dia? Ndak sama kami?" tanya Marsya lagi.
Bella menggelengkan kepalanya.
"Ora, kancaku jaluk bantuan. Enek sing ganggu nak kerjoane. Kudu-kudu tak ewangi, Sya! Mesakne cah e nek ora direwangi. Kerjo e ora khusyuk!" jawab Bella.
(Ndak, temanku butuh bantuan. Ada yang ganggu di pekerjaannya. Harus-harus dibantu, Sya! Kasihan anaknya kalau gak dibantu. Kerjanya Ndak khusyuk!)
Marsya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kamu sudah bilang Cak Dika?" tanya Marsya lagi padanya.
"Belum, Yo nanti tak bilanglah! Tapi besok dia datang kok ke sini. Pamit sendiri sama Cacak! Oh Iyo, dia juga sama kayak kita. Istimewa, punya kemampuan juga!" jawab Bella menjelaskan tentang Mas Suhu.
Marsya memperhatikan itu. Betapa senangnya Bella ketika menceritakan tentang Mas Suhu.
"Wah, kamu kayaknya tertarik sama Mas Suhu, Bel?" selidik Marsya pada Bella.
Wajah Bella memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Marsya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa hatinya saat ini masih berharap pada Mas Suhu.
"Ora, wes turu ae Sya! Wes bengi!" ujar Bella lalu berdiri dari sana. Dia berjalan menuju ranjangnya lalu membaringkan tubuhnya di sana.
(Gak, yaudah tidur aja, Sya! Sudah malam!)
Marsya terkikik mendengar jawaban yang Bella katakan. Kemudian dia menatap langit dan berkata,
"Simbah, anak-anakmu sudah besar! Bahkan satu persatu dari mereka mulai menemukan cintanya!" ujar Marsya bermonolog.
__ADS_1