Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 41: Nafas Mayat


__ADS_3

Tragedi ninja Banyuwangi, yang terjadi pada tahun 1998 rupanya masih belum sepenuhnya usai. Itu adalah tragedi berdarah yang akan menjadi salah satu sejarah paling kelam di sana. Padahal jaman semakin maju dan berkembang pesat


Tapi, otak manusia yang terkontaminasi perkara dunia yang bejat dan beringas. Mulai berpikir dangkal dan perlahan merayap ke arah negatif. Mereka menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan itu. Satu tujuan yang memuaskan hati kecil mereka.


Ada kalanya hati yang menggelap memunculkan lagi kebencian yang membabi buta. Hingga aliran sesat pun dilanjutkan dan dijalankan sampai saat ini.


Rombongan Cak Dika baru saja tiba di stasiun. Dari tempat asal mereka hingga ke Banyuwangi cukup memakan waktu lama. Mereka yang sejak tadi duduk di kereta pada akhirnya bisa bernafas lega.


Jenuh rasanya berada di dalam kereta dalam jangka waktu lama. Keroncongan rasanya perut mereka saat ini.


"Welcome to Banyuwangi, Cak!" ucap Rahman pada Cak Dika yang berada tepat di sampingnya.


Cak Dika memperhatikan seluruh area stasiun. Penghuni di atas sana bergelantungan. Tapi tidak seram.


Wajah mereka mungkin pucat pasih. Bahkan mulut mereka ada yang sobek sampai ke telinga. Memedi itu di sana beraktivitas seperti halnya manusia.


Seperti biasa di sana ada banyak para pedagang. Dengan keranjang dagangan yang dipanggul di atas kepala. Rata-rata para pedagang ini ada ibu-ibu.


Aura di dalam stasiun ini tidak terlalu suram. Sekalipun banyak sekali makhluk astralnya. Cak Dika memperhatikan makhluk di sana satu persatu.


Sekalipun makhluk itu tau rombongan Cak Dika bisa melihat mereka. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berniat jahat pada Gautama family ini.


Justru para makhluk tak kasat mata itu malah tersenyum ke arah mereka. Rombongan Gautama ini begitu dihormati karena Nyai Ratu.


"Vibesnya adem nih!" ujar Cak Dika sumringah.


"Ho'oh... Setannya auranya gak seram di stasiun ini loh!" ujar Rachel menimpali.


Entah kenapa senang sekali rasanya. Seperti sedang disambut dengan bahagia saja rasanya sekarang. Marsya menguap berulang kali sambil mengusap perutnya yang lapar.


"Jajan dulu lah Cak! Lapar nih!" ujar Marsya pada Cak Dika.


Cak Dika manggut-manggut saja mendengar itu. Usulannya diterima.


"Yaudah, kita cari warteg aja yuk!" tambah Aldo yang diangguki oleh mereka kemudian.


Setelah itu mereka pun pergi keluar dari dalam staiun. Mereka berpikir mungkin saja ada warteg atau rumah makan yang bisa mereka kunjungi.


Rupanya benar setelah mereka keluar. Banyak sekali para pedagang di sana. Warteg-warteg mulai berjajaran rapi di sana. Berlomba-lomba menampung para manusia lapar dan mengais uang.


Cak Dika berjalan mendahului mereka. Dia berjalan di depan rombongan mereka. Cak Dika berhenti tepat di sebuah warteg yang aroma masakannya cukup lezat.


"Ayo makan dulu!" ujar Cak Dika lalu masuk ke dalam dan diikuti seluruh saudaranya.


Mereka duduk di meja yang sama. Cak Dika mulai memesan beberapa menu makanan. Setelah makanan dipesan, Rahman pun mulai membahas sesuatu di sana. Perihal lokasi yang akan mereka pijaki setelah ini.

__ADS_1


Rahman membuka laptopnya lalu menunjukkan pada Cak Dika dan semuanya perihal jalan yang akan mereka lewati.


"Kalau dari terminal kita mau ke tempat itu dan nemuin hawa mistis yang pekat. Kita harus lewat di sana pada waktu malam hari!" ujar Rahman sambil menunjukkan gambar peta area tapal kuda.


"Bus yang beroperasi malam hari?" tanya Aldo pada Rahman.


"Iya Mas, soalnya kan hal ghaib itu selalu datang dan kuat saat malam hari!" ujar Deni menjelaskan.


"Yoweslah, kita berangkat setelah magrib! Rutenya di mana?" tanya Cak Dika pada Rahman.


Rahman kembali menunjuk satu wilayah di sana. Di mana di sana ada satu jalur sebelum alas baluran. Jalur ini dinamakan jalur tengkorak.


Sebelum masuk ke dalam baluran maka mereka akan melewati jalur tengkorak. Di sana juga terkenal dengan satu jurang yang namanya cukup tersohor keangkerannya.


Jurang itu disebut, Jurang Tangis. Konon legendanya dahulu kala ada seorang wanita yang menunggu kekasihnya di dekat jurang itu.


Tapi ketika kekasihnya itu datang. Sang kekasih malah menendangnya hingga jatuh dan mati di dalam jurang itu.


Tak hanya hal itu saja yang terjadi di daerah Jurang tangis. Dahulu kala tempat itu dibuat sebagai pembuangan mayat. Banyak mayat yang sengaja dibuang ke dasar jurang itu.


Kadang ada mayat bekas pembunuhan. Terkadang ada juga mayat yang berasal dari percobaan dokter. Dibuang di sana dengan kantong berisikan uang. Dengan tujuan, ada orang yang mau memakamkan mayat-mayat itu.


"Nah ini, sing katanya Bella mau lihat! Jurang Tangis, ini kita bakalan lewat kesana. Karena desanya harus melewati alas baluran dulu. Baru ke titik kejadian!" jelas Rahman lagi.


"Kamu kenapa kok terobsesi sekali sama jurang itu Bel?" tanya Laras di depan Bella.


"Destinasi kan?" ujar Bella sambi berseringai.


Marsya tertawa mendengar kegilaan Bella di sini.


"Destinasi mbahmu!" jawab Rachel menimpali.


Mereka semua semakin tertawa mendengar itu.


"Jadi desanya ini bukan di Banyuwangi ya?" tanya Laras lagi pada Rahman.


"Ya.." jawab Rahman mengangguk kemudian menunjuk lagi area berinisial S di petanya.


"Kota S ini adalah tujuan kita sekarang! Di sinilah kejadian yang viral ini dimulai!" jelas Rahman lagi pada mereka.


Pembahasan mereka berhenti ketika makanan mereka sudah datang. Sudah saatnya bagi mereka untuk khusyuk menikmati ajian hidangan lezat yang ada di depan mata mereka. Rahman mematikan laptopnya kemudian.


Nasi penyetan warteg adalah amunisi terbaik mereka. Antara Jawa Tengah dan Jawa Timur memang satu suku.


Tapi warna dan cita rasa masakan mereka berbeda ragamnya. Jawa Timur identik dengan masakannya yang pedas. Sedangkan Jawa Tengah identik dengan makanannya yang manis.

__ADS_1


Setelah makan, Cak Dika dan yang lain berjalan sesuai arahan dari Rahman. Mereka berhenti di sebuah halte bus dan duduk di sana. Jam sudah menunjukkan tepat pukul empat sore.


Rencananya mereka akan naik bus yang jadwal beroperasinya jam enam sore. Sejak tadi bus berlalu lalang melewati halte yang mereka tempati.


Tapi tidak satupun dari mereka yang naik dan masuk ke dalam. Cak Dika sibuk menghisap putung rokoknya. Dan Rahman, dia sibuk menyiapkan kameranya bersama Deni adiknya.


Hingga salah seorang gadis remaja dengan tas di punggungnya berdiri tepat di samping Cak Dika. Cak Dika melirik ke arah gadis itu. Sepertinya gadis ini sedang menunggu bus.


Entah kenapa, auranya begitu menyenangkan menurut Cak Dika. Dalam hatinya dia tergugah untuk menyapanya.


"Hallo dek!" sapa Cak Dika pada gadis itu.


Gadis itu menoleh ke samping tepat ke arah Cak Dika.


"Ya?" tanya Gadis itu.


"Kamu mau naik bus tujuan mana?" tanya Cak Dika padanya.


Gadis itu sejenak diam lalu matanya melihat ke arah seluruh rombongan Cak Dika. Bukan manusianya yang dilihat di sini. Tetapi aura dan khodam para saudara Cak Dika.


Dalam hatinya dia benar-benar kagum perihal keberadaan khodam itu. Auranya benar-benar luar biasa. Ada satu yang seram di sana dan itu sosok cakar. Tapi auranya positif tidak jahat.


Nyai Ratu tau bahwa gadis itu bisa melihatnya. Dan dia tersenyum padanya. Gadis itu tentu saja membalas senyuman itu.


Nyai Ratu juga berbisik perihal tujuan Cak Dika datang kemari. Hal itu tentu membuat Gadis itu bernafas lega. Kemudian gadis itu menatap Cak Dika dan tersenyum.


"Aku Rara, aku tau maksud dari kedatangan kalian kemari. Pak Bambang, yang melihat jasad tak utuh itu dibunuh. Dan dia adalah Bapakku! Kalau kalian mau, aku bisa mengantar kalian ke tempat itu!" ujar Rara.


Seluruh orang di sana terkejut mendengar itu kecuali Rachel dan Cak Dika. Dua orang itu tau bahwa Rara ini bukan gadis biasa.


Rara ini memiliki kemampuan yang sama seperti mereka. Kemampuan penjelajah ghaib dan bisa melihat mereka. Dia juga adalah salah satu pawang Ghaib.


"Baiklah, Rara! Bisakah kau tunjukkan tempatnya pada kami?" tanya Cak Dika padanya.


"Tentu saja, dengan senang hati!" jawab Rara.


"Bus ke wilayah S akan melewati Jurang Tangis dan alas baluran. Aku harap, kemampuan kalian tidak sekelas teri ya! Sebab malam di sana selalu berisik!" ujar Rara pada mereka.


Kemudian Rara mengeluarkan ponselnya lalu memasang headset di telinga. Sebelum lagu diputar, Rara kembali menatap mereka.


"Bapak awalnya trauma pas lihat kejadian itu! Tapi Alhamdulillah itu gak berkepanjangan. Sekarang beliau kalau pulang sudah tidak larut malam lagi. Bapak tidak percaya pada orang-orang seperti kita! Tapi pas lihat hal menyeramkan kemarin, dia percaya! Dia percaya bahwa kita tinggal berdampingan dengan dimensi mereka. Dimensi alam sebelah!" jelas Rara lalu memutar lagu di dalam ponselnya dan menatap ke depan.


Rachel berseringai mendengar itu. Rara ini benar-benar manusia yang menarik di matanya.


"Nafas mayat!" ujar Laras, dia mengendus satu hembusan nafas yang cukup busuk.

__ADS_1


Mendengar perkataan Laras, Rara pun membuka earphonenya.


"Deruh nafas mayat di area ini sudah biasa mbak! Daerah Tapal Kuda ini mistis memang. Bau Danur dan busuk bercampur menjadi satu. Apalagi di jurang Tangis nanti!" ujar Rara pada mereka.


__ADS_2