
Hidup tidak pernah lepas dari kematian bukan. Saat ini Farel sedang menyetir mobil dinasnya.
Mobil ini disebut dengan nama Ambulance. Di belakang dia membawa dua orang mati sepasang suami istri yang berprofesi sebagai seorang dukun.
Sepasang suami istri itu sebut saja Ina dan Ian. Meninggal di usia mereka yang menginjak kepala tujuh.
Seperti biasa jenazah itu akan dibawa ke kediamannya. Di mana pihak keluarga meminta agar mereka di kuburkan di sana.
Farel saat itu menyetir mobil itu sendirian. Jarak antar kota A ke kota B cukuplah jauh. Membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk sampai ke kota itu.
Biasanya Farel akan ditemani dengan Agus. Selaku partner kerja dari Farel. Namun saat ini Agus sedang menemani istrinya lahiran di rumah sakit.
Dalam hati Farel hanya mampu mendoakan supaya persalinan istri dari Agus lancar-lancar saja.
Sesekali Farel menguap. Sungguh ngantuk rasanya dia saat ini. Biasanya jika perjalanan jauh maka dia akan bergantian menyetir mobil itu bersama dengan.
Atau biasanya keduanya saling ngobrol. Di belakang memang ada dua orang manusia. Tapi mereka sudah tidak bernyawa.
Selama Farel bekerja jujur saja dia tidak pernah mengalami hal mistis. Sudah tiga tahun dia menjalankan pekerjaan ini. Alhamdulillah segalanya lancar tiada hambatan.
"Cukup jauh juga rupanya!" ujar Farel sambil memperhatikan layar ponselnya.
Dia menggunakan maps di sini. Untuk mencapai tujuannya.
Habis sudah satu jam dia di perjalanan. Mobil jenazah itu masuk ke dalam tol. Hari hampir larut saat itu. Cahaya mataharinya sudah redup.
Farel menyetel radio mobilnya mengusir sunyi yang saat ini sedang meliputinya. Awalnya banyak sekali mobil yang berlalu lalang dia lihat.
Namun semakin masuk dia ke dalam tol. Maka semakin sepi pula tol itu. Tol minim pencahayaan. Hanya pencahayaan dari lampu mobil saja yang ada.
Radio berkumandang musik dangdut. Dan Farel berulang kali bersenandung.
"Hihihi..." suara tawa lirih di belakang membuat Farel berhenti bersenandung.
Dia mulai memfokuskan dirinya pada jalanan. Telinganya sedikit dia tajamkan. Dia mencoba mendengar lagi apakah memang ada seseorang yang tertawa di belakang. Apakah dua mayat itu hidup kembali?
Satu detik dua detik hingga sepuluh detik. Tidak ada sahutan susulan dari suara itu. Sampai mesin mobil tiba-tiba saja rewel. Mobil Farel seperti akan kehabisan bensin.
"Kok ya ada-ada aja toh!" umpat Farel kesal ketika melihat speedometer bensin miliknya yang hampir habis.
Dia kemudian mempercepat laju mobilnya berharap seger keluar dari dalam tol itu lalu menemukan pom bensin untuk bersinggah sebentar.
__ADS_1
Ketika mobil dipercepat. Maka saat itu juga jalanan yang Farel lihat saat itu berubah.
"Huh!" pekik Farel sambil masih memperhatikan sekelilingnya. Dia terkejut ketika melihat kiri kanannya adalah hutan rimba.
Astaghfirullah!. Ucap Farel dalam hatinya.
Nampak di belakang tempat kedua jenazah itu ditaruh. Saat ini bungkusan kain kafan itu duduk menghadap ke arah Farel.
Farel masih tidak tahu bahwa di belakangnya. Dedemit sedang beraksi. Wajah pucat itu menatap ke arah Farel. Bola matanya terbuka lebah.
Hidungnya masih tersumpal dengan kapas. Mengalir tetesan darah dari dua bola mata mayat wanita.
Kemudian wajah wanita itu menunduk. Dan di sana terdapat satu sosok bayi kecil nan mungil. Ketika bayi itu menangis Farel sontak saja mendengarnya.
Farel menghentikan mobilnya menepi kemudian. Dia merinding saat ini jujur saja. Ditambah seja tadi dia sudah tidak menemukan mobil selain dirinya.
Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi Farel saat itu. Dia hanya mampu diam sambil masih membulatkan kedua matanya menatap ke arah depan. Ke arah jalanan yang gelap seperti tanpa ujung.
"Oekkkkk... Oekkkkk..." tangisan bayi itu semakin kencang.
Di situ Farel rasanya ingin pingsan saja. Tapi ini adalah tugas dia mengantar dua jenazah itu.
Ketika tangan kanannya hampir membuka pintu mobilnya. Farel ingat bahwa dia memiliki jendela kecil di mobil yang menghubungkan tempatnya dan area belakang mobil.
Farel mengurungkan niatnya. Sekarang dia berniat untuk membuka kaca kecil yang menjadi penghubung antara tempatnya dan jok belakang mobil.
Sekalipun takut membara dalam hatinya namun Farel penasaran setengah mati. Perlahan jari jemarinya mulai membuka kaca mobil itu.
Grekkkkk
"Huh!" pekik Farel terkejut ketika melihat posisi jenazah yang dia bawa berubah.
Bagaimana tidak terkejut ketika melihat posisi yang tadi dia atur mendadak berubah.
"Gimana bisa yang cowok ada di keranda?" ujar Farel menatap tak percaya apa yang dia lihat saat ini.
Tadinya Farel menaruh mayat lelaki itu di tempat duduk. Sedangkan mayat perempuan itu dia letakkan di dalam keranda.
Farel menutupi tubuh mayat lelaki itu menggunakan kain hijau. Kain penutup keranda.
Keranda yang tadi rapi berubah. Kainnya tidak lagi menutup keranda. Dan itu yang membuat Farel terkejut.
__ADS_1
Bagaimana bisa seberantakan itu di belakang sana. Farel mencoba mengaitkan kejadian ini dengan logikanya.
Ah... Mungkin ini karena aku membawanya terlalu kencang. Sampai jadi seperti itu!. Pikir Farel mencoba netral menghilangkan rasa takutnya.
Ketika Farel kembali menutup jendela kecil itu. Dua mayat itu kembali duduk sambil menatap ke arah kaca kecil itu.
Dua mayat itu tersenyum jahat. Kedua mata mereka memutih. Ketika Farel kembali menatap ke arah jalanan. Dia terkejut setengah mati.
Di depan sana berdiri seorang nenek dengan pakaian compang-camping. Tubuhnya bungkuk. Dia memegang sebuah tongkat untuk membantu tubuhnya sendiri berdiri.
"Opo Mane seh iku!" gerutu Farel kesal.
Entah kenapa cobaan astral ini datang bertubi-tubi padanya.
Nenek tua bungkuk di sana yang masih berdiri di tengah kegelapan itu menggerakkan tongkatnya menunjuk ke arah mobil Farel.
Kedua matanya tidak terlihat. Namun Farel memperhatikannya. Kedua mata nenek seram itu putih. Dia tidak memiliki area hitam di matanya. Sepenuhnya kedua mata itu putih.
Bayangkan saja betapa mencekamnya situasi Farel saat ini. Dia sendirian di jalan tol itu tidak ada manusia ataupun mobil yang melintasi jalanan itu selain dirinya.
Ditambah dia di sana bersama orang mati. Dua mayat di belakang mobilnya semakin menambah kesan seram rasanya.
"Oekkkk... oekkkk..." suara bayi itu lagi datang. Asalnya masih sama. Asalnya dari belakang mobil jenazahnya.
Farel yang tadinya berusaha tenang pada akhirnya ketakutan juga. Badannya meremang rasanya. Bulu kuduknya berdiri.
"Astaghfirullah..." lirih Farel lemas rasanya ketika melihat sosok nenek yang berdiri di sana mengubah posisinya menjadi kayang.
Jika itu manusia mungkin sudah mati nenek itu jika seperti itu posisinya. Ketakutan Farel semakin membuncah hingga entah datang darimana aksinya itu sehingga dia langsung tancap gas.
Ketika mobil jenazah yang dia kendarai melaju bak sebuah piston. Sosok nenek itu sekejap menghilang.
Ketakutan menguasai diri Farel saat ini. Dia terus membawa mobilnya agar tetap berjalan. Sementara itu Farel sama sekali tidak tau bahwasannya saat ini dirinya sedang memasuki alam sebelah.
Alam di mana mereka yang mati akan mempermainkan manusia hidup yang datang atau ditarik ke alam sebelah.
Ya Allah, tolong saya! Niat saya baik mengantar dua jenazah ini untuk segera dimakamkan. Jika bukan atas izinmu aku tidak tau apakah bisa keluar dari dalam sini atau tidak?. Ucap Farel berdoa dalam hatinya.
Dan ya, Tuhan selalu mendengar doa hambanya. Saat itu melalui perantara Gautama Family.
Mereka juga sedang berada di jalan tol yang sama dengan jalan tol yang Farel lewati saat ini. Semoga saja mereka akan bertemu di sana.
__ADS_1