Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)
Bab 121: Dia yang Mati Karena Ledakan


__ADS_3

Sebuah acara syukuran sedang digelar di salah rumah. Sebut saja pemilik rumah itu adalah Tasya. Mereka sedang mengadakan satu acara rutin setiap Jumat.


Tasya dan keluarganya adalah penganut agama Nasrani. Jumat adalah waktu bagi mereka untuk berdoa. Bunyi rohani di depan sana memenuhi rumahnya.


Dan saat ini Tasya sedang berada di dapurnya. Ada satu makanan penutup yang belum dia masak. Beberapa menu makanan lain sudah matang dan siap disajikan ketika acara sudah selesai.


Waktunya bagi jamaah tamu untuk menikmati hidangan setelah berdoa. Sejak tadi Tasya sedang bersimpuh di hadapan tabung gas besar. Jarak antara dapur dan teras rumah cukup jauh letaknya.


"Ishhhh.." gerutunya sebab sejak tadi dia memasang tabung gas itu tak kunjung bisa di gunakan.


"Kenapa pula ini tidak mau menyala?" ujar Tasya sedikit geram.


Ya, tidak ada yang membantunya di dapur. Para asisten rumah tangganya bercuti sebelum acara ini. Itulah sebabnya Tasya sendirian di dalam rumahnya.


Tasya menghirup aroma yang keluar dari dalam tabung gas itu sangat menyengat. Tapi waktu juga para Jemaah hampir selesai melaksanakan ibadah.


"Mereka pasti lapar haus! Ayolah kau janganlah seperti ini. Kasihan para tamuku!" ujar Tasya sambil memukul-mukul elpiji miliknya yang sedikit rewel.


Kemudian Tasya berdiri. Dia menghadap ke arah kompor. Bau gas di sana masih sangat menyengat. Di dalam sana pula. Terlihat tepat di ujung ruangan wujud seorang kakek tua sedang memperhatikannya.


Tentu saja kakek itu bukan manusia. Sebab kedua kakinya tidak berpijak. Kakek tua itu menatap sedih ke arah Tasya. Kemudian bola matanya tertuju ke arah lemari es.


Kabel penghubung lemari es itu sedikit lecet. Dan disana ada genangan air yang menetes. Kakek tua itu kemudian menangis. Ketika Gas dinyalakan.


Darrrrrrr


Bunyi ledakan dari arah dapur membuat para jemaah di luar terjingkat. Mereka menghentikan bacaannya serentak. Sambil menyebut kata,


"Astaga! Itu tadi apa?" ujar mereka serentak menoleh ke arah pintu masuk rumah Tasya.

__ADS_1


Suami dan kedua anak Tasya lantas membulatkan kedua mata. Sebut saja nama Suami Tasya ini adalah Kevin.


Kevin kemudian berlari masuk ke dalam. Di belakangnya kedua anaknya juga ikut masuk. Ketika mereka sampai di dapur. Sungguh mereka stok melihat keadaan dapur yang sudah rusak parah itu.


Api menjalar dan hampir besar. Di sana Tasya tergeletak terbakar. Tubuhnya sudah tidak bergerak. Sungguh Kevin sangat syok melihat itu.


"Mama!" pekik Dhea melihat mamanya yang mati terpanggang di sana.


Seorang pastor yang melihat itu langsung saja memanggil pemadam kebakaran. Sungguh kejadian yang sangatlah tragis.


Akibat kebakaran itu saat ini beradalah jasad Tasya di kediaman ibunda Rachel. Ibunda Rachel bisa melihat semuanya juga kejadiannya. Di samping Kevin juga berdiri sosok kakek tua.


Di sana Kevin masih berduka. Dia harus segeraeng menguburkan jasad istrinya. Dalam kepercayaan Islam tidak ada jenasah yang di rias.


Mereka yang mati akan dimandikan, disholatkan lalu dikubur. Namun manusia di depannya ini berbeda agama dengan Ibundanya Rachel.


"Jadi sudah lima kali saya menemui perias mayat. Juga para pemandu jenazah! Ibuk, saya banyak dapat kabar perihal ibuk di kampung ini!" jelas Kevin padanya.


"Ya... Memang banyak isu yang beredar sana sini Pak! Jadi sebenarnya apa masalahnya? Merias mereka yang mati itu pekerjaan luar biasa. Selama ini saya tidak pernah menemukan kendala! Jadi bisa tolong jelaskan!" jelas Ibunda Rachel lalu memberikan secangkir teh hangat itu pada Kevin.


Kevin menerima secangkir teh yang dituangkan oleh ibunda Rachel untuknya. Sebelum bicara Kevin meneguk isi cangkir itu untuk melegakan dahaga yang sejak tadi hinggap dalam kerongkongannya.


"Jadi istri saya ini sudah dirias oleh tiga orang perias mayat. Tapi, tidak satupun dari mereka selesai meriasnya. Mereka kabur hanya dalam hitungan menit setelah masuk ke dalam kamar mayat!" jelas Kevin.


Dia kembali terngiang-ngiang perihal jenazah istrinya yang masih belum di makamkan. Jenazah itu masih membeli di sebuah rumah suka tepatnya di dalam kamar mayat yang cukup dingin itu.


Lantas Ibunda Rachel pun menengok ke arah sosok kakek tua yang sejak tadi berdiri di sampingnya Kevin. Kakek tua itu datang bersama Kevin dan sepertinya Kakek tua itu masih berkerabat dengan Kevin.


"Bapak Kevin sebelumnya saya ingin bertanya pada anda!" ucap Ibunda Rachel.

__ADS_1


Kevin mendongak menatap kedua mata Ibunda Rachel yang saat ini serius menatapnya. Lalu ketika Kevin menatapnya. Ibunda Rachel menggerakkan telunjuknya ke arah samping tubuh Kevin.


Kevin yang bukan pawang ghaib menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Ibunda Rachel. Dia bertanya-tanya, ada apa di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Kevin pada Ibunda Rachel.


"Dia siapa?" tanya Ibunda Rachel pada Kevin yang memperhatikannya kali ini.


Pertanyaan itu membuat Kevin menoleh lagi ke samping. Tetap kedua matanya tidak menemukan keberadaan apapun.


Ruangan di dalam sini remang. Pencahayaannya minim. Wajar saja ini adalah rumah cenayang. Dahulu katanya Simbah Gautama adalah kepala adat yang akan selalu lekat dengan hal mistis.


"Aku tidak melihat siapapun! Tapi kudukku berdiri. Jadi siapakah yang ada di sampingku?" tanya Kevin penasaran dia tidak mengerti sama sekali, sungguh.


"Kamu siapa?" tanya Ibunda Rachel pada sosok tua itu.


Namun sosok tua itu hanya diam. Kemudian dia mengulurkan tangan kanannya ke arah Ibunda Rachel.


"Kalau kau mau, maka aku akan menjelaskan segalanya. Ini aku bagian dari dia yang mati! Aku adalah manusia yang dahulu berada selalu di samping manusia mati yang saat ini masih belum dimakamkan. Maka jika kau berkemampuan lihatlah nostalgia dahulu tentangku dengannya!"


Ujar sosok itu pada Ibunda Rachel. Hari itulah ketika Kevin pergi dari rumahnya. Ibunda Rachel langsung menghubungi Rahman.


Ibundanya Rachel memang indigo. Dia juga salah satu pawang Ghaib. Tapi indigo itu beraneka ragam kemampuannya. Mereka bervariasi dan tidak sama.


Ibunda Rachel tidak memiliki kemampuan menembus masa lalu layaknya milik Laras dan Thariq. Itulah mengapa dia membutuhkan cucu Gautama untuk datang menemuinya.


"Baiklah! Aku akan memanggil anda lagi! Tinggalkan nomor telepon. Ini di luar kemampuanku. Jika aku sudah siap. Maka aku sendiri yang akan datang menemuinya, Tuan!" ucap Ibunda Rachel pada Kevin.


Kevin tertegun mendengar itu. Rasa penasarannya perihal satu sosok yang berada di sampingnya tidak dijawab.

__ADS_1


"Silahkan pergi Tuan!" ucap Ibunda Rachel pada Kevin.


Mendengar itu Kevin pun berdiri. Dia mengucapkan terima kasih pada Ibunda Rachel dan pergi dari sana. Kevin Pergi membawa rasa penasarannya. Dia pergi tanpa jawaban dan hanya bisa menunggu.


__ADS_2