
Langit-langit mulai menguning ketika cahaya mentari merangkak lebih jauh ke atas. Dia berdiri di sana megah memamerkan cahayanya menerangi belahan bumi.
Suara langkah kaki manusia mulai riuh ketika gerbang besi dari kereta itu terbuka. Para manusia dari kota orang datang memijakkan kaki mereka di stasiun Jawa Timur.
Beberapa dari mereka adalah rombongan Cak Dika. Ya, sedang ada satu misi penting yang memberitahu mereka semalam. Katanya, ada dua orang hilang di atas gunung Anjasmoro.
Anjasmoro ini adalah salah satu gunung yang bertetangga dengan Arjuno Welirang. Pegunungan Starto. Jalur pendakiannya yang meruncing terjal cukup memacu adrenalin nyawa.
Tiap mereka yang mendaki ke atas sana seharusnya sudah tau medannya. Sambil mengunyah permen karet di mulutnya. Bella nampak tersenyum.
Hawa Jawa Timur ini sangat Bella rindukan. Bella merentangkan kedua tangannya. Hal itu tentu membuat Marsya dan Rachel di sampingnya menatapnya aneh.
"Kamu kenapa Bel?" tanya Rachel heran padanya.
Bella hanya tersenyum lalu menggeleng. Kemudian kedua tangannya ia normalkan kembali. Dia sejajarkan di tubuh.
"Gak apa kok! Aku senang aja pulang ke kampung kita!" ujar Bella senang lalu berjalan dengan wajah sumringahnya.
Dalam kepalanya warung rujak cingur adalah tempat tujuannya. Cak Dika terkekeh melihat itu. Memang adiknya terkadang sedikit random juga.
"Yaudahlah ayo! Kita makan rujak cingur dulu aja! Udah cukup lama ini kita tinggal di Jawa Tengah. Kangen masakan Jowo Timur!" ujar Cak Dika sembari berjalan.
Rachel melipat kedua tangannya. Dia tersenyum menanggapi itu. Ekor matanya melirik ke arah Rara yang juga sedang berdiri di samping Cak Dika.
"Tinggal di rumah mertua e Cacak!" ujar Rachel menyindir.
Hal itu membuat Rara dan Cak Dika menoleh spontan ke arahnya. Tapi, Rachel malah terkekeh. Dia kemudian menarik tangan Thariq di sampingnya.
Membawa pemuda yang menyukainya itu ikut mempercepat langkahnya dari sisi Rara dan Cak Dika.
"Omongan macam opo iku?" ujar Rara mengumpat kesal.
Cak Dika hanya tersenyum. Mereka semua pun berkumpul menjadi satu di dalam satu warung. Warung yang menjual rujak cingur.
Kelaparan dan penat membuat nafsu makan mereka meninggi. Sepuluh menit berlalu, rujak cingur yang mereka pesan pun habis masuk ke dalam perut mereka.
Beberapa dari mereka mulai bersendawa. Rahman dari dalam tasnya mulai mengeluarkan satu dokumen. Rahman membukanya dan itu adalah beberapa potret juga informasi perihal kasus yang akan mereka selidiki.
Ketika lembaran dokumen itu dibuka. Hal pertama yang membuat mereka fokus adalah sosok yang ikut terpotret di antara pohon besar.
__ADS_1
"Itu apa?" tanya Cak Dika sambil memperhatikan foto itu.
Rahman mengambil foto itu kemudian dia menunjukkan potret itu pada seluruh kawannya. Mereka melihat satu sosok seram.
Tubuh kurus itu berdiri di sisi satu pohon besar. Dia tidak berbusana. Dia mirip manusia tumbuhnya. Tetapi jikalau diperhatikan lagi maka bagian kepalanya adalah kuda.
Geli rasanya melihat itu. Bella terbayang satu film barat yang pernah tonton. Rasanya makhluk itu seperti yang ada di film Narnia.
"Ini kenapa Aslannya gak ada?" ujar Bella nyeletuk sambil menunjuk foto itu.
"Dih..." ujar Marsya langsung menoyor kepala Bella.
Dia terkejut sebab suara Bella sedikit besar ketika nyeletuk di antara hening.
"Duhh..." lirih Bella ketika kepalanya ditoyor oleh Marsya.
"Apa Mar?" tanya Bella pada Marsya sembari menoleh ke arah Marsya.
Marsya menggeleng pelan. Lalu dia tersenyum.
"Kamu gila! Ini dunia nyata bukan negeri dongeng bak Narnia! Kalau mau cari Aslan ada, di kebun binatang sana!" ujar Marsya padanya.
"Dia orang pendaki dilaporkan hilang! Menurut sumber informasi. Keduanya berada ditinggal oleh teman-temannya waktu itu. Jadi Andika dan Richard ini. Katanya Andika ini kalinya lecet waktu itu. Rombongan mereka mendaki ada sepuluh orang. Delapan orang lainnya egois. Mereka ingin segera mencapai puncak tanpa peduli fisik dari temannya. Semangat mereka yang masih sehat begitu menggebu-gebu. Rombongan mereka melaju terus ke atas puncak gunung Anjasmoro. Sampai saat itu hujan lebat turun. Tapi mereka tetap ke atas. Hingga, saat itu kakinya Andika sudah cukup parah. Dia terpincang-pincang jalannya. Richard iba, dia lebih memilih untuk menjaga Andika yang tertinggal di barisan paling belakang. Nuraninya tidak peduli pada delapan temannya yang egois naik terus ke atas puncak tanpa mempedulikannya!" jelas Rahman berhenti sejenak.
"Terus, pie?" tanya Cak Dika menunggu kelanjutan dari cerita Rahman.
Rahman mengambil napas sejenak lalu membuangnya.
"Mereka tidak tau kronologi selanjutnya! Waktu mereka udah sampai di puncak. Mereka tidak melihat Richard dan Andika. Waktu mereka turun di basecamp pun mereka tidak menemukan keduanya!" jelas Rahman lagi.
Rahman kembali membuka lembaran bukti yang dia kumpulkan. Di sana dia menunjuk satu foto manusia. Di bawah foto itu tertera nomor telepon.
"Beliau adalah penjaga basecamp. Beliau minta ke kita untuk mencari kedua anak itu!" ujar Rahman lagi.
Cak Dika pun mengangguk.
"Jadi Cak gimana?" tanya Rachel pada Cak Dika.
"Yo mau gimana lagi toh dek? Kan... Ada yang minta tolong. Ya kita bantulah! Ayo ke gunung sekarang!" ucap Cak Dika lalu berdiri.
__ADS_1
Melihat itu Bella menatapnya malas. Sungguhan manusia di hadapannya itu membuatnya tak habis pikir.
"Sekarang Cak?" tanya Thariq tak percaya.
Dengan wajah polosnya Cak Dika pun mengangguk mantap. Sedangkan Rara terlihat melipat tangannya sambil menggelengkan kepalanya.
"Usia tua tapi pemikiran sek bocil!" ujar Rara padanya.
"Apa toh dek?" tanya Cak Dika pada Rara.
Bella berdiri kemudian. Dia menatap datar Abangnya itu.
"Benar Cak apa kata Rara! Kamu itu bocil! Naik gunung itu gak bisa langsung sat set gitu. Kita harus prepare. Di atas sana gak ada mall gak ada warteg Cak! Semuanya harus serba disiapkan!" ujar Bella menjelaskan.
"Nah!" ucap Rara menambahkan.
Terlihat di sana Cak Dika tersenyum. Kemudian dia kembali duduk.
"Ah... Baiklah, emang perempuan selalu benar!" ujar Cak Dika.
Di sela-sela obrolan itu nampak rombongan setan Belanda muncul di hadapan mereka. Merasakan kehadiran mereka sontak seluruh anggota Gautama menatapnya.
"Ada apa?" tanya Rachel pada Barend.
Barend memasang muka sedih untuknya. Membuat Rachel bertanya-tanya.
"Kenapa kau?" tanya Rachel lagi padanya.
"Kalian akan pergi ke gunung?" tanya Barend pada Rachel.
Pertanyaan itu membuat seluruh anggota Gautama menganggukkan kepalanya.
"Iya!" jawab Rachel.
"Gunung itu berbahaya Rachel! Ada sosok tinggi besar lebih besar dari pohon. Dia menyembunyikan orang itu! Dia melahap mereka. Mereka saat ini adalah tawanan! Kalau kalian ingin menolongnya maka kalahkan sosok itu!" ujar Barend.
Setelah mengatakan itu dia pun menghilang begitupun dengan seluruh teman Belandanya.
Ucapan Barend membuat mereka terdiam sesaat. Sosok tinggi besar dalam belantara itu pasti akan sangat menyulitkan mereka.
__ADS_1