
Rembulan malam itu bundar sekali. Bentuknya malam ini sempurna di atas langit. Di tengah jalan poros malam itu.
Nampak seorang tukang becak hendak pulang ke desanya. Dia sudah biasa melewati area sepi itu sendiri ketika pulang kerja.
Sebut saja namanya adalah Bambang. Tiap sore dia akan berangkat ke pasar dengan becaknya. Letak pasar itu dan desanya memang agak jauh. Sekitar tiga puluh menit.
Sembari mengayuh sepedanya. Pak Bambang memutar lagu dangdut koplo di ponselnya. Terkadang sunyi dan terpaan angin di area ini membuat bulu kuduknya meremang.
Tapi demi duit, dia rela mengayuh becaknya setiap hari pulang pergi. Sambil mendengarkan, sesekali Pak Bambang ini bersenandung.
Malam itu burung gagak dari arah timur mulai berterbangan. Kicauannya di atas sana membuat Pak Bambang mendongak. Langit gelap itu penuh dengan gagak yang migrasi.
"Gak biasanya gagal migrasi malam-malam begini!" ujar Pak Bambang yang mulai merasa aneh.
Saat itu, ketika kepalanya kembali menatap jalanan. Terlihat seorang gadis berpakaian merah berhenti di depannya. Refleks saja, Pak Bambang itu menghentikan becaknya.
"Mbak, ada apa ya?" tanya Pak Bambang pada gadis itu.
Gadis itu berdiri di sana sambil menatapnya. Dia berjalan pelan perlahan ke arah Pak Bambang. Suasana di sana sunyi dan Pak Bambang rasanya ingin sekali segera pulang sekarang.
"Pak, tolong antar saya di desa A. Saya ingin menemui kerabat saya malam ini!" ujar gadis itu lirih.
Pak Bambang tentu senang sekali mendengar itu. Cuannya nanti akan bertambah. Dan itulah kesenangan yang dia pikir saat ini.
"Boleh Mbak, monggo biar saya antar!" ucap Pak Bambang menyetujui itu.
Gadis itu hanya diam lalu duduk di becak itu. Becak kembali dikayuh lagi.
"Mbak malam-malam begini kenapa lewat di jalan poros sendirian?" tanya Pak Bambang pada gadis itu.
Kedua kakinya tidak letih mengayuh becak itu di sana. Tapi, ada yang aneh dengan gadis ini. Tiap perkataan dan pertanyaan yang Pak Bambang lontarkan. Sama sekali tidak digubris olehnya.
Gadis itu hanya diam dan sesekali mengangguk. Saat itu Pak Bambang kembali berpikir positif. Mungkin saja gadis Ini sedang sakit gigi.
Atau mungkin gadis ini sedang melaksanakan tapa bisu. Beberapa meter ketika jalanan melewati pepohonan jati besar. Gadis itu mengatakan sesuatu,
"Berhenti!" ucapnya.
Pak Bambang yang terkejut refleks saja langsung mengerem becaknya.
"Ya mbak?" tanya Pak Bambang padanya.
Gadis itu hanya diam, lalu dia berdiri. Gadis itu berbalik memberikan lembaran uang ongkos pada Pak Bambang.
Tanpa berpikir panjang Pak Bambang pun langsung menerimanya. Ada sesuatu yang dibawa gadis itu. Sesuatu yang dibungkus cukup panjang.
Gadis itu berjalan masuk ke dalam belantara jati. Terlihat di sana seorang lelaki berpakaian hitam baru saja keluar dari dalam belantara.
Ketika tubuh lelaki itu melewati sang gadis. Dari dalam bungkusan itu, rupanya adalah sebuah pedang panjang.
Pedang besar itu ditebaskan langsung ke arah leher lelaki itu. Darahnya mengucur deras lalu bak sebuah kelereng. Kepala itu tumbang jatuh tepat di bawah kaki si gadis.
__ADS_1
Pak Bambang syok sekali melihat kejadian itu. Jantungnya berdegup kencang. Buliran keringat sebesar jagung mulai berlomba-lomba turun.
Nafasnya terengah-engah tak karuan bercampur menjadi satu antara pegal dan takut. Benar-benar mengerikan. Gadis itu tidak mempedulikan keberadaan Pak Bambang di sana.
Bak seorang pembunuh profesional. Gadis itu kembali melakukan fatalyty. Tubuh mati itu sekarang kedua tangannya diputus. Setelah memisahkan anggota tubuh itu. Gadis ini meletakkannya begitu saja di sampingnya. Seakan itu daging sapi.
Adegan sadis ini masih berlanjut. Gadis itu kembali memotong kedua kakinya lalu melemparnya ke sembarang tempat. Setelah seluruh bagian tubuh terpotong. Dari dalam sakunya gadis itu mulai mengeluarkan kantong plastik hitam.
Dia memasukkan potongan kaki itu ke dalam kantong plastik itu lalu diikat. Kembali dia mengeluarkan satu kantong plastik hitam lagi. Lalu kedua tangan yang terpotong itu dimasukkan lagi ke dalam kantong plastik.
Setelah seluruhnya beres. Pak Bambang ketakutan semakin ketakutan rasanya ketika mendengar gadis itu berkata,
"Dia ini pemuja setan! Dia memiliki Ajian Rawa Rontek. Tahun 1998 dahulu, ninja sudah menjadi pahlawan. Banyuwangi berhutang pada kami, sebab para darah kotor banyak mati di tangan kami. Kami mengincar kepala para dukun santet yang kurang ajar. Dan orang ini adalah salah satunya. Dia memiliki Ajian Rawa Rontek. Ajian yang tidak bisa mati. Dan hanya bisa mati dengan tubuh yang dikuburkan terpisah dari tubuh lainnya. Jadi, bapak tukang becak! Maukah kau membantuku mengubur jasad ini?" tanya Gadis itu lalu menoleh ke arah Pak Bambang.
Pak Bambang yang sudah gemetar itupun. Perlahan mulai mengayuh sepedanya. Lalu dia mempercepatnya sambil berteriak minta tolong di antara jalanan poros yang cukup sepi itu.
Pak Bambang yang takut terus saja melaju. Sesekali dia menengok ke belakang. Dia takut diikuti atau mungkin menjadi target pembunuhan selanjutnya. Tidak mau, Pak Bambang masih ingin hidup.
Gadis di sana perlahan mulai menyeringai memperhatikan Pak Bambang yang terus menjauh dari tempatnya berada.
Gadis itu lalu membawa potongan tangan dan kaki bersamanya. Lalu pergi dari sana secepat angin.
___________
Berita perihal mayat yang tak utuh mulai tersebar luas. Beberapa orang mengaitkannya tentang tragedi pada tahun 1998.
Daerah Tapal Kuda atau Banyuwangi saat itu mengalami sejarah kelam sepanjang sejarah.
Pembantaian Banyuwangi 1998 adalah peristiwa pembantaian terhadap orang yang diduga melakukan praktik ilmu hitam yang terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur pada kurun waktu Februari hingga September 1998.
Sementara menurut data tim pencari fakta (TPF) bentukan PBNU, lebih banyak lagi, yakni 143 orang. Namun hingga saat ini motif pasti dari peristiwa ini masih belum jelas.
Terlihat setelah mengunggah Vidio kemarin ke akun tiktok. Akun itu cukup ramai. Akun tiktok itu adalah miliknya Gautama Family. Dan saat ini, Deni dan Rahman sedang membacai komentar.
Sudah sejak tadi malam mereka membacanya. Mereka merundingkan perihal kematian misterius yang terjadi area Banyuwangi.
Di mana cara pembunuhannya itu berdasarkan para ninja pada tahun 1998. Sepertiga malam tadi. Deni, Rachel, Cak Dika dan Rahman. Mereka sedang merapatkan perihal kasus ini.
"Jadi Cak, banyak yang komentar untuk kita menyelediki kasus ini! Sekedar berangkat aja Cak, sekalian healing!" ujar Rahman pada Cak Dika yang duduk nyaman di sofanya.
"Kamu healing ae! Habis hilang dua Minggu lalu mau healing lagi, gak kapok kamu!" ujar Rachel menimpali.
Dia kembali mengingatkan pada Rahman perihal kejadian dua Minggu lalu. Ketika Rahman adiknya ditargetkan sebagai tumbal lalu disasarkan masuk ke dalam alam sebelah.
"Kita baru upload di tik tok, tapi view kita sudah berjuta-juta. Akibat Vidio yang Bella rekam beberapa Minggu lalu. Kata Cacak, dia mau kita kaya' jurnal Risa. Aku juga wis gak ada pemasukan ini! Konten ini harus jalan!" ujar Deni menjelaskan.
Cak Dika yang duduk dan mendengarkan mereka berdebat akhirnya tertawa.
"Hahahahaha..." tawa Cak Dika meledak.
Rachel yang ada di sampingnya sontak menoyor kepala Cak Dika. Dia terkejut.
__ADS_1
"***, Cak! Ora enek opo-opo moro-moro ngguyu! Bocah gendeng!" ujar Rachel kesal.
"Yaudah, kita Banyuwangi! Ayo ke sana, hari ini pesan tiket besok berangkat. Siapin perlengkapan kalian!" ujar Cak Dika lalu pergi dari sana.
Baik Rachel, Rahman dan Deni sejenak saling bertatapan. Mendengar itu Deni dan Rahman bahagia. Sebab keinginan mereka disetujui.
Sedangkan Rachel hanya mampu menunduk sambil menggelengkan kepalanya. Secepat itu keputusan dibuat oleh Cacaknya.
"Sepuh iku, heran aku!" ujar Rachel lalu tersenyum tipis ke arah ambang pintu yang baru saja dilewati oleh Cak Dika.
"Kamu gak setuju hel? Gapapa, kamu bisa gak ikut nanti! Kayaknya tenaga kamu belum pulih total gara-gara kemarin ya?" tanya Deni sambil memperhatikan Rachel di sana.
Rachel mengangkat salah satu alisnya. Keningnya mengerut, bola matanya menatap tepat ke arah Deni saat ini.
"Deni, kalau aku gak ikut terus maskotnya siapa? Rachel ini, yang paling istimewa khodamnya. Mereka saudaraku, adalah prajuritnya Nyai Ratu. Cak Dika memang yang lebih tua, dan dia pengambil keputusan di sini buat kita. Tapi aku, tetap senjata mereka ketika keadaan sudah gak kondusif!" jelas Rachel.
Deni menatap kagum atas apa yang Rachel katakan. Lalu tak lama dari arah ambang pintu. Terlihat Marsya datang membawa beberapa bungkus makanan.
"Mbak!!!" teriak Marsya sambil berlari.
"Opo dek?" tanya Rachel padanya.
Marsya menghampiri Rachel lalu meletakkan beberapa bungkusan makanan di atas meja. Makanan itu bermerk. Dan cukup pedas dari tampilannya.
"Kita dapat endorse!" ucap Marsya padanya.
"Hah, dari siapa?" tanya Rahman antusias.
"Tadi aku keluar ke kota! Setelah Vidio itu di share, nama kita cukup dikenal loh. Bahkan orang-orang sampai cari tahu perihal keluarga kita. Aku berhenti di restoran besar, terus aku pesan makanan. Waktu aku mau bayar, sama mbaknya gak dibolehin. Dia kasih ini sambil bilang, ini untuk mbak, tolong dipromosikan ya!" jelas Marsya panjang lebar.
"Wah, bagus! Jadi artis sekarang kalian!" ujar Rahman dan Deni sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Marsya mulai membuka bungkusan itu. Bau makanan lezat mulai menyerukan. Mengundang dia sosok astral datang. Dua sosok itu tidak lain adalah Barend dan Albert.
"Wahh, enak itu sepertinya!" ujar keduanya.
Marsya menoleh kebelakang lalu tersenyum. Mereka mulai melakukan endorsenya. Setelah endorsenya selesai, barulah mereka menikmati dan membagikan makanan itu pada anggota keluarga yang lain.
"Jadi, kita bakalan ke Banyuwangi nih?" tanya Bella sambil mengunyah makanannya.
Cak Dika yang masih menikmati tiap gigitan makanannya hanya mampu mengangguk.
"Wah keren ini, aku mau ke Jurang Tangis! Katanya di sana angker mas!" ucap Bella lagi sumringah.
"Kita bakalan eksplorasi Banyuwangi! Setelah permintaan netizen, ya!" jelas Cak Dika.
"Memangnya mereka nyuruh kita ke mana?" tanya Laras lagi.
Cak Dika berseringai mendengar itu. Lalu dia menatap lekat ke arah Laras. Aldo yang melihat itu hanya mampu menghela nafas saja.
"Saudaraku yang paling istimewa ini, kemampuannya sedang dibutuhkan. Laras, kami butuh kamu lagi untuk melihat kilas balik dari satu berita yang lagi viral. Perihal pembunuhan mayat tak utuh, yang diduga ulahnya ninja tahun 1998 di Banyuwangi dulu!" jelas Cak Dika.
__ADS_1
Baik Laras dan Aldo mereka berdua pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Saat itu mereka semua sepakat untuk pergi menyusuri Banyuwangi.
Tiket hari itu dipesan. Dan keberangkatan mereka adalah esok pagi menggunakan kereta.